Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Drama Belanja Bulanan


__ADS_3

Pagi harinya, Alisa nampak lebih segar dengan balutan dress selutut bercorak garis-garis berwarna biru navy, dengan rambut yang dia gerai seperti kesukaan Jimmy. 


Nyatanya, vitamin dari Jimmy adalah obat yang ampuh untuk menyembuhkan tubuhnya yang lemas, meskipun dia tak bisa membantu banyak di permainan tadi malam.


Alisa menatap suaminya yang masih tidur di ranjang empuk nya, berguling dalam selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali kepala. 


Perempuan cantik itu mengusap wajah tampan sang suami, kedua mata nya yang di hiasi bulu mata lentik itu terpejam sempurna, dengkuran halus masih samar-samar Alisa rasakan di tangan nya yang kini menyentuh rahang tegas Jimmy.


"Sayang, bangunlah." 


"Heemmm.." Jimmy hanya berdehem sebagai jawaban, tapi kedua mata nya masih tertutup rapat. 


"Sudah siang lho, katanya mau minta jatah lagi. Tapi aku udah rapih nih, di ajakin Mama belanja bulanan ke supermarket." 


"Hah? Pergi sama siapa? Kok gak ngasih tau sih." Ucap Jimmy, dia langsung membuka kedua mata nya dan langsung bangun dari rebahan nya.


"Kan barusan aku udah ngasih tau kamu, yang."


"Terus, yang ngizinin kamu pergi siapa?" Tanya Jimmy, sambil mengucek kedua mata nya.


"Ya masa gak boleh sih, kan cuma ikut Mama belanja doang." 


"Kalau sama aku kamu boleh pergi, tapi kalau kamu keberatan mending gak usah pergi aja." Tegas Jimmy tak terbantahkan.


"Isshhh, masa gak boleh sih? Kali-kali gitu aku juga pengen pergi sendiri, gak sama kamu terus." 


"Ngapain? Mau liatin cowok-cowok di supermarket gitu, terus mereka bakal muji kamu cantik. Terus tukeran nomor wa, terus chat an?" Cerocos Jimmy yang seolah tak bernafas saat bicara. 


"Ya ampun sayang, kenapa pikiran kamu sejauh itu? Lagian aku pergi sama Mama, gak bakal terjadi apa-apa sayang. Aku cukup tau diri juga, kalo aku udah bersuami." 


"Ckk, gak percaya." Jawab Jimmy membuat Alisa cemberut.


"Terserah ahh, bete. Kamu bikin aku bad mood pagi-pagi begini." Akhirnya Alisa merajuk.


"Intinya gini, kamu boleh pergi tapi sama aku, kalo kamu gak mau yaudah di rumah aja seharian. Lagian kamu baru kemaren pulang dari rumah sakit, kondisi kamu belum sepenuhnya fit." 


"Tapi aku bosen di rumah terus, coba inget-inget deh, emang pernah ya kita berdua pergi sekedar jalan-jalan keluar rumah kecuali sekolah. Enggak kan? Aku selalu di kurung di rumah besar ini." Keluh Alisa membuat Jimmy merasa tak enak hati.


"Jadinya, mau ikut belanja nggak?"


"Mau.."

__ADS_1


"Tapi sama aku, oke?" Kekeh Jimmy, membuat Alisa mendengus lalu kemudian menganggukan kepala nya.


"Nah gitu dong, kalo gak keras kepala gitu kan kamu lebih keliatan cantik. Yaudah, aku mandi dulu ya. Siapin baju aku ya, Bby."


"Iya." Jawab Alisa ketus, lalu pergi ke ruang ganti, sedangkan Jimmy masuk ke kamar mandi sambil terkekeh saat melihat wajah istrinya.


Bukan apa-apa, ada alasan kenapa dia memaksa ikut bersama Istrinya. Dia yakin keberadaan Ayuna dan Denis pasti ada hubungan nya dengan penyerangan basecamp dan di jalan hari itu. Meski belum punya bukti apapun, tapi keyakinan Jimmy tentang mereka berdua sudah 100%. 


Jimmy takut Ayuna akan mencelakai Alisa karena obsesi nya, hanya itu saja yang dia takutkan. Syukur-syukur kalau hal itu tak sampai terjadi, kalau sampai terjadi pasti Jimmy akan mematahkan leher mereka.


Satu jam kemudian, Jimmy, Alisa juga Mama Larissa sampai di supermarket. Alisa bergelayut manja di lengan mama mertua nya, sedangkan Jimmy berada di belakang kedua wanita berbeda generasi itu sambil mendorong troli yang masih kosong karena mereka baru saja sampai.


Larissa mulai mengambil barang-barang yang dia kira penting, juga sayuran, ikan, daging dan buah. Alisa terlihat salah fokus saat melihat buah yang mungkin sebelumnya belum pernah dia lihat.


"Ma, ini buah apa?"


"Peach, sayang." 


"Enak gak?" Tanya nya polos, Larissa tersenyum kecil.


"Tergantung dari mana nya, kadang ada yang manis, kadang juga ada yang hambar." Jawab Larissa.


"Kalau mau beli, ayo ambil. Buah dari Jepang biasanya bagus-bagus, premium walau pun harga nya agak mahal." 


"Hehe, Alisa penasaran sama rasa nya. Nyoba satu aja ya, Ma." Alisa memasukan buah bernama peach itu ke dalam troli.


"Bentuk nya seperti pantaat." Celetuk Jimmy yang membuat Alisa refleks memukul lengan suaminya dengan manja.


"Buah lho ini, jangan di samain sama anggota tubuh." 


"Lah, liat aja bentuk nya Bby. Aku gak ngarang lho ini." 


"Serah kamu aja deh." Pasrah Alisa, lalu kembali menggelayut manja pada ibu mertua nya.


"Kita bikin hot pot, mau gak?"


"Mau dong, Ma." Jawab Alisa antusias.


"Okey, kita beli bahan-bahan nya biar nanti malam kita makan hot pot." 


"Siap Ma." Alisa memilih bahan-bahan yang biasanya dia lihat ada di dalam hot pot. 

__ADS_1


"Yang, ambilin itu dong." Tunjuk Alisa, Jimmy menghela nafas lalu menurut dan mengambilkan satu bungkus makanan olahan dari ikan.


"Dua bungkus sayang, satu mana cukup."


"Udah pendek, ngerepotin lagi." Cetus Jimmy yang membuat Alisa naik pitam.


"Kamu bilang aku pendek? Ngerepotin ya? Ohh gitu ya, gak ada jatah malam satu bulan ke depan." Ucap Alisa lalu pergi menjauh dari Jimmy. 


Mendengar ucapan istrinya, Jimmy tentunya ketar ketir, mana bisa dia berpuasa selama itu. 


"Sayang, ini udah aku ambil dua bungkus besar. Terus mau apa lagi?"


"Jim, jamur enoki sama jamur shitake." Bukan Alisa yang menjawab, tapi Larissa. Sedangkan Alisa lebih memilih menghindar dari Jimmy untuk sementara waktu. Dia kesal karena di katai pendek oleh suaminya sendiri.


"Aku pendek juga bukan keinginan aku kali, bukan nya keliatan imut kalo pendek? Lihat aja sisi positif nya, jadi mudah di peluk." Gerutu Alisa sambil menyedekapkan tangan nya di dada, dia memilih mengambil daging di rak. Tapi lagi-lagi, daging slice yang dia inginkan berada di rak paling atas.


"Aduh, kenapa sih harus di atas? Seperti nya yang punya supermarket ini sengaja mengerjai orang-orang pendek seperti aku!" Alisa masih melanjutkan gerutuan nya sambil berusaha mengambil beef slice. 


"Kalau mau apa-apa tuh minta tolong, Bby. Kamu kan punya suami tinggi."


"Ngapain, yang ada cuma di ledekin doang. Mentang-mentang tinggi kayak tiang listrik jadi ngeledek aku yang pendek kayak kurcaci." Ucap Alisa nyerocos.


"Haha, sayangku gemesin banget kalo lagi marah gini. Tapi, aku gak bilang kamu kurcaci lho, kamu yang ngaku sendiri."


"Udahlah, cepetan ambilin daging nya. Tiga ya, biar kenyang makan nya." Ucap Alisa. Jimmy mengambil daging itu dan menyerahkan nya pada Alisa agar mengecek nya lebih dulu.


"Bagus gak?" 


"Bagus semua kok." 


"Oke, mau ngambil apa lagi cantik nya aku?" Tanya Jimmy yang membuat wajah Alisa memerah. 


Jimmy kembali mendorong troli yang hampir penuh dengan berbagai macam barang-barang.


Alisa berjalan sambil menggelayut manja di lengan suaminya, tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata tajam yang menatap kemesraan mereka dengan api kemarahan yang berkobar.


'Ternyata mereka sedekat itu dan sudah berani mengumbar kemesraan di depan umum, sialan aku kalah cepat.' 


.......


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2