
Konbawa minna-san~
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ neee~
🖌It’s Just Begin
“Kau tidak mau?” desak Lydya.
Dia memasang wajah sedih dan kecewanya, siapa pun yang melihatnya pasti akan mengira kalau Lydya saat ini benar-benar sedih dan kecewa. Linda menjadi merasa tidak enak, Lydya sudah menempatkan dia dan keluarganya ditempat khusus jadi dirinya harus tahu balas budi.
Linda menganggukkan kepalanya dan tersenyum, Lydya menepuk kedua tangannya dan tersenyum senang. Bukan hal yang sulit bagi Lydya untuk membuat orang menolak tawarannya. Dia punya 1001 macam cara untuk membuat orang lain menurutinya.
“Aku sangat berterima kasih padamu. Aku akan memberikan pelayanan spesial padamu dan keluargamu. Kalian tamu penting ku jadi aku akan melayani kalian semaksimal mungkin,”
Leon hanya bisa diam. Lydya sudah mengklaim Linda dan keluarganya sebagai tamu penting jadi dia tidak bisa apapun untuk menyelamatkan kekasih Gio dari kembaran nya. Leon merasakan tatapan Hera yang menusuk menuntutnya untuk menghentikan kembaran nya. Leon menghela napas panjang dan menggeleng.
“Makanlah. Makanlah. Lanjutkan makanmu,” ucap Lydya tersenyum lebar yang tak luntur dari bibirnya.
Lydya mengajak Linda mengobrol hal-hal yang bisa Linda jawab walau singkat. Ini adalah waktunya untuk mengorek informasi tentang Gio dan Linda.
“Jadi, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?”
“Eumm.. sudah dua..,”
Ucapan Linda terhenti ketika Akira datang membuka pintu dan bersujud memberi hormat. Lydya mengepalkan tangannya meremas kesal sumpit nya, Akira menyela pembicaraan pentingnya dengan Linda.
“Sumimasen, Li-sama. Sudah mengganggu anda tetapi Fuyumi-sama datang ke penginapan dan membuat keributan,”
“Apa yang saja yang dia lakukan?!”
Leon bisa merasakan perasaan kesal Lydya walau wajahnya terlihat tenang. Akira terlihat enggan untuk berbicara. Dia terlihat kebingungan menjawab pertanyaan nona mudanya, pandangannya terus bergerak-gerak liar. Ada dua orang pelayan lagi yang datang dengan Akira.
Itu artinya masalah yang dilakukan bibinya sangat besar. Lydya meletakkan kasar sumpit nya di atas meja membuat semua terkejut bahkan sampai membuat Akira dan dua pelayan lainnya ketakutan. Lydya berdiri dari duduknya dan berjalan cepat keluar ruang makan.
Akira dan dua pelayan itu berdiri dan segera mengikuti Lydya dari belakang. Leon menghembuskan napasnya lega, kepergian Lydya membuat suasana yang tadinya tegang menjadi sedikit tenang.
“Lydya sangat menakutkan,” ucap Hera jug menghela napas lega.
__ADS_1
Dia sangat terkejut melihat meletakkan peralatan makannya dengan kasar. Terlihat sekali kalau teman semasa kecilnya itu sedang sangat kesal hingga dia meletakkan peralatan makannya dengan kasar. Tingkah laku yang akan Lydya lakukan jika teman semasa kecilnya itu merasa tidak nyaman.
“Gochisousama(Terima kasih makanannya). Aku akan menyusul Lydya dulu,”
Leon meletakkan peralatan makannya lalu berdiri dan segera keluar ruang makan menyusul kembaran nya itu. Hera menganggukkan kepalanya dan tak sengaja matanya melihat Linda dan Gio yang sudah saling berdekatan dan berbincang-bincang. Linda bergelayut manja pada Gio membuatnya mendengus kesal.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
“Yada!!! Yada!!! Yada!!! (Gak mau!!! Gak mau!!! Gak mau!!!)”
Fuyumi terus berteriak menolak ketika Lydya memintanya untuk kembali ke rumah besar. Ketika Lydya datang Fuyumi sedang berteriak-teriak marah di lobby menyuruh semua orang untuk segera memanggilnya. Begitu Fuyumi melihatnya, bibinya itu langsung berubah dari wanita galak menjadi gadis manis dan memeluknya dengan manja.
“Hmmm.. Aku tidak ingin kembali. Aku ingin bersama dengan Lily-chan,” ucap Fuyumi mengerucut kan bibirnya.
Lydya menghela napasnya lelah. Mereka saat ini sedang duduk di sofa di lobby. Sudah hampir sepuluh menit bibinya terus memeluknya dengan erat.
“Oba-chan, Oji-chan akan sangat marah jika dia tahu kau di sini,”
“Chikusou! Nante itta no yo?! (berengsek! Kau bilang apa?)”
Leon langsung terdiam dan menggelengkan kepalanya cepat begitu mendengar bibi mereka ini berbicara datar dan menatapnya tajam. Fuyumi diam dan menatap Leon tajam.
“Panggil aku nee-chan,”
“Ojii-chan...,”
“Yada Lily-chan! Chichi(Ayah) sudah mengizinkan ku,” ucap Fuyumi memandang Lydya penuh keyakinan.
Lydya tahu bibinya ini belum bilang pada kakeknya dan pergi ke penginapan tanpa memberi tahu siapa pun di rumah besar. Pasti kakek dan semua orang di rumah besar sedang kalang kabut mencari bibinya ini dan baru saja bibinya ini bilang sudah meminta izin ponsel Leon berbunyi.
Lydya memandang Leon yang menatapnya dan bibinya gugup. Fuyumi yang menyadari itu menajamkan matanya menatap keponakannya itu agar tak menjawab panggilan telepon yang dia tahu pasti dari kakaknya atau ayahnya.
Lydya menolehkan kepalanya pada bibinya yang langsung memasang wajah ceria nya lalu memandang Leon dan menengadahkan tangannya meminta Leon menyerahkan ponsel nya. Fuyumi semakin menatap Leon tajam dan menggeleng keras.
“Leon!” ucap Lydya datar.
“Sumimasen onee-chan,” ucap Leon membungkukkan badannya dan menyerahkan ponsel nya.
Saat ini dia lebih baik segera menyerahkan ponsel nya daripada dia mendapatkan kemarahan dari Lydya yang sudah kesal sejak meninggalkan ruang makan, dirinya memilih untuk menjadi sasaran empuk objek pukul bibinya nanti.
__ADS_1
“Dame!!! (Jangan!!!)” ucap Fuyumi berusaha meraih ponsel Leon.
Lydya menatap bibinya tanpa ekspresi membuatnya segera menjauhkan badannya dan duduk dengan tenang. Lydya menjawab panggil dari pamannya yang sudah memanggil untuk kedua kalinya.
“Nee.. oji-chan?”
“...”
“Hmm.. dia di sini,” ucap Lydya melirik bibinya yang melirik takut-takut.
“...”
“Hai.. Ii daro (Iya.. tidak apa-apa). Kau bisa mempercayakan nya padaku,”
“Hmm,” gumam Lydya memutuskan sambungan telepon dengan pamannya lalu memandang bibinya.
“Ikut aku,” ucap Lydya berdiri dari duduknya dan Fuyumi segera berdiri dan mengikuti Lydya dari belakang begitupun dengan Leon.
Dibelakang Lydya, Fuyumi yang jalan berdampingan terus mengganggu Leon yang hanya bisa pasrah mendapat penyiksaan dari bibinya. Entah pukulan, tendangan, bahkan cubitan-cubitan kecil di seluruh tubuhnya.
“Berhenti berkelahi,” ucap Lydya tanpa berhenti ataupun menoleh.
“Hai!” ucap keduanya cepat.
Fuyumi dan Leon langsung bersikap tenang, Fuyumi terus memandang Leon penuh permusuhan. Lydya memijit pelipisnya yang berdenyut pusing. Dihari pertama nya kembali ke penginapan dia sudah sama sibuknya seperti ini padahal tujuannya segera pindah ke penginapan untuk menghindari orang-orang di rumah besar tetapi dia malah bertemu dengan kekasih Gio dan bibinya yang membuat keonaran.
Dirinya saja sudah kelelahan mengurus penginapan yang ramai hari ini dan sekarang harus mengurusi dua orang sekaligus. Bibinya dan kekasih tunangannya. Jika saja dia tahu bibinya akan datang maka dia tidak akan mengganggu Linda.
Kelihatannya dia akan membatalkan rencananya mengganggu kekasih tunangannya itu. Lebih baik dia fokus mengurus bibinya, mencegahnya mengetahui perihal tunangannya yang masih memiliki kekasih. Salah-salah bisa membawa masalah jika bibinya mengetahui hal tersebut, yang ada nanti bibinya lah yang akan mengganggu Linda. Dia harus mencegah hal tersebut terjadi.
Mereka sampai di rumah pribadi, “Karena oji-chan sudah mengizinkan. Oba-chan bisa tinggal di sini tetapi kita tidak akan satu kamar,” ucap Lydya cepat ketika wajah Fuyumi berseri-seri.
Lydya tahu apa yang sedang bibinya pikirkan. Bibinya itu pasti mengira mereka akan satu kamar tetapi jangan harap dia melakukan apa yang bibinya ini inginkan.
“Jangan harap oba-can bisa tinggal sekamar denganku,” ucap Lydya memberi tahu sekali lagi dan ekspresi wajah bibinya terlihat sedih dan kecewa.
Padahal dia sudah berharap banyak bisa satu kamar dengan keponakannya ini tetapi ternyata itu hanya sebuah harapan saja. Keponakannya ini tidak pernah mau tinggal satu kamar dengannya padahal dia sangat ingin merasakan bagaimana rasanya tinggal satu kamar dengan Lydya.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
__ADS_1
Eung~ eung~ dasar si Fuyumi-cyaaannn
See ya next chapter ~(~ ̄▽ ̄)~~