
Setelah pertandingan selesai, Jimmy mendekat ke arah Alisa. Dengan cepat, gadis itu mengulurkan sebotol air minum untuk Jimmy.
"Jangan minum air mineral, mendingan ini minuman isotonik." Celetuk Ayuna membuat Alisa mendelik sebal, kenapa sih dia terus saja berusaha menarik perhatian suaminya? Aahh ya, dia melupakan sesuatu seperti nya. Padahal sebelum dengan nya, Jimmy selalu bersama Ayuna kemana pun.
Dulu, dia biasa saja bahkan tak peduli. Tapi sekarang, kenapa hatinya terasa panas? Benar-benar panas, bahkan seakan terbakar api cemburu.
Jimmy meraih minuman isotonik dari tangan Ayuna, membuat gadis itu kegirangan. Berbeda dengan ekspresi wajah yang di tunjukan Alisa, dia terlihat bad mood parah. Terlihat dari wajahnya yang di tekuk. Ayuna tersenyum sinis pada Alisa, seolah mengatakan bahwa Jimmy adalah miliknya.
Sedetik kemudian, senyuman Ayuna hilang. Berganti dengan raut wajah yang tadi di perlihatkan Alisa. Bagaimana tidak, tadi dia tersenyum mengejek ke arah Alisa, tapi kini posisi nya terbalik. Alisa yang tersenyum meremehkan ke arah nya.
Awalnya, Ayuna kira Jimmy membuka tutup botol minuman yang dia berikan untuk di minum. Namun di luar dugaan, Jimmy malah menuang isi nya ke dalam selokan yang tak jauh dari lapangan, lalu membuang botol nya ke tong sampah dengan wajah datar.
"Dah berapa kali gua bilang, gak usah sok perhatian sama gua. Gua dah punya Alisa sekarang, dan perlu Lo tau kalo kita berdua udah resmi tunangan!" Tegas Jimmy sambil memperlihatkan cincin di jari manis nya.
Semua orang yang berada di lapangan terkejut, tak terkecuali Alisa. Pertama, dia tak menyangka akan mengakui hubungan nya di depan Ayuna, terlebih di lapangan yang masih banyak orang. Kedua, dia terkejut karena Jimmy memakai cincin kawin mereka, meski dia mengakui kalau itu hanya cincin tunangan saja.
Ya kali dia mengaku kalau sudah menikah, besok pasti dia di DO dari sekolah. Meskipun sekolah itu adalah milik keluarga Leonard, alis keluarga Jimmy tapi tetap saja dia tak bisa bertindak sesuai keinginan, karena sekolah punya peraturan.
"Nape Lo, kaget? Gak usah kaget, harusnya dari awal gue jauhin Lo, Lo udah tau kalo Lo udah gak menarik di mata gue. Jadi, sebaiknya Lo gak usah deket-deket atau macem-macem sama Alisa, kalo Lo masih mau tangan Lo nempel di tempatnya!" Peringat Jimmy tegas, pria itu menyeringai tipis. Memutuskan tangan seseorang bukanlah hal yang sulit untuknya, dia sudah sering melakukan nya pada musuh.
Jimmy menarik Alisa menjauh dari lapangan, meninggikan Ayuna yang masih terdiam di tempatnya, mencerna setiap ucapan Jimmy yang terdengar menakutkan di telinga nya.
"Wkwk, harusnya Lo tuh tau diri Yun." Celetuk Eva, membuat Ayuna melirik nya tajam. Tapi kemudian, tatapan itu berubah saat melihat seseorang berjalan ke arahnya, juga dengan tatapan yang sangat tajam seolah siap mengoyak mangsa.
"Berani Lo natap Eva kayak gitu, gua congkel tuh mata." Ucap Farhan, lalu dia membawa Eva menjauh dari lapangan.
"Issshh sebel, kenapa harus Alisa sama si Eva sih. Najiss, gue gak mau saingan sama mereka, gak berkelas, gak level." Ucap Ayuna sambil menghentak-hentakkan kaki nya.
Eva menatap tangan nya yang di genggam erat oleh Farhan.
"Eehh sorry, tadi gak sengaja." Ucap Farhan, setelah menyadari arti tatapan yang di layangkan Eva.
"Gapapa." Jawab Eva singkat, sejujurnya hatinya tengah berdebar saat ini.
"Alisa ada di gudang belakang sama Jimmy, Lo kalo mau ke kelas duluan aja. Dia masih lama keknya." Jelas Farhan tanpa di minta.
"Ohh yaudah, kalo gitu gue duluan. Bilangin sama Alisa, gue tunggu di kelas."
__ADS_1
"Ya." Jawab Farhan singkat. Eva pun pergi dengan berlari kecil menjauhi Farhan, entah kenapa wajah nya malah memanas saat tak sengaja tatapan nya bersirobok dengan tatapan tajam Farhan, sudah bisa di pastikan wajah nya memerah saat ini.
Sedangkan Farhan, tanpa sadar dia tersenyum kecil saat melihat punggung Eva menjauh dari tempat nya berdiri saat ini.
'Apa gue bakal ngikutin jejak si Jimmy? Suka sama musuh sendiri, awalnya suka bertengkar ehh jadi suka beneran?' Batin Farhan.
Sedangkan di dalam gudang, Jimmy bermanja di pangkuan Alisa. Meski terlihat kalau gadis itu sangat tak nyaman, tapi dia benar-benar tak bisa menolak permintaan Jimmy.
"Jim, udah ya. Gue mau ke kelas, gak nyaman bener ini posisi nya."
"Ohh, yaudah ntar lanjutin di rumah aja." Jawab Jimmy, dia bangun dari rebahan nya. Lalu mendekatkan wajah nya dan mengecup singkat bibir Alisa.
"Nunggu apaan? Mau gue cipook?"
"E-ehh.." Gagap Alisa, pasalnya setelah beberapa detik Jimmy mengecupnya, Alisa tak langsung membuka matanya. Dia kira, Jimmy akan mencium nya seperti biasa. Tapi rupanya hanya kecupan singkat, yang sukses membuat wajah Alisa merona karena dugaan nya salah.
"Nanti di rumah ya, baby." Bisik Jimmy, membuat Alisa langsung bangkit dan berlari keluar. Jimmy terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang terlalu menggemaskan.
Singkatnya, semua siswa sudah pulang ke rumah masing-masing, termasuk Jimmy dan Alisa. Tadinya pria itu ingin bermanja bersama Alisa, melanjutkan adegan yang sempat terjadi di gudang tadi.
"Bagus, gue dah bilang gak usah makan cabe banyak-banyak. Ngeyel banget kalo di bilangin, ada rasanya hmm?"
"Isshh Jimmy, istrinya lagi sakit bukan nya di obatin malah di omelin, huaaa.." Ucap Alisa setengah merengek, bahkan saat ini kedua mata nya sudah berkaca-kaca. Bisa di pastikan, berkedip saja air mata Alisa pasti meluncur bebas menuruni pipi cabi nya.
Melihat itu, akhirnya Jimmy luluh. Meski kesal karena kelakuan istrinya yang keras kepala, bukan apa-apa dia melarang tapi hal inilah yang tak dia inginkan. Kalau sudah begini, siapa juga yang repot? Alisa lah, ya kali Jimmy.
Jimmy mendekat, lalu berbaring di samping Alisa, memeluk gadis itu sambil mengusap perut nya yang terasa hangat.
"Sakit?" Tanya Jimmy pelan, sambil mengusap puncak kepala nya dengan lembut.
"Huum, sakit banget.." jawab Alisa manja.
"Lain kali, kalo di bilangin itu harus nurut. Gue ngelarang itu karena gue sayang Lo, gue gak mau Lo sakit. Kalo udah gini siapa juga yang repot?"
"Emang nya siapa?" Tanya Alisa.
"Lo lah, ya kali gue. Yang perutnya sakit kan Lo sendiri, rasain bandel sih gak bisa di bilangin."
__ADS_1
"Jimmy, huaaa…"
"Haha, baby gemesin banget." Ucap Jimmy sambil terkekeh.
"Sakit.." Rengek Alisa lagi, sambil menduselkan wajah nya di dada Jimmy.
"Terus gue harus gimana? Mau di periksa aja?"
"Gak mau.."
"Terus, mau di apain? Gue bilang Mama ya, kali aja dia tau obat sakit perut yang manjur."
"Gak mau.." jawab Alisa, membuat Jimmy mendengus. Lalu keinginan Alisa itu apa sebenarnya? Kok lama-lama dia kesel juga ya, tapi jangan lupa kalau Alisa saat ini masih dalam fase pms. Jadi, jangan cari gara-gara kalau tak mau di cakar harimau.
"Terus, gue harus gimana Baby? Bingungin banget."'
"Peluk.."
"Ya kan ini juga udah di peluk, harus di gimanain? Sambil gue tindih, mau?" Goda Jimmy membuat Alisa menepuk dada bidang suaminya.
"Mau tidur aja."
"Yaudah sok, gue temenin."
Alisa mengangguk dalam pelukan Jimmy, pria itu terus mengusap lembut perut istrinya, hingga tak butuh waktu lama Alisa sudah larut dalam tidur nya.
Jimmy hanya menggelengkan kepala nya, Alisa itu tipe gadis yang mudah tidur tapi susah saat bangun, eehh salah seperti nya. Karena biasanya, sebelum Jimmy terbangun, Alisa sudah bangun lebih dulu.
"Jimmy.."
"Apa baby?" Tanya Jimmy, dia menyangka Alisa memanggilnya, tapi ternyata gadis itu mengigau dalam tidurnya.
"Ya ampun, kenapa Lo nyebut nama gue? Padahal lagi tidur." Gumam Jimmy, tapi dia menyampingkan hal itu sejenak, karena rasa kantuk mulai menyerang nya. Akhirnya dia pun ikut tidur juga, menyusul sang istri yang sudah lebih dulu menyelami mimpi nya.
......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1