
Keesokan harinya, Alisa berjalan bersama Eva seperti biasanya. Mereka bergandengan tangan, sesekali terlibat pembicaraan yang membuat Alisa tertawa lepas karena bercandaan yang di lontarkan Eva juga Harry. Namun hari ini, entah kenapa Denis berubah menjadi pendiam, dan Alisa yang cukup peka menyadari perubahan nya.
Hal itu tak luput dari tatapan mata tajam seorang Jimmy, dia tersenyum kecil saat melihat istrinya kembali ceria. Padahal tadi pagi sebelum berangkat sekolah, dia sempat uring-uringan, ya penyebab nya adalah datang bulan.
Yaps, Alisa kedatangan tamu bulanan nya. Itu artinya dia sudah dua bulan menikah dengan Jimmy, namun sejauh ini tak ada yang mereka lakukan, kecuali berciuman dan berpelukan saat tidur. Perubahan Jimmy selama dua bulan ini juga sangat signifikan, dia bahkan menolak beberapa kali pertemuan di basecamp saat malam hari, hanya karena ingin menemani Alisa tidur.
Alisa sendiri tak pernah melarang jika Jimmy ingin pergi bersama teman-teman nya, karena Alisa rasa Jimmy sudah dewasa, dia tau mana yang benar dan salah.
"Alisa.."
Merasa nama nya di panggil, Alisa juga ketiga sahabatnya menghentikan langkah dan berbalik, dia melihat Doni berlari tergopoh-gopoh.
"Lo kan yang kemaren lempar bola ke gue? Mau apa Lo?" Sewot Alisa.
"Gue minta maaf Lis, sumpah gue kagak sengaja kemaren, maafin ya." Ucap Doni. Alisa memutar mata nya jengah, lalu menatap wajah Doni yang terdapat lebam di beberapa titik.
"Wajah Lo kenapa?"
"Gak kenapa-napa, kemaren baku hantam sama anak kelas sebelah. Lo maafin gue kan?" Tanya Doni lagi.
"Hufftt, yaudah gue maafin. Lain kali hati-hati, biar gak kena orang lagi."
"Iya, makasih ya Lis. Kalo gitu gue cabut dulu," pamit Doni lalu menjauh dari posisi Alisa, dia merinding saat sekilas melihat ke samping, ternyata Jimmy sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
Alisa berjalan, tapi hatinya berkelana jauh. Apakah lebam-lebam di wajah Doni itu karena ulah Jimmy? Iseng, dia melirik ke samping dan melihat suaminya itu tengah tersenyum penuh arti.
"Lo kenapa? Pusing?" Tanya Eva saat melihat Alisa menggelengkan kepala nya.
"Dikit, Eva. Perut gue sakit banget."
"Dateng bulan?" Alisa mengangguk, dengan cepat Eva menarik tangan Alisa ke kelas.
"Duh, ngapain sih cepet-cepet. Udah tau temen nya lagi sakit, malah di ajakin lari." Gerutu Alisa sambil duduk.
"Nih, sengaja gue bawa air anget dari rumah."
"Buat apaan?" Tanya Alisa cengo.
"Gue juga lagi dateng bulan, hari pertama. Perut gue juga sakit, biasanya gue pake air anget biar sakit nya berkurang. Cobain deh, biar gak terlalu sakit."
"Makasih Eva, Lo baik banget." Ucap Alisa lalu menerima botol air itu dan meletakan nya di perut.
"Sama-sama, kita kan temenan kalo Lo lupa." Jawab Eva sambil tersenyum.
"Beruntung amat gue punya temen kayak Lo,"
"Idih, gue juga kali." Jawab Eva. Keduanya pun duduk, mereka bergantian meletakan botol air hangat itu.
Jimmy masuk bersama teman-teman nya, dia melirik Alisa yang terlihat pucat dan terlihat seperti menahan sakit. Jimmy berpura-pura acuh dan terus melangkah hingga duduk di kursi nya.
Dengan cepat merogoh ponsel dan mengetikan pesan untuk Alisa.
'Bunny, are you okay?' isi pesan dari Jimmy, namun seperti Alisa belum membaca pesan dari nya.
__ADS_1
"Dery, bilangin sama Alisa buka ponsel." Pinta Jimmy pada Dery. Dia mengangguk dan berteriak membuat Alisa menoleh.
"Alisa, kata Jimmy buka ponsel."
Wajah Jimmy memerah, itu semua karena ulah konyol Dery. Harusnya dia menyuruh Dian atau Farhan saja dari pada Dery, as sekarang dia harus menahan malu karena ketahuan mengirim pesan pada Alisa.
Jimmy menatap tajam ke arah Dery, seolah mengatakan 'kau akan menerima hukuman mu nanti'. Tentu saja hal itu membuat Dery ketar ketir sendiri.
Alisa menurut dan membuka ponsel nya, dia melihat satu pesan dari Jimmy. Gadis itu mendengus lalu mulai membalas pesan yang di kirim Jimmy.
'Perut gue sakit, Jim.'
Jimmy segera membuka pesan dari sang istri, dia nampak panik saat membaca pesan dari Alisa.
'Ke perpustakaan, sekarang!' pinta Jimmy, terlihat bukan seperti permintaan memang, tapi sebuah perintah yang tak bisa di tolak.
"Dihh, ngapain sih nyuruh ke perpus. Tau perut gue lagi sakit gini, males jalan." Gumam Alisa yang terdengar oleh Eva.
"Kenapa, Lis?"
"Jimmy nyuruh gue ke perpus sekarang." Bisik Alisa.
"Yaudah sih, turutin aja nanti dia ngambek Lo juga yang sudah." Saran Eva.
"Males jalan woyy, sakit banget ini."
"Itu sih terserah Lo aja, tapi gue gak ikut-ikutan ya kalo sampai Jimmy bertindak di luar batas. Dia kan paling gak suka di bantah."
"Gitu-gitu juga di laki Lo, Lis." Celetuk Eva pelan, sambil menepuk lengan sahabatnya. Alisa menghembuskan nafas nya kasar, lalu beranjak dari duduknya.
Setelah melihat Alisa pergi, barulah Jimmy berdiri dari duduknya dan berjalan menyusul sang istri.
Alisa duduk di pojokan, mengambil sebuah buku tentang sosiologi dan membaca nya. Sepagi ini memang sudah banyak anak-anak yang sudah di perpustakaan untuk membaca buku.
Jimmy datang dengan langkah lebar dan wajah datar nya, dia mendekat dan duduk di samping Alisa.
"Masih sakit hmm?"
"Masih lah." Jawab Alisa tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Kata Farhan ini bisa bantu." Jimmy mengeluarkan sebuah benda yang terlihat asing di mata Alisa.
"Apaan ini?"
"Gue juga gak tau, tapi kata Farhan ini tinggal di pake aja di perut."
"Aneh-aneh aja emang si Farhan." Alisa mengambil benda itu dari tangan Jimmy dan memakainya di hadapan Jimmy, tanpa malu sedikitpun. Toh cepat atau lambat, Jimmy akan melihatnya juga, mungkin begitu pikir Alisa.
"Hehh, anjir jangan disini juga make nya. Banyak orang, mau pamer ya?"
"Apaan sih, gak ada yang liat ini." Balas Alisa tak mau kalah.
"Semua yang ada di badan Lo, cuma gue yang boleh liat. Jangan ngeyel atau gue hukum Lo, ayo ke toilet." Jimmy menarik tangan Alisa dan membawa nya ke toilet.
__ADS_1
Alisa pikir, Jimmy akan menunggu di luar tapi ternyata dia juga ikut masuk ke dalam bilik toilet khusus perempuan itu.
"Jimmy, ini toilet cewek."
"Bodo amat, gak peduli. Cepetan pake." Alisa pun menyibak seragam nya ke atas lalu memakai benda yang di berikan Jimmy itu, melingkar di perutnya. Benar saja, terasa hangat dan sakit di perutnya berangsur menghilang.
"Aduhh, nyaman banget. Kok gue baru tau ada benda kek gini ya."
"Enakan?" Tanya Jimmy, Alisa hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Nanti gue beliin lagi, sekarang ke kelas."
"Beliin buat Eva juga dong, dia juga lagi dateng bulan."
"Kagak." Jawab Jimmy singkat.
"Jim, ayolah." Bujuk Alisa, akhirnya Jimmy menghela nafas nya lalu mengacak rambut istrinya.
"Iya, nanti gue beliin ya."
"Yee makasih."
"Sama-sama baby." Jawab Jimmy lalu mencubit pelan kedua pipi Alisa.
"Btw, itu Doni wajah nya lebam-lebam kayak di tonjok, itu ulah Lo kan Jim?" Tanya Alisa membuat Jimmy tersenyum smirk.
"Kalo iya emang nya kenapa? Mau belain dia?" Tanya Jimmy sambil menyedekapkan kedua tangan nya di dada.
"Ya gak juga sih, tapi kasian sampe bonyok gitu, Jim."
"Gak peduli juga, siapa pun yang berani nyentuh Lo, gue pastiin wajah nya babak belur, gak peduli mau laki atau perempuan gue hajar." Jawab Jimmy membuat Alisa tersenyum kecil. Dia merasa di lindungi oleh Jimmy, tapi cara nya terlalu kasar.
"Gak harus di hajar juga kali Jim, kasian."
"Gak ada protes, sekarang lebih baik Lo ke kelas duluan."
"Lo gimana?"
"Gak usah mikirin gue." Jawab Jimmy, Alisa pun menurut dan keluar lebih dulu dari toilet, meninggalkan Jimmy.
Setelah beberapa menit Alisa pergi, barulah Jimmy keluar dengan langkah lebar dan wajah datarnya, seperti biasa.
Pria itu masuk ke kelas, dan duduk dengan tenang, seperti tak terjadi apa-apa. Namun bagi Ayuna, dia mencurigai kalau Jimmy habis bertemu dengan Alisa.
Gadis itu mengepalkan kedua tangan nya, dia begitu geram pada Alisa. Bisa-bisanya dia bisa membuat Jimmy luluh, dia tak terima dirinya kalah begitu saja.
'Apapun yang terjadi, Jimmy harus jadi milik gue. Bukan Alisa, jadi jangan nyalahin gue kalo berbuat nekat nantinya. Lihat aja, gue pasti bisa bikin Jimmy bertekuk lutut.'
......
🌻🌻🌻🌻🌻
jangan mimpi neng🤣
__ADS_1