Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Keputusan


__ADS_3

"Apa?!" Teriak Dion, hingga membuat istri beserta putra nya terkejut seketika. Bahkan maid yang sedang berlalu lalang pun ikut terkejut saat mendengar suara Dion yang menggelegar memenuhi ruangan itu.


Plak…


Dion menampar pipi kanan putranya dengan keras, hingga wajahnya terhuyung ke samping, saking keras nya tamparan yang di layangkan oleh Dion. Namun, Farhan tak menunjukkan ekspresi apapun, tak ada ringis kesakitan. Dia hanya diam dan menerima kemarahan sang ayah, berani berbuat harus berani dengan konsekuensi nya, dan inilah yang dia dapat. 


"Sejak kapan papa mengajari kamu jadi pria brengseek, Farhan?" Bentak Dion membuat Farhan menunduk. Dia sadar benar, apa kesalahan nya. Dari itu, dia ingin mempertanggung jawabkan perbuatan nya dengan bersikap berani untuk menikahi sang kekasih secepatnya, sebelum apa yang dia khawatirkan terjadi. 


"Jawab Farhan!" Tegas Dion, membuat Farhan segera buka suara.


"Farhan sadar, apa kesalahan yang sudah Farhan lakukan, Pa. Maka dari itu, Farhan ingin bertanggung jawab sebelum Eva hamil." 


"Sudah berapa kali kau melakukan hal bejaat itu, Farhan?" Tanya Dion, sedangkan Karin hanya diam saja. Dia terlalu shock dengan apa yang terjadi di depan nya saat ini, dia benar-benar tak menyangka putra nya sudah berani menodai seorang gadis. 


"S-satu kali, Pa. Hanya satu kali, tapi Farhan mengeluarkan nya di dalam." Jawab Farhan jujur, membuat Dion mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menghembuskan nafas nya beberapa kali. 


"Besok kita ke rumah Eva, seminggu lagi kalian menikah. Setuju atau tidak, pernikahan itu harus terjadi." Tegas Dion, lalu pergi meninggalkan Farhan dan sang istri di ruang tamu, membawa amarah yang meledak-ledak. 


Orang tua mana yang mau anaknya jadi pria brengseek? Takkan ada, termasuk Dion. Anaknya memang bandel dan dadung, sering tawuran, bahkan masuk geng motor bersama sepupu nya. Tapi selama ini, Dion hanya diam dan memantau sang putra dari kejauhan. Namun, Dion selalu bangga karena Farhan adalah petarung yang hebat. Hingga nama putranya di kenal, karena tak pernah kalah saat bertarung dengan musuh.


Namun, tetap saja hal itu tak membuat Dion berhenti memantau tindak tanduk putranya, baru kali ini dia kecolongan.


"Sayang.." 


"Maafin Farhan, Ma." Lirih Farhan, tanpa berani menatap wajah sang Mama, yang menatap putranya dengan nanar. Cap lima jari di pipi kanan putranya tercetak jelas, membiru. Ini, adalah pertama kali nya Farhan mendapat tamparan dari sang papa. Mungkin karena saking kecewa nya sang papa padanya, dia tak menyangkal hal itu. 


"Kamu sudah mengambil tindakan yang benar Nak, tapi kenapa harus melakukan hal itu sebelum kalian menikah hmm? Itu yang Mama sayangkan."


"Maaf.." Lirih Farhan lagi, masih dengan kepala tertunduk.


"Tatap Mama, sayang." 


Perlahan, Farhan mendongak dan memberanikan diri menatap wajah sang Mama. Pria itu terkejut saat melihat wajah mama nya yang sudah bersimbah air mata. 


"Mama.." Farhan langsung berjalan mendekat dan bersujud di kaki sang Mama. 


"Farhan minta maaf, Ma. Jangan salahin Eva, ini bukan kesalahan Eva, Ma. Ini kesalahan Farhan, maaf." 

__ADS_1


"Tidak, mama tidak menyalahkan siapapun, Nak. Bangunlah, jangan begini. Mama memaafkan kamu, dengan bertindak berani mengakui kesalahan saja, mama sudah bangga padamu Nak." Karin mengusap puncak kepala Farhan dengan lembut.


"Maaf sudah membuat air mata berharga Mama jatuh karena menangisi ulah Farhan, Ma." 


"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kamu ke rumah Eva, lalu katakan niat baik kita pada orang tua nya." Ucap Karin lembut. Bohong jika dia tak kecewa dengan putra nya, tapi sebagai seorang ibu dia tak boleh egois. Kesalahan putra nya sudah dia tebus dengan bertindak berani layaknya laki-laki. 


"I-iya Ma. Farhan pergi dulu,"


"Hati-hati di jalan nya." Peringat Karin, dia tersenyum kecil yang justru membuat hati Farhan semakin terasa sakit. 


Pria itu meraih kunci motor nya dan segera pergi dari rumah besar miliknya dengan membawa rasa sakit, ya sakit karena sudah membuat mama nya menangis karena kesalahan besar nya. Dari dulu, pantang bagi Farhan membuat mama nya menangis. Tapi sekarang, dia malah melakukan nya. 


Farhan mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi, dia tak peduli akan dirinya sendiri, yang ada di otaknya sekarang hanyalah agar cepat sampai ke rumah sang kekasih.


Cukup setengah jam, Farhan akhirnya sampai di rumah Eva. Gadis itu terlihat sedang menyapu teras rumahnya, dia mengernyit saat melihat motor yang dia kenali mendekat dan berhenti di halaman rumahnya. 


"Lho, yang? Kamu kok kesini lagi?" Tanya Eva setelah Farhan melepas helm nya dan berjalan ke arahnya.


"Iya nih, aku punya kabar gembira buat kamu." 


"Sebaiknya kita bicara di dalam saja ya?"


"Aahhh iya, ayo masuk sayang." Ajak Eva, dia menggandeng tangan Farhan ke dalam rumah. 


"Sebentar ya, aku buatin minum dulu." Farhan mengangguk, dia memilih duduk di sofa dan membuka jaket nya, meletakan nya di pinggiran sofa. 


Tak lama, Eva datang dengan secangkir teh manis hangat untuk kekasihnya. 


"Gak baik minum kopi terus, sekali-kali minumnya teh manis ya." 


"Iya sayang, bilang aja kopi nya habis. Iya kan?" Tanya Farhan membuat Eva terkekeh, karena tebakan sang kekasih memang benar. 


"Jadi, kabar apa yang mau kamu…"


"Besok orang tua aku kesini, buat lamar kamu, sayang." Potong Farhan membuat Eva tersedak ludah nya sendiri.


"Apa gak terlalu mendadak, yang?"

__ADS_1


"Enggak, aku kan udah bilang sama kamu. Lebih cepat lebih baik, jangan menunggu sampai dia hadir di rahim kamu." Jawab Farhan. 


"T-tapi.."


"Kamu ragu sama aku, yang?" Dengan cepat, Eva menggelengkan kepala nya. Dia tak pernah meragukan Farhan, dalam hal apapun itu. 


"Terus?"


"Aku hanya belum siap, yang."


"Tak apa, kita akan menyesuaikan diri setelah menikah nanti." 


"Baiklah, mama juga pulang sore ini." Jawab Eva pasrah, dia menatap wajah Farhan, mencari sedikit keraguan atau apapun itu dari tatapan nya. Tapi dia hanya menemukan tatapan hangat penuh cinta dan kejujuran, juga ketulusan. Namun, Eva salah fokus saat melihat pipi kanan Farhan yang lebam. 


"Pipi kamu kenapa yang? Perasaan tadi enggak lebam deh." 


"H-ahh? Mana ada lebam, enggak kok yang." 


"Aku gak buta ya!" Eva mendekat dan melihat dengan jelas wajah kekasihnya yang lebam, dari bentuknya saja Eva tau kalau itu bekas tamparan.


"Siapa yang nampar kamu, sayang?"


"Gak ada kok."


"Kamu gak pinter bohong ya, aku tau kamu bohong!" Tegas Eva. 


"Papa.." lirih Farhan membuat Eva menutup mulutnya. Apa yang membuat papa nya Farhan sampai menampar putranya sendiri? Apa dia penyebab nya?


......


🌻🌻🌻🌻


sambil nunggu novel ini up lagi, yuk mari mampir ke karya temen author, di jamin seru ceritanya 😚😚



Istri Siri Tuan Bryant karya kakak Asma Khan😚

__ADS_1


__ADS_2