
Jimmy menghentikan motor nya di parkiran dan mematikan mesin motor nya, namun setelah beberapa menit setelah mesin nya mati, tapi Alisa tak kunjung turun juga.
"Bby, ayo turun kita sudah sampai." Ucap Jimmy lembut sambil mengusap punggung tangan Alisa yang masih melingkari perutnya. Tak ada respon apapun, Jimmy sangka Alisa tidur jadi dia menoleh ke samping tepat wajah Alisa.
Memang kedua mata nya terpejam, tapi hembusan nafas nya terasa lebih hangat dari biasanya. Jimmy meletakan punggung tangan nya di kening Alisa, seketika itu juga pria itu membulatkan mata nya.
"Baby, hey.. Bangun sayang, kamu baik-baik aja? Sayang.." Jimmy panik, dia menahan Alisa agar tak jatuh, lalu dia turun. Jimmy menurunkan Alisa dari motor, menepuk-nepuk pelan pipi istrinya yang ternyata pingsan, wajah dan hidung nya terlihat merah.
"Baby.." Panggil Jimmy lirih, lalu bergegas menggendong nya ala bridal style, berjalan setengah berlari ke dalam rumah dengan raut wajah penuh ke khawatiran yang kentara di wajahnya.
"Mama.." Pekik Jimmy, membuat Larissa yang sedang di dapur langsung menghampiri asal suara.
Terlihat Jimmy sedang membaringkan Alisa di sofa panjang ruang tamu, Jimmy terlihat sangat khawatir, dia mengusap-usap tangan Alisa yang masih terasa dingin.
"Alisa kenapa, Jim?"
"Pingsan Ma, dia demam juga." Jawab Jimmy lirih. Kedua mata Larissa memicing menatap penampilan sang putra yang nampak berantakan dengan beberapa luka lebam di wajahnya sebagai bukti kalau telah terjadi sesuatu.
"Kamu habis berkelahi?" Tanya Larissa.
"Apa sih Ma? Bukan nya tolongin dulu ini Alisa, gimana cara bangunin nya?"
"Sebentar.." Larissa pergi dari ruang tamu mengambil minyak angin, lalu menyuruh Jimmy mengoleskan nya di dekat hidung Alisa.
Ternyata hal itu cukup ampuh juga, terbukti Alisa mulai bergerak. Namun sedetik kemudian dia meringis kesakitan.
"Aaahhhh sakit.." Perempuan itu memekik sambil memegang perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Sa-kit Jim." Jawab Alisa terbata.
"Sayang, maafin aku." Jimmy memeluk Alisa, membenamkan wajah sang istri di lehernya, karena saat ini posisi nya Jimmy tengah berjongkok di depan sofa ruang tamu, tepatnya di depan Alisa yang masih setengah terbaring sambil memegangi perutnya.
"Aku gapapa, seperti nya aku hanya kekenyangan saja."
"Jangan buat aku khawatir, Bby. Badan kamu panas banget, aku panggil dokter ya? Biar kamu di periksa, biar aku tenang juga kalo kamu udah di periksa." Ucap Jimmy panjang lebar.
__ADS_1
Satu hal yang tak pernah Larissa dengar dari putra nya, berbicara sepanjang dan secepat itu adalah hal yang mustahil bagi nya. Tapi sekarang, Jimmy tak ragu berucap demikian pada istrinya. Larissa tersenyum, di tinggal selama satu minggu, hubungan putra dan menantu nya banyak perkembangan yang baik.
Bahkan Jimmy tak malu lagi menunjukan ke romantisan mereka di hadapan nya juga Raksa. Sering kali kedua nya di buat baper oleh kemesraan pasutri itu, tapi mereka maklum lah karena Jimmy dan Alisa adalah pasangan suami istri baru. Tak seperti mereka yang sudah menikah lama, ya meski sampai sekarang mereka tetap romantis.
"Aku gapapa kok, gak usah khawatir ya." Alisa mengusap wajah Jimmy, pria itu menangkap tangan Alisa lalu mengecupnya.
"Beneran ya?"
"Iya.."
"Kenapa seneng banget bikin aku khawatir? Kamu tau aku khawatir banget pas kamu pingsan di motor tadi, untung pelukan kamu gak lepas, kalo lepas gimana?" Jimmy mengatakan ketakutan nya, meski hal itu tak terjadi. Tapi tetap saja dia tak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi, pasti dia akan sangat menyesal. Tapi untung saja, ketakutan nya tak terjadi.
"Maaf ya.." Alisa tersenyum manis yang membuat Jimmy menangkup wajah cantik sang istri.
"Ehemm.." Larissa berdehem, dia merasa keberadaan nya tak kasat mata disini.
"Eehh Mama, ngapain masih disini?" Tanya Jimmy polos tanpa dosa.
"Iya juga sih, bawa istrimu ke kamar. Biarkan dia beristirahat dulu, nanti Mama panggil kalo udah waktunya makan malam."
"Maafin Alisa gak bantuin Mama siapin makan malam ya, Ma."
"Gapapa sayang, kamu istirahat aja ya. Gak usah ngerjain apa-apa." Ucap Larissa dengan senyuman nya.
Jimmy pun membawa Alisa ke kamar, tapi baru saja melihat tangga yang menghubungkan kamar mereka dan lantai bawah, Alisa menelan ludahnya. Lutut nya masih terasa sangat lemas, hingga hanya dengan melihat tangga saja membuat nya berkeringat.
"Kenapa?"
"Lemes, gak mau naik tangga. Kenapa gak tidur di kamar tamu aja sih?"
"Yuk, naik." Jimmy sudah berjongkok di depan Alisa, meminta nya untuk naik ke punggung nya. Dengan senang hati perempuan itu naik ke punggung Jimmy, dan keduanya pun masuk ke kamar setelah berhasil melewati tangga yang cukup tinggi itu.
Jimmy menyeka keringat di kening nya, meski terlihat kecil, tapi ternyata tubuh istrinya itu cukup berat. Apalagi menggendong nya saat menaiki tangga, cukup menguras tenaga juga ternyata.
"Aku berat ya, Yang?" Tanya Alisa sambil duduk di sisi ranjang. Meski dalam hati dia mengiyakan, tapi dalam mulut dia mengatakan hal sebaliknya, gengsi dong kalau mengaku tubuh istrinya berat.
"Enggak kok, kamu ringan. Seringan kapas." Jawab Jimmy sambil tersenyum.
__ADS_1
"Yang bener? Tapi itu wajah nya merah, keringetan juga."
"Huffftt, tujuan nya nanya gitu buat apa, Bby? Kamu mau mancing peperangan, atau apa?" Tanya Jimmy, sedangkan Alisa hanya cengengesan.
"Enggak gitu juga kali, Yang."
"Yaudah, ayo tidur dulu."
"Temenin." Rengek Alisa manja, membuat Jimmy terkekeh.
"Iya, aku ganti baju dulu. Yang ini bau matahari plus bau keringet." Jimmy masuk ke ruang ganti, sedangkan Alisa membuka rok dan seragam nya. Menyisakan hot pants berwarna navy dan tengtop ketat bertali spaghetti yang menempel rapi di pundak putih nya.
"Lho, kok jadi gitu? Seragam kamu mana?" Tanya Jimmy saat melihat penampilan istrinya, sial dia malah seperti sedang memancing hasraat nya.
"Tuh, di keranjang cucian." Jawab Alisa sambil menunjuk keranjang pakaian kotor dengan dagu nya.
"Pake ini." Jimmy melempar sebuah hoodie miliknya, Alisa mengernyitkan kening nya heran. Kenapa Jimmy meminta nya memakai hoodie ini? Memang pakaian nya yang sekarang kenapa?
"Kenapa harus?"
"Kamu mau istirahat atau olahraga sama aku di ranjang?" Tanya Jimmy yang membuat Alisa paham, karena tubuhnya yang terasa sangat lemas, akhirnya Jimmy langsung memakai hoodie milik suaminya agar menjauhkan nya dari terkaman singa kelaparan.
"Ayo kita tidur, biar gak lemes." Ajak Jimmy lagi, dia merebahkan tubuh nya di samping Alisa. Lalu menarik istrinya ke dalam pelukan nya, menyandarkan kepala nya di dada bidang nya seperti biasa.
"Tidur ya sayang, nanti aku bangunin kalo udah waktunya makan malam."
"Iya, kamu juga bobo ya? Jangan ninggalin pas aku tidur lagi." Peringat Alisa, dia harus memperingatkan suaminya itu.
"Haha, iya sayang enggak kok. Ada Farhan sama Aldi di basecamp yang jagain tawanan."
"Huum, yaudah aku ngantuk mau bobo." Alisa tersenyum lalu mencuri ciuman di pipi kanan Jimmy, sedangkan pria itu hanya mesem-mesem, lalu mengusap kepala sang istri dengan lembut juga melayangkan kecupan-kecupan hangat di puncak kepala nya.
"Akan aku temukan dalang dari semua ini sampai ke lubang semut pun aku pasti menemukan nya, lihat saja apa akibatnya jika berani berhubungan dengan Jimmy! Apalagi membuat istriku ketakutan hingga demam, aku takkan memaafkan siapapun!"
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1