
Jimmy mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, motor milik Farhan sedikit berbeda dengan miliknya yang dia tinggalkan di rumah.
Tak butuh waktu lama, karena Jimmy melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi. Tak lupa, di perjalanan tadi dia menyempatkan diri membeli sebuket bunga dan beberapa macam makanan manis kesukaan Alisa.
Wajah Jimmy berseri-seri, sepanjang jalan dia tersenyum terus menerus, hingga gigi nya mengering.
Jimmy membuka pintu ruang perawatan istrinya, bukan sambutan hangat dengan senyuman ramah yang di dapatkan nya, namun wajah-wajah penuh ke khawatiran.
"Udah pulang, Jim?" Tanya Raksa.
"Ya, papa bisa lihat sendiri aku sudah disini." Jawab Jimmy datar, dia tak menyangka kalau kedua orang tua Alisa juga masih ada disini. Dia menyembunyikan bunga untuk Alisa di punggung nya.
"Kenapa wajah-wajah kalian seperti itu? Apa ada yang terjadi dengan Alisa?" Tanya Jimmy.
"Eemm, d-dia belum juga sadarkan diri, Jim." Larissa menjawab dengan takut-takut, hal yang dia takutkan hanya kemarahan Jimmy yang sering meledak-ledak.
Jimmy masuk dan ia rasa tak masalah kalaupun orang tua Alisa melihatnya membawa bunga untuk anak mereka.
"Bby, sayang bangunlah.."
"Apa kalian sudah memanggil dokter untuk memeriksa Alisa?" Tanya Jimmy.
"Sudah, kata nya ini masih wajar."
"Sialan, wajar dimana nya!" Rutuk Jimmy, dia menggenggam tangan Alisa dan mengecupi punggung tangan nya dengan mesra.
"Sayang, bangun dong. Jangan buat aku khawatir," lirih Jimmy, dia terdengar putus asa. Dia menunduk, tak sadar air mata menetes dari pelupuk mata nya.
Hikss.. hikss..
Semua mata menatap punggung Jimmy yang terlihat bergetar, juga terdengar isakan kecil yang keluar dari mulutnya. Mereka saling melempar pandangan, apa benar Jimmy menangis?
"Kok nangis, kenapa cengeng gini? Sejak kapan suamiku jadi pria cengeng begini hmm?" Suara lembut mendayu terdengar tak asing, Jimmy mendongak lalu menghapus air mata nya. Dia bangkit dan memeluk Alisa yang masih berbaring di ranjang pasien.
"Cup cup cup, sayang nya aku kenapa nangis? Ganteng nya luntur dong kalau nangis."
"Huaaa, kamu bikin aku khawatir Baby. Aku hampir saja membakar rumah sakit ini kalau kamu tak bangun juga." Ucap Jimmy membuat Alisa terkekeh. Sebenarnya dia sudah terbangun dari tadi, dia dan para orang tua sepakat untuk mengerjai Jimmy.
"Ya sudah, sekarang aku udah bangun. Jadi, jangan nangis lagi ya. Aku gapapa kok, kamu habis dari mana? Baju nya bau." Tanya Alisa, Jimmy melerai pelukan nya lalu mengecup singkat kening Alisa dengan lembut.
__ADS_1
"Jangan buat aku khawatir, Bby."
"Iya, maaf udah bikin kamu khawatir." Alisa menangkup wajah suaminya yang bersimbah air mata, bahkan hidung nya sampai memerah.
"Ini buat kamu, sama cemilan juga." Jimmy memberikan semua yang dia beli tadi pada Alisa, dengan senyum yang merekah indah, Alisa menerima nya. Dia memang menyukai bunga mawar, terutama yang merah dan Jimmy tau akan hal itu.
"Makasih, bunga nya cantik."
"Ya, seperti kamu yang cantik." Jawab Jimmy, membuat Alisa tersipu. Dia malu karena Jimmy memuji dirinya cantik, selain sedang saat bercintaa.
Aahh mengingat hal itu, batang milik nya terasa berdenyut. Sudah beberapa hari dia tak meminta jatah pada sang istri karena dia sibuk belajar, di tambah lagi saat ini Alisa malah sakit. Seperti nya Jimmy akan berpuasa lebih lama lagi.
"Ehem, disini ada orang lain lho, bukan cuma kalian doang." Celetuk Rafi yang membuat kedua nya kompak menoleh lalu tersenyum canggung.
Para orang tua itu tertawa saat melihat ekspresi anak-anak mereka yang seperti nya malu karena bermesraan tak tau tempat dan waktu. Kalau penyakit bucin sudah melanda, ya begini jadinya.
"Kata dokter, besok aku udah bisa pulang." Ucap Alisa, membuat wajah Jimmy berbinar cerah.
"Kamu sudah makan, sayang?" Tanya Jimmy. Alisa menggeleng, karena memang sedari tadi dia belum memakan apapun. Jimmy melirik ke arah orang tua mereka dengan mata tajam nya.
"Hey, hentikan menatap mereka seperti itu."
"Hufftt, baiklah. Jadi ayo makan dulu, biar cepet sembuh terus bisa pulang."
"Itu di wadah ada sup iga, tadi mama pulang dulu buat bikin." Ucap Larissa. Jimmy membuka wadah dan menyuapi Alisa dengan telaten dan perlahan.
"Makan yang banyak ya, biar cepet sembuh." Alisa tersenyum saat menyadari Jimmy begitu perhatian padanya.
"Makasih."
"Sama-sama, baby." Jawab Jimmy.
"Ckkk, giliran sama Jimmy aja baru mau makan." Cibir Rafi, papa nya Alisa.
"Kan sama suami sendiri, Pa." Alina menyahuti perkataan suaminya di sertai kekehan.
"Ingat, yang bucin selalu menang. Biarin ajalah Fi, yang penting dia mau makan." Ucap Raksa sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Iya iya, kita yang udah tua ngalah aja. Padahal yang bujuk Alisa buat makan itu ibu nya sendiri, tapi tetep gak mau. Eehh giliran sama Jimmy, langsung manut." Sindir Rafi, tapi sepertinya kedua sejoli itu tak peduli sama sekali. Alisa juga anteng makan di suapi Jimmy, sesekali Jimmy mengusap bibir Alisa yang belepotan dengan tissu, membuat wajah nya memerah lagi.
__ADS_1
"Mau lagi?"
"Udah, kenyang." Jawab Alisa.
"Yaudah, nanti makan lagi ya. Aku mandi dulu sebentar."
"Jangan lama-lama." Rengek nya manja, gak tau kenapa dia tak mau berjauhan dengan Jimmy. Maka dari itu tadi dia punya ide licik untuk mengerjai suaminya yang tak ada saat dia siuman.
"Iya Baby, cuma mandi doang kok gak lama."
"Mama bawa baju ganti buat aku kan?" Tanya Jimmy pada sang mama.
"Di tas." Tunjuk nya pada tas kecil di dekat nakas. Jimmy mengambilnya lalu membawa nya ke kamar mandi.
Alisa terus saja menyunggingkan senyuman manis nya sambil menghirup dalam-dalam aroma dari bunga mawar yang di berikan Jimmy. Wangi nya memang familiar, tapi yang memberikan nya jauh dari kata familiar. Karena ini pertama kalinya Jimmy bersikap romantis padanya.
"Cieee yang habis di beliin bunga sama suaminya, senyam-senyum sendiri gitu. Seneng ya?"
"Seneng banget dong, Ma." Jawab Alisa sambil tersenyum manis.
"Mama seneng kalau kamu bahagia sama pernikahan kamu, dulu Mama ragu kamu bisa menerima pernikahan ini karena kalian musuhan. Tapi setelah melihat semua ini, mama yakin kalian sudah bisa menerima satu sama lain dengan baik."
"Alisa sendiri juga ragu kalau Jimmy bakal bisa nerima Alisa dan hubungan baru kami, tapi ya seiring berjalan nya waktu akhirnya perlahan Jimmy bisa menerima Alisa." Jelas Alisa sambil tersenyum.
Jika mengingat awal-awal dia menikah dengan Jimmy, disaat sikap pria itu masih ketus, jutek seperti biasanya, dia bahkan merasa putus asa. Apakah dia bisa meluluhkan hati seorang Jimmy atau tidak, tapi ya sekarang Jimmy berubah 180 derajat.
Dari ketus, jutek, datar, kini menjadi Jimmy yang manja, suka merengek, bucin. Sangat jauh dari dugaan Alisa dulu, ternyata pria sedatar dan se kaku Jimmy bisa bucin juga.
Tak lama kemudian, Jimmy keluar dari kamar mandi dengan kaos berlengan pendek berwarna hitam dan celana training hitam juga. Rambutnya yang basah dia usap dengan handuk kecil, Alisa melongo melihat Jimmy. Kenapa disaat seperti ini ketampanan nya malah bertambah berkali lipat? Ohh andaikan saja mereka berada di rumah, pasti Alisa sudah nyosor duluan.
Jimmy tersenyum ke arah Alisa sambil memainkan alisnya naik turun, Alisa merona sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Pasutri Bucin." Celetuk Rafi dan Raksa barengan.
.......
🌻🌻🌻🌻
haii, jangan lupa mampir ke karya temen author yaaw😚
__ADS_1
Dewi Untuk Dewa karya kak Tyatul🌻