
Malam harinya, Alisa terbangun. Tapi hanya ada dia sendirian di atas ranjang, meraba sisi kasur yang tadi di tiduri Jimmy, kasur itu sudah terasa dingin. Berarti Jimmy sudah pergi cukup lama, padahal tadi dia ingat benar kalau mereka tidur sambil berpelukan mesra.
Alisa mengucek kedua mata nya, sakit di perutnya juga sudah mulai mereda, hanya tinggal sedikit mulas nya saja.
Ceklek..
Pintu terbuka, Jimmy masuk dengan wajah datar nya. Tapi, tunggu. Kenapa ada celemek yang menempel di tubuhnya?
"Udah bangun? Gimana, masih sakit gak perutnya?" Tanya Jimmy lembut.
"Masih mules dikit." Jawab Alisa pelan.
"Bagus, besok makan cabe lagi yang banyak ya? Kalau perlu, gue beliin." Ketus Jimmy, membuat Alisa mendengus. Ini juga karena kesalahan nya sendiri, padahal Jimmy sudah memperingatkan nya.
Tapi ya bukan Alisa nama nya kalau tidak keras kepala dan langsung menurut. Jadi, inilah akibatnya. Dia juga di sindir habis-habisan oleh Jimmy.
"Maaf.."
"Lain kali jangan keras kepala, kalau enggak nanti gak gue kasih jajan."
"Iya, paling di kurangin aja makan pedes nya ya?" Bujuk Alisa, mana bisa dia hidup tanpa pedas. Pasti akan terasa kurang jika makan tak berkeringat karena kepedasan.
"Terserah Lo aja, yuk turun. Makan dulu, Lo pasti udah laper kan?"
"Iya sih, siapa yang masak? Mama kan gak ada." Tanya Alisa.
"Ada ART yang masak, tapi buat Lo gue masakin khusus."
"H-ahh? Yang bener aja Lo masak, emang bisa?" Tanya Alisa sedikit meremehkan. Jadi, dia tau jawaban nya kenapa Jimmy memakai celemek di depan tubuhnya.
"Gak usah ngeremehin, ayo turun cepetan. Keburu dingin, gak enak nanti."
"Masak apa Lo?"
__ADS_1
"Bubur sama sup ayam." Jawab Jimmy, membuat Alisa terkekeh. Dia masih belum percaya seratus persen, seorang Jimmy memasak untuknya? Wahh, suatu pencapaian yang bagus.
Akhirnya, kedua pasangan suami istri itu pun turun ke lantai bawah. Jimmy berjalan pelan di belakang Alisa, dia masih khawatir apalagi saat melihat gadis itu berjalan sangat pelan sambil memegangi perutnya.
Jimmy menarik kursi untuk Alisa dan dia ikut duduk di samping gadis cantik itu. Alisa menatap tak percaya makanan di depan nya, semangkuk bubur dan semangkuk sup ayam yang terlihat sangat menggugah selera, bahkan aroma nya membuat perut Alisa meronta minta di isi.
"Makan.."
Alisa menarik kedua mangkuk itu agar lebih dekat, menyendok bubur dengan taburan daun bawang dan kuah berwarna kuning di mangkok itu dan menyuap nya dengan cepat.
"Enak gak?" Tanya Jimmy penasaran, Alisa mengangguk. Rasa bubur nya sangat enak, gurih dan kuah nya membuat rasa bubur buatan Jimmy semakin enak.
"Cobain sup nya." Jimmy menyendok kuah sup dan sayuran nya, lalu mendekatkan sendok ke mulut istri nya. Alisa menerima suapan dari Jimmy, dia shock sendiri. Kenapa rasa sup ini sangat enak? Rasa ini membuat dia ingat pada sosok ibu nya.
"Enak, makasih udah masak buat gue Jim. Harusnya Lo gak usah repot-repot, gue bisa sendiri." Ucap Alisa sambil menunduk, jelas saja hal itu membuat Jimmy heran. Ada apa dengan istrinya?
"Kenapa?"
"Kangen Mama." Jawab Alisa. Sudah cukup lama dia tak bertemu dengan wanita yang sudah melahirkan nya 18 tahun lalu itu. Sejak dia menikah dengan Jimmy dan tinggal di rumahnya selama hampir dua bulan, dia belum pernah bertemu lagi dengan sang mama, atau papa nya. Hanya bertukar kabar lewat ponsel saja, itu pun tak setiap hari.
"Beneran?"
"Kalo sama gue ya beneran, tapi kalo Lo pengen sendiri, mending gak usah." Tegas Jimmy sambil menatap wajah Alisa cukup tajam.
"Iya-iya,"
"Iya apanya?" Tanya Jimmy.
"Iya nginep nya sama Lo, lagian gue nyaman tidur di pelukan Lo." Jawab Alisa, membuat Jimmy menyunggingkan senyum nya.
"Bagus, ayo makan lagi. Habisin, kalo gak habis Lo gak boleh tidur."
"Iya, makasih paksu." Jawab Alisa, lalu kembali memakan makanan buatan pria itu dengan lahap. Jimmy tersenyum melihat Alisa yang makan dengan lahap, ada rasa senang karena istrinya menyukai makanan buatan nya.
__ADS_1
Apalagi mendengar panggilan yang meluncur bebas dari mulut Alisa, paksu. Itu singkatan dari kata pak suami kan? Entah ke berapa kalinya Alisa memanggil dirinya dengan sebutan pak suami, jelas saja panggilan itu selalu bisa membuat hatinya berdebar tak karuan.
Setelah menghabiskan makan nya, Alisa membereskan meja dan membawa nya ke belakang. Tadi, dia tak melihat Jimmy makan karena hanya ada dua mangkuk di meja, satunya berisi bubur dan satunya lagi berisi sup ayam dengan kuah yang mengepul. Lalu, apa Jimmy tak makan?
Makan dong, dia makan duluan karena berpikir kalau Alisa belum bangun.
Jimmy mendekat dan memeluk Alisa dari belakang, menyandarkan dagu nya di pundak Alisa, menghirup aroma memabukan yang menguar dari leher istrinya.
Cup..
Jimmy mengecup basah leher Alisa, membuat sekujur tubuh gadis itu merinding seketika, bahkan dia membeku karena ciuman yang di layangkan Jimmy padanya.
"Pengen.." bisik pria itu di telinga Alisa, terdengar sensual hingga mampu membuat bulu-bulu halus di tubuhnya meremang seketika.
"Pengen, apa?" Tanya Alisa.
"Pengen mainin ini." Jawab Jimmy, tangan nakalnya merayap ke atas menggapai buah ranum nan kenyal di dada sang istri. Dia meremaas nya dengan lembut, meski terhalang braa, tapi kekenyalan buah itu benar-benar terasa di tangan Jimmy.
"Yuk.."
"Ini belom selesai, nanti aja."
"Ini bisa nanti." Jawab Jimmy, dia mencuci tangan Alisa yang semula penuh dengan busa sabun itu dengan air bersih, lalu menarik tangan istrinya ke kamar.
Alisa memilih pasrah, toh menolak juga tak ada guna nya. Pria itu takkan berhenti sebelum keinginan nya terpenuhi, jadi lebih baik menurut saja. Toh dia juga seringkali menikmati nya, hingga seringkali mendesiis manja karena ulah pria itu.
Jimmy membaringkan sang istri dan menindih nya, sebagai permulaan dia mencium bibir terlebih dulu, meski tangan nya terus saja meremaas lembut kedua aset milik sang istri yang terlihat sangat menggoda untuk di sentuh, apalagi puncak nya yang sangat menantang untuk di kuluum. Memainkan nya dengan lidah, membayangkan hal itu saja membuat Jimmy menegang.
"Enghhh.." Lenguhaan mulai terdengar dari mulut Alisa, saat bibir Jimmy mulai menjelajahi leher nya. Menyesap nya hingga meninggalkan bekas-bekas kemerahan, tangan nya aktif membuka satu persatu kancing blouse yang di pakai Alisa sampai terbuka sempurna, mata Jimmy benar-benar di manjakan dengan pemandangan yang tersaji di depan mata nya.
Meski masih tertutup braa berwarna hitam, tapi sebagian buah kenyal itu menyembul keluar, putih mulus tanpa jejak kemerahan. Membuat Jimmy merasa tertantang untuk mewarnai kedua nya dengan bekas-bekas kemerahan, tanda kepemilikan.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻