
Hai..hai.. I'm backeuhh~~~
Happy Readingeu~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Greedy
“Apa kau gila?” ucap Ray begitu mereka sampai didepan mobil.
Lydya mengalihkan pandangannya dan mengedikkan bahunya, “Tuhan…,” ucap Ray mengacak rambutnya kasar, dia berjongkok didepan mobil.
“Hanya membantu,”
“Hah?! Membantu katamu? Sudah ku duga kau akan membuat masalah,” ucap Ray menatap adiknya tak percaya.
Seharusnya kemarin dia meminta bantuan teman perempuannya dari pada adiknya tetapi ketika mengingat bagaimana mantannya itu mengejek nya dia jadi terus teringat untuk membawa Lydya dari pada teman perempuannya.
Dia yakin Lydya akan membantunya membalas dendam padahal dia tahu bagaimana akhir dari pemikiran pendeknya itu.
“Lagipula dia hanya orang lain sekarang mengapa kau sangat berisik? Dia saja mengolok mu seperti itu,” ucap Lydya mendekati kakaknya dan merapikan rambut kakaknya yang berantakan.
“Tetapi, kau tidak harus sampai seperti itu. Aku jadi merasa bersalah,” ucap Ray menengadahkan kepalanya.
“Hatimu lemah sekali,” ucap Lydya fokus menata kembali rambut kakaknya.
“Oh! Kalian di sini?”
Lydya menolehkan kepalanya ke belakang, “Akh! Sakit!” pekik Ray ketika Lydya tak sengaja menjambak pelan rambutnya.
“Maaf,” ucapnya melepaskan tangannya dari rambut kakaknya.
Dia terkejut melihat wanita yang Lydya tak salah ingat adalah salah satu mantan kakaknya dan wanita itu datang bersama Gio sehingga Lydya tak sengaja menarik rambut kakaknya.
“Ternyata kau,” ucap Ray.
Ray berdiri dari jongkok nya dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku. Dia tahu sikap ini. Ini menunjukkan kalau kakaknya tertarik dengan wanita itu. Ternyata ada waktu di mana kakaknya tidak bisa melupakan orang yang pernah menjadi kekasihnya.
Lydya ingat kalau wanita ini adalah wanita pertama yang memutuskan hubungannya dengan kakaknya karena harus menikah dengan orang lain. Lydya melirik kakaknya prihatin. Ada waktu di mana kakaknya terlihat menyedihkan.
Ray yang menyadari tatapan Lydya mengulurkan tangannya merangkul bahu adiknya. Mata wanita itu tak lepas mengikuti ke mana perginya tangan Ray.
Ternyata hubungan setelah berpisah tidak baik, batin Lydya.
__ADS_1
“Lama tak jumpa. Bagaimana kabar mu?”
Wanita itu tersenyum lebar terkesan dipaksakan. Lydya sampai terpesona melihatnya. Wajahnya dan senyumnya yang lembut benar-benar cantik. Jika Lydya seorang pria pastinya dia sudah jatuh cinta pada mantan kakaknya ini.
“Seperti yang kau lihat,” ucap Ray acuh.
Lydya hanya tersenyum canggung. Walau dia tahu wanita ini tetapi tidak dengan sebaliknya. Wanita inilah yang membuat kakaknya menjadi ******** yang menyebalkan. Senyum wanita itu semakin dipaksakan.
“Syukurlah. Kami pamit. Ayo pergi, Gio,” ucapnya meninggalkan Lydya dan Ray begitu saja.
Setelah mereka tak terlihat, Lydya berdecak kagum.
“Wow.. wanita yang cantik,”
Ray hanya diam memandang kearah wanita itu pergi bersama dengan Gio.
“Biasa saja,” ucapnya lalu memasuki mobil.
Lydya menghela napas, kakaknya belum melupakan wanita itu tetapi apa hubungan wanita itu dengan Gio. Lydya mengedikkan bahunya acuh, apapun hubungan mereka bukan urusan Lydya.
🖌🖌🖌🖌🖌
“Kakak, apa kau tidak lapar?”
Selama perjalanan pulang, Ray terus saja diam sejak mereka bertemu dengan mantan kakaknya dan Gio.
Ray tau maksud dari pembicaraan Lydya. Mereka baru saja melewati restoran cepat saji kesukaan Lydya.
“Ck! Hanya membeli satu burger saja dan kita langsung pulang. Aku akan memakannya dijalan,” ucap Lyda memasang wajah memelas.
Dia mengedipkan matanya pada Ray yang meliriknya sekilas-sekilas dengan ekspresi kesalnya. Ray sudah menduga kalau Lydya akan merayunya seperti itu dan dapat dipastikan kata selanjutnya seperti yang dia pikirkan.
“Kumohon. Bukankah aku sudah membantu mu tadi? Di dunia ini tidak ada yang gratis,”
Tepat sekali seperti yang Ray pikirkan. Lydya tidak akan mau dimintai tolong secara gratis, harus ada bayarannya dalam bentuk apapun itu. Entah uang, makanan, atau barang.
“Kau ini. Bisa-bisanya meminta imbalan pada saudara sendiri,”
“Hmm.. bukankah kau banyak uang? Kau sudah bekerja sekarang dan aku belum,”
Ray mengedipkan matanya cepat dan Lydya tersenyum miring, “He.. he.. he..,” kekeh Lydya menaikkan sebelah alisnya.
Ray menghela napasnya mencari tikungan untuk berputar balik. Lydya berteriak kegirangan. Mereka akhirnya mampir ke restoran cepat saji kesukaan Lydya dan seperti yang Ray duga lagi. Adiknya tidak akan hanya memesan satu burger tetapi empat burger dengan ukuran dari yang kecil hingga besar.
__ADS_1
Terkadang dirinya tidak habis pikir dengan Lydya. Adiknya itu memiliki badan kecil yang terlihat tidak bisa makan dalam jumlah banyak tetapi kenyataannya adiknya ini bisa makan tiga porsi orang dewasa.
Adiknya ini memang kuat makan atau rakus.
“Cepat makan dan habiskan,” ucap Ray menyerahkan kantong plastik berisi tiga burger Lydya yang lainnya.
Lydya mengacungkan jempol nya dan memakan burger yang dia ambil sebelum mereka kembali ke mobil. Selama perjalanan tak terasa Lydya sudah menghabiskan keempat burger nya.
“Apa kau masih mau makan lagi?” tanya Ray berjalan berdampingan menuju ruang makan.
Lydya menganggukkan kepalanya. Ray hanya bisa menggelengkan kepalanya. Begitu mereka sampai ternyata sudah selesai makan malam jadi Lydya dan Ray hanya makan berdua saja.
“You’re lucky,” sindir Ray begitu mereka duduk berhadapan.
Lydya menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum lebar membalas sindiran Ray. dia paham maksud dari perkataan kakaknya. Mereka sampai setelah makan malam jadi Lydya tidak akan kena tegur nenek mereka yang bisa mengetahui kalau salah satu cucunya baru saja makan makanan cepat saji.
[itu makanan enak kali lah yauw😆😆 jujur aja keliatannya itu makanan buat pas sarapan deh😆😆 tp gk apalah itu foto yng menarik perhatian pertama kali😆😆😆]
Beberapa hidangan tersaji di meja dan mata Lydya berbinar melihat semua makan di meja ditambah lagi ada makanan kesukaannya di sana tetapi tidak dengan Ray yang tak yakin semua makanan di hadapannya ini akan habis.
Ray melirik adiknya yang sudah makan lebih dahulu. Dia tersenyum misterius dan mengikuti adiknya makan. Dia tahu apa yang harus dilakukannya pada makanan di depannya.
“Haah~ Kenyangnya. Makanan rumah memang yang terbaik,”
“Kau kenyang. Aku kekenyangan!!!” ucap Lydya memukul lengan kakaknya.
Ray tertawa kecil, “Bukankah tadi kau yakin untuk makan semuanya,” ucap Ray mengedipkan sebelah matanya.
“Tentu saja tetapi hanya porsi ku bukan juga termasuk punya mu,”
Perut Lydya terasa sangat penuh dan sesak di setiap sudutnya. Dia memang bisa makan banyak dan menghabiskan makannya tetapi tidak dengan ditambah milik kakaknya. Begitu dia selesai makan, Ray mencegahnya yang ingin keluar dan menyodorkan setiap piring yang berisi makanan milik kakaknya.
Lydya sudah menolaknya tetapi kakaknya itu mengancam akan mengadukan Lydya yang memakan makanan cepat saji dan bilang kalau dirinya diancam oleh Lydya jika tidak membelikannya.
Jadi, mau tidak mau Lydya harus memakan semuanya dan berakhir dia sangat kenyang. Semoga saja dia tidak memuntahkan nya nanti.
“Selamat malam adikku sayang dan terima kasih sudah membantu ku menghabiskannya,” ucap Ray mengacak rambut Lydya sebelum berlari meninggalkan adiknya.
“Dasar!!! Awas saja!!!” teriak Lydya mengangkat kepalan tangannya kesal.
Lydya menghela napas dan berjalan pelan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
just want to say see ya aja deh (≧∇≦)/