
Setelah menghabiskan makanan nya, Alisa dan Jimmy memutuskan untuk pulang duluan, karena hari sudah cukup sore. Tapi sebenarnya, bukan hal itu yang membuat Jimmy mengajak istrinya segera pulang, tapi perasaan nya tak enak. Sedari tadi dia berasa di awasi oleh seseorang.
Jimmy melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, beberapa kali Alisa yang tak tau apa-apa menggerutu karena Jimmy terlalu kencang. Tapi Jimmy seolah tak mendengar gerutuan sang istri dan memilih terus mengendarai motornya.
Alisa memeluk pinggang suaminya dengan erat, dengan kedua mata yang tertutup karena ketakutan, mulut nya juga berkumat-kamit sedari tadi merapalkan doa.
Benar saja kecurigaan Jimmy, tak lama kemudian, banyak motor yang mengikuti nya dengan pakaian serba hitam, aksi kejar-kejaran pun tak bisa di hindari. Alisa merasa ketakutan, tapi Jimmy berusaha menenangkan istrinya dengan mengusap tautan tangan nya yang melingkar erat di pinggang nya.
Namun sial, motor Jimmy berhasil di salip oleh sekelompok orang itu. Alisa ketakutan hingga berkeringat dingin dan tubuhnya bergetar hebat. Maklumi saja, ini adalah pertama kalinya dia berada dalam situasi seperti ini berbeda dengan Jimmy yang sudah terbiasa. Jimmy turun dan menyembunyikan istrinya di belakang punggung nya.
"Kalau kamu takut, tutup mata kamu, Baby."
"Kamu mau kemana, Jim? Jangan kemana-mana, aku takut." Ucap Alisa, dia ketakutan hingga suara nya bergetar. Suasana jalan itu sangat sepi, tak ada satu pun kendaraan yang melintas.
"Aku disini sama kamu, kamu bisa telpon Farhan? Kalau bisa, suruh dia kesini ya."
"Jim…"
"Percaya sama aku, sayang." Ucap Jimmy lirih, dia semakin menyembunyikan istrinya di punggung saat melihat orang-orang itu turun dari motor mereka masing-masing dan berjalan mendekat ke arah nya.
Orang-orang itu memakai masker, dari tatapan mereka yang sangat tajam saja Alisa tahu bahwa mereka datang bukan untuk hal yang baik. Dia yakin akan hal itu, apalagi saat melihat mereka mulai merenggangkan tangan.
Mereka semakin mendekat, hingga posisi Jimmy dan Alisa terpojok. Kalau mau, Jimmy bisa saja langsung menghajar mereka satu persatu, tapi saat ini ada Alisa bersama nya, terlalu beresiko karena musuh bisa saja menjadikan Alisa sandera agar dia kalah.
Alisa meremaas jaket yang di kenakan Jimmy, dia memejamkan kedua mata nya dengan kuat, air mata nya bercucuran. Dia ketakutan setengah mati, memang nya ada yang tak takut saat di hadapkan dengan situasi seperti ini? Apalagi ini pertama kali dia berada di posisi seperti ini.
Salah satu orang maju dan melayangkan bogem ke wajah Jimmy, namun dengan cepat Jimmy menangkis pukulan pria itu dan menghempaskan nya dengan keras. Pria itu seperti nya sangat tersinggung dengan perlawanan yang di lakukan Jimmy.
"Berani Lo sama gue hah?"
__ADS_1
"Berani dong, memang nya kalian siapa? Kita masih sama-sama makan nasi, jadi kenapa harus takut?" Ledek Jimmy, pria itu menyeringai jahat.
"Sialan, serang dia!" Perintahnya, seperti nya pria bertato dan berkepala plontos itu adalah ketua geng itu. Semua nya mulai maju dan mengepung Jimmy yang hanya sendirian. Mereka kira, karena Jimmy sendirian akan sangat mudah mengalahkan nya. Tapi sebaliknya, keadaan berbalik.
Orang-orang yang berjumlah sepuluh orang itu tumbang di atas aspal karena serangan Jimmy, pukulan-pukulan nya tepat mengenai bagian sensitif, hanya dengan satu pukulan saja mereka berhasil Jimmy tumbangkan.
Jimmy tipe penyerang bagian sensitif, sedangkan orang-orang itu seperti nya tak memahami tekhnik semacam itu, mereka hanya menyerang membabi buta tanpa arah. Menghabiskan tenaga saja.
Pria bertato itu mengepalkan kedua tangan nya, dia menggeram di balik topeng nya lalu maju dan menyerang Jimmy.
Jimmy bergerak dengan lincah, menangkis serangan-serangan itu secepat yang dia bisa. Beberapa kali kepalan tangan itu mengenai wajah nya, tapi Jimmy langsung membayar nya telak.
Hingga puncaknya, pria itu tersungkur di aspal. Jimmy membalikan tubuh nya lalu menginjak dada nya dengan sepatu yang masih melekat di kakinya.
Jimmy menunduk, lalu membuka paksa topeng yang digunakan pria itu. Dia mengernyit, dia mengenal pria itu.
"Bangsaat, siapa yang nyuruh Lo hah?"
"Ckkk, Lo gak usah tau." Jawabnya terdengar seperti menantang di telinga Jimmy, pria itu mengepalkan tangan nya lalu melayangkan bogem mentah ke wajah Ari.
"Bajingaan!" Umpaat Jimmy, dia meludah di wajah Ari lalu bangkit karena melihat Farhan dan anggota lain sudah datang ke lokasi. Pasti Alisa yang sudah menghubungi nya.
"Lo oke?" Tanya Farhan.
"Oke, bawa dia ke basecamp. Tanyai siapa yang udah nyuruh dia, kalau dia gak mau jawab siksa aja pake pisau yang ada." Perintah Jimmy yang langsung di angguki oleh Farhan yang datang bersama Aldi.
"Di, gue nyerahin hukuman buat si brengseek itu sama Lo. Lakukan dengan benar!" Tegasnya, membuat Aldi tersenyum devil. Sudah lama tangan nya tak menyayat wajah musuh, dia merindukan nya.
"Siap ketua." Jawab nya lantang. Lalu mereka pun membawa orang-orang yang terkapar bersimbah darah itu dari lokasi dan membersihkan tempat kejadian agar tak memancing kecurigaan pihak berwajib.
__ADS_1
Sedangkan Alisa, dia menyembungikan wajah nya di antara lutut dan menutup telinga nya, dia tak tega saat mendengar teriakan-teriakan kesakitan.
"Baby, kamu baik-baik saja kan?" Perempuan itu mendongak, secepat kilat dia memeluk tubuh Jimmy.
"Huaaa, aku takut Jim."
"Udah Bby, semua nya udah di bawa Farhan. Gak ada yang perlu kamu takuti lagi, kita pulang ya?"
"Lemes banget kaki aku, Jim."
"Yaudah, aku gendong." Jimmy menggendong Alisa dan mendudukan nya di jok belakang motornya. Jimmy menyus naik ke motornya, lagi-lagi dia tersenyum saat Alisa kembali melingkarkan kedua tangan nya di pinggang nya. Jimmy mengusap punggung tangan Alisa yang terasa dingin juga basah karena keringat.
Sedangkan di tempat lain, seorang pria sedang marah besar. Karena rencana nya gagal total, tadinya dia ingin membuat Jimmy celaka sebagai peringatan karena sudah merebut gadis pujaan nya, tapi sialnya Jimmy terlalu pandai membela diri padahal dia sendirian dan anak buahnya ada 10 orang, tapi tetap saja kalah.
"Aaaaarrghhh sialan! Bangsaat, kenapa rencana ku gagal total hah?" Pria itu melempar segala benda yang ada di ruangan itu, hingga benda-benda dengan harga fantastis itu pecah berhamburan.
"Ini semua karena kalian gak becus! Sialan."
"Maafkan kami bos, tapi pemuda itu sangat tangguh." Jawab salah satu anggota yang tadi ikut dalam penyerangan namun berhasil lolos dari waketu geng kelelawar, yakni Farhan yang tak kalah menakutkan dan hebat nya hampir menyamai Jimmy dalam hal bertarung.
Plak.. plakk…
Tangan pria itu tanpa ragu menampar satu persatu anak buahnya dengan keras, hingga wajah mereka terhuyung ke samping saking keras nya tamparan yang di layangkan oleh ketua mereka. Tercetak jelas lima jari di masing-masing pipi mereka, menyisakan rasa perih yang membuat mereka meringis.
"Kalian gak malu hah? Di kalahkan oleh seorang pemuda berseragam SMA? Aku membayar kalian mahal, tapi ini yang aku dapat? Gaji kalian aku tahan bulan ini." Ucapnya tegas tak terbantahkan. Pria itu pergi dari ruangan temaram itu dengan langkah tegapnya. Bahkan suara langkah kaki nya terdengar menggema di ruangan itu.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1