Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Moment Menegangkan


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, waktu terasa sangat cepat berjalan. Hari ini, adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh pasangan suami istri, Jimmy dan Alisa. 


Pagi tadi, seisi rumah di buat panik oleh Jimmy yang berteriak heboh saat istrinya mengatakan kalau dia sakit perut, Jimmy yakin kalau istrinya akan melahirkan, terbukti dengan cairan yang rembes dari area bawahnya, hingga mengucur ke lantai. 


Bukan nya sigap langsung membawa Alisa ke dalam mobil dan meminta supir untuk ke rumah sakit, Jimmy malah heboh sendiri, bahkan sampai ngompol di celana. Hingga membuat orang-orang yang berada dalam mobil, di buat terheran-heran dengan bau pesing yang tercium kuat. 


Sedangkan pelaku utama nya yang ngompol di celana hanya diam, malu dong kalau ketahuan ngompol di celana. Apalagi mulut papa dan mama nya kan ember, bisa-bisa dia memberitahukan hal memalukan itu pada Farhan. Bisa-bisa, reputasi nya sebagai ketua geng kelelawar yang di takuti, hancur sudah. 


 Jimmy berjalan mundar mandir sambil menggigiti kuku nya, dia khawatir saat ini. Melihat istrinya yang kesakitan membuatnya sangat ingin berlari mendobrak pintu kaca itu dan menemani istrinya, tapi sayang nya dia tak bisa melakukan hal itu, karena peraturan.


"Duduk napa, Jim. Kayak setrikaan aja." Ucap Raksa, dia pusing sendiri melihat putranya terus mundar mandir di depan nya. 


"Diem Pa, papa juga gitu dulu pas Mama mau lahiran Jimmy. Udah biarin aja." 


Berbeda dengan Rafi, pria paruh baya itu menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang di sedekapkan di dada. Pria paruh baya itu terus merapalkan doa-doa untuk keselamatan putri dan cucu nya. 


Kriet.. 


Pintu terbuka, Jimmy langsung berlari mendekati perawat.


"Bagaimana keadaan istri saya, sus?"


"Pembukaan nya baru 8, harus menunggu dulu hingga pembukaan nya lengkap dulu." Jawab sang perawat.


"Lalu, apa tak bisa di lahiran sekarang juga?" 


"Terlalu beresiko, tuan. Nanti robekan yang di akibatkan nya terlalu besar dan membuat banyak jahitan juga, sebaiknya tunggu hingga pembukaan nya lengkap." Jelas nya lagi, membuat hati Jimmy khawatir pada keadaan sang istri. 


"Bisakah saya masuk, sus? Saya ingin menemani istri saya, memberi nya semangat." 


"Silahkan masuk tuan." Suster itu mempersilahkan Jimmy masuk, pria itu berlari masuk dengan hati yang di penuhi perasaan yang bercampur aduk. 


Perawat itu kembali menutup pintu setelah membiarkan Jimmy masuk. 


"Sayang.."

__ADS_1


"Aaahhh, sak-iitt.." 


"Maaf, maafkan aku membuatmu kesakitan seperti ini, sayang. Maaf.." Jimmy mengecupi tangan Alisa yang terasa dingin, air mata nya mengalir tak terbendung lagi. 


"Jangan berkata seperti itu, sayang. Tetap disini, agar aku lebih kuat." Jawab Alisa lirih, Jimmy langsung menganggukan kepala nya. Dia takkan membiarkan istrinya sendirian, bagaimana pun keadaan nya dia akan tetap menemani sang istri disini, di ruangan yang terasa mencekam ini. 


Setelah beberapa menit berlalu, frekuensi mulas nya semakin tidak teratur, bahkan di iringi dengan rasa ingin buang air. Maura menggenggam tangan sang suami dengan erat, begitu juga Jimmy. Dia melakukan hal itu, seakan memberikan nya kekuatan. 


"Mulas nya sudah tidak teratur?" 


Alisa hanya menjawab dengan anggukan, dia terlalu lemas untuk menjawab pertanyaan perawat itu. 


"Baiklah, mari kita cek pembukaan nya." Perawat itu memakai sarung tangan dan tanpa ragu memasukan tangan nya ke dalam inti Alisa, Jimmy sampai melotot saat melihat nya. Sedangkan Alisa tak peduli, rasa sakitnya terlalu terasa hingga tak bisa merasakan apapun selain rasa sakit. 


"Apa harus seperti itu, sus?"


"Iya tuan, ini sesuai prosedur pengecekan." Jawab nya. 


Jimmy memilih memalingkan wajahnya, meskipun rasanya tak rela lubang kesukaan nya di masuki tangan perawat. Untung saja perawat nya perempuan, kalau laki-laki, sudah pasti Jimmy akan menghajar nya karena menganggap nya tak sopan. 


"B-baik sus, jangan lama. Udah gak kuat,"


"Huss, jangan bilang gitu sayang. Kamu pasti kuat, kamu wanita paling kuat yang pernah aku temui." Jimmy mengecup kening Alisa dengan penuh kasih sayang, sedangkan peraawat tadi sudah keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa. 


Hanya berselang beberapa menit saja, dokter dan perawat tadi sudah kembali masuk ke ruangan itu dengan mendorong troli berisi peralatan, seperti gunting dan benang jahit khusus. 


Jimmy sudah terbiasa melihat benda-benda tajam itu, dia beberapa kali menggunakan nya untuk melukai musuh. Tapi situasi kali ini berbeda, dimana gunting dan kail pancing itu akan di gunakan pada istrinya. Ya Tuhan, rasanya tak tega. 


"Kalau mau ngeden, ngeden saja ya Nona." 


Maura mengangguk, kaki nya mengangkaang agar mempermudah dokter melihat proses kelahiran. 


"Dorong Nona, sedikit lagi.." 


"Aaahhh, sakitt…" Alisa menjerit hingga membuat Jimmy menangis sejadinya, melihat istrinya kesakitan membuatnya ikut merasakan sakit juga. 

__ADS_1


Suara tangisan bayi terdengar nyaring, membuat Jimmy tersenyum kecil. 


"Kamu hebat sayang, terimakasih sudah melahirkan anak kita, aku mencintaimu Alisa ku, aku mencintaimu, sayang. Terimakasih banyak." Jimmy membisikan kata-kata itu, lalu mengecupi kening Alisa yang di penuhi keringat. 


"Selamat tuan dan Nona, putra anda berjenis kelamin laki-laki, lahir dengan selamat, sempurna tanpa kurang apapun. Dengan berat badan 3,4 kg dan panjang 52 cm." 


Alisa tersenyum kecil, dia merasa sangat lelah hingga untuk membuka mata nya saja terasa sangat berat. Akhirnya Alisa tak sadarkan diri, dan lebih mengkhawatirkan nya, perempuan itu mengalami pendarahan.


"Sus, bersihkan dan mandikan bayi nya. Saya harus segera menangani pasien." 


"Dok, istri saya kenapa? Dia tak sadarkan diri." 


"Sabar tuan, sebaiknya anda keluar dulu agar tak mengganggu fokus saya." Ucap dokter itu, secara langsung dia mengusir Jimmy.


"Tapi dok, saya suaminya!"


"Saya tau, lalu anda ingin saya membiarkan istri anda begini? Tolong patuhi prosedur rumah sakit." Balas dokter itu tak kalah keras nya, hingga membuat Jimmy tertegun. Ini adalah pertama kalinya dia di bentak orang lain selain orang tua nya.


"Maaf tuan, tolong patuhi prosedur rumah sakit. Ini keadaan darurat, pasien mengalami pendarahan yang cukup parah, kalau terlambat sedikit saja, nyawa taruhan nya." Jelas perawat dengan pelan, membuat Jimmy mengerti dan langsung keluar dengan langkah gontai nya. 


Pria itu menutup pintu ruangan dengan perlahan, lalu bersandar di tembok dengan kedua mata terpejam rapat. Tak lama kemudian, dia luruh ke lantai tak sadarkan diri. 


Tentu saja, orang tua Jimmy panik dan langsung membawa nya ke ruang perawatan. Bukan nya kuat untuk menguatkan, Jimmy malah terlihat sangat rapuh saat ini. 


Bahkan Farhan dan Eva yang melihat hal itu saja keheranan, pertama kalinya mereka melihat Jimmy yang biasanya terlihat sangat tegar, kini jauh berbeda. 


Bagaimana tidak, menyaksikan sendiri istrinya berjuang bertaruh nyawa melahirkan buah hati mereka, mengorbankan banyak darah demi memberikan nya keturunan, jujur saja hal itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi Jimmy. 


Itulah yang membuat nya lemas tak berdaya, dia tak peduli pada putra nya. Dia terus mengkhawatirkan istrinya, entah bagaimana keadaan nya sekarang. 


.......


detik-detik ending😚😚


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2