School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Holy Sh*t!


__ADS_3

Happit Reading~ Reader-sama~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Holy ****!


“Apa yang kau lakukan di sana? Apa kau mencari masalah dengan mereka? Atau…,”


Lydya yang berbaring di ranjang UKS mengangkat tangannya mencegah Leon untuk melanjutkan ucapannya, “Bukan aku tetapi mereka,”


“Hah?”


Leon tak percaya jika bukan Lydya yang mencari masalah lebih dahulu. Leon sangat hafal dengan sifat Lydya yang suka sekali mencari masalah dengan anak lain tepatnya siapa pun itu selama bisa menarik perhatian kembaran nya ini.


“Perempuan itu sudah tahu,”


“Siapa?”


Leon mengerutkan dahinya. Mana yang sedang Lydya maksud di antara perempuan yang mengelilingi kembaran nya tadi?


“Baka~ (Bodoh~).Siapa lagi,”


Leon semakin mengerutkan dahinya. Dia kembali mengingat-ingat saat dirinya menghampiri Lydya. Ada dua orang yang wajahnya Leon kenali tetapi tidak dengan yang lainnya. Leon baru pertama kali melihatnya. Leon menajamkan ingatnya. Dia mengingat-ingat siapa lagi yang dia kenali di sana.


Lydya memutar bola matanya malas, “Perempuan itu tahu hubunganku dengan Gio,”


Leon mengangkat kepalanya dan menatap Lydya dalam diam. Leon tengah mencerna setiap kalimat yang Lydya ucapkan barusan.


“Hubungan? Kau dan Gio?” tanya Leon memastikan ucapan Lydya.


Lydya menganggukkan kepalanya.


“Kau dan Gio?” ucap Leon memastikan kembali ucapan Lydya.


Lydya memutar bola matanya dan berdecak kesal lalu mengangguk dengan cepat. Leon menutup mulutnya tak percaya membuat Lydya mengerutkan dahinya. Lydya merasa Leon sedang salah paham dengan ucapannya.


“Leon, apa yang kau pikirkan?” ucap Lydya mengubah posisinya jadi duduk bersila.


“Hah? Pertunangan kalian,”


Ternyata benar dugaan Lydya, Leon salah paham dengan ucapannya.


“Bukan pertunangan tetapi soal sepupu,”


“Hah? Apa hubungannya dengan sepupu,”


“Tunggu? Apa aku belum menceritakannya padamu?”


Leon menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu ke mana arah pembicaraan Lydya yang tiba-tiba membicarakan tentang sepupu.

__ADS_1


Memang apa hubungan sepupu dengan pertunangan kembaran nya ini?


Lydya menepuk dahinya, dia ingat sekarang kalau waktu itu dirinya belum menceritakan apapun pada kembaran nya dan hanya mendengarkan omelan panjang dari Leon hingga malam tiba.


“Tuhan! Aku lupa menceritakannya padamu,”


Lydya langsung menceritakan apa yang dialami saat di rumah tunangannya. Lydya sengaja mengatakan kalau hubungannya Gio hanya sebatas sepupu saja karena waktu itu dirinya juga sedang tidak ingin terlibat masalah dalam bentuk apapun.


“Kau gila?”


“Mau bagaimana lagi. Sudah telanjur,” ucap Lydya mengangkat bahunya acuh.


Setidaknya kekasih dari tunangannya itu belum mengetahui kalau mereka sudah bertunangan sejak tahun lalu. Sampai pertunangan ini terbongkar, Lydya masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri dari hal-hal yang mungkin saja akan terjadi.


“Itu artinya perempuan itu belum tahu pertunangan kalian?”


Lydya mengalihkan pandangannya, “Mungkin. Lagi pula yang tahu pertunangan itu hanya kau dan Hera,” ucap Lydya tak yakin.


Leon menghela napasnya panjang, “Ku rasa akan ada masalah yang lebih besar dari ini jika kalian ketahuan,” ucap Leon melirik Lydya yang terus mengalihkan pandangannya.


Lydya hanya bisa terdiam mendengar ucapan Leon yang memang benar. Lydya sudah memperkirakan akan ada masalah yang lebih besar daripada ini. Leon menolehkan kepalanya ke pintu yang sedikit terbuka. Dirinya merasa ada yang sedang memperhatikannya dengan Lydya.


“Ada apa?”


Leon menggelengkan kepalanya. Mungkin itu hanya perasaannya aja. Leon memperhatikan pintu itu untuk beberapa lama sebelum mengalihkan pandangannya dari pintu. Memang benar hanya perasaannya saja. Lydya yang kebingungan hanya menggelengkan kepalanya heran.


Lydya melangkah kakinya dengan berat menuju kamarnya. Sekujur tubuhnya terasa pegal sehabis mengikuti ekstrakurikuler. Lydya tidak akan mengikuti lagi ekstrakurikuler yang Leon ikuti tadi. Dia kira Leon akan mengikuti ekstrakurikuler bahasa Prancis tetapi ternyata yang Leon ikuti hari ini adalah basket.


Padahal tadi, Lydya sengaja mengajak Leon bertukar agar bisa bersantai di ruangan yang digunakan anak bahasa Prancis. Itulah kenapa Leon tadi, terlihat sangat senang bertukar dengannya. Pelatih yang mengajar terkenal sebagai orang yang sangat tegas.


Leon ingin menghindari pelatihnya itu. Inilah yang dinamakan senjata makan tuan. Lydya ingin menghindar dari ekstrakurikuler voli tetapi dia malah terjebak di ekstrakurikuler basket. Pasti saat ini Leon masih di sekolah dan tertawa bahagia bermain dengan teman-teman voli nya.


Lydya sudah sampai didepan kamarnya, dia duduk didepan pintu kamarnya. Ia sudah tidak kuat lagi berjalan bahkan membuka pintu saja rasanya berat. Lydya membiarkan tangannya menggantung memegang handle pintu. Dia benar-benar sudah tidak punya tenaga sedikitpun.


“Sial, capeknya,” gumam Lydya menyandarkan kepalanya di pintu.


“Eh?”


Lydya terkejut saat merasakan tubuhnya diangkat dan dibawa masuk ke dalam kamar. Lydya mengalungkan kedua tangannya di leher orang yang mengangkatnya. Apa yang sedang orang ini lakukan di rumahnya? Mengapa dia bisa ada di sini?


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lydya keheranan.


Lydya merasa heran dengan orang yang tanpa bicara meletakkan tasnya diatas meja belajarnya. Laki-laki yang sekarang duduk di depannya ini sangat sering datang ke rumah keluarganya tanpa bosan bahkan saat kembaran nya tak di rumah, dia tetap datang dan menginap. Lydya menatap laki-laki itu datar, sudah seperti rumahnya sendiri. Batin Lydya.


“Kau terlihat sedang bersedih,” tanya Lydya melihat wajah laki-laki di depannya yang terlihat lesu.


Laki-laki itu menghela napasnya, “Dia marah,”


Lydya mengerutkan dahinya bingung, “Siapa?”

__ADS_1


“Linda,”


Lydya menelan ludahnya gugup. Apa jangan-jangan perempuan dengan status sebagai kekasih tunangannya itu sudah bercerita pada tunangannya ini?


Sial, Lydya belum siap jika harus menghadapinya sekarang. Ini terlalu cepat, di luar perkiraannya.


“Kenapa bisa?” tanya Lydya pura-pura tidak tahu.


Habislah dia jika Linda bercerita pada tunangannya kalau kemarahan Linda berasal darinya. Seharusnya tadi, dia tidak memprovokasi Linda. Tunggu, jangan-jangan Linda sudah tahu tentang pertunangan mereka? Apa perempuan tadi, yang menceritakannya?


Sial!


Benar-benar sial!


“Itu yang ku tanyakan. Aku tidak tahu di mana salahku hingga dia tiba-tiba saja marah seperti itu,”


Lydya merasa lega mendengarnya. Ternyata hubungan mereka belum terungkap itu artinya perempuan tadi, belum mengatakan apapun pada kekasih tunangannya ini.


“Hmm.. tunggulah beberapa saat. Mungkin dia sedang butuh waktu sendiri,” ucap Lydya tersenyum manis.


Gio menganggukkan kepalanya. Lydya benar-benar merasa lega sekarang hingga dia tidak bisa menahan rasa senangnya. Lydya belum siap jika harus mengalami adegan tampar menampar nantinya. Dia harus menyiapkan mental setidaknya tiga hari sebelumnya.


“Eum.. daripada terus bersedih. Bagaimana kalau kita keluar main?” ucap Lydya tersenyum manis.


Sial! Dirinya salah berucap. Apanya yang keluar main? Hubungannya dengan Gio saja sudah terungkap kalau mereka tidak ada hubungan apapun. Bukan tidak ada tepatnya hubungan pertunangan. Dasar mulut sialan nya ini, begitu mudahnya berucap sepatah dua patah kata.


“Tetapi..,”


Drrttt.. Drrttt..


Percakapan mereka terhenti oleh suara getaran ponselnya yang tentu saja milik Gio karena ponsel Lydya masih berada didalam tasnya. Lydya sedikit melirikan matanya melihat siapa yang gerangan yang membuat ponsel tunangannya ini bergetar.


‘Sayang’


Oh sial. Itu Linda. Lydya melanjutkan aksi mengintipnya. Lydya menggelengkan kepalanya heran. Selain pencemburu, kekasih tunangannya ini juga sangat posesif. Dia mengirim pesan spam yang kebanyakan isinya menanyai keberadaan tunangannya saat ini.


Lydya mengalihkan pandangannya pada wajah Gio yang dahinya berkerut. Dia rasa tunangannya ini sedang kesal tetapi jika dia menjadi laki-laki dan berada di posisi tunangannya sudah pasti dia akan merasa kesal setengah mati.


“Ku rasa aku akan pul...,”


Mata Lydya melebar begitupun dengan Gio. Wajah mereka terlalu dekat. Lydya segera mengalihkan pandangannya dan Gio berdiri dari duduknya lalu keluar kamar Lydya setelah berpamitan singkat. Lydya berdeham pelan, dia sangat terkejut mendapati wajahnya dan Gio sangat dekat.


“Akh! Sial!” umpat Lydya membenamkan wajahnya diatas bantal.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


Yare yare, kapalku~


See ya next time~

__ADS_1


__ADS_2