
Alisa berjalan lebih dulu tanpa menunggu Jimmy, saat pria itu masih di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Alisa sudah pergi duluan ke sekolah dengan menggunakan ojek online.
Entah kenapa, dia sangat marah saat mendengar ucapan Jimmy kemarin. Cinta? Harusnya dia tak perlu berharap tentang cinta dari Jimmy. Tapi, dia sudah terlanjur memberikan kesucian nya untuk pria itu. Wajar kah dia marah? Jelas wajar, karena perempuan pasti mengharapkan hal tersebut.
"Baby, berhenti." Jimmy berteriak memanggil sang istri, namun seperti nya Alisa tak peduli dan tetap berjalan di depan tanpa memperdulikan Jimmy yang berlari mengejar nya dari lorong yang cukup sepi. Hanya ada Eva, Farhan, Dery, Dian dan tentunya Jimmy juga Alisa.
"Baby.." Jimmy meraih tangan Alisa dan menarik nya, hingga membuat perempuan cantik itu menghentikan langkah nya.
Alisa memalingkan wajah nya ke samping, jelas sekali dia tak ingin bertatapan dengan Jimmy.
"Kenapa pergi duluan gak nungguin aku berangkat nya? Kan biasa nya juga bareng, Bby."
"Males!" Jawab Alisa singkat dan ketus. Dari nada suaranya saja, semua orang tau kalau perempuan itu sedang kesal atau marah akan sesuatu.
"Bby, kamu kenapa sih? Dari tadi malem kamu diemin aku, aku ada salah sama kamu?" Tanya Jimmy, membuat Alisa akhirnya menatap wajah Jimmy yang terlihat khawatir.
"Iki idi silih ipi? Pikir sendiri, pake nanya!" Ketus Alisa, lalu melepaskan tangan nya dari cengkraman tangan Jimmy dan pergi menjauh bersama Eva.
Eva hanya mengikuti Alisa, tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi antara pasangan suami istri itu. Sesekali dia menatap wajah Alisa yang nampak memerah karena menahan amarah yang memuncak, tapi karena apa? Hanya Alisa dan Jimmy yang tau.
"Beb, Lo kenapa? Hubungan Lo sama Jimmy baik-baik aja kan?" Tanya Eva setelah keduanya sampai di kantin, karena saat ini sudah jam istirahat. Tadi, Jimmy tak sempat bicara pada istrinya karena dia terlambat datang ke sekolah, saat sampai ke kelas ternyata sudah ada guru yang mengajar.
Kenapa terlambat, ya karena Alisa tak membangunkan nya, plus Jimmy yang kelimpungan mencari istrinya terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah.
Tadi, Eva dan Harry sempat keheranan saat melihat Alisa turun dari ojek online padahal biasanya selalu bersama Jimmy, tapi rasa heran itu tak bertahan lama saat melihat ekspresi Alisa yang terlihat sangat murung.
Mereka ingin bertanya, tapi bel masuk keburu berbunyi, jadi mereka buru-buru masuk ke kelas tanpa mengetahui ada apa dengan Alisa hari ini. Wajah nya di tekuk, kusut seperti bungkus nasi padang.
"Kagak." Jawab Alisa sambil menyuap bakso ke dalam mulutnya. Karena dia sedang kesal, dia terus menambah cabai nya, kalau saja tidak Eva cegah pasti Alisa sudah menuang semua sambel dari wadah ke mangkok nya.
"Kenapa? Cerita dong."
"Nanti aja, gue lagi makan. Pesenin satu mangkok lagi." Eva hanya menggelengkan kepala nya, lalu pergi dari kursi nya untuk memesankan makanan untuk sahabat nya yang tengah di landa galau.
Tak lama kemudian, Jimmy datang menyusul dan langsung duduk di samping istri nya.
"Baby, kan udah di bilangin jangan makan pedes. Bandel banget, gak inget waktu itu sakit perut?"
"Terus? Mau Lo apa?" Tanya Alisa, menoleh ke arah suaminya, lengkap dengan tatapan tajam yang dia layangkan ke arah Jimmy.
__ADS_1
"Gak sopan bicara kayak gitu sama suami, baby."
"Bodo amat." Alisa melanjutkan acara makan bakso nya, tak lama kemudian satu mangkok bakso datang di bawa oleh Eva.
"Baby, jangan pedes-pedes!" Tegas Jimmy, tapi sama seperti tadi Alisa tak perduli dengan larangan suaminya.
"Diem, berisik. Pergi sana!" Usir Alisa ketus, masih seperti tadi.
"Baby, oke aku minta maaf kalau aku punya salah."
"Gak gue maafin sebelum Lo sadar apa kesalahan Lo!" Tegas Alisa, lalu memilih pergi dari kursi itu ke meja lain, menghindari Jimmy. Padahal biasanya mereka duduk berdempet-dempetan seperti di angkot.
Eva hanya melirik sekilas ke arah Jimmy yang sudah menunjukan wajah frustasi nya, lalu memilih mengikuti Alisa yang sudah pindah tentunya di ikuti Harry.
Farhan menduduki tempat duduk Eva tadi, dia menatap sepupu nya dengan serius.
"Jadi, apa Lo punya masalah sama Alisa?" Tanya Farhan.
"Gak tau, gue juga gak tau apa salah gue yang bikin Alisa semarah itu."
"Pikirin lagi, kali aja ada kata-kata Lo yang bikin dia tersinggung. Soalnya mulut Lo kan pedes, kayak seblak level tujuh." Celetuk Farhan, dia memakan cilok yang sudah dia pesan beserta makanan lain. Tak lupa Dian dan Dery juga yang memakan jajanan yang sama seperti Farhan.
"Apa?"
"Simpel aja, ku harap perasaan sayang ini berubah jadi cinta. Tapi, Alisa malah tanya sama gue, emang nya gue belum cinta padahal udah gituan, ya gue bilang belum. Soalnya gue gak tau, ini cinta apa bukan." Jelas Jimmy panjang lebar.
"Gituan apa? Jangan-jangan Lo udah unboxing?" Tebak Farhan, Jimmy menganggukan kepala nya mengiyakan.
Uhukk.. uhukk..
Ketiga nya kompak terbatuk karena tersedak saus pedas dari cilok yang sedang mereka makan. Mereka meraih minuman masing dan meminum nya hingga habis separuhnya.
"Gila, Lo udah gak perjakaa dong!"
"Ya, Alisa juga udah gak perawaan." Jawab Jimmy santai.
"Menurut gue, wajar aja sih Alisa marah sama perkataan Lo. Secara ya, Lo udah nyentuh dia, ngambil kehormatan nya sebagai wanita, tapi Lo bilang belum cinta? Gila aja, kalo gue jadi Alisa gue pasti udah minta cerai tuh." Celoteh Farhan.
"Sefatal itu ya?"
__ADS_1
"Jelas dong Bos, dengan begitu ibu bos merasa gak di hargai. Secara bos udah ngambil mahkota nya ibu bos kan, ya realistis aja, masa belum cinta? Kasian ibu bos nya." Kali ini Dery yang mengeluarkan pendapat nya.
"Jadi?"
"Minta maaf sama ibu bos." Ucap Dian, dan di angguki kedua orang, Dery dan Farhan yang menyetujui ucapan Dian.
Jimmy terdiam, dia sendiri mulai merasa sangat bersalah pada Alisa. Benar, dia sudah mengambil hal yang paling berharga dari seorang wanita, yakni keperawaanan nya. Hal yang paling di jaga oleh semua perempuan mana pun, tak terkecuali Alisa.
Bukan hal mudah memutuskan untuk memberikan hal sebeharga itu pada orang lain, meskipun dia adalah suaminya. Apalagi disaat perasaan mereka sama-sama hambar, terlebih bagi Jimmy yang dia sendiri pun tak tau perasaan apa yang dia rasakan pada Alisa.
Apakah itu cinta atau hanya sekedar rasa sayang yang bertumbuh dari rasa nyaman?
Sedangkan di bangku yang cukup jauh dengan Jimmy, Alisa juga tengah bercerita pada kedua teman nya.
"Jadi, menurut kalian apa gue egois? Wajar gak sih gue marah?" Tanya Alisa pada keduanya.
"Menurut gue wajar, sangat wajar Lis. Soalnya kan Jimmy udah ngambil hal yang paling Lo jaga, tapi dengan mudahnya dia bilang belum cinta sama Lo, menurut gue itu gak adil." Ucap Harry.
"Gue setuju sih sama apa kata Harry, wajar banget kalo Lo marah."
"Ya itulah alesan nya kenapa gue marah sama Jimmy, kesel aja rasanya." Jawab Alisa sambil menundukan kepala nya.
"Gapapa, sabar ya. Untuk sekarang, biarin aja begini dulu. Biar Jimmy sadar akan kesalahan nya sama Lo."
"Iya Va, gue juga mikir nya gitu. Kalo gue maafin dia semudah itu, nanti kebiasaan jadinya dia gak bakal peka kalau buat salah." Ucap Alisa.
"Semangat ya bestie, Lo pasti bisa kok. Makan lagi?"
"Gak deh, kenyang banget anjir dah makan dua mangkok bakso pedes." Jawab Alisa, dia menunjuk dua mangkok kosong dengan dagu nya.
"Eehh btw, rasanya di unboxing gimana beb?" Tanya Eva sambil cengengesan.
"Sakit dong, makanya gue gak sekolah waktu itu."
"What? Jadi yang kalian berdua gak masuk sekolah barengan itu yaa?" Tebak Eva, Alisa hanya cengengesan lalu mengangguk.
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1