Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Kemampuan Jimmy


__ADS_3

Jimmy terkulai lemas menindih Alisa yang berada di bawahnya, dia baru saja mendapatkan klimaaks nya setelah bermain hampir satu jam. Alisa mengusap punggung Jimmy yang basah karena keringat hasil olahraga malam ini.


"Sudah? Kalau sudah, menyingkirlah kamu berat." 


"Aahh maaf Baby, aku terlalu betah dengan posisi ini, kamu hangat sekali babe." Jawab Jimmy sambil tersenyum, dia berguling ke samping, hingga penyatuan dua benda berlainan jenis terlepas.


"Dih, dia menciut gitu kayak sosis goreng." Alisa menunjuk senjata Jimmy yang menciut setelah memuntahkan lahar panas nya, hari ini Alisa mengizinkan Jimmy untuk melepaskan kecebong-kecebong miliknya di dalam, dan rasanya sungguh nikmat. 


"Ternyata meledak di dalam enak sekali Bby, nanti kalau main lagi aku mau meledak di dalam aja."


"Tapi aku masih pengen sekolah, gak mau hamil dulu." Jawab Alisa lirih. 


"Ada cara nya kok, ayo bangun." Jimmy menarik Alisa, dengan malas gadis itu bangkit dari rebahan nya. Tubuhnya terasa remuk setelah di hajar oleh Jimmy satu jam tanpa jeda, bahkan saat Alisa mendapatkan klimaaks nya Jimmy tak membiarkan nya menikmati denyutan terakhir sisa pelepasan nya.


"Ayo jongkok, Babe!" Pinta Jimmy, Alisa menurut dan langsung berjongkok. 


"Sshhh.." Alisa meringis pelan saat merasakan ada cairan yang keluar dari inti nya, rasanya persis seperti keluar darah haid, padahal itu adalah cairan milik Jimmy yang rembes keluar.


"Sudah?"


"Apanya?" Balik tanya Alisa dengan polos nya.


"Air nya, masih ngalir gak?"


"Nggak." Jawab nya singkat, Jimmy menarik Alisa dan mendudukan nya di pinggir ranjang. Jimmy mengambil tissu dan mengelap cairan yang tercecer di lantai.


"Setiap kali habis berhubungan kamu harus keluarin lagi. Ya meski tetap beresiko, tapi setidaknya akan mengurangi kemungkinan kamu bakalan hamil, Baby." 


"Iya, aku ke kamar mandi dulu ya. Gak enak banget, lengket." 


"Ikutt.." rengek Jimmy yang membuat Alisa menatap pria itu jengah. Bosan saat melihat Jimmy dalam mode manja padanya, tapi tak munafik kalau dia menyukai Jimmy yang seperti ini dari pada Jimmy yang selalu menyebalkan. 


Alisa membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringat dan cairan nya yang bercampur dengan milik Jimmy. Lalu keduanya keluar dan langsung berpakaian, Alisa merebahkan tubuhnya di samping Jimmy. 


Tangan pria itu menarik Alisa dan menyandarkan kepala sang istri di dada nya, mengusap kepala nya dengan lembut penuh kasih sayang.


"Tidur ya sayang, selamat malam. Have a nice dream, baby." 


"Hhmm, have a nice dream too." Balas Alisa, dia pun mulai memejamkan kedua mata nya dan tak membutuhkan waktu lama dia tertidur dengan beralaskan dada bidang Jimmy yang menguarkan aroma khas lelaki maskulin, membuat perempuan itu nyaman.

__ADS_1


Jimmy juga merasakan hal yang sama, dia menghirup aroma rambut Alisa dalam-dalam. Yang sialnya, wangi shampoo yang di pakai oleh Alisa malah membuat jiwa kelelakian nya meronta. Sosis yang sempat keriput itu kini perlahan kembali bangun dan berdiri tegak.


"Uhhh, selalu saja gini. Jangan sensitif napa, cukk. Kasian yang punya sarang nya kecapean!" Gerutu Jimmy sambil menepuk kecil senjata nya yang sudah mengeras hanya karena menghirup wangi rambut sang istri.


Akhirnya Jimmy mencoba tidur sambil menahan hasraat yang kembali memuncak, padahal hanya mencium rambut Alisa, tapi akibat nya cukup fatal. 


Namun, baru saja Jimmy memejamkan mata nya untuk beristirahat, samar-samar dia mendengar suara pintu yang di ketuk. 


Dengan perlahan, Jimmy menjauhkan kepala sang istri dari dada nya, seperlahan mungkin agar sang istri tak terganggu. Namun sial, semakin lama ketukan di pintu malah terdengar semakin kencang dan cepat, membuat Jimmy merutuk sambil menatap wajah damai istrinya.


Jimmy berjalan cepat sambil menggerutu, kira-kira siapa sih yang datang mengganggu nya malam-malam begini. Kalau itu Farhan, dia akan memukul kepala nya karena sudah berani mengganggu nya. 


Pintu terbuka, tangan Farhan masih melayang di udara, karena sedari tadi dia tak melepaskan tangan nya dari pintu kamar Jimmy.


"Apa hah? Ganggu aja sialan!" Sewot Jimmy sambil memukul lengan Farhan yang terlihat panik.


"Anjir, kalo aja gak penting gue juga gak bakal mau kesini." 


"Ganggu aja, Lo harus inget gue dah punya bini. Untung aja pas Lo kesini gue dah selesai main sama Alisa, kalo nggak enak di Lo bisa denger suara merdu bini gue!" Cerocos Jimmy hingga ludah nya muncrat kemana-mana.


"Anjir, hujan lokal." Celetuk Farhan sambil mengusap wajah nya yang beberapa kali terkena semburan dari mulut Jimmy.


"Jadi, ada hal penting apa sampe Lo nyusulin gue malem-malem begini?" Tanya Jimmy, dia menutup pintu dan menarik Farhan agak menjauh dari kamar, tujuan nya agar Alisa tak terganggu tidurnya.


"Berapa orang?"


"Anggota yang luka 15 orang, katanya yang nyerang lebih dari 20 orang. Semua nya bertopeng dan berpakaian serba hitam, tapi pola serangan nya sama Jim." 


"Maksud Lo? Lagian, kenapa bisa kecolongan? Gue dah masang kawat listrik kan." Tanya Jimmy dengan kening mengernyit.


"Yang di lukain itu lengan atas, punggung sama perut. Di lukis membentuk sebuah pola abstrak gitu, tapi semua nya sama. Masalah itu, salah satu anggota ada yang melihat seorang pria menyabotase sistem on off listrik." Jelas Farhan.


"Itu pasti petunjuk buat kita nemuin dalang nya, dah ngerahin siapa buat menyelidiki penyerangan?"


"Dian, dia udah bergerak tadi sama anak-anak yang masih sehat. Di basecamp sekarang ada Aldi sama Dery yang lagi ngobatin anak-anak yang luka, Lo harus kesana Jim. Bentaran juga gapapa, biar Lo tau." Ucap Farhan.


"Oke, kita kesana sekarang. Sebentar, gue ngambil jaket dulu." 


"Gue ke bawah duluan, jangan lama." Peringat Farhan, lalu pergi menuruni tangga. Sedangkan Jimmy masuk ke kamar nya, meraih Hoodie berwarna hitam andalan nya. Dia menatap wajah Alisa yang sedang terlelap dengan nyenyak, sebenarnya dia merasa tak tega meninggalkan istrinya. Tapi ini juga penting untuk geng nya, dan juga dialah yang menjamin keselamatan anak-anak geng kelelawar karena dia adalah ketua nya.

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak Babe, aku pergi dulu sebentar. Jangan bangun sebelum aku pulang ya," Jimmy mengecup singkat kening Alisa lalu pergi menyusul Farhan yang sudah turun duluan. 


Keduanya pun pergi dari rumah besar itu dengan motor mereka masing-masing. Tentunya dengan kecepatan tinggi, jalanan malam ini terlihat cukup ramai, tapi menyalip kendaraan lain bukanlah hal sulit bagi Jimmy atau Farhan. Mereka sudah terbiasa menyalip kendaraan lain dengan lincah dalam kecepatan tinggi. 


Singkatnya, kedatangan Jimmy dan Farhan langsung di sambut oleh anggota yang bertugas menangani yang terluka, darah masih terlihat berceceran di beberapa tempat. 


"Selamat datang bos, waketu." Ucap Dery dan Aldi bersamaan.


"Bagaimana luka mereka?"


"Kami sudah mengobati nya dengan obat merah, juga ramuan herbal." Jawab Dery.


"Buka perban nya." Pinta Jimmy, tak ada yang berani menolak permintaan sang bos. 


Aldi membuka salah satu perban yang berada di perut anggota yang terluka, Jimmy berjongkok dan meneliti luka berupa sayatan-sayatan ringan namun dia akui tekhnik nya sangat bagus, karena luka kecil itu bisa mengeluarkan darah yang sangat banyak, dan bisa di pastikan korban nya akan mati perlahan karena kehabisan darah. Seperti nya yang sudah melakukan penyerangan pada anggota geng kelelawar itu bukan orang sembarangan. 


Jimmy menyentuh luka itu, membuat anggota yang terluka itu meringis kesakitan. Pria itu menyeringai lalu meminta Aldi kembali menutup luka itu dengan perban yang sudah di beri obat merah.


"Selain perut, dimana lagi mereka membuat pola semacam ini?" Tanya Jimmy.


"Ada yang di perut, lengan atas juga punggung, Bos." Jawab Dery, dia sedang dalam mode serius saat ini.


"Kalian bisa libur selagi luka itu masih basah, setelah sembuh kalian harus kembali. Untuk masalah makan, aku yang tanggung!" Tegas Jimmy. Rata-rata, isi dari geng kelelawar itu adalah anak jalanan yang tak punya rumah, uang atau penghasilan sendiri. 


Lalu mereka bertemu Jimmy dan akhirnya bergabung dengan geng yang pria itu kelola sedari nol. 


"Baik bos." 


Jimmy pergi ke ruangan nya, tentunya dengan Farhan yang selalu siap menemani nya kemana pun.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu, Jim?" Tanya Farhan sambil menyesap rokok nya.


"Gue dah tau siapa dalang dari semua ini, Farhan."


Farhan melongo, secepat itukah Jimmy menemukan dalang dari penyerangan ini? Hanya dengan melihat pola abstrak yang di buat pelaku plus menyentuh nya saja. Benar-benar, kemampuan Jimmy melacak musuh tak perlu di ragukan lagi.


"Ckkk, sialan! Dia nantangin gue, ngeremehin banget. Padahal selama ini gue diem karena gak mau berurusan sama cecunguk tak penting, tapi sekarang seperti nya kita harus memberi mereka pelajaran!" 


Jimmy meninju meja, membuat Farhan terkejut setengah mati.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2