Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Satu Untuk Berdua


__ADS_3

Singkatnya, satu Minggu begitu cepat berlalu. Hari ini adalah hari terakhir ujian nasional dengan mata pelajaran bahasa Inggris, Alisa beberapa kali kesulitan karena tak mengerti arti pertanyaan dalam soal. 


Dia memang pandai dalam pelajaran matematika, IPA, tapi bahasa Inggris adalah kelemahan nya. Tapi untungnya, bangku nya dan bangku Jimmy bersebelahan, jadi pria itu yang selalu memberitahu Alisa jawaban nya.


Berbalik, Jimmy tak menyukai matematika. Tapi pandai dalam pelajaran bahasa Inggris, ya karena dia sering di ajari kakak nya dulu. Ya meski sekarang hubungan kedua nya bisa di bilang renggang karena kakak Jimmy yang memilih kuliah di luar negeri. 


Dua jam sudah, bel berbunyi menandakan bahwa siswa siswi boleh keluar dari kelas karena waktu untuk menyelesaikan soal-soal nya sudah selesai.


"Eehh, kita makan-makan dulu yuk?" Ajak Eva pada Alisa. Tapi perempuan itu malah menatap Jimmy yang menunjukan ekspresi datar nya, terlihat sangat keberatan jika mereka harus mampir-mampir dulu.


"Ayo, udah lama juga kita gak nongkrong bareng ya kan?" Ucap Harry antusias, memang sudah lama mereka tidak berkumpul. Ya lebih tepatnya setelah Alisa dekat dan pacaran dengan Jimmy, karena pria itu dengan tegas melarang jika Alisa meminta izin untuk mengumpul bersama ketiga teman nya. 


"Eemm, boleh gak?" Tanya Alisa pada Jimmy. Pria itu menoleh ke arah sang istri yang sudah menampakan raut wajah memohon, dia ingin berkumpul dengan teman-teman nya.


"Boleh." Jawab Jimmy membuat Alisa tersenyum cerah, begitu juga dengan Eva juga Harry.


"Tapi.."


"Tapi apa, Jim?"


"Aku ikut." Jawab Jimmy datar, membuat Alisa cemberut. Tapi setidaknya ini lebih baik dari pada tidak sama sekali.


"Kenapa cemberut? Gak suka? Kalo gak suka, yaudah gak usah pergi aja."


"Eehhh kok gitu, ayolah Jim. Selama ini aku bosen cuma di rumah terus, keluar cuma sekolah doang." Rajuk Alisa membuat Jimmy gemas sendiri.


"Yaudah, kalo gitu ayo pergi tapi harus sama aku perginya. Aku gak mau ambil resiko kamu pergi sama temen tengil kamu, nanti ada yang ngelirik kamu kan aku yang rugi." 


"What? Tengil Lo bilang, sialan banget Lo Jim!" Pekik Eva hampir saja memukul wajah Jimmy kalau saja Harry tak menghalangi nya.


"Sabar-sabar, inget dia cowok nya Alisa temen kita. Sabar, tarik nafas hembuskan.." 


Fiuhh.. 


Eva pun menarik Alisa hingga membuatnya mengikuti nya, keduanya pun pergi dengan dua motor menuju cafe terdekat dari sekolah. 


Alisa terlihat berbinar saat melihat makanan yang tersaji, sudah lama dia ingin makan steak tapi dia tak berani bilang pada suaminya.

__ADS_1


"Enak ya?" Tanya Jimmy saat melihat istrinya makan dengan lahap.


"Enak, mau? Aaa.." Alisa menyuapi Jimmy dengan steak dari piring nya, Jimmy dengan senang hati menerima suapan dari tangan sang istri, mengunyah nya dengan perlahan lalu menelan nya.


"Enak juga, kalau mau pesen lagi aja. Makan yang kenyang, Bby." Ucap Jimmy sambil mengusap lembut puncak kepala sang istri.


"Kalian juga, kalo masih mau pesen aja, gue yang bayar."


"Wihh gitu dong, kan kita seneng." Celetuk Eva yang sukses membuat Harry mencubit pelan lengan Eva.


"Aawwhhss, sakit njir. Kenapa sih, pake nyubit segala? Emang Lo gak suka makanan gratisan?" 


"Gratis sih gratis, tapi kita nya yang harus tau diri begoo!" Cetus Harry. 


"Lah, gapapa kali. Si Jimmy ini yang bilang mau traktir, bukan kita yang minta. Lagian kan gak setiap hari Jimmy berbaik hati buat neraktir kita." Harry hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Eva. Malu-maluin aja, tapi berteman dengan Eva harusnya mereka sudah kebal bukan?


"Malah ribut, ayo makan."  


Alisa tersenyum lalu kembali menyuapi sang suami dengan steak, karena Jimmy tak memesan makan, hanya segelas es kopi kesukaan nya.


"Kenapa, kamu gak ikhlas nyuapin aku hhmmm?" 


"Eehh gak gitu lho maksud aku, cuma nanya aja. Soalnya kamu keliatan suka, tapi kok gak pesen makan, malah pesen es kopi doang." 


"Mau satu bagi dua aja sama kamu." Jawab Jimmy sambil tersenyum menggoda.


"Yaudah, kita pesen satu lagi kali ya? Yang besar biar kenyang, oke?" 


"Iya Baby." Jawab Jimmy sambil mengacak rambut Alisa.


"Rambut Alisa yang di gituin, hati gue yang berantakan. Pengen juga anjir, bisa gak sih kalian gak mesra-mesraan di depan gue? Gak menghargai banget kaum jomblo." 


"No komen, itu sih derita Lo. Masa bodoh, gak mau tau." Alisa bernyanyi lagu yang saat ini sedang trend di aplikasi toktok.


"Awas aja Lo."


"Gak usah ngancem cewek gue, mau gue pukul?"

__ADS_1


"Kagak deh, sorry." Ucap Eva lalu menunduk, kalau berhadapan dengan Jimmy dia selalu merasa takut. 


"Kode tuh Harry, masa gak peka?" 


"Eva temen gue, gak mungkin gue suka sama dia. Lagian, hati gue udah ada yang punya." Jawab Harry santai, tapi berbeda dengan ekspresi yang di perlihatkan oleh Eva. Wajah nya menegang, denyut jantung nya hampir berhenti saat mendengar kalau Harry sudah mempunyai tambatan hati.


Alisa tak berani bicara lagi, tadinya dia ingin menggoda Harry, tapi dia malah mendengar ucapan pria itu yang pasti menyakiti hati Eva. Sungguh, dia tak bermaksud apapun. Tapi akibatnya cukup fatal, apalagi saat melihat Eva langsung menunduk.


"Makan yang banyak yuk Va, mumpung cowok gue yang bayar. Gimana?" Ucap Alisa berusaha menghibur sahabatnya.


"Boleh, gue lagi badmood jadi nafssu makan gue bertambah." Jawab Eva bersemangat. 


Kedua nya pun memesan masing-masing satu piring steak lengkap dengan kentang goreng dan sayuran, Alisa memesan yang besar karena untuk berdua, sedangkan Eva memesan yang berukuran sedang karena hanya untuk dirinya sendiri.


Sudah kebiasaan para wanita bukan, kalau lagi badmood nafssu makan nya pasti bertambah berkali lipat dari biasanya.


Jimmy menikmati setiap suapan yang di berikan istrinya, bahkan saat sudut bibir pria itu belepotan terkena saus black pepper, Alisa dengan cepat mengusapnya dengan tissu yang tersedia. 


Hal itu tak luput dari pantauan seseorang, kedua tangan nya nampak mengepal saat melihat kemesraan pasangan itu. Hatinya terbakar saat melihat betapa perhatian nya gadis pujaan nya pada saingan nya.


"Aaahh sial, kenapa malah harus ketemu mereka disini?" Rutuk nya. 


Pria itu menatap Alisa yang tersenyum penuh kebahagiaan, bahkan beberapa kali dia nampak menyandarkan kepala nya di pundak Jimmy, dan pria itu langsung mengusap kepala nya dengan lembut.


Hati pria mana yang tak terbakar melihat gadis yang dia puja, dia inginkan malah terlihat bermesraan dengan pria lain, yang sialnya adalah musuhnya? Rasanya terlalu brengseek jika karena dendam nya, dia ingin merenggut kebahagiaan gadis itu. Tapi dia benar-benar tak rela saat melihat gadis itu bahagia bersama pria lain selain dirinya. 


Ya katakan saja dirinya egois karena tak rela melepaskan gadis itu bersama pria lain, apapun caranya dia harus mendapatkan gadis pujaan nya. Kalau perlu dengan cara paksa sekalian, ingin sekali dia membunuh pria yang sudah merebut gadisnya. 


Sudah lama dia mencintai gadis itu, bahkan sebelum dia berpacaran dengan Jimmy. Tapi dia sama sekali tak pernah melihat ke arah nya, dan pukulan telak baginya adalah saat mendengar dari mulut Alisa sendiri bahwa dia sudah bertunangan dengan Jimmy tanpa sepengetahuan nya.


Hari itu hati nya patah berkeping-keping, hingga dia tak sanggup untuk sekedar menatap mata gadis itu karena sakit di hatinya. Dan seperti nya, apa yang dia rasakan saat ini bukanlah cinta, tapi hanya obsesi untuk memiliki Alisa seutuhnya tanpa harus berbagi.


.......


🌻🌻🌻🌻


yeahh, seperti nya kalian tau siapa itu😁

__ADS_1


__ADS_2