Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Tujuan Denis!


__ADS_3

"Jim, Jimmy!" Teriak Farhan, dia berlari menyusul sepupu nya dengan wajah panik nya, dia juga shock kenapa bisa kecolongan dan anehnya tak ada yang menyadari kalau Alisa sudah di bawa oleh musuh.


"Jim.." akhirnya Farhan berhasil menarik tangan Jimmy yang bersiap mengendarai motor nya. 


"Apa, hah? Gua mau nyari Alisa!" 


"Jangan gegabah, Jim. Kita gak tau kemana musuh bawa Alisa." Ucap Farhan yang membuat Jimmy menunduk, dia luruh ke tanah. Air mata nya jatuh membasahi pipi nya yang terdapat luka lebam di beberapa titik, meski berhasil melumpuhkan banyak musuh, tapi Jimmy juga beberapa kali terkena pukulan.


"Gua gak becus jagain bini gua, Han."


"Ini bukan kesalahan Lo, Jim. Bukan salah kita juga, berarti ucapan Dian tadi bener. Musuh bukan hanya mengincar Lo, tapi juga Alisa sebagai titik kelemahan Lo. Sekarang kita harus cari cara buat nyelamatin Alisa."


"Dimana Dian?" 


"Ngurus orang-orang di dalam." 


"Biarin dia pergi ngejar musuh yang bawa bini gua." Ucap Jimmy lirih.


"Siap.." Farhan langsung pergi ke dalam basecamp dan memerintahkan Dian juga anggota yang tersisa untuk mencari Alisa. 


"Pergi, bawa anggota yang tersisa. Cari keberadaan ibu bos, jangan kembali sampai kalian menemukan nya!" Tegas Farhan.


"Siap waketu." Jawab Dian, lalu pergi bersama Aldi dan Dery bersama nya, juga anggota lain yang tersisa. Beberapa dari mereka mendapatkan luka ringan, namun mereka tetap ikut dalam misi mencari Alisa. 


Jimmy duduk di kursi kecil dengan kepala mendongak menatap langit yang terlihat mendung, semendung hatinya saat ini. 


Ohh, andai saja tadi dia tak membawa Alisa bersama nya, pasti semua ini takkan terjadi. Mungkin saja saat ini Alisa nya sedang berada di rumah menunggu nya, tapi sekarang? 


Hatinya terasa sesak, dia mengutuk dirinya sendiri karena ceroboh dan membiarkan istrinya di bawa musuh tanpa sepengetahuan nya, kenapa juga dia tak menyadari nya?


"Maafin aku Bby, aku gak bisa jaga kamu dengan baik. Aku melanggar janji aku, maaf." Jimmy menutup wajah nya dengan kedua tangan, dia menangis tanpa suara. Hanya dia yang tau bagaimana kecewa nya dia pada dirinya sendiri. 


Farhan datang dan merangkul bahu sepupu nya.


"Kuat dong, jangan lemah gini. Lo harus punya kekuatan buat lawan mereka dan nyelamatin Alisa, kalo Lo nya gini gimana bisa bawa Alisa balik? Sedangkan Lo nya aja keliatan lemah gini." 


"Lo jangan liatin sisi rapuh Lo, Jim. Bagaimana pun Lo adalah ketua geng, jangan karena hal ini Lo lemah. Yok, bangkit. Lo pasti bisa." Ucap Farhan memberi semangat. 

__ADS_1


Tapi Jimmy masih larut dalam kesedihan nya, dia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan sang istri saat ini. Pasti dia sangat ketakutan, apalagi dengan penyakit nya. Bagaimana kalau sesuatu terjadi? Secepat kilat, Jimmy menghilangkan bayangan-bayangan menakutkan yang muncul dalam benaknya.


Sedangkan Alisa, dia membuka kedua mata nya yang terasa sangat berat. Dia mengedarkan kedua mata nya ke ruangan bernuansa putih yang terasa begitu asing baginya. 


"Dimana aku? Dimana Jimmy?" Gumam Alisa, dia bangun dari ranjang dan berjalan pelan menuju pintu. Namun sayang, pintunya terkunci jadi Alisa tak bisa keluar. Bahkan jendela nya pun tak bisa di buka sama sekali, karena di paku mati dari luar.


Alisa ingin berteriak memanggil nama suaminya, meminta tolong. Tapi pintu yang sempat Alisa coba buka, kini terbuka lebar menampakan seseorang dengan topeng yang menutupi wajahnya, hanya mata dan mulut saja yang nampak. 


"Ohh, kamu sudah bangun cantik?" Tanya nya dengan suara lembut mendayu. Alisa mundur hingga menabrak dinding, dia ketakutan saat pria itu mulai mendekat ke arahnya. 


"S-siapa kau?" 


"Kau takut padaku?" 


"Jangan mendekat, jangan sakiti aku!" Tegas Alisa, tubuhnya bergetar. Disaat seperti ini, hanya pelukan suami nya lah yang dia butuhkan.


"Kenapa aku harus menyakiti mu? Aku mencintaimu, Alisa. Tapi kau tak pernah melihat aku sebagai laki-laki." Ucapnya, dia menyentuh dagu Alisa dengan tangan besar nya.


Alisa memalingkan wajahnya, dia tak mau di sentuh oleh pria yang bukan suaminya. 


"Siapa kau? Kalau kau benar-benar pria, harusnya kau menunjukan wajah aslimu di depan ku." Ucap Alisa, dengan wajah yang bersimbah air mata karena rasa takut yang mendominasi nya. Seluruh tubuhnya bergetar menahan takut.


Pria itu membuka topeng nya, lalu melempar nya ke lantai. Alisa menganga saat melihat siapa yang berada di balik topeng itu. 


"De-nis.." ucapnya lirih.


"Ya, aku Denis. Teman mu, laki-laki yang tak pernah kau lihat keberadaan nya hanya karena seorang pria bernama Jimmy!" 


"Tujuan mu melakukan semua ini, apa?" 


"Tujuan ku? Haha, simpel saja. Aku ingin membuat Jimmy hancur lewat mu, karena kau adalah kelemahan nya saat ini. Kau mengerti maksudku kan?" Tanya Denis. Alisa menggelengkan kepala nya, Denis yang kini di hadapan nya sungguh berbeda dengan Denis yang selama ini dia kenal.


"Ini bukan Lo, Den. Denis yang gue kenal gak kayak gini, dia orang baik." 


"Haha, orang baik juga bisa jahat saat merasa tak di hargai, sayang." Jawab Denis lirih, namun suara nya sangat mengisyaratkan kalau dia sedang dalam pengaruh amarah besar saat ini.


"Denis, lepasin gue ya? Pasti sekarang Jimmy lagi nyariin gue."

__ADS_1


"Terus, apa aku peduli? Nggak sama sekali sayang, sekarang yang aku mau cuma kamu. Kamu harus jadi milikku seutuhnya." Denis tersenyum smirk membuat Alisa ketakutan.


"Denis jangan apa-apain gue!"


"Kenapa? Takut ya? Hanya sedikit sebagai depe." Jawab Denis, dia menarik Alisa dan membawa nya ke atas ranjang. Alisa memekik kesakitan saat tubuhnya terpental di atas ranjang, meski empuk tapi tetap saja rasanya cukup sakit karena Denis melemparnya dengan keras. 


Alisa beringsut mundur saat Denis mendekat ke arahnya, dia mencoba lari tapi sialnya gerakan Denis lebih cepat dari yang Alisa kira. Pria itu mencengkeram tangan Alisa dengan kuat, hingga Alisa meringis kesakitan saat tangannnya di cengkram dengan kuat.


"Sa-kit Den, Lo nyakitin gue!"


"Hahaha.." Denis malah tertawa seperti seorang psikopat, dia menundukan wajahnya berusaha mencium Alisa, namun dengan cepat Alisa menghindari bibir Denis. 


Plak… 


Alisa menampar pipi kanan Denis sekuat tenaga nya, hingga membuat wajah tampan pria itu terhuyung ke samping saking kuatnya tamparan yang di layangkan Alisa. 


Denis menggeram marah, dia menampar balik Alisa hingga membuat sudut bibir nya mengeluarkan darah. 


"Aasshhh, sakit.." Alisa meringis, dia menangis kesakitan.


"Alisa, maaf aku tak bermaksud nyakitin kamu."


"Denis brengseek, selama ini gue nganggap Lo temen yang paling baik, tapi nyatanya apa? Harusnya Lo hargain keputusan gue buat sama Jimmy!" Teriak Alisa membuat amarah Denis kembali terpancing.


"Apa hebatnya pria itu di banding aku hah? Selama ini aku yang selalu ada di samping kamu, bukan dia! Tapi apa yang aku dapat? Sebuah penolakan!" 


"Cinta gak bisa di paksa, Denis. Bukan salah gue kalo gue cinta sama Jimmy!" Jawab Alisa membuat Denis semakin murka. 


Plak.. 


Satu tamparan kembali di layangkan pria itu hingga membuat Alisa tak sadarkan diri, Denis bangkit dari tubuh Alisa dan melihat gadis pujaan nya yang tak sadarkan diri akibat tamparan nya. 


Dia memilih pergi dari kamar itu dengan perasaan yang bercampur aduk, antara marah dan kecewa pada dirinya sendiri yang sudah menyakiti Alisa. 


"Hai, Babe. Bagaimana gadis kesayangan mu itu?" Tanya Ayuna yang sedang duduk di ruang tamu. Ya, Denis membawa Alisa ke apartemen nya.


"Diam, jangan berisik dan jangan ikut campur!" Tegas Denis, lalu pergi dari hadapan Ayuna. Bibir perempuan itu mencebik saat Denis mengatakan jangan ikut campur. Sialan sekali, batin nya.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2