Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Penghianat #2


__ADS_3

Jimmy naik ke atas motor Farhan, pria itu tak banyak bertanya karena melihat wajah sepupu nya yang terlihat memerah sepertinya tengah menahan emosi nya.


Farhan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi seperti biasa, Jimmy terlihat santai saja meski beberapa kali dia merutuki Farhan. Membawa motor sendiri dan di bonceng sensasi nya berbeda, mungkin inilah yang di rasakan Alisa kalau dia kebut-kebutan di jalan.


Singkatnya, Jimmy turun dari motor Farhan. Dia berjalan dengan pelan, di ikuti Farhan di belakangnya. Pria itu menatap lurus ke depan, mata nya menyalak tajam seakan siap mengoyak mangsa. Dia menyeringai saat melihat seseorang yang dia yakini sebagai penghianat di dalam geng nya berada di barisan belakang. 


Berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang, namun wajahnya menunduk seolah ada ketakutan saat melihat Jimmy datang. 


"Duduk.." perintah Jimmy tegas, semua anggota yang hadir duduk di kursi mereka masing-masing. Tak perlu berebut, karena setiap kursi ada nama yang tertera. Namun, nama pria itu tak ada di kursi mana pun karena Jimmy sudah mencopot nya.


"Kenapa kau berdiri? Cepat duduk." Ucap Farhan sinis, sebenarnya dia tau alasan kenapa pria itu tak duduk karena nama nya tak ada lagi disana meskipun kursi itu kosong.


"Biarkan saja." 


Jimmy duduk di kursi pemimpin yang berada di tengah-tengah meja panjang, tatapan mata nya tajam menghunus hingga membuat pria itu tak sanggup untuk sekedar menatap mata atau wajah Jimmy, berbeda dengan anggota yang lain.


"Topik dari rapat hari ini adalah, siapa dalang dari balik dua kali penyerangan yang terjadi baru-baru ini. Belum ada seminggu basecamp di serang orang tak di kenal, dan kemarin aku di kepung di jalanan." 


"Kalau hanya aku sendiri tak masalah, tapi aku membawa istriku, Alisa. Dan apa kalian tau apa yang terjadi pada istriku saat ini? Dia sakit, demam tinggi hingga tengah malam aku membawa nya ke rumah sakit." Jelas Jimmy, mata nya tak henti menyorot tajam ke arah pria yang berdiri di ujung meja sendirian. Karena anggota lain duduk di kursi mereka masing-masing. 


"Jadi, aku tak akan memaafkan siapapun yang mengusik istriku! Berani berurusan dengan Jimmy berarti siap mati." Tegas nya dengan senyum smirk di ujung bibirnya. Tampak pria yang masih berdiri kaku di tempatnya itu sedikit terhenyak, namun dengan cepat menetralkan kembali ekspresi nya setenang mungkin. Padahal Jimmy juga Farhan sudah mengetahui siapa dia sebenarnya.


Jimmy berdiri dari duduknya, dia berbalik lalu mengambil pisau kecil dari dinding yang memang biasanya tempat penyimpanan senjata.


"Kau, kemarilah." 


Pria itu dengan ragu berjalan mendekat, namun mata nya tetap tak bisa menatap ke arah Jimmy. 


"Tegakkan kepala mu saat pemimpin mu bicara!" Tegas Jimmy. Barulah, pria itu mendongak. Jimmy tersenyum devil ke arah nya, lalu memainkan pisau kecil berwarna emas itu di tangan nya. 


"Katakan sejujurnya atau aku memotong urat nadi mu?" Tanya Jimmy pelan namun menusuk, mampu membuat sekujur tubuh pria itu gemetar.


"Maksud bos?"

__ADS_1


"Kau ingin berpura-pura tak tau? Semua orang disini sudah tau kalau kau seorang penghianat!" Tegas Jimmy membuat wajah pria itu memucat seketika.


Farhan maju, dan menarik rambut belakang pria itu. Mengikat kedua tangan nya dengan tali yang memang sudah dia siapkan sebelumnya, pria itu tak bisa berkutik saat ini.


"Katakan siapa nama mu?"


"A-arai." Jawabnya terbata.


"Katakan, geng mana yang membayar mu untuk jadi mata-mata disini?" Tanya Jimmy, dia melangkah mendekat dengan pisau yang masih dia pegang.


Bungkam, pria itu memilih bungkam. Tak mengatakan sepatah kata pun, hal itu jelas saja membuat amarah Jimmy meledak.


"Kau ingin aku melubangi leher mu dengan pisau ini? Jangan salah, meskipun kecil tapi pisau ini sangat tajam. Mau bukti?" 


Sreett.. 


"Aaarrgghhh…" pria itu memekik kesakitan saat pipi kanan nya Jimmy sayat dengan pisau itu.


"Katakan!" Bentak Jimmy. Tapi sepertinya sayatan sebagai peringatan yang di berikan Jimmy tak mampu membuat pria itu mau membuka mulutnya.


Farhan berdiri tak jauh dari posisi Jimmy dan penghianat bernama Arai itu. Dia harus waspada kapanpun, bisa saja musuh kabur melarikan diri. 


"Aargghhh… sakit.. ampun.." 


"Jadi, katakan siapa!" Teriak Jimmy, kesabaran nya habis sudah menghadapi pengacau ini.


"Geng serigala yang menyuruh saya." Ucapnya kemudian, rasa sakit di tubuh nya tak mampu dia tahan lagi, apalagi jika harus di tambah.


"Ohh ternyata mereka." Gumam Jimmy sambil terkekeh. Berarti informasi yang di dapatkan Dian itu sangat valid, terbukti dari penghianat itu yang mengungkap geng yang sudah membayar nya.


"Di bayar berapa kau hingga mau masuk ke dalam geng ku?" Tanya Jimmy dengan suara beratnya. Pria itu menunduk tanpa berniat menjawab pertanyaan yang di layangkan Jimmy.


"Kau tau apa akibatnya jika menjadi penghianat? Nyawa, masuk kesini sama saja kau mengantarkan nyawa padaku." Bisik Jimmy sambil menyeringai.

__ADS_1


"Ampun Jim, aku belum melakukan apapun kecuali menyabotase CCTV. Masalah kamu dan istri yang di kepung, aku tak tau apa-apa karena aku hanya di tugaskan untuk memantau basecamp." Ucapnya dengan suara bergetar.


"Jangan berbohong, kau pikir aku bocah yang mudah kau kelabui dengan mengiba? Najiss! Tak ada maaf bagi penghianat!" Tegas Jimmy, dengan cepat dia menggoreskan pisau miliknya ke lengan atas Arai, lalu turun ke bawah hingga membentuk luka memanjang dan perlahan mulai mengeluarkan darah segar yang berbau amis.


"Buaya ku pasti sangat senang mendapatkan makanan seperti mu." 


Jimmy tertawa puas saat melihat pria itu kesakitan karena luka yang dia berikan, saat ini Jimmy terlihat seperti seorang psikopat kejam yang tertawa di atas penderitaan orang lain.


"Bereskan!" 


Jimmy kembali duduk, dan dia menyerahkan urusan Arai pada anggota lain yang dengan senang hati langsung menyeret Arai ke suatu tempat sesuai perintah waketu, yakni Farhan.


"Kau bawa kemana pria itu?" Tanya Jimmy.


"Gue pikir kesalahan nya belum sebesar yang Lo pikirin, dia baru gabung lima hari yang lalu, jadi gue pikir dia gak punya banyak informasi tentang geng kita. Jadi gue cuma masukin dia ke penjara."


"Serah Lo dah, inget jangan jadi lemah karena kemanusiaan Lo." Peringat Jimmy, Farhan masih sedikit memiliki hati meskipun dia terlihat sangat sadis di luar. 


"Jadi, Alisa sakit sapa?" Tanya Farhan dengan hati-hati.


"Kayaknya trauma mental gitu, pas kemaren setelah balik dia pingsan di motor, terus malem nya demam tinggi sampe 40 derajat. Dan Lo tau apa kata dokter?" 


"Kalau terlambat sedikit saja dan suhu tubuh nya terus meningkat, dia bisa tak terselamatkan, Farhan. Jadi Lo bisa bayangin semarah gue saat ini." Jelas Jimmy membuat Farhan terhenyak.


"Serius?"


"Ngapain gue becanda garing kek gini?" Balik tanya Jimmy dengan wajah seriusnya. Sedangkan Farhan menganga, dia tak menyangka di balik sikap periang Alisa, ternyata di tetap saja seperti gadis kebanyakan. 


"Selesaikan urusan disini, gue harus balik ke rumah sakit. Motor Lo gue pinjem." 


"Oke, hati-hati di jalan." Ucap Farhan, lalu melempar kunci motor miliknya pada Jimmy.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2