
Happyto Readingto~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
đź–Ś Holiday
“…Kami ingin memberikan liburan panjang untuk kalian,” lanjut Karina.
Lydya dan Gio sama-sama menatap dua wanita yang tengah tersenyum itu dengan wajah bingung. Lydya menatap maminya curiga.
“Tidak usah melihatku seperti itu. Kali ini aku tidak akan membawamu kesana,” ucap Zyta menutupi mulutnya dan mengibaskan tangannya ke atas dan ke bawah.
Zyta tidak bisa menahan senyumnya begitupun dengan Karina. Dua wanita ini kesenangan dengan rencana mereka sendiri.
“Apa yang ingin mami lakukan kali ini?”
Zyta berdecak kesal, “Aku hanya ingin memerikan paket liburan gratis,” ucap Zyta membuat Lydya semakin curiga.
Paket gratis bukan berarti dia dapat liburan ke tempat yang sesungguhnya. Maminya ini memang suka sekali memberikannya paket liburan secara cuma-cuma tetapi tempat tujuannya itu yang benar-benar membuatnya tak habis pikir.
Mulai dari memberikannya paket liburan ke Jepang dan berakhir menjadi pekerja, paket liburan ke padang pasir hingga dia hanya bisa melihat lautan pasir juga teriknya matahari, belum lagi paket liburan ke Rusia di mana maminya mengirimnya ke kota yang hanya ada es di setiap sudutnya, bahkan pernah sampai mengirimnya ke kutub hanya untuk melihat pinguin.
Sekali saja maminya memberikan paket liburan yang sewajarnya bukan malah paket liburan diatas sewajarnya.
“Apa yang kamu pikirkan? Jangan-jangan, kamu pikir kalau mami bakal kasih liburan ke tempat yang aneh?”
Lydya hanya mengedikkan bahunya membuat Zyta kembali berdecak kesal. Zyta yang kesal memajukan badannya dan memukul putrinya itu karena gemas. Lydya menghindar tetapi tetap saja pukulan maminya masih mengenainya membuatnya mengusap lengannya.
“Kamu ini. Masih aja curiga sama mami,”
“Bagaimana tidak curiga. Mami saja…,” ucap Lydya sengaja tak melanjutkan ucapannya saat sang mami menatapnya tajam.
Lebih baik dia diam daripada maminya kembali memukulnya karena kesal. Lydya hanya menggaruk pipinya pelan. Maminya sangat menakutkan apalagi jika sudah bersedekap dan menatap tajam, rasa-rasanya pandangan maminya itu mengeluarkan laser.
__ADS_1
“Ck! Kali ini hanya liburan biasa. Lagipula ujian masuk mu masih lama dan Gio juga sudah cukup lama berkuliah nanti untuk mengambil beberapa hari cuti,” jelas Zyta mengambil lembaran paket liburan yang kemarin dia ambil setelah berdiskusi panjang dengan Karina.
Zyta menyerahkan masing-masing satu lembaran dari dua lembar brosur pada Lydya dan Gio.
“Jauh sekali,” ucap Lydya setelah membaca judul brosur sedangkan Gio membuka dan membaca brosur itu dengan teliti.
Tanpa membacanya Lydya sudah tahu apa saja yang akan ditawarkan nanti dan Lydya tahu mengapa maminya memilih negara ini untuk paket liburannya kali ini.
“Mami rasa, tidak. Lagipula kamu kan juga punya…”
“Oke, I know,” sela Lydya menghentikan ucapan maminya.
Zyta tersenyum lebar begitupun dengan Karina. Mereka sama-sama tertawa bahagia dan larut dalam percakapan mereka hingga tak memperdulikan anak-anak yang dengan setia masih duduk didepan mereka.
Lydya menggelengkan kepalanya heran melihat dua wanita yang berstatus sebagai ibu itu lalu berdiri dan melangkah keluar tanpa mengucapkan apapun. Gio yang bingung memilih mengikuti Lydya.
“Sorry, kelihatannya itu keinginan mami jadi mohon maklum,” ucap Lydya saat mereka berjalan berdampingan.
“Mmm.. Tak menjadi masalah untukku,” ucap Gio mengusap tengkuknya.
Gio terdiam hingga tanpa sadar dia juga terdiam di tempatnya sedangkan Lydya terus berjalan tanpa sadar kalau Gio masih berdiri di tempatnya.
“Sial,” gumam Gio menutup setengah wajahnya dengan pergelangan tangannya.
Bisa dia rasakan kalau wajahnya memanas hingga ke telinga bahkan jantungnya pun bekerja tidak seperti biasanya. Ah~ tanpa sadar, dia sudah menyimpan rasa pada tunangannya sendiri. Gio tersenyum kecil dibalik pergelangan tangannya. Lydya terlihat kebingungan mencarinya. Tunangannya ini memang perempuan yang sangat manis.
“Apa yang kau lakukan di sana? Cepat kemari!”
Gio menurunkan tangannya dan tersenyum lebar lalu menyusul Lydya yang sudah agak jauh darinya. Lydya terus mengomel saat mereka sudah berdampingan sedangkan Gio hanya memamerkan senyum lebar tanpa dosanya.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
“Semua sudah disiapkan? Baju hangat? Sarung tangan? Syal? Harusnya bawa lebih banyak baju karena di sana pasti sudah sangat dingin sekarang. Akh! Bagaimana kalau mami ambilkan bajumu yang lainnya?”
__ADS_1
“Tidak, mami. Semua sudah ku siapkan,” ucap Lydya mencegah maminya yang akan berbalik.
Lydya melirik papinya yang mengalihkan pandangan ke arah lain membuatnya menghela napas pelan. Di saat seperti ini papinya diam saja dan membiarkan dia mengurus maminya yang super cerewet. Beberapa tahun berlalu, Lydya yakin sepenuhnya kalau papinya ini termasuk suami yang takut pada istri.
Zyta memandang putrinya sedih, “Mami hanya ingin kau tidak kedinginan selama di sana,” ucap Zyta membuat Lydya hanya bisa menjawab wanita yang sudah melahirkannya itu dengan senyuman.
Memang siapa lagi yang membuatnya harus datang ke tempat sedingin itu kalau bukan maminya ini sendiri?
Maminya ini memang hebat sekali hingga membuatnya kehabisan akal.
“Karena pesawatnya sudah mau berangkat. Kami pergi dulu,” ucap Lydya menggandeng lengan Gio yang berdiri di samping keluarga yang mengantarnya.
Semuanya, mulai dari kedua orangtua Gio, kakak dan kakak ipar Gio, hingga keluarganya datang mengantar dirinya dan Gio untuk pergi liburan.
Sebenarnya, saat ini adalah masa-masa dimana tunangannya itu sibuk dengan kuliahnya tetapi maminya malah mengambil cuti untuk tunangannya.
Lydya sampai tidak bisa berkata apa-apa saat maminya itu memberi tahunya lagipula siapa yang berani melawan maminya, juga tunangannya itu sedang berkuliah di universitas dimana kedua orangtuanya sebagai pemegang saham terbesar dan tak lupa kedua orangtua Gio juga salah satu diantara pemegang saham.
“Apa kita benar-benar akan kemari?” tanya Gio melihat tiket pesawatnya yang tertulis dengan jelas tujuan mereka.
“Jangan berkata apapun. Kita sudah mau berangkat,” ucap Lydya datar.
Tujuan mereka berbeda sekali dengan yang ada di brosur. Jelas-jelas di brosur tujuan mereka adalah Belanda dan akan berangkat april atau mei nanti tetapi yang tertulis di tiket mereka bukan negeri kincir angin itu melainkan Swedia ditambah lagi mereka berangkat bulan desember.
Sebenarnya, apa yang dipikirkan oleh maminya itu?
Mau bagaimanapun maminya berkata tidak akan membawanya ke tempat aneh memang tidak seharusnya dia percayai. Yang dirasakannya sekarang adalah perasaan kesal merasa ditipu. Perkataan maminya tentang liburan gratis memang tidak bisa dipercayai.
Lydya duduk di kursi penumpang dekat jendela sedangkan Gio berada di sampingnya. Pandangan Lydya terus tertuju keluar pesawat hingga pesawat perlahan mulai mengudara.
Mau tidak mau dirinya harus tetap berangkat karena tiket sudah telanjur dipesan. Sangat disayangkan kalau dibatalkan begitu saja dan juga tidak terlalu buruk juga datang ke negara itu saat musim dingin seperti ini.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
__ADS_1
udh smpk 74 chapter..
see ya next time~