
Pagi harinya, Jimmy terbangun lebih dulu. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia berinisiatif untuk membuatkan sarapan. Apalagi setelah melihat Alisa yang makan dengan lahap kemarin, membuatnya lebih semangat untuk memasak.
Jimmy membuat nasi goreng udang dengan saus tiram yang membuat seluruh rumah penuh dengan aroma masakan Jimmy, namun tak sampai ke kamar di lantai atas.
Setelah matang, Jimmy memindahkan nya ke piring dan membawa nya ke kamar. Bibi ART yang sedari tadi berada di ruang tamu bersih-bersih pun sukses di buat melongo oleh kelakuan Jimmy. Ini adalah kali kedua dia melihat Jimmy ke memasak, padahal biasanya dia tak pernah ke tempat yang bernama dapur jika bukan untuk minum.
Tapi kali ini, dia melihatnya dengan mata kepala nya sendiri, kalau tuan muda Leonard itu memasak dan membawa nya ke kamar di lantai atas dengan sangat hati-hati.
Bibi ART bernama Imas itu pun segera menghubungi Larissa, ya bisa di pastikan bahwa Imas adalah mata-mata di mansion keluarga Leonard, apapun yang terjadi dia harus melaporkan nya secepat dan sedetail mungkin, termasuk apa yang terjadi pada Jimmy dan Alisa selama mereka pergi.
Larissa dan Raksa mencurigai kalau hubungan Jimmy dan Alisa yang terlihat baik itu hanyalah pencitraan semata, karena tak ingin membuat mereka kecewa. Jadi mereka memutuskan untuk pergi sementara dari rumah, kedua nya ingin melihat seperti apa kedua nya jika mereka tak di rumah.
Jimmy membuka pintu kamar nya dengan hati-hati, lalu meletakan nampan berisi dua piring nasi goreng buatan nya di meja nakas. Aroma nya menguar, membuat hidung Alisa terusik. Dia terbangun dari tidurnya, cara yang paling ampuh untuk membangunkan Alisa adalah dengan aroma makanan.
"Sudah bangun, Bby? Ayo makan."
"Masak apa, Yang?" Tanya Alisa sambil menggaruk leher nya yang terasa gatal sambil merenggangkan otot-otot nya yang terasa pegal juga sakit. Apalagi di bagian bawahnya, aneh saja kenapa sakit nya bertahan lama, padahal dari cerita yang dia dengar dari teman-teman nya, mereka bisa berhubungan lagi setelah beberapa menit beristirahat, tapi apa yang dia alami saat ini sangat berbeda dengan cerita yang dia dengar.
"Nasi goreng udang." Jawab Jimmy sambil tersenyum, dia mendekat lalu duduk di pinggir ranjang dan merapikan anak rambut istrinya ke belakang telinga.
"Wangi nya enak banget, buat perut aku kelaperan."
"Yaudah, ayo makan. Tapi harus cuci muka dulu, mau aku anterin?" Tawar Jimmy, Alisa menggeleng.
Meskipun bagian bawahnya masih terasa sakit, tapi sudah tak sesakit kemarin malam saat Jimmy berhasil menembus selaput dara nya.
"Aku bisa sendiri kok.."
"Yaudah, itu nya masih sakit?" Tanya Jimmy. Wajah Alisa memerah, tentunya dia mengerti maksud pertanyaan suaminya itu.
"Masih perih dikit, tapi udah gapapa kok." Jawab nya malu-malu.
"Bisa dong kalo aku mau main lagi nanti?" Tanya Jimmy lagi, lengkap dengan senyuman mesum dan kedua alis yang di naik turunkan.
"Jimmy.." rengek Alisa malu, Jimmy tergelak lalu dengan cepat membawa Alisa ke kamar mandi. Meski sempat berontak, tapi akhirnya dia pasrah juga. Kapan lagi di gendong oleh pria setampan Jimmy, kan?
__ADS_1
Alisa menggosok gigi nya, lalu mencuci muka dengan sabun cuci muka miliknya yang dia bawa dari rumah, tapi hanya tinggal sedikit, harusnya dia sudah membeli yang baru.
Kedua nya makan di kamar dengan lahap, Alisa makan dengan cepat karena dia sudah sangat kelaparan, apalagi semalam tenaga nya benar-benar terkuras karena melayani Jimmy.
Tengah malam tadi, Jimmy membangunkan nya dan kembali mengulang permainan panas mereka. Alisa tak bisa menolak karena dia terlanjur basah juga, meski masih merasa kesakitan tapi tak munafik kalau dia juga merasakan kenikmatan dari penyatuan itu.
Jadilah, mereka baru tertidur kembali saat menjelang subuh, tepatnya pukul tiga pagi.
"Pelan-pelan aja makan nya, Bby. Sampe berantakan gini, ya ampun."
"Laper banget, aku capek habis kamu hajar dua ronde." Jawab Alisa datar. Jimmy tersenyum kecil mendengar jawaban istrinya.
Rasa inti Alisa terlalu nikmat untuk di lewatkan, sempit menggigit membuat senjata nya terasa di remaas-remaas di dalam. Itulah yang membuat nya tak bisa bermain lama, karena sensasi nya terlalu nikmat.
Setelah menyelesaikan makan nya, Jimmy memberi Alisa segelas susu. Dia menerima nya dan meminum nya hingga tandas, mengusap bibir nya dengan ujung baju nya.
"Kenapa harus pakai ujung baju, padahal ada tissu?"
"Hehe, ya maaf. Udah kebiasaan." Jawab Alisa sambil cengengesan. Kedua nya sepakat untuk bolos sekolah hari ini, pertama karena Alisa masih kesakitan dan sulit berjalan, kedua karena Jimmy malas. Hari ini adalah bagian pelajaran yang teramat dia benci, yakni pelajaran matematika. Dia sangat tak suka berhitung, apalagi dengan rumus-rumus rumit yang membuat kepala nya serasa mau pecah.
"Bby, kalau nginep ke rumah mama di undur gapapa?"
"Iya, tapi dengan cara berjalan kamu yang sekarang, apa kamu yakin mau kesana juga?" Tanya Jimmy, dia melihat cara berjalan Alisa berbeda, sedikit mengangkaang. Pasti jawaban nya ya karena inti nya masih terasa sakit dan perih, juga ngilu.
"Aihh iya juga sih, malu ya kalo ketahuan habis di unboxing."
"Makanya, jadi kita undur aja ya? Sampai itu kamu gak sakit aja."
"Huum, tapi jangan bohong lagi." Ucap Alisa datar.
"Iya, sekarang kita mau ngapain seharian?"
"Punya uang gak?" Tanya Alisa sambil tersenyum manis.
"Ada, kenapa?"
__ADS_1
"Sabun cuci muka aku habis, yang." Jawab Alisa dengan suara manja nya.
"Beli online aja, nanti aku yang bayar."
"Asik, makasih. Kalo beli dua boleh? Sekalian buat stok aja gitu."
"Beli aja apapun yang kamu kita penting, Bby." Jawab Jimmy, membuat Alisa bersorak kegirangan. Dia mencuri kecupan singkat di pipi kanan Jimmy saking senang nya, lalu mengambil ponsel nya dan memesan beberapa barang yang dia butuhkan. Termasuk pembalut, karena stok pembalut nya sudah sangat menipis.
"Udah nih, total nya tujuh ratus ribu."
"Oke, nanti aku bayar paket nya. Sekarang kamu mau apa lagi?"
"Pengen ngemil sehat deh, salad buah?"
"Beli aja, males bikin nya ribet." Usul Jimmy, Alisa tertawa lalu kembali memesan tiga box sekaligus salad buah dengan ukuran medium. Kalau Jimmy tak mau, ya dia makan sendiri aja. Sesuka itu dia dengan yang namanya salad buah.
Tak lama kemudian, pintu terdengar di ketuk dari luar. Jimmy membuka nya, dia melihat BI Imas sudah berdiri tepat di depan pintu dengan tangan terangkat hendak mengetuk pintu lagi.
"Eemm maaf den, di bawah ada paket."
"Ya, terimakasih bi." Jawab Jimmy datar. Dia kembali masuk untuk mengambil dompet nya yang tertinggal, lalu turun ke bawah dengan cepat. Ternyata ada dua pengantar paket yang datang hampir bersamaan.
"Total tujuh ratus delapan puluh, kak." Ucap pengantar paket sambil menyerahkan kantong kresek besar berisi belanjaan istrinya. Jimmy membayar nya, tak lupa memberi mereka tips.
"Untuk salad buah, total nya 120 ribu kak."
Tanpa banyak bicara, Jimmy membayar semua nya dengan mudah. Namun tetap dengan wajah datar yang selalu mengiringi nya kemana pun.
Setelah pengantar paket itu pergi, Jimmy kembali ke kamar dan menyerahkan belanjaan nya pada Alisa. Gadis itu bersorak kegirangan, dia membongkar isi kresek itu.
"Ngapain beli pembalut segala?"
"Ya kan tadi kata kamu beli aja apa yang aku butuhkan, pembalut juga kebutuhan aku. Emang kamu mau kalau aku suruh beli pembalut ke minimarket?" Tanya Alisa, Jimmy menggeleng. Tak bisa di bayangkan jika dia pergi ke minimarket hanya untuk membeli pembalut? Ohh no, mau dimana mukanya di taruh?
Apa kata anggota geng nya nanti, apalagi kata musuh nya, aahh bisa-bisa reputasi nya hancur hanya karena satu bungkus pembalut bersayap tapi tak bisa terbang.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻