
Keesokan harinya, Dian kembali ke dekat apartemen itu, kali ini dia menyamar menjadi tukang bakso. Dengan begitu, orang yang keluar masuk ke apartemen takkan curiga.
"Bang, bakso nya dua." Ucap seseorang yang keluar dari kawasan apartemen elit itu.
"Di tunggu ya kak." Jawab Dian, andai saja ini bukan tugas di bawah perintah Jimmy, pasti dia takkan mau menyamar jadi tukang bakso. Dia mana bisa meracik bumbu bakso, dia memberi bumbu sekenanya saja. Entah akan seperti apa rasa bakso nya, dia tak peduli.
Dian meletakan dua mangkuk bakso di depan kedua orang itu, mereka memakan nya tapi baru satu suapan salah satu dari mereka melayangkan protes.
"Eehh, ini kuah bakso apa air laut? Asin banget."
"Aahh, maaf kak maaf.."
"Enak aja minta maaf, ganti." Dian mendengus lalu mengambil bakso itu dan mengganti nya dengan yang baru. Lalu menyuguhkan nya kembali pada orang itu, berhasil karena pelanggan tak protes lagi. Penasaran, seasin apa sih kuah bakso buatan nya sebelumnya? Satu sendok saja, Dian memuntahkan nya karena benar rasanya sangat asin, tapi bakso nya enak. Jadi dia makan bakso nya saja tanpa kuah.
"Pedagang baru ya?"
"Iya kak, maaf masih magang." Jawab Dian merasa tak enak, beruntung nya dia mengenakan masker.
"Gapapa, bakso nya enak cuma garam nya aja yang perlu di kurangin dikit."
"Hehe, iya kak siap. Beli lagi yaa." Ucap Dian ramah.
"Kalau begitu kami pergi dulu, tugas negara sudah menunggu." Kelakar nya, yang satu itu terlihat lebih ramah, sedangkan yang satu nya lagi lebih pendiam dan tukang marah-marah.
"Tugas negara?"
"Menjaga seorang gadis milik bos." Jawabnya, sedangkan Dian terlihat menyunggingkan senyum licik nya.
"Ohh iya kak, semangat kerja nya."
"Pasti, demi duit buat beli baju emak di kampung." Jawabnya sambil terkekeh, lalu kedua nya pun pergi.
Sedangkan Aldi memantau situasi di kamar apartemen, dia memasang CCTV kecil di tempat yang orang pasti takkan menyangka bahwa itu adalah kamera pengawas.
Aldi melotot saat melihat target keluar dari kamar dimana Jian keluar kemarin, ya Denis keluar dari sana dengan langkah lebar nya, kedua tangan nya di masukan ke dalam saku, berjalan santai tanpa beban.
"Ya, berarti unit milik Denis tepat di depan ku. Itu artinya Jian salah satu anggota geng serigala, lalu Denis? Apa dia ketua nya yang terkenal misterius itu? Aahh aku harus melapor pada Dian."
Aldi mengambil ponsel dan menghubungi nomor Dian, yang sedang sibuk melayani pelanggan bakso. Dalam sekejap saja bakso dagangan nya habis tak bersisa, seperti nya Dian mulai mendalami peran nya menjadi tukang bakso dadakan.
__ADS_1
Dian mengipas-ngipas wajahnya, dia kelelahan setelah bakso nya di buru oleh karyawan kantor yang berada dekat di kawasan apartemen itu.
"Apa?" Tanya Dian setelah mengangkat telpon dari Aldi.
'Aku melihat target keluar dari unit tepat di depan ku, unit itu juga di jaga oleh beberapa orang berseragam, dan mereka membawa topeng. Jadi, apa hubungan Denis dengan geng serigala? Menurut mu apa masuk akal kalau Denis adalah ketua geng serigala yang misterius itu?' Jelas Aldi panjang lebar.
"Segala kemungkinan bisa saja terjadi, terus pantau dan pastikan ibu bos ada disana." Jawab Dian lirih.
'Siap.'
Panggilan pun terputus, mereka kembali fokus pada tugas masing-masing. Sesangkan di unit milik Denis, Alisa mulai penasaran dengan tempat yang selama 4 hari ini mengurung dirinya.
Alisa membuka pintu kamar, dia berjalan pelan sambil mengedarkan pandangan nya ke ruangan yang cukup luas dengan segala perabotan mewah nya.
"Kau keluar?"
"Ayuna?" Tanya Alisa, dia terkejut melihat Ayuna juga berada di ruangan ini.
"Yeah, aku Ayuna. Selamat datang penghuni baru apartemen Denis." Ucapnya sinis.
"Datang ke tempat ini bukanlah keinginan ku." Alisa berkata lirih, dia menunduk membuat Ayuna merasa sedikit iba. Apalagi saat melihat mata sembab Alisa dan lingkaran hitam yang tercetak jelas di bawah mata nya, menandakan kalau dia kurang istirahat.
Sejahat apapun Ayuna, tapi dia masih punya hati nurani.
"Kau sudah makan, Alisa?"
"Aku tak berselera melakukan apapun." Jawab Alisa pelan.
"Jangan konyol, sudah tiga hari kau disini dan aku belum melihat mu makan apapun. Kalau mau mati, jangan disini. Aku tak mau di repotkan."
"Aku ingin pulang." Lirih Alisa membuat Ayuna menoleh.
"Ckk, pulang? Kemana?"
"Ke rumah suamiku, aku begitu merindukan nya, Ay." Kali ini nada bicara Alisa lebih lirih.
"Suami?"
"Jimmy adalah suamiku, Ay. Aku menikah dengan nya sudah 6 bulan." Jawab Alisa bagai petir menyambar yang membuat hati Ayuna sesak.
__ADS_1
"What? Kau menikah dengan Jimmy?"
"Iya, karena perjodohan. Awalnya aku juga tak suka, tapi perlahan aku bisa menrima Jimmy sebagai suamiku." Jawab Alisa, aahh suasana hatinya kembali buruk setelah menceritakan awal mula kenapa dia bisa menikah dengan Jimmy.
Ayuna meremaas dada nya, apa itu artinya dia tak punya lagi kesempatan untuk bisa bersama Jimmy, pria pujaan nya?
"Ay, tolong bantu aku keluar dari sini. Aku mohon,"
"Apa yang akan aku dapat dengan membantu mu keluar dan lepas dari cengkraman Denis? Apa kau bersedia memberikan Jimmy padaku?" Tanya Ayuna, tanpa melirik sedikitpun ke arah Alisa. Perempuan itu benar-benar tersentak kaget saat mendengar ucapan Ayuna, memberikan suaminya? Lalu untuk apa dia bisa keluar dari sini jika suaminya dia berikan pada wanita lain?
Jimmy adalah tujuan nya, alasan kenapa dia ingin segera keluar dari tempat terkutuk ini. Dia merasa tersiksa disini, seperti yang dia katakan tadi, datang ke tempat ini bukanlah keinginan nya.
"Tak bisa kan? Maaf, aku juga tak bisa membantu mu."
"Aku mohon, Ay.."
"Tidak, aku masih mau hidup. Membantu mu melepaskan diri dari Denis, sama saja dengan aku menyerahkan nyawa ku pada psikopat itu." Ketus Ayuna.
"Dia bukan Denis yang dulu."
"Benar, Denis yang sekarang berbeda dengan Denis cupu di sekolah." Jawab Ayuna.
"Nona.." panggil seseorang yang membuat Ayuna tersenyum semringah.
"Jian, dari mana saja?"
"Saya habis mengantarkan tuan bos ke markas, tapi dia meminta saya kembali untuk berjaga." Jelas Jian, membuat Ayuna tersenyum penuh makna.
"Berjaga ya? Memang nya menjaga apa?" Tanya Alisa polos.
"Ckk, begoo! Ya jagain elu biar gak kabur." Sewot Ayuna membuat Alisa terkekeh.
"Baiklah, sebaiknya aku pergi ke kamar lagi."
"Ya, kau sangat menggangu!" Ketus Ayuna, dia bergelayut manja di lengan Jian.
"Haha, baiklah nikmati waktu kalian."
Alisa menutup pintu kamar nya dan mengunci nya dari dalam, sekarang hatinya terasa lebih lega karena sudah bicara dengan Ayuna, meski respon nya jutek tapi setidaknya dia masih mendengarkan keluh kesahnya.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻