Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Denis Pindah?


__ADS_3

Pagi harinya, Alisa terbangun lebih dulu seperti biasanya. Tapi, bukan nya bangkit dari rebahan nya, dia malah asik menatap wajah tampan suaminya. Wajah yang enak di pandang kapanpun, dimana pun.


Alisa terkekeh jika mengingat bagaimana dingin nya seorang Jimmy pada orang lain, apalagi perempuan. Tapi, jika dengan nya malah banyak omong dan itu terjadi sejak lama. Mereka kan tukang ribut, dimana pun, kapanpun. Apapun situasi dan kondisinya, mereka pasti bertengkar.


Maka dari itu, banyak orang yang tak percaya jika Jimmy dan dirinya akhirnya di isukan berpacaran, bahkan satu sekolah sudah tau bahwa dirinya adalah kekasih Jimmy. Apalagi saat melihat cincin yang tersemat manis di jari nya, mereka bertanya-tanya apa dia dan Jimmy sudah sejauh itu?


Maksud mereka, mungkin bertunangan. Padahal kenyataannya, mereka sudah lebih dari bertunangan. Tapi, yang membuat Alisa bertanya-tanya adalah, kenapa Jimmy tak pernah memakai cincin kawin mereka? Itulah yang membuat hati Alisa kadang ragu dengan hubungan mereka.


Alisa mengusap rahang tegas sang suami, menyentuh nya dengan perlahan agar yang punya raga tak terbangun dari tidur lelap nya. Jam di dinding menunjukkan pukul lima pagi, biasanya Alisa sudah bangun dan mandi. Tapi kali ini, dia malah betah memandangi suaminya.


"Eenghhh.." Jimmy melenguuh pelan, perlahan kedua mata nya terbuka.


"Belum mandi? Napa?" Tanya Jimmy dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Eemm, baru mau. Gue duluan ya, Jim." 


"Cepetan, nanti telat." Peringat Jimmy, Alisa segera masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Jimmy yang masih betah berbaring di atas ranjang empuk dan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


Jimmy menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu bangkit dan pergi ke balkon kamar nya. Seperti biasa, dia duduk menikmati semilir angin sejuk pagi hari yang terasa menyegarkan. 


"Jim, mandi sana." Ucap Alisa sambil merapikan seragam nya.


"Lho, Jimmy kemana dah? Sepagi ini dah ngilang aja. Kebiasaan suka ngilang, kelamaan gue nya yang ngilang."


"Cuma ke balkon, Bby. Udah selesai mandi nya? Yaudah, siap-siap sana. Gue mandi dulu," ucap Jimmy yang keluar dari balkon yang masih tertutup gordeng hitam, jadi mana Alisa tau kalau Jimmy ada di balkon kamar? Salahkan saja gordeng nya yang berwarna hitam.


Jimmy lewat di depan Alisa, dia mencolek dagu sang istri lalu tersenyum dan masuk ke kamar mandi. 


"Jimmy, gila ini mah. Gak bagus buat kesehatan jantung." Gumam Alisa, padahal hanya di colek tapi mampu membuat hati Alisa dag dig dug tak karuan. Padahal mereka sudah pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar colekan, tapi tetap saja hatinya berdebar. Karena tingkah Jimmy benar-benar tak bisa di tebak.


Alisa mengikat rambutnya ke atas, tapi Jimmy yang baru keluar dari ruang ganti langsung mendekat dan terlihat mengambil sesuatu dari laci meja rias. 


"Jangan di iket gini, di gerai sebagian biar cantik." Ucap Jimmy, dia menarik ikat rambut Alisa hingga membuat rambut panjang gadis itu tergerai indah. Aroma shampoo menguar, membuat hidung Jimmy kesulitan untuk tak menghirup aroma menyegarkan itu.


Jimmy memasangkan sebuah jepit rambut di belakang. Alisa hanya diam saja, membiarkan Jimmy berbuat apapun pada rambutnya.


"Udah." Jimmy mengambil ponsel milik Alisa dan memotret jepitan di rambut sang istri, lalu memperlihatkan nya pada Alisa.


"Bagus kan?" 


"Wahh iya, bagus banget jepitan nya. Makasih ya Jim." Ucap Alisa sambil tersenyum kesenangan karena jepitan rambut yang di berikan oleh sang suami.


"Pake setiap hari, jangan sampe hilang atau gue hukum?"


"Isshh, semua aja pake hukuman. Kalo ilang kan itu gak sengaja, Jim." 


"Tetep aja, btw Lo suka jepitan nya?" Tanya Jimmy lagi. 

__ADS_1


"Suka banget." Jawab Alisa, masih dengan senyum manis nya. 


"Oke, itu gak gratis." 


"Dih, kalo gak ikhlas ngapain di kasih? Lagian gue gak minta kok." 


"Harusnya tuh, Lo bersyukur karena gue beliin jepitan bagus buat Lo. Itu mahal tau, buat satu jepitan doang." Jawab Jimmy membuat Alisa mendengus.


"Terus Lo mau nya apa? Udah tau gue gak punya duit, harusnya Lo yang ngasih bukan papa." 


"Pake bibir Lo aja, gak pake duit." Jawab Jimmy membuat Alisa memutar matanya jengah. Apa pria itu tak bosan terus menerus mencium bibirnya? Sampai-sampai bibir nya dower karena ulah Jimmy yang menggigit nya, entah karena gemas atau nafssu.


"Masih pagi, nanti aja lah."


"Bagus dong masih pagi, jadi masuknya morning kiss." Jawab Jimmy, mulai mendekat. Mengikis jarak antara dirinya dan Alisa, sedangkan gadis itu malah mundur hingga kaki nya menabrak meja rias. 


Jimmy mengungkung Alisa di tengah-tengah, antara kedua tangan nya.


"Cium gue, baby."


"Jim.." Alisa menahan dada Jimmy yang semakin mendekat ke arahnya, hingga dia harus terduduk di atas meja rias.


"Lakuin sekarang!" 


Tak ada cara lain, akhirnya Alisa pun memberanikan diri mencium Jimmy lebih dulu. Namun, pria itu sama sekali tak bereaksi apapun. Padahal biasanya dia akan langsung melumaat bibirnya saat menempel, Alisa kira Jimmy ingin sekedar kecupan. 


Setelah beberapa menit, Alisa memukul-mukul dada bidang Jimmy karena dia sudah mulai kehabisan nafas. Jimmy mengerti, dia pun melepas tautan bibirnya dan mengusap bibir Alisa yang kemerahan.


"Bodooh.." 


"Heh, apaan pake ngatain gue bodooh segala?" Sewot Alisa sambil mengusap dahi nya yang kena sentil Jimmy.


"Gue gak lumaat bibir Lo karena pengen tau, Lo bakalan lakuin apa. Ehh malah ngejauh, harusnya Lo peka dikit baby."


"Aaahh gitu ya, sorry. Gue kan gak tau kalo itu mau Lo, yaudah lah sekarang kita turun aja." Ajak Alisa, dia meraih tas nya dan pergi keluar kamar. Tapi sebelum itu dia mengecek bibir nya, apakah dower lagi atau tidak. Tapi sepertinya Jimmy pun tak mau membuat bibir istri nya lebih bervolume, setelah memastikan bibir nya baik-baik saja, dia pun mengoleskan liptint merah miliknya. 


"Selamat pagi sayang.." sapa Larissa di bawah. 


"Pagi Ma." Balas Alisa dengan senyum manis nya.


"Kalian mau sekolah? Kebetulan, mama mau ikut perjalanan bisnis sama papa, gak lama sih paling satu mingguan aja."


"Yahh mama, emang nya mau kemana sih?" Tanya Alisa merengek seperti anak kecil.


"Ke London, sekalian liburan sih, hehe."


"Dihh mama, liburan gak ngajak-ngajak. Alisa juga kan pengen ke London, poto-poto di Deket menara Eiffel."

__ADS_1


"Eiffel mah di Paris kali." Celetuk Jimmy, membuat Alisa terkekeh.


"Nanti, kalau kalian libur panjang setelah ujian kita pergi ke Paris ya. Sekarang, fokus belajar aja. Jangan ngebucin mulu, kalau sudah selesai pekerjaan nya mama sama papa langsung pulang kok."


"Yaudah deh Ma, hati-hati di jalan nya ya."


"Iya sayang, ini bekal buat kamu sama Jimmy selama mama dan papa ke luar negeri, kamu yang atur ya? Mama kurang percaya kalau sama Jimmy, dia suka jajan." 


"Sama aja sih Ma, Alisa juga suka jajan." Jawab Alisa sambil nyengir.


"Udah gapapa, kalo habis nanti mama transfer lagi. Udah, sana kalian pergi sekolah nanti kesiangan." 


"Iya Ma." Jawab Alisa, dia menyalim tangan ibu mertuanya dengan takzim lalu pergi bersama Jimmy dengan menggunakan motor besar nya.


Sesampainya di sekolah, seperti biasa dia di sambut oleh Eva dan Harry. Tapi kali ini tak terlihat Denis, padahal biasanya mereka selalu bertiga.


"Hai.."


"Haii bestie, yuk ke kelas." Ajak Eva sambil menggandeng tangan Alisa, meninggalkan Jimmy di parkiran bersama anak buah nya. Siapa lagi kalau bukan Farhan, Dian, Dery dan sekarang bertambah satu anggota baru, yakni Aldi.


Aldi adalah sahabat masa kecil Jimmy, awalnya mereka berbeda sekolah tapi sekarang dia pindah ke sekolah yang sama dengan Jimmy. Tentunya Jimmy tak sembarangan merekrut orang baru untuk masuk geng kelelawar, ada beberapa tes yang di lakukan nya dan setelah memastikan dia bukan penghianat, barulah Jimmy mengangkat nya menjadi anggota. 


"Denis kemana ya? Gak keliatan." Tanya Alisa pada kedua teman nya.


"Itu dia yang mau gue omongin, Denis pindah ke luar kota." Jawab Eva pelan, sedangkan Alisa sudah terkejut setengah mati.


"Lho kok pindah gak ngasih tau gue?"


"Gue juga baru tau tadi dari Harry." Jawab Eva, Alisa berbalik ke arah belakang. Dimana ada Harry yang duduk sendirian sekarang, tapi sepertinya Aldi akan duduk di samping Harry nantinya menggantikan Denis.


"Beneran Denis pindah?"


"Iya, gue tau dari bokapnya langsung."


"Kenapa? Bukan nya selama ini dia baik-baik aja kan? Hubungan pertemanan kita juga gak ada masalah kan?" Cecar Alisa.


"Gue gak tau, gak nanya sampe situ. Tapi nomor gue sama Eva di blokir, jadi gak bisa tanya langsung." Jelas Harry. 


Alisa langsung membuka ponselnya, lalu mengetik nama Denis. Benar, nomornya juga di blokir. Ada apa gerangan dengan Denis? Kenapa tiba-tiba dia pindah tanpa alasan, padahal selama ini mereka baik-baik saja. Apa karena perasaan nya yang tak terbalas? 


......


🌻🌻🌻🌻



Jepitan rambut dari Jimmy buat Alisa😚

__ADS_1


__ADS_2