
Happy Reading~ Minna-san~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Confidence
“Si*l,” guman Lydya.
Sekembalinya dari bertemu dengan mami nya, Lydya langsung kembali ke kamarnya dan membenamkan wajahnya diatas bantal lagi. Perbincangan dengan mami nya tadi sampai tak bisa langsung dia selesaikan begitu saja. Dia butuh banyak pertimbangan untuk menyetujui perbincangan mereka.
Lydya menghela napasnya untuk terakhir kali sebelum memasuki alam mimpinya.
🖌🖌🖌🖌🖌
Dua hari telah berlalu dan selama dua hari ini bersitegang dengan mami nya. Leon sendiri juga terlihat tidak mengungkit apapun karena dia tahu bagaimana ketegangan yang terjadi ketika mami dan kembaran nya itu sedang berbicara.
“Ada apa denganmu hari ini?” tanya Hera kebingungan.
Sudah dua hari, Lydya terlihat lesu dan tidak banyak bicara. Hera menoleh pada Leon yang ada dibelakang mereka dan Leon hanya menggelengkan kepalanya. Hera semakin dibuat bingung, tidak mungkin Leon tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Lydya karena Leon pun juga tak banyak bicara.
“Lydya, ada yang mencarimu,” ucap seorang teman dari arah pintu.
Lydya yang sedang merebahkan kepalanya diatas meja mengangkatnya dengan malas. Dahi Lydya berkerut dalam membuat teman yang memanggilnya itu menelan ludahnya gugup dan hanya menunjuk keluar meminta Lydya segera menemui orang yang mencarinya.
Lydya menggaruk kepalanya kasar dan segera beranjak untuk menemui orang yang mencarinya. Semua mata tertuju pada Lydya yang berjalan keluar karena Lydya berdiri dari kursinya hingga bergeser dan menimbulkan bunyi yang cukup keras sehingga menarik perhatian.
Apalagi selama dua hari, raut wajah Lydya terlihat sangat menyeramkan membuat siapa pun segan untuk mendekat bahkan mereka merasa tak nyaman berada di dekat Lydya yang seakan-akan bisa melahap mereka jika salah bergerak sedikit saja.
Hera segera mengalihkan pandangannya pada Leon, “Sebenarnya ada apa?”
__ADS_1
Leon melirik keluar, terlihat Lydya berbincang-bincang sebentar sebelum meninggalkan kelas. Leon langsung mendekat pada Hera dan berbisik. Hera menutup mulutnya tak percaya setelah mendengar ucapan Leon.
“Kau serius?”
Leon menganggukkan kepalanya cepat. Dia sendiri sebagai kembaran Lydya juga merasa tak nyaman dekat-dekat dengan kembaran nya sendiri. Sekarang, Hera paham kenapa Lydya terlihat sangat menyeramkan dua hari ini.
Baru saja, Leon akan melanjutkan ucapannya tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar kelas. Beberapa teman kelas yang duduk dekat pintu segera keluar dan menanyai salah satu orang yang lewat tetapi tidak ada jawaban yang pasti.
Beberapa dari mereka mulai keluar kelas karena penasaran begitupun dengan Leon dan Hera. Mereka saling berpandangan bingung.
“Akh!”
Leon menyentuh sudut bibirnya. Tiba-tiba saja dia merasa sakit di ujung bibirnya. Hera mengerutkan dahinya dan menatap Leon bingung sedangkan Leon juga menatap Hera bingung. Seolah-olah memahami satu sama lain, keduanya segera keluar kelas dan mengikuti para murid yang berjalan menuju halaman belakang.
“Leon!”
Leon dan Hera menghentikan langkah mereka ketika teman basket Leon menghampiri dengan wajah tersengal.
Leon segera berlari menuju halaman belakang sebelum teman nya selesai berbicara.
“Terima kasih sudah kasih tahu,” ucap Hera segera menyusul Leon.
Halaman belakang yang jarang digunakan sudah ramai dengan murid-murid yang berkumpul karena penasaran. Leon menerobos kerumunan dan dia bisa melihat kembaran nya dan beberapa siswi SMK bahkan ada beberapa guru di sana.
“Lydya!!! Cukup!!!” teriak Leon menghampiri kembaran nya yang baru saja menendang perut salah satu siswi SMK yang berada diantara siswi SMK lainnya.
Leon segera menghentikan Lydya yang terlihat ingin memukul siswi SMK itu, Lydya langsung menghentikan niatnya. Leon bersyukur Lydya masih bersama kesadarannya. Leon merasa kasihan pada perempuan yang baru saja Lydya tendang perutnya. Pasti perutnya akan terasa sangat sakit karena tendangan Lydya. Bahkan dua orang guru pria yang berbadan cukup besar tidak bisa menahan Lydya apalagi siswi SMK itu.
Leon melepaskan tangannya dari Lydya dan akan membantunya, “Apa yang akan kau lakukan?!”
__ADS_1
Leon menghentikan niatnya dan menatap Lydya dan perempuan itu bergantian. Lydya hanya menatap Leon tanpa ekspresi bahkan wajah Lydya terlihat tidak pernah terjadi apapun membuat Leon menelan ludahnya susah payah. Dia ingin membantu perempuan yang tentu saja dikenalnya tetapi tatapan Lydya membuatnya takut.
Leon semakin merasa tegang saat dia melihat Lydya sedikit menyipitkan matanya dan berjalan pergi. Leon membungkukkan badannya meminta maaf pada perempuan yang sedang kesakitan itu lalu segera menyusul Lydya yang berjalan semakin jauh.
Hera menatap perempuan yang sedang di gendong keluar dari kerumunan sebelum menyusul Lydya dan Leon. Hera mendengus dan tersenyum miring.
Para siswa-siswi segera dibubarkan oleh para staff dan guru. Selama berjalan meninggalkan halaman belakang mereka terus membicarakan kejadian yang baru saja mereka tonton dan tak membutuhkan waktu lama kejadian itu telah menyebar luas ke penjuru sekolah. Tidak ada satu pun sudut sekolah yang tidak mengetahuinya. Begitupun dengan kedua orangtua Lydya dan Leon.
🖌🖌🖌🖌🖌
Besoknya, kedua orangtua yang bersangkutan dipanggil ke sekolah tetapi orangtua dari perempuan yang Lydya tendang perutnya tidak berkenan untuk datang karena berada di rumah sakit, jadi mau tak mau beberapa guru datang langsung ke rumah sakit begitupun dengan Lydya dan kedua orangtuanya.
Tak ada percakapan apapun di antara Lydya dan kedua orangtuanya. Zyta dan Adam yang mendapat surat panggilan yang Leon serahkan pada mereka juga tak bertanya apapun. Zyta dan Adam hanya saling berpandang bingung dan mengatakan pada Leon kalau mereka akan segera memenuhi surat panggilan itu.
Hati keduanya merasa ada yang tak beres dan surat panggilan itu bukan surat panggilan yang beberapa kali mereka dapatkan karena prestasi yang Leon atau Lydya raih. Zyta hanya sebentar saja melihat putrinya yang berbaring membelakangi pintu jadi dia tidak tahu permasalahan apa yang baru saja terjadi bahkan Leon pun terlihat enggan untuk menceritakannya.
Mereka sampai didepan salah satu pintu ruang rawat. Zyta menyuruh Lydya untuk menunggu diluar. Zyta mencium singkat kening Lydya dan mengelus pipinya yang membiru dengan pelan. Pipi biru putrinya itu membuatnya sangat terkejut tadi pagi ketika mereka akan berangkat ke rumah sakit.
Zyta dan Adam masuk lebih dahulu kedalam ruang rawat. Lydya hanya diam berdiri didepan pintu tanpa ekspresi dengan posisi menunduk. Cukup lama sebelum pintu terbuka, Zyta menyuruh putrinya itu untuk masuk. Lydya terdiam sebentar sebelum mengangkat kepalanya.
“Ayo,” ucap Leon tersenyum kecil pada Lydya yang sejak tadi berada di samping Lydya menggenggam tangan kembaran nya erat.
Ray pun juga berada di sana. Di samping Lydya, dia juga tersenyum kecil pada Lydya dan mereka memasuki ruang rawat. Terasa sekali ketegangan yang berada di ruangan itu. Semua mata tertuju pada Lydya yang masuk dengan wajah tenangnya.
Bahkan rasa-rasanya tatapan mata kedua orangtua perempuan itu seolah-olah akan mencincang-cincang tubuh Lydya. Ray yang melihat wajah tenang Lydya merasa yakin kalau Lydya tidak akan memukuli orang lain tanpa sebab.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Yatta, dah masuk chapter 67...
__ADS_1
see ya next chapter ~(~ ̄▽ ̄)~~