
Alisa terdiam sejenak, dia mencerna semua yang terjadi. Memang beberapa hari lalu, sikap Denis berubah, dia lebih menjauh dan menghindari interaksi apapun dengan nya. Lalu tiba-tiba dia pindah tanpa berpamitan lebih dulu? Apa alasan nya hingga pindah sekolah, padahal selama ini hubungan mereka baik-baik saja, tak ada pertengkaran apapun.
Hanya saja beberapa hari yang lalu, pria itu mengungkapkan perasaan nya pada Alisa, tapi karena dia sudah terikat dengan Jimmy, lagipun dia hanya menganggap Denis sebagai sahabat, itu saja tak lebih.
"Udah, gak usah bengong. Nanti laki Lo curiga, terus Lo kena hukuman lagi. Dia kan posesif." Ucap Eva, membuat lamunan Alisa buyar.
"Eehh iya, apa karena gue nolak perasaan nya Denis ya, Va?"
"H-ahh? Jadi, Denis ngungkapin perasaan nya sama Lo, Lis?" Tanya Eva, dengan ekspresi penuh keterkejutan, mana dia tau kalau Denis mengungkapkan perasaan nya pada Alisa.
"Iya, pas dia ngajakin gue ke taman waktu itu dan setelahnya dia jauhin gue, jaga jarak gitu terus sekarang malah pindah gitu aja."
"Gue yakin sih bukan karena Lo, tapi mungkin ada hal penting yang buat dia terpaksa pindah, Lis." Ucap Eva, mencoba meyakinkan Alisa, bahwa kepergian Denis bukanlah kesalahan nya.
"Tapi, kalau emang bukan karena gue kenapa gak pamitan dulu gitu? Seenggaknya kalo gak bisa ngomong secara langsung, minimal dia bisa ngirim pesan."
"Itu gue gak tau, jadi dia tau dong hubungan Lo sama Jimmy?" Tanya Eva, Alisa melirik ke arah sahabatnya lalu menganggukan kepala nya.
"Gue bilang, gue dah tunangan sama Jimmy." Jawab Alisa.
"Gapapa, gak usah Lo pikirin ya Lis."
Tak lama kemudian, Jimmy dan kawan-kawan nya masuk ke dalam kelas. Dia menarik tangan Alisa hingga hampir membuatnya terjungkal.
"Heh, pelan-pelan anjir." Sentak Alisa, tapi sepertinya Jimmy tak peduli dan tetap menarik Alisa ke bangku nya. Sekarang, mereka duduk berdampingan. Sedangkan Farhan pindah ke depan bersama Eva, dan Aldi bersama Harry.
"Mulai hari ini, Lo duduk sama gue disini."
"Anjir, gue mau di depan. Lo sih enak tinggi, lah gue? Gue pendek Jimmy, susah liat bor."
"Bodo amat." Jawab Jimmy datar, membuat Alisa kesal lalu menggeplak lengan atas suaminya cukup kuat. Hingga membuat Aldi menoleh ke belakang, baru kali ini dia melihat bos nya di pukul tapi dia tak menunjukkan ekspresi keberatan.
"Napa Lo liat-liat?" Sewot Jimmy menatap Aldi tajam.
"Eehh kagak." Jawab Aldi lalu kembali menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, kelas di mulai dengan jam pertama yaitu pelajaran matematika. Pelajaran yang sangat di benci oleh Jimmy, namun menyenangkan bagi Alisa yang memang menyukai pelajaran itu.
Alisa fokus menyelesaikan pertanyaan dari guru, sedangkan Jimmy hanya asik memperhatikan Alisa yang sedang fokus menyelesaikan pertanyaan itu dengan berbagai rumus, sesekali kening nya berkerut sambil menggaruk kepala nya, lalu kembali mengerjakan tugas dengan rumus lain.
'Bini gue lagi fokus gini cakep banget anjir, gak nahan.' Batin Jimmy sambil tersenyum kecil tanpa di sadari Alisa.
"Selesai, Bu." Ucap Alisa sambil mengangkat tangan nya.
"Silahkan ke depan, Alisa."
Alisa pun berjalan ke depan dan menulis dengan spidol yang sudah di sediakan, mengisi white board dengan coretan-coretan sesuai dalam buku nya.
"Benar, ini jawaban nya. Kamu bisa istirahat lebih dulu." Ucap guru perempuan itu, Alisa mengangguk dengan wajah penuh kepuasan.
"Duduk."
"Gue laper Jim, ke kantin duluan ya?"
"Gak, Lo harus sama gue!" Tegas Jimmy membuat Alisa mendengus, lalu mendudukan tubuhnya di kursi kosong di samping Jimmy.
"Silahkan isi soal yang kedua." Ucap guru itu, Alisa kembali antusias. Meskipun dia sudah bisa beristirahat, tapi nyali nya tertantang untuk menyelesaikan soal kedua itu.
"Idih, males." Jawab Jimmy, dia berpikiran tanpa harus menyelesaikan soal pun nanti akan di Istirahat kan.
"Bu, Jimmy sudah selesai." Ucap Alisa, sontak saja membuat guru dan hampir semua murid menatap ke arah Jimmy yang sudah memutar matanya jengah. Dia paling anti mengerjakan soal atau maju ke depan, tapi sekarang? Wah, bisa di sebut ini fenomena yang sangat langka.
Akhirnya, dengan langkah malas Jimmy pun berjalan ke depan dan menyalin apa yang ada di buku ke white board di depan nya, dia sendiri bingung kenapa otak Alisa bisa seencer itu, dia bahkan tak mengerti apa yang dia tulis ini maksudnya apa.
"Ya, jawaban kamu benar. Kamu bisa beristirahat juga, Jimmy."
Alisa pun melangkah lebih dulu keluar dari kelas, tentunya setelah dia memberi contekan juga pada Eva dan Harry.
"Soal nomor tiga, sama nomor empat. Gue duluan ke kantin ya, laper." Bisik Alisa sambil menyimpan kertas kecil di meja Eva dan langsung di sambar oleh gadis itu.
"Sip, thanks bestie." Ucap Eva sambil tersenyum manis, Alisa hanya mengacungkan jempol nya lalu pergi keluar dari kelas nya, lalu di ikuti oleh Jimmy dengan langkah lebar dan wajah datar nya.
__ADS_1
Singkatnya, Alisa duduk di pojokan. Lalu memesan satu mangkok mie ayam baso, dia berpikir Jimmy takkan menyusul nya jadi dia bersiap menuang sambal ke mangkok nya.
"Satu sendok."
"Aaihhh Jimmy!" Rengek Alisa, dia mana puas hanya dengan satu sendok sambel.
"Nurut atau Lo gue cipook disini, mau?"
"Jimmy, nyebelin amat Lo. Gak mau tau, gue gak kasih Lo minum susu sebulan!" Tegas Alisa, lalu berjalan menjauh dari Jimmy dengan membawa mangkuk berisi mie ayam nya.
Tapi Jimmy tak menyerah begitu saja, dia mengikuti kemana pun Alisa pergi hingga akhirnya gadis itu capek sendiri dengan kelakuan Jimmy, tapi dalam hati dia bersorak kegirangan karena berhasil menaruh dua sendok sambel tambahan, jadi total dia menambahkan tiga sendok sambel.
Alisa makan dengan lahap, sedangkan Jimmy hanya memesan es kopi kesukaan nya. Entah seperti apa perut Jimmy, tapi saat waktu istirahat dia jarang sekali memesan makanan, hanya minuman saja itu pun satu gelas.
Berbeda dengan Farhan atau Dery, mereka akan celamitan makan jajanan seperti telur gulung, cilok, cilor atau bahkan jajan mie ayam.
"Gak lapar Jim?"
"Kagak, napa?" Tanya Jimmy sambil anteng menyeruput es kopi nya, sesekali dia akan memainkan game nya.
"Nih cobain, biar gak laper."
"Gue emang gak laper." Jawab Jimmy, dia kapok mencoba makanan milik Alisa, dia ratu cabai. Makanan nya sampai terasa pahit karena terlalu banyak cabai di dalam nya, tapi anehnya Alisa malah terlihat santai saat memakan nya.
"Kalo gitu, gue pesenin bakso ya?"
"Serah."
"Okey, tapi eemm Lo yang bayar ya? Lo bisa istirahat kan berkat gue."
"Iya."
"Asik, makasih." Sorak Alisa kegirangan.
'Pak Suami.' Bisik Alisa membuat kedua mata nya melebar sempurna. Ya, karena Alisa memanggil nya pak suami tepat di telinga nya. Astaga, demi apapun hatinya berdebar tak karuan setelah mendengar bisikan Alisa yang terdengar… menggoda?
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻