Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Sahabat Jadi Saudara


__ADS_3

Keesokan harinya..


"Yang, ayo siap-siap.." ucap Jimmy pada istrinya yang masih betah bergulung dalam selimut tebalnya. Baru saja mereka tidur siang bersama, karena Alisa mengeluh tak enak badan, jadi Jimmy tak pergi bekerja. Lagi pula, tadi pagi sang papa memberitahu nya tentang acara lamaran sepupu nya, Farhan bersama Eva. 


"Mau kemana sih, Bby?" Tanya Alisa sambil menguap. Tubuhnya terasa pegal, semalam dia di hajar oleh Jimmy beberapa ronde. Wajar saja dia merasa sangat lelah saat ini, semua ini karena ulah suaminya yang terlalu bernafssu.


"Kan mau ke acara lamaran nya Farhan, sayang." 


"H-ah? Farhan lamaran, sama siapa, yang?" Tanya Alisa sedikit keras, dia terkejut setengah mati. Tiba-tiba saja mendengar kalau Farhan akan mengadakan acara lamaran, tapi dengan siapa? Dengan Eva? Rasanya tak mungkin, sahabatnya itu tak membicarakan apa-apa, padahal mereka kontekan semalam. 


"Ya sama Eva, sayang. Sama siapa lagi coba, pacar nya Farhan kan Eva." 


"What? Tapi, Eva kok gak ada ngasih tau aku ya? Ini mendadak banget lho, Bby." Ucap Alisa. 


"Katanya Farhan udah anu sama Eva, makanya om Dion langsung gercep lamarin Eva buat Farhan, sebelum tekdung." 


"Tekdung apaan sih, anu apa?" 


"Itu yang kaya kita semalem, sayang. Tekdung itu hamil." 


"Hah? Ya masa sih Eva sama Farhan gituan sebelum sah, apa iya? Kok aku agak gak percaya ya, Bby." Ucap Alisa. 


"Mana aku tau, aku juga gak yakin Farhan bisa kebablasan. Tapi itu fakta nya, Farhan yang ngaku sendiri, sampe om Dion kelepasan mukul Farhan." 


"Wahh, kalo sampe om Dion kelepasan mukul gitu, berarti iya Bby. Soalnya om Dion gak pernah mukul Farhan kan?" 


"Iya, om Dion itu gak pernah mukul Farhan dari kecil sampe sekarang. Beda lagi sama papa, dia selalu aja mukul. Aku bolos aja di pukul, balapan liar di pukul." Keluh Jimmy sambil duduk di dekat sang istri.


"Kamu emang pantes sih di pukul kalo gitu, bandel banget deh. Orang tua lakuin hal itu karena dia sayang sama kamu, tujuan nya ya biar kamu kapok, tapi bukan nya kapok, kamu malah jadi ketua geng." 


"Hehe.." Jimmy cengengesan mendengar ocehan istri nya. 


"Tuh adek bayi dengeri ya, nanti kalo udah gede jangan keras kepala kayak papah ya." Alisa bicara sambil mengusap perutnya, seolah mengajak janin di dalam perutnya untuk berkomunikasi. 


"Iya dek, jangan ya. Jadi anak yang pinter aja, banggain mama sama papa, kayak mama nya." 


"Yaudah, aku mandi dulu ya Bby." Ucap Alisa.


"Iya sayang, jangan lama ya." Peringat Jimmy, perempuan itu hanya mengangguk lalu berjalan pelan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Hanya butuh waktu 15 menit bagi Maura untuk menyelesaikan ritual mandi nya, kini perempuan itu sedang memakai pakaian nya. Dress selutut berwarna biru navy, serasi dengan kemeja yang di pakai Jimmy. 


"Bagus gak Bby?"


"Bagus, karena kamu yang pake sayang." Jawab Jimmy, dia mengalihkan pandangan nya dari ponsel. 


"Isshh gimbal, beneran ini bagus gak?"


"Bagus sayangku, cantik." 

__ADS_1


"Yaudah deh, aku pake ini aja." Alisa menata rambutnya, dengan menggunakan jepitan rambut yang di berikan Jimmy dulu, saat mereka masih sekolah. Jepitan yang harga nya cukup mahal, ratusan ribu hanya untuk satu jepitan.


"Perfect.." Puji Jimmy, dia pun menggandeng tangan sang istri keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan perlahan.


"Nah, itu dia pasangan bucin kita sudah turun." Ucap Raksa saat melihat putra dan menantu nya menuruni tangga dengan perlahan. 


"Hati-hati jalan nya, sayang." Ucap Larissa, wanita paruh baya itu menyambut sang menantu tepat di bawah tangga. 


Setelah Alisa sampai di depan Larissa, wanita itu langsung memegang tangan perempuan cantik itu. 


"Cantik sekali menantu Mama." Puji Larissa membuat wajah Alisa memerah. 


"Makasih Mama." 


"Yuk, berangkat. Dion sama Karin udah berangkat duluan, nungguin di pertigaan." 


Semuanya berjalan keluar dari mansion itu dengan Jimmy yang tak melepaskan tautan tangan nya dengan sang istri, barang sedetik pun. 


Jimmy dan Alisa duduk di bangku belakang, sedangkan Raksa dan Larissa mereka duduk di depan. Raksa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga di pertigaan satu mobil sedan bergabung dan berjalan beriringan. 


Tak lama kemudian, saat kedua kendaraan itu memasuki jalan raya besar, tiga motor besar mengikuti dari belakang. Mereka adalah Dian, Dery dan Aldi. Sedangkan Jian tak bisa ikut karena harus berjaga di rumah. 


Ya, kemampuan Jian sangat bisa di andalkan. Akhirnya, dia di angkat menjadi anak buah Raksa, untuk berjaga setiap saat di rumah sebagai bodyguard khusus. Dia juga sudah menikahi Ayuna secara sederhana, tanpa resepsi, tanpa di hadiri banyak orang karena keterbatasan biaya. 


Namun, pernikahan itu terasa sangat sakral dan akhirnya mereka resmi menyandang status suami istri. 


Setelah hampir satu jam mereka ikut meramaikan lalu lintas di jalan raya, akhirnya mereka sampai di rumah Eva yang sederhana.


"Mami.." Alisa menghambur memeluk Rani, ibu dari Eva. 


"Eehh sayang, mami kangen. Kenapa gak pernah kesini lagi hmmm?" Tanya Rani sambil mengecupi wajah Alisa. Dulu, gadis itu sering sekali main ke rumah ini untuk sekedar main atau kerja kelompok.


Itulah yang membuat Rani akrab dengan sahabat putrinya, bahkan dia menganggap Alisa seperti putrinya sendiri.


"Hehe, Alisa kan udah nikah. Nih, udah ada hasilnya." Alisa mengusap perutnya yang sudah membuncit. 


"Wahh, selamat ya sayang." Rani mengusap lembut perut Alisa dengan lembut.


"Ehemm.."


"Eemmm, Mami ini Jimmy. Suami Alisa, sekaligus sepupu nya Farhan." 


Rani terlihat sedikit terkejut mendengar ucapan Alisa, artinya putrinya dan Alisa akan menjadi sodara? Wahh, dunia begitu sempit ternyata. 


"Berarti kamu sama Eva bakal sodaraan dong."


"Iya Mi, Eva nya mana?"


"Di kamar, masuk aja ya." Alisa mengangguk lalu masuk duluan ke kamar sahabatnya. Sedangkan Rani, dia menyambut tamu-tamu nya. Termasuk calon besan nya, dia menyambut mereka dengan ramah. 

__ADS_1


"Bestie.." pekik Alisa sambil membuka pintu kamar Eva, membuat gadis yang tengah di landa kegugupan itu terhenyak saat melihat wajah penuh ke antusiasan sahabatnya.


"Eehh Alisa.." perempuan hamil itu menghambur memeluk sang sahabat yang sebentar lagi akan menjadi saudaranya. 


"Lho kok kamu keringetan." Tanya Alisa saat merasakan tubuh sahabatnya di banjiri keringat.


"Hehe, gugup beb." 


"Kamu tuh, kenapa gak cerita kalau Farhan mau lamar kamu sih?"


"Mendadak, beb. Aku aja gak nyangka kalau Farhan bener-bener nepatin janji nya, buat lamar aku secepatnya setelah kejadian itu." 


"Duduk, aku butuh penjelasan!" Nada suara Alisa berubah menjadi serius. Eva menurut dan keduanya duduk di sisi kasur, Alisa menatap sahabatnya dari atas sampai bawah, lalu menghembuskan nafas nya dengan pelan.


"Bener kamu udah melakukan itu sama Farhan?" Eva mendongak, menatap wajah sahabatnya yang terlihat sangat serius saat ini. Gadis itu mengangguk pelan.


"Iya,"


"Udah berapa kali?"


"Sekali doang, besoknya Farhan langsung bilang kalau dia sama orang tua nya mau kesini buat lamar aku, lusa." 


"Lo beruntung dapet cowok segentle Farhan, Va. Gimana kalo cowok laen yang renggut mahkota Lo terus dia pergi ninggalin Lo hmm?" 


"I-iya, maaf." 


"Gapapa, semua udah terjadi juga. Tapi harusnya Lo bisa jaga diri, kesucian itu harta paling berharga yang di miliki perempuan, Va." 


"Iya, beb." 


"Sekarang, Lo tenang ya. Udah ada Farhan diluar sana yang lagi nungguin Lo keluar, kita keluar ya? Gak usah gugup, ini cuma pertemuan antar keluarga. Belum milih tanggal kan?" Gadis itu menggeleng pelan. Alisa meraih nya kedalam pelukan dan mengusap-usap punggung Eva.


"Sorry kalo perkataan gue buat Lo tersinggung, tapi dulu kita punya janji buat gak ngasih itu sebelum punya suami masing-masing kan? Kenapa Lo langgar?"


"Gue penasaran sama rasanya, soalnya Lo bilang enak terus bikin ketagihan." 


"Jadi?"


"Ya gue ajak Farhan buat gituan, awalnya dia nolak terus, tapi malam itu dia setuju dan terjadilah." Jawab Eva pelan.


"Haha, tapi gapapa. Akhirnya kita bakal sodaraan dong."


"Iya juga." Kedua sahabat itu tertawa dengan kompak. Tak di sangka, di luaran sana mereka jadi sahabat, ehh sekarang malah akan jadi sodara. Dunia memang sesempit itu. 


.......


🌻🌻🌻🌻


yuk mampir ke karya temen author, di jamin bikin ketagihan baca nya😚😚

__ADS_1



Dear Pak Boss karya kakak Ika Oktafiana😚😚😚


__ADS_2