
Di sebuah ruangan yang gelap juga pengap, seorang pria berdiri dengan tegak, punggung nya yang kokoh terlihat sangat pelukable meskipun hanya terlihat di antara remang-remang lampu.
"Bos, kami sudah selesai memata-matai musuh." Lapor salah satu anggota dengan setengah menunduk.
Pria itu berbalik, dia menatap bawahan nya dengan tatapan sangat tajam, hingga membuat bulu kuduk nya berdiri tegak karena mendapat tatapan setajam itu dari ketua geng.
"Lalu?"
"Basecamp mereka selalu terkunci, dan yang menyulitkan kami untuk menyusup karena adanya kawat besi yang di aliri listrik bertegangan tinggi."
"Ckkk, sudah kuduga Jimmy pasti sudah mengamankan basecamp nya. Kau bisa pergi, nanti malam kita rapat. Beri tahu semua anggota!" Tegasnya dengan suara dingin.
"Baik bos." Jawabnya, lalu pergi dari hadapan sang bos. Seumur hidup dia bersama geng ini, belum pernah ada yang melihat wajah sang ketua. Karena dia selalu menggunakan topeng yang menutupi wajahnya, hanya memperlihatkan mata dan bibir.
Ketua mereka sangat misterius, karena tak ada siapapun yang pernah melihat wajah asli ketua geng yang di kenal dengan nama geng serigala. Sudah lama geng ini berselisih dengan geng sebelah, yakni geng kelelawar.
Geng yang di ketuai oleh seorang pemuda tampan bernama Jimmy Marchy Leonard, menjadi musuh dari geng serigala karena mereka lebih unggul dalam segala hal.
Tapi, beberapa bulan terakhir tepatnya sejak ketua baru masuk dan menggantikan ketua lama karena mati oleh suatu pertarungan, geng serigala sudah banyak kemajuan, dari segi bela diri juga persenjataan.
Meski tak ada pistol atau senjata api lain nya, tapi mereka memiliki banyak senjata kecil yang tak banyak orang ketahui. Geng serigala seringkali membuat keonaran dengan mengatas namakan geng Kelelawar untuk menjebak ketua lawan keluar, tapi sialnya sejauh ini mereka membuat gara-gara, Jimmy sama sekali tak peduli dan tak menunjukan tanda-tanda akan membuat aksi balas dendam karena nama geng nya tercemar di kalangan masyarakat.
Geng kelelawar, meskipun sama seperti geng serigala yakni salah satu geng motor yang sering berkonvoi kesana kemari dan membuat kemacetan, tapi mereka tak mengganggu masyarakat terlebih membuat teror seperti yang di lakukan geng-geng motor lain.
Malam harinya, semua anggota geng serigala sudah berkumpul di ruangan yang cukup luas. Namun tetap di dominasi oleh kegelapan, bahkan di ruangan sebesar ini hanya ada satu lampu.
Pria yang di ketahui sebagai ketua duduk di hadapan semua anggota, dengan aura dingin yang memikat, membuat ruangan terasa mencekam.
"Tujuan dari rapat ini hanya satu, yakni bagaimana caranya membuat nama geng Kelelawar tercemar di kalangan masyarakat, apapun caranya!" Tegasnya dengan suara yang datar namun terdengar sangat menusuk.
"Siap bos, kami akan lakukan malam ini juga." Jawab salah satu anggota kepercayaan sang ketua.
"Lakukan malam ini juga, aku ingin besok nama geng kelelawar hancur."
"Siap bos." Jawab semua anggota serempak.
"Bubar!" Tegas nya lagi, semua anggota pun bubar dan mulai menjalankan tugas mereka masing-masing di bawah perintah Alex selaku kepercayaan ketua, yang entah siapa nama dan seperti apa wajahnya. Mereka hanya memanggil nya dengan sebutan ketua, itu saja.
__ADS_1
Pria itu membuka topeng nya, dia berdiri di depan sebuah cermin besar yang ada di ruangan itu. Dia menatap pantulan wajah nya di cermin itu, mata nya yang menyalak tajam karena amarah.
Wajah tampan nyaris sempurna, mata sipit dengan manik berwarna hitam kelam, hidung nya yang mancung, bibir nya tebal kemerahan, dagu lancip dan rahang yang tegas menambah kesempurnaan nya. Belum lagi tubuhnya yang atletis dengan deretan roti sobek yang berderet rapi di perutnya.
Dia tersenyum smirk, lalu mengepalkan kedua tangan nya di sisi tubuh, membanting topeng yang selalu dia kenakan saat di markas geng serigala.
"Setelah ini kita lihat, apakah kau masih berani membanggakan geng sialan mu itu, Jimmy!" Ucapnya dengan suara berat karena menahan sesuatu yang bergemuruh hebat dalam dada nya.
Dendam, ya dia memiliki dendam pribadi pada ketua geng Kelelawar itu. Jadi, dia akan membuat nama nya hancur apapun caranya. Dia tak peduli apapun, meskipun harus bertaruh nyawa sekalipun dia tak peduli lagi, apapun yang dia inginkan harus terwujud, itulah tujuan nya saat ini.
Sedangkan di sisi lain, orang yang tengah jadi topik pembicaraan, yaitu Jimmy saat ini tengah bermanja pada istrinya. Meski beberapa kali Alisa menolak suaminya, tapi ya namanya juga Jimmy, mana mau dia menuruti perkataan Alisa.
"Astaga Jim, minggir dulu ihh. Aku lagi belajar ini, jangan ngerecokin dulu bisa?"
"Gak bisa, soalnya aku mau Deketan terus sama kamu, baby." Jawab Jimmy dengan manja, dia tak peduli dan tetap menduselkan wajah nya di leher sang istri.
Alisa mendengus kesal, tak di sekolah, di rumah, Jimmy selalu saja menyebalkan. Apalagi saat ini, tadinya dia ingin belajar untuk persiapan ujian, ehh malah di gangguin pak suami yang sedang dalam mode manja kayak anak kucing.
"Baby, pengen neneen." Rengek Jimmy.
"Iya, nanti ya setelah aku selesai belajar. Kamu kenapa gak belajar juga? Seminggu lagi kita ujian lho."
"Aawwhhhsss, sakitt baby! Tega banget gigit aku." Jimmy meringis kesakitan sambil mengusap hidung nya yang habis kena gigit.
"Habisnya gemesin, yaudah lepasin aku dulu dong."
"Enggak mau!" Jawabnya, masih dengan suara manja.
"Lepasin atau gak aku kasih neneen?"
"Eehh iya iya, aku lepasin nih." Jimmy langsung melepaskan tautan tangan nya di perut rata istri cantiknya, lalu membiarkan istrinya belajar lebih dulu. Sedangkan Jimmy memilih memperhatikan wajah fokus istrinya yang cantiknya bertambah berkali lipat saat sedang fokus berfikir.
'Cantiknya nambah kalo lagi fokus gini, pengen tak gigit juga bayar yang tadi, tapi dia pasti marah. Nanti aku juga yang kena karma nya, gawat kalau gak dapet jatah susu seharian.' Batin Jimmy, yang ada di otaknya sekarang cuma susu dan susu.
Tapi bukan susu sapi ya gengs, tapi susu gantung yang menempel di dada istrinya.
"Ayo belajar bareng, biar nilai akhirnya bagus. Mau lulus bareng kan?"
__ADS_1
"Ya jelas mau dong, Bby." Jawab Jimmy, dia meraih buku dan pensil yang di ulurkan oleh istrinya. Akhirnya mereka belajar berdua, Alisa mengajari suaminya hingga paham. Meski bukan hal mudah mengajari Jimmy, tapi dengan sabar Alisa mengajari nya hingga bisa menyelesaikan soal-soal itu sendiri.
"Gini bener gak, Bby?" Tanya Jimmy sambil menunjukkan hasil kerja keras otaknya.
Alisa melihat hasil tangan Jimmy, dia tersenyum lalu mengusap lembut kepala suaminya.
"Bener, yeee suami aku udah pinter ngerjain soalnya."
"Iya dong, Jimmy gitu lho." Bangga Jimmy sambil terkekeh.
"Siapa dulu yang ngajarin nya hmm?"
"Istri aku yang cantik ini dong, ututuu cantiknya istriku." Ucap Jimmy sambil mengunyel-unyel kedua pipi sang istri saking gemas nya.
"Sakit lho ini, Yang."
"Eehh maaf, habisnya kamu gemesin banget. Makin sayang deh."
"Kamu sayang aku?"
"Iya, aku sayang kamu. Kamu sayang aku enggak?" Balik tanya Jimmy membuat wajah Alisa merona. Apa katanya tadi, dia menyayangi nya? Ohh jangan katakan ini mimpi, karena dia sudah terlalu senang mendengar nya, hingga hatinya di penuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran.
"S-ayang kok." Jawab Alisa terbata, Jimmy tersenyum senang lalu meraih tubuh sang istri ke dalam pelukan nya. Beberapa kali melayangkan kecupan singkat di puncak kepala Alisa, juga di kening nya dengan mesra.
"Ke depan nya, semoga dari rasa sayang ini bertumbuh jadi cinta ya, Bby."
"Masa belum cinta sih, kita kan udah gituan. Aku yang rugi dong kalo kamu gak cinta sama aku, aku dah ngasih sesuatu paling berharga yang aku punya." Ucap Alisa, bukan nya dia tak ikhlas memberikan Jimmy hak sebagai suami. Tapi wanita selalu realistis, masa sudah berhubungan suami istri tapi dengan mudahnya mengatakan kalau belum cinta. Aihhh, menyebalkan!
"Maaf ya Bby, tapi aku belum yakin kalau ini cinta."
Alisa melepaskan pelukan Jimmy dengan paksa, lalu membereskan buku-buku dan memasukan nya ke dalam tas. Dia pergi meninggalkan Jimmy yang masih terpaku di tempatnya, masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi sebelum tidur. Tak lama kemudian, keluar lalu membaringkan tubuh nya di ranjang, tanpa mengajak Jimmy.
Jimmy ikut berbaring setelah bersih-bersih, melakukan hal yang sama seperti Alisa. Istrinya yang tadinya sedang berbaring terlentang, kini berubah posisi menjadi miring ke kanan, membelakangi Jimmy.
Pria itu menghela nafas nya, dia tak menyangka karena perkataan nya tadi, ternyata mampu memancing amarah istrinya. Entah Alisa yang terlalu baperan, atau dirinya yang tak peka.
Tapi author itu tim Alisa, karena cewek. Jadi ini salah Jimmy yang tidak peka, ya kali aja udah anu beberapa kali masih ngomong belum cinta. Kita sebagai wanita butuh kepastian, realistis saja.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻