
Tengah malam, Jimmy terbangun saat merasakan tubuh Alisa menggigil dalam dekapan nya, gigi nya bergemeletuk menahan rasa dingin, tapi tubuhnya sangat panas.
"Ya ampun, panas sekali." Gumam Jimmy, dia terpaksa melepas pelukan nya dan pergi mengambil termometer yang memang selalu tersedia di laci nakas. Jimmy membuka penutup nya dan memasukan ujung nya ke dalam mulut Alisa.
"Bby, kamu kenapa sebenarnya? Kamu ketakutan ya, sampai demam gini." Jimmy terus mengusap kepala istrinya dengan lembut, beberapa kali dia mengecup nya penuh kasih sayang. Hingga bunyi kecil dari termometer membuat Jimmy langsung mencabut nya, seketika itu kedua mata nya membeliak.
"40 derajat? Astaga, sayang." Jimmy di landa kepanikan, dia segera mengambil jaket dan cardigan milik istrinya, lalu dengan hati-hati memakaikan nya.
"Kenapa obat penurun panas itu tidak berfungsi sama sekali? Sialan!" Rutuk Jimmy, lalu menggendong sang istri ala bridal style. Dia akan membawa Alisa ke rumah sakit, agar penanganan nya lebih baik.
"Sabar sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya.." Jimmy terus mengecup kening istrinya yang entah tidur atau mungkin tak sadarkan diri seperti tadi.
"Lho Jim, mau kemana?" Tanya Larissa yang entah kebetulan dia ingin minum ke dapur, tapi malah berpapasan dengan Jimmy yang menggendong Alisa.
"Panas nya malah makin tinggi Ma, jadi Jimmy mau bawa Alisa ke rumah sakit."
"Dari tadi demam nya gak turun, Jim?" Tanya Larissa sambil mendekat lalu meletakan punggung tangan nya di kening sang menantu.
"Enggak Ma, Jimmy khawatir jadi mau bawa Alisa ke rumah sakit aja, biar di tangani dokter."
"Mama ikut, sebentar mama bangunin Papa dulu. Kamu duluan aja bawa Alisa ke mobil ya." Ucap Larissa sambil berlalu ke kamar nya.
Jimmy mengangguk lalu kembali melanjutkan langkah nya ke luar dari rumah dan akan menunggu di mobil. Dia belum terlalu pandai menyetir, jadi dia akan jadi penumpang saja di belakang.
Sementara itu di kamar, Larissa membangunkan suaminya yang tidur seperti bangkai. Sudah kebiasaan, jika habis bermain maka Raksa akan tidur dengan sangat nyenyak tanpa bisa ganggu.
"Pa, bangun pa.." Larissa mengguncang tubuh suaminya.
"Enghh.." Pria paruh baya itu hanya melenguuuh tapi mata nya tetap tertutup, tak terbuka sedikitpun, itu membuat Larissa cukup emosi.
"Pa, ayo bangun. Alisa sakit, kita harus membawa nya ke rumah sakit." Teriak Larissa, berhasil. Raksa terbangun dari tidur nya sambil menutup telinga nya.
"Apa sih Ma, papa lagi tidur nyenyak lho ini. Capek, habis main sama Mama."
__ADS_1
"Menantu kita demam tinggi, ayo ke rumah sakit." Ajak Larissa sambil mengganti pakaian nya.
"Dari tadi sore panas nya gak turun?" Tanya Raksa sambil mengucek kedua mata nya, dia membuka selimut dan masuk ke kamar mandi dengan tubuh telanjaang bulat karena baru saja bergulat dengan istrinya. Larissa menggelengkan kepala nya, heran saja kenapa suaminya bisa percaya diri berjalan santai seperti itu?
Tak lama kemudian, dia sudah keluar dengan wajah yang basah, juga rambutnya.
"Sebentar, papa pake baju dulu."
"Cepetan Pa, kasian Alisa nya. Demam nya tinggi banget, Mama habis periksa sendiri."
"Iya sayang." Raksa pun memakai pakaian nya secepat kilat, setelah selesai mereka pun keluar dari rumah dan langsung menuju mobil. Disana, mereka langsung di hadapkan dengan wajah Jimmy yang masam.
"Jimmy curiga deh, jangan-jangan kalian sempet celap celup dulu, lama bener." Celetuk Jimmy saat mobil sudah keluar dari rumah dan sedang melaju ke arah rumah sakit.
"Papa nih, susah banget bangun nya Jim."
"Ya itu juga kan karena Mama, ngajak main nya dua ronde." Jawab Raksa membuat Larissa tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya. Ckk, sudah Jimmy duga kalau papa nya pasti habis bertukar keringat dengan mama nya, makanya lama.
'Kamu harus kuat sayang, sebentar lagi kita sampai.' Batin Jimmy, tapi seketika dia merasa kalau laju mobil nya sepekan ini, apakah bisa cepat sampai?
"Bisa agak kencengan dikit gak sih bawa mobil nya, Pa? Bawa mobil kayak siput gini, bikin Jimmy gemes tau gak!" Gerutu Jimmy, pasalnya Raksa mengemudikan mobil nya cukup pelan karena hujan.
"Sabar, sebentar lagi sampai kok." Ucap Larissa yang mengerti ke khawatiran putranya.
Kalau saja dia jago mengemudi, pasti dia sudah berangkat dari tadi, tak perlu menunggu papa nya bangun dulu. Jimmy kesal sendiri, disaat seperti ini papa nya mengemudi hanya 60 kilometer per jam nya, sialan.
Jimmy yang biasanya main kebut-kebutan sangat gemas dengan keadaan ini, itulah alasan nya kenapa dia tak terlalu suka naik mobil, karena lama dan tak bisa selap-selip kalau ada kemacetan. Berbeda dengan sepeda motor, dia bisa lincah menyalip kendaraan di depan dengan kecepatan tinggi sekalipun.
Singkatnya, mobil yang raksa kendarai sudah sampai di rumah sakit. Jimmy keluar dan entah sejak kapan cara menggendong nya berubah.
"Sus, tolongin istri saya. Dia tak sadarkan diri karena demam."
"Baik, mari." Ajak suster itu, Jimmy berjalan setengah berlari mengikuti suster itu, lalu membaringkan istri nya yang terkulai lemas di brankar rumah sakit. Bibir nya membiru karena demam tinggi yang di alami nya, jelas saja itu membuat Jimmy sangat khawatir.
__ADS_1
"Silahkan tunggu di luar."
"Bagaimana dengan istri saya?" Bentak Jimmy membuat suster itu ketakutan.
"Jim, ayo keluar. Alisa pasti baik-baik saja, biar dokter yang menangani nya." Raksa menarik tangan putra nya dari ruangan, meski Jimmy sempat melakukan beberapa kali penolakan. Dia ingin tetap berada di dalam untuk melihat istrinya.
"Maaf sus, silahkan." Ucap Larissa, pintu kaca itu pun tertutup, suster menutup tirai nya hingga mereka tak bisa melihat ke dalam.
"Mama sama papa kenapa bawa Jimmy keluar sih? Jimmy pengen liat Alisa."
"Jimmy, kamu mau Alisa gak di periksa-periksa karena kamu keras kepala hah? Khawatir sih khawatir, tapi jangan bodoh." Ucap Raksa membuat Jimmy menunduk. Entahlah, dia sangat khawatir saat ini. Hingga berjauhan dengan Alisa, terasa sangat menyakitkan baginya.
"Papa sudah hubungi Rafi dan Alina, mereka akan kesini pagi-pagi." Raksa berucap lirih, barusan adalah pertama kalinya dia meninggikan suara nya di depan Jimmy. Selama 18 tahun dia merawat putra bungsu nya, tak pernah sekalipun dia membentak Jimmy. Tapi kali ini, entahlah kenapa dia bisa lepas kendali.
"Maaf, keluarga pasien?"
"Ya, saya suaminya sus. Bagaimana keadaan istri saya?"
"Istri anda hanya mengalami shock berat, hingga membuat imun tubuhnya menurun. Itu membuat perubahan suhu tubuh, kalau saja terlambat di bawa ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan, saya khawatir nona Alisa tak bisa selamat." Ucap perawat itu menjelaskan.
"Untuk saat ini, pasien sudah di infus dan demam nya sudah mulai turun. Besok pagi akan di pindah ke ruang perawatan."
"Apa saya bisa masuk menemui istri saya, sus?" Tanya Jimmy.
"Silahkan masuk, tapi hanya satu orang saja." Akhirnya Jimmy bisa bernafas lega, dia masuk ke dalam ruang IGD.
Dia tak tau, ternyata dari shock berat bisa mengancam nyawa. Apa itu artinya mental Alisa lemah? Tapi setahunya, Alisa adalah perempuan paling kuat yang pernah dia temui.
"Shiiit! Ini semua karena cecunguk-cecunguk itu, aku pastikan akan memenggal kepala kalian satu persatu!"
.......
🌻🌻🌻
__ADS_1