
Sekalian untuk menyambut kepulangan Alisa ke rumah, Larissa mengajak Alina dan Rafi untuk makan malam di rumah. Beberapa saat lalu, Eva bersama Harry juga datang berkunjung untuk menjenguk Alisa yang baru saja pulang dari rumah sakit.
"Gimana udah lebih baik sekarang, bestie?" Tanya Eva.
"Udah mendingan sekarang."
"Emang kenapa sih? Kok bisa sakit." Tanya Harry yang beberapa hari ini menerka-nerka, sejauh apa hubungan Jimmy dan Alisa. Katanya baru bertunangan tapi mereka sudah tinggal serumah?
"Pas kita balik hari itu, ada orang-orang yang ngepung kita di jalan. Jimmy berhasil ngalahin mereka sih, tapi ya gue yang belum pernah ada di posisi semacam itu jelas takut dong. Dan ya, sampai demam jadinya." Jelas Alisa.
"Gila, kebayang sih setakut apa Lo saat itu? Sampai demam."
"Ya itu dia, takut banget gue. Untung aja gak ngompol di celana, kalo ngompol gue gak bakal punya muka di depan Jimmy saking malu nya." Ucap Alisa sambil terkekeh geli.
"Iya juga, njiir malu nya sampai ke ubun-ubun ya kan?"
"Haha bener." Jawab Alisa sambil tertawa, begitu juga Eva. Namun Harry hanya tersenyum kecil, dia menoleh saat Jimmy datang dan duduk di samping nya.
'Gilee, si Jimmy ganteng bener.' Batin Harry, dia memang kagum melihat Jimmy. Tapi ya tentunya dia masih sangat normal untuk menyukai Jimmy. Tapi fakta nya, Jimmy memang tampan.
"Apaan Lo natap gue kayak gitu, bikin ilfeel aja."
"Eehh, sorry-sorry.." Harry tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya.
Jimmy hanya menatap sekilas pada teman istrinya, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Apa kalian tau dimana Denis?" Tanya Jimmy dengan kedua tangan bersedekap di dada.
"Enggak, tapi katanya dia pindah ke luar kota ngikut orang tua nya. Kenapa?" Tanya Eva keheranan, kenapa tiba-tiba Jimmy menanyakan keberadaan pemuda itu? Padahal setahunya, Jimmy dan Denis tak pernah akur sedetik pun, karena Jimmy menganggap kalau Denis adalah saingan nya untuk mendapatkan Alisa.
Padahal nyatanya, Alisa juga akan tetap memilih Jimmy karena pria itu adalah suaminya.
"Kau yakin? Pemuda itu pindah ke luar kota bersama orang tua nya?" Tanya Jimmy lagi, membuat kening Alisa mengernyit.
"Memang nya ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang Denis?" Tanya Alisa pelan.
"Tidak, hanya memastikan saja."
"Setau gue ya sih begitu, dia ngirim pesan kalau dia mau pindah ke luar kota. Belum sempat gue bales, udah dia blokir." Jelas Eva, membuat Jimmy yakin ada alasan tertentu kenapa pemuda itu berbohong dengan mengatakan ikut pindah bersama kedua orang tua nya, padahal dia masih ada di kota ini.
Bahkan dia sudah mengkonfirmasi nya lewat Dian, dan dia juga mengatakan kalau dia yakin yang dia lihat itu adalah Denis dan Ayuna, real 100%.
Tapi kenapa dan apa alasan nya, itulah yang Jimmy coba pecahkan sendiri. Namun nyatanya terlalu rumit baginya, terlebih saat ini fokus nya terbagi antara membongkar rencana Denis dan Ayuna atau fokus pada Alisa yang baru saja mendingan setelah di rawat di rumah sakit.
"Yang, kok bengong sih. Di tanya juga, malah ngelamun." Ucap Alisa sebal karena Jimmy malah bengong saat dia bicara.
__ADS_1
"Eehh, kenapa Bby?"
"Tau ahh, kebiasaan kalo di ajak ngobrol malah bengong!" Rajuk Alisa yang membuat Jimmy langsung duduk di samping Alisa dan meraihnya ke dalam pelukan hangat nya.
Eva dan Harry saling menatap satu sama lain. Iri? Sudah pasti, tapi apa daya mereka yang tak punya pasangan. Harry masih belum berani mengungkapkan perasaan nya pada seorang gadis cantik teman masa kecil nya yang baru pindah ke kota ini.
Sedangkan Eva terus saja berharap pada Harry, menaruh perasaan yang cukup besar pada pemuda itu. Namun sayang, setelah beberapa tahun dia memendam perasaan nya, tak ada tanda-tanda kalau pria itu merespon nya.
"Eehh Jim, kasian itu para jomblo liatin kalian. Baper baper dah." Celetuk suara yang tak asing, siapa lagi kalau bukan Farhan yang iseng datang berkunjung ke rumah Om nya.
"Ngapain Lo kesini?"
"Mau jenguk ibu bos, ini oleh-oleh dari Mami buat ibu bos." Ucap Farhan sambil meletakan parsel buah dan beberapa coklat yang di berikan mami nya untuk Alisa.
"Makasih, Farhan kampreet." Jawab Alisa membuat senyuman Farhan surut seketika, dia mencebik lalu mendengus kesal.
"Makasih sih makasih, tapi gak usah bilang kampreet juga kali."
"Terima aja, lagian pas juga kok Lo di panggil kampreet." Ucap Jimmy membela istrinya.
'Oke oke, sabar ya Farhan. Inget sepupu Lo lagi bucin akut, lagian Lo harus keliatan cool di depan Eva. Malu dong kalo pecicilan.' Batin Farhan, lalu memilih duduk di samping Harry.
Wajah Eva bersemu, entah kenapa penampilan Farhan malam ini terlihat berbeda, kenapa dia terlihat tampan? Astaga, sadar Eva dia itu temen debat.
Tapi, tak menutup kemungkinan dari temen debat jadi temen hidup, kan jodoh gak ada yang tau. Contohnya Jimmy dan Alisa.
"Gas." Jawab Farhan, sedangkan Harry hanya ikut saja.
Ketiga pemuda itu pun pergi ke belakang, ke tempat dimana banyak permainan ala sultan itu berada.
"Sini.." Eva menurut dan duduk di samping Alisa.
"Napa Lis?"
"Gue tanya, sampai kapan Lo mau bertahan nunggu Harry?" Tanya Alisa serius.
"Gak tau, tapi gak ada salahnya berharap kan?"
"Berharap itu gak salah, Va. Tapi, jangan melukai diri sendiri dengan harapan yang belum pasti. Inget, Lo berhak bahagia. Kalo Harry masih gak ada respon, lebih baik Lo kubur perasaan Lo sama dia dan mulai buka hati buat cowok lain." Nasihat Alisa yang membuat Eva menunduk.
"Berjuang sendirian itu gak enak, gue tau rasanya. Makanya, gue gak mau Lo tenggelam dalam perasaan sepihak Lo."
"Iya Lis, gue ngerti." Ucap Eva lirih.
"Gue gini karena gue sayang sama Lo, jangan nyakitin diri sendiri karena harapan itu ya." Alisa mengusap wajah Eva yang murung.
__ADS_1
"Jangan sedih ya, Lo cantik. Pasti ada laki-laki yang harapin Lo buat jadi penyempurna hidupnya, meskipun bukan Harry orang nya."
"Iya, makasih ya Lis." Alisa mengangguk lalu memeluk sahabatnya.
"Gue pasti dukung apapun keputusan Lo, tapi kalo keputusan Lo salah, gue bakal ngingetin Lo kapanpun."
"Aaaa bestie, terhura gue."
"Dihh, terharu kali." Ucap Alisa sambil terkekeh, kedua nya pun tertawa bersama.
Sedangkan di ruangan tempat para pemuda itu bermain billiard, sambil bermain mereka mulai bercerita, ya tepatnya Farhan yang berceloteh lebih dulu.
"Caranya confess ke cewek gimana ya?" Tanya Farhan membuat Jimmy tergelak.
"Dihh, Farhan punya crush." Ejek Jimmy.
"Gue normal kali, ya wajar kalo punya crush."
"Iya juga sih." Ucap Jimmy di sisa kekehan nya.
"Siapa nih? Penasaran gue, kiranya siapa ya crush nya Farhan?" Celetuk Harry sambil menguluum senyum nya.
"Ada deh, kepo aja Lo."
"Menurut gue, kalo confess ya confess aja. Pake bunga, pake cincin kek." Saran Jimmy.
"Asal jangan confes nya lewat pesan wa aja." Ucap Harry ikut nimbrung.
"Jadi, kapan mau confess?" Tanya Jimmy.
"Secepatnya dah, gue takut crush gue keburu di rebut orang. Tapi gue juga harus ngumpulin mental dulu, kalo di tolak kan malu."
"Idih, belum apa-apa udah takut di tolak." Celetuk Jimmy dan Harry barengan.
"Ciee barengan, jangan-jangan…"
"Jangan-jangan apa? Gak usah konyol Lo, gue dah punya ayang." Sewot Jimmy sambil menimpuk kepala Farhan.
"Elah, sewot bener Lo." Harry memutar matanya jengah menyaksikan perdebatan Antar Sepupu ini.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
jangan lupa mampir ke karya temen author yaa😚
__ADS_1
Dendam Cinta karya kak Lena Laiha😚🌻