
Singkatnya, saat waktu makan siang. Denis mendekat ke bangku Alisa dan mengatakan bahwa dia ingin bicara berdua dengan nya di taman belakang sekolah.
"Lis, gue pengen bicara berdua sama Lo. Gue tunggu di taman belakang, sekarang." Ucap Denis datar, lalu pergi mendahului Alisa yang masih membereskan buku-bukunya.
"Ngapain ya itu anak?" Tanya Eva, sambil mengernyitkan kening nya.
"Mana gue tau, yaudah gue kesana dulu ya. Biar tau jawaban nya," jawab Alisa sambil berjalan menyusul Denis. Sedangkan Eva dan Harry hanya menatap punggung teman mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ikutin mereka." Perintah Jimmy pada Farhan, dia langsung mengangguk dan pergi dengan tergesa-gesa, takutnya dia kehilangan jejak. Kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa dia di cincang oleh Jimmy.
Alisa celingukan mencari keberadaan Denis, dan setelah menemukan nya dia langsung mendekat lalu duduk di samping Denis yang sedang mendudukan tubuhnya di kursi panjang, dengan tatapan lurus ke depan.
"Mau ngomong apaan, Den?"
Denis melirik sekilas ke arah Alisa, dia tersenyum kecil saat melihat tanda kemerahan di leher Alisa, meski samar dia tetap tau kalau itu bukan sembarangan tanda merah.
"Gue suka sama Lo, Lis." Ucap Denis yang membuat kedua mata Alisa melotot, hampir keluar dari tempatnya. Pemuda itu benar-benar to the point.
"Sama gue? Jangan becanda, Den. Gak lucu tau gak." Ucap Alisa sambil tertawa hambar.
"Apa ekspresi wajah gue gak nunjukin kalo gue serius, Lis?"
Alisa diam seketika, ekspresi Denis sangat serius saat ini. Lalu, sekarang dia harus menjawab apa?
"Eemmm Den, tapi gue…"
"Udah jadian sama Jimmy, bener?" Tanya Denis sambil menatap wajah cantik gadis yang duduk di sampingnya. Alisa terkejut, benar-benar terkejut. Dari mana Denis tau hal itu?
"Eva, dia yang bilang kalo kalian udah jadian kemarin. Tapi, sebelum itu gue juga udah liat sendiri kalo Lo balik ke rumah yang sama, sama Jimmy."
__ADS_1
Deghhh…
Ucapan Denis membuat jantung nya seolah berhenti berdetak, membuat wajah nya pucat pasi.
"Sorry, awalnya gue cuma penasaran kenapa Lo berubah sejak deket sama Jimmy, dan setelah gue tau jawaban nya hati gue sakit banget, Lis."
"Harusnya gue udah siap dengan resiko itu, tapi sayang nya gue gak siap Lis. Kayaknya gak bakal pernah siap, apalagi itu tentang Lo. Demi apapun gue gak rela liat Lo sama Jimmy." Ucap Denis sambil menundukan kepala nya, menekan dada nya yang terasa menyesak.
"Deniss…"
"Gapapa Lis, tapi gue pengen denger hal itu langsung dari Lo. Jadi, Lo sama Jimmy beneran pacaran?"
"Bukan cuma pacaran, Den. Gue udah tunangan sama Jimmy, ini buktinya. Sorry gak ngasih tau Lo, ini semua keinginan bokap gue dan Lo tau sendiri gimana bokap gue, dia gak suka di bantah." Jelas Alisa sambil menunjukan cincin berwarna silver di jari manis nya.
"Dan, untuk masalah kenapa gue waktu itu masuk ke rumah yang sama, sama Jimmy. Itu cuma kebetulan karena mami nya Jimmy pengen ketemu gue."
Yaps, cincin kawin miliknya yang Jimmy sematkan hari itu, tapi entah kenapa dia tak pernah melihat Jimmy memakai cincin yang sama di jari nya. Aahh, jika mengingat hal itu selalu membuat hati Alisa berdenyut nyeri, merasa pernikahan nya tak di anggap. Sedangkan dia tak pernah sedetik pun melepaskan cincin itu dari tangan nya.
"Sorry gak bisa bales perasaan Lo, Den."
"Haha, gapapa kali. Santai aja, tapi setelah ini kita tetep berteman kan?" Tanya Denis.
"Tentu, tapi lagi-lagi gue harus jaga jarak sama Lo. Gue gak mau buat Jimmy kecewa, gue harus hargain dia."
"Oke, gue ngerti Lis. Makasih udah mau jawab pertanyaan gue, seenggaknya gue lega setelah denger jawaban Lo secara langsung. Sorry udah ganggu makan siang Lo."
"Gapapa kok, kalo kiranya udah gak yang mau Lo tanyain lagi, gue duluan ya? Udah laper banget." Ucap Alisa. Denis mengangguk dan membiarkan gadis pujaan nya pergi, dia menatap punggung sang gadis dengan tatapan sendu. Tapi bagaimana lagi, semua nya sudah terjadi.
Sedari awal harusnya dia tak banyak berharap bahwa suatu saat nanti, Alisa akan membalas perasaan nya, dan inilah akibat dari terlalu berharap pada manusia, hanya rasa sakit yang dia dapat. Meski hal itu bukan sepenuhnya kesalahan, karena dia sendiri yang mulai main hati.
__ADS_1
Farhan melongo di tempatnya, yakini di belakang tumbuhan hias yang sengaja di tanam di taman agar membuat suasana lebih segar bagi pelajar yang penat setelah pelajaran.
Dia segera mengirim rekaman video itu pada Jimmy, meski tidak terlalu terdengar tapi dari gestur pun pria itu akan tau apa yang di bicarakan oleh Denis dan Alisa.
Sedangkan Jimmy sudah mengepalkan tangan nya saat melihat tangan Denis menggenggam tangan Alisa nya, tapi sedetik kemudian kepalan tangan itu terbuka digantikan dengan seulas senyum manis saat Alisa menolak genggaman tangan Denis dan segera menunjukkan cincin kawin di jari manis nya. Seolah menunjukan bahwa dirinya sudah di miliki pria lain, karena Jimmy tak bisa mendengar jelas ucapan Alisa, karena jarak dari bangku taman dengan Farhan cukup jauh.
Jimmy bangkit dari duduknya dan pergi ke kantin, dia melihat Alisa sudah berada disana dengan semangkok bakso yang sedang dia makan bersama Eva juga Harry, tapi keberadaan Denis tak terlihat.
"Geser.." ucap Jimmy datar ke arah Eva yang duduk di samping Alisa, sedangkan Harry duduk berhadapan dengan kedua gadis itu.
Eva mendengus lalu pergi dan memilih duduk di samping Harry, dia membawa mangkuk bakso miliknya dan kembali memakan nya.
Harry menatap Jimmy dan Alisa bergantian, lalu menghembuskan nafas nya dengan kasar. Eva yang peka, melirik ke arah Harry, lalu tersenyum aneh seolah mengatakan 'siap-siap jadi nyamuk atau kambing conge'.
'Sabar Harry, orang pacaran itu bebas. Mau pacaran dimana pun terserah, tapi harusnya gak gue sih tumbal nya. Nasib jomblo ya gini.' Rutuk Harry di dalam hati, dia tak mungkin berani bicara secara langsung apalagi pada Jimmy. Sedikit banyak, dia merasa takut pada nya karena ke sadisan nya sudah terkenal di satu sekolah.
"Laper banget?"
"Kenapa? Kalo pengen pesen aja sendiri." Ucap Alisa kurang jelas, karena mulutnya penuh dengan bakso. Bahkan pipi nya menggembung, membuat Jimmy tersenyum simpul melihat tingkah istri nya.
"Gemesin banget sih." Ucap Jimmy sambil mengacak pelan rambut Alisa.
Denis yang baru saja kembali dari taman, tadinya dia berniat untuk makan siang bersama teman-teman nya, tapi saat melihat pemandangan yang membuat nya sesak, dia memilih pergi dari kantin dari pada hatinya semakin sakit.
Sedangkan Ayuna yang baru juga kembali dari toilet seketika mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, dia kesal setengah mati. Apalagi saat melihat bagaimana Jimmy mengacak rambut Alisa dengan gemas. Dia iri sekaligus cemburu melihat kedekatan keduanya.
"Kenapa harus si Alisa sih? Perasaan gue lebih cantik dari dia, sial." Rutuknya sambil menghentak-hentakkan kaki nya dan pergi dari kantin.
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻