
Alisa duduk kembali setelah selesai memesan bakso untuk Jimmy, tak perlu waktu lama, semangkuk bakso dengan kuah bening yang masih mengepul tersaji di depan mata. Jimmy tak langsung memakan nya, karena masih panas.
Tak lama kemudian, Farhan dan kawan-kawan nya yang lain datang menyusul ke kantin. Mereka memilih bangku yang dekat dengan Jimmy dan Alisa, sedangkan Eva dan Harry memilih duduk satu meja dengan pasangan yang sebentar lagi akan di landa kebucinan.
Meski seringkali hanya jadi kambing conge atau nyamuk, mereka tak kapok untuk duduk bersama pasangan itu.
"Dah mau habis satu mangkok aja, Lu." Sindir Eva sambil tersenyum. Alisa hanya melirik lalu kembali melanjutkan acara makan nya dengan lahap, jujur saja dia belum kenyang.
"Jim, mau lagi boleh?"
"Serakah banget Lo, itu perut Lo melar apa gimana?" Bukan Jimmy yang menjawab tapi Harry, karena dia melihat sudah ada dua mangkuk kosong di dekat mangkuk Jimmy. Tapi, dia rasa Jimmy tak mungkin makan sebanyak itu kan? Jadi, pelaku nya pasti Alisa.
"Yeehh, emang nya kenapa? Toh Jimmy aja gak ngelarang gue makan banyak."
Jimmy mendelik ke arah Alisa, membuat gadis itu salah tingkah karena tak sengaja membawa-bawa nama nya dalam percakapan bersama orang lain, dan itu adalah satu kesalahan menurut Jimmy.
"Bener, gue gak masalah dia mau makan sebanyak apapun. Yang gue masalahin cabe nya, dia makan mie ayam semangkok cabe nya juga satu mangkok, normal gak tuh?" Sindir Jimmy membuat Alisa nyengir.
"Jadi, gue boleh pesen lagi ya? Satu lagi aja deh."
"Serah Lo, beli aja sama kantin nya sekalian. Biar Lo yang jualan disini nanti," jawab Jimmy dengan wajah datar nya.
"Jiwa missqueen gue meronta-ronta ini, plis lah woy. Dunia ini bukan cuma punya kalian berdua, gue ogah di suruh ngontrak!" Ucap Eva, membuat Alisa terkekeh.
"Yaudah, Lo mau pesen bakso juga kan?"
"Iya sih, kenapa?"
"Sekalian punya gue juga dong, nanti Jimmy bayarin, oke?" Tawar Alisa membuat Jimmy hanya menatap istrinya dengan tatapan heran.
"Wahh siap, gue pesen dulu deh."
"Sekalian, gue juga bakso satu sama lemon tea." Ucap Harry sebelum Eva benar-benar pergi.
__ADS_1
Gadis itu pun pergi dengan langkah ceria karena akan mendapat gratisan dari Alisa, ya lebih tepatnya sih dari Jimmy, karena dia yang akan membayarkan nya.
Tak lama kemudian, makanan mereka pun datang. Alisa kembali melahap satu mangkuk bakso, kali ini dengan kuah bening. Tadinya dia akan menuang sambal, tapi begitu mendapat lirikan tajam dari sang suami dia memilih mengurungkan niatnya dari pada harus di hukum lagi.
Memang ya, hukuman nya itu bukan hukuman berupa kekerasan, tapi lebih mengarah ke mesum. Anehnya, mulutnya menolak tapi tubuhnya seolah merespon dan menyukai apapun yang di lakukan Jimmy atas tubuhnya.
Dia hanya malu saja kalau jimmy sampai tau bahwasan nya dia menikmati nya, tapi mulutnya terus saja menolak. Bisa-bisa pria itu besar kepala nanti.
Setelah beberapa lama, Alisa menyelesaikan makan nya di mangkuk ketiga. Dua mie ayam dan satu mangkuk bakso, perut karetnya sudah melar saat ini. Dia mengusap perutnya yang sedikit membuncit karena di isi tiga porsi makanan. Harry terkekeh melihat ekspresi Alisa yang nampak ke kenyangan.
"Han, bayarin ya. Gue duluan ke lapangan," ucap Jimmy, lalu menarik tangan Alisa agar mengikutinya. Tapi, Alisa malah ikut-ikutan menarik tangan Eva, membuat gadis itu juga mengekor di belakang Alisa dan Jimmy.
"Siap bos, setelah selesai saya menyusul." Jawab Farhan, dia selalu siap sedia kalau Jimmy minta di bayari makanan nya. Karena dia memegang salah satu kartu debit milik Jimmy, untuk keperluan di basecamp atau di saat seperti ini.
Jadi, tak usah heran kalau Jimmy selalu minta di bayarkan oleh Farhan.
"Jim, kemana sih? Panas!" Rengek Alisa.
Ya ada susahnya, karena ternyata di lapangan sudah ada Ayuna and the geng yang bersiap menonton Jimmy bertanding dengan kelas sebelah. Gadis itu menatap sinis ke arah Alisa yang datang dengan tangan yang di pegang oleh Jimmy. Juga ada Eva di belakang Alisa, seketika itu juga hatinya merasa dongkol.
Dulu, kemana pun Jimmy pergi pasti Ayuna lah yang selalu berada di belakang nya dengan menggelayut manja di lengan pria tertampan di sekolah itu. Tapi sekarang, posisi nya di gantikan oleh Alisa. Jelas saja dia merasa kesal, marah juga membenci gadis itu, hingga perasaan itu semakin bertumbuh besar menjadi dendam.
"Lo disini, gue ganti baju dulu. Jangan kemana-mana, inget."
"Isshh iya Jimmy, gue bukan anak kecil kali." Jawab Alisa ketus, membuat Jimmy gemas dan mengacak rambut sang istri dengan gemas.
"Aihhh, so sweet nya kalian berdua. Bikin gue iri deh, pengen juga punya pacar." Celetuk Eva membuat Alisa menatap sahabatnya itu.
"Pacaran aja sama Farhan, mau?" Tawar Alisa, padahal dia tau kalau Eva dan Farhan itu sama seperti dirinya dan Jimmy dulu, kalau berdekatan saja pasti bertengkar apapun masalahnya, sekecil apapun, pasti ujung-ujungnya bertengkar.
"No, thank you!" Jawab Eva ketus, membuat Alisa cekikikan.
"Inget, awalnya suka bertengkar lama-lama bisa sayang lho, kayak gue sama Jimmy misalnya."
__ADS_1
"Emang kalian udah saling sayang, gitu?" Tanya Eva membuat Alisa terpojok karena ucapan nya sendiri.
"Kalo gue sih iya, gak tau kalo Jimmy. Kayaknya belum deh, emang sifat nya berubah. Tapi, gue gak mau baper duluan, nanti pas tau kenyataan gue sakit hati lagi." Jawab Alisa.
"Kalo gue sekarang, Lo taulah jawaban nya apa."
"Masih nunggu Harry?" Tanya Alisa pelan, hingga ucapan nya hanya bisa terdengar oleh nya dan Eva.
"Ya begitulah, gue suka sama dia tapi gue gak mau hubungan pertemanan kita rusak aja kalo sampe dia tau gue demen sama dia." Jelas Eva. Alisa menganggukan kepala nya pertanda mengerti posisi sahabatnya.
"Sampai kapan Lo mau nunggu Harry? Lo juga berhak bahagia, Eva. Menurut gue sih, Lo jangan nyia-nyiain waktu buat laki-laki yang gak peka sama perasaan Lo."
"Gak tau, Lis. Gue juga gak tau, tapi untuk saat ini gue mau berjuang aja dulu." Jawab Eva.
"Yaudah, terserah Lo aja. Gue sebagai temen, pasti dukung apapun keputusan Lo."
"Makasih ya, Lis. Lo baik banget sama gue,"
"Kita temen, Eva. Jangan lupain kalo kita temenan udah lama." Ucap Alisa sambil tersenyum manis.
Alisa meraih sebelah tangan Eva dan menggenggam nya, pertandingan basket pun di mulai. Alisa menyemangati Jimmy, meski hanya dengan kata-kata 'semangat Jimmy', tapi hal itu mampu membuat semangat Jimmy terbakar. Terbukti, hanya dalam beberapa menit saja, dia sudah mencetak banyak angka.
Untuk masalah perasaan Eva terhadap Harry, Alisa sudah lama tau akan hal itu. Dia mendukung keputusan sahabatnya itu, karena dia tau kalau Harry adalah pemuda yang baik, cocok untuk sahabatnya.
Eva sudah lama memendam perasaan nya pada Harry, tepatnya sejak masuk sekolah. Saat itu dia bertemu Harry karena sebuah ketidaksengajaan, dia menunggu angkot tapi karena sudah terlalu siang, jadi tak ada satu pun angkot yang melintas di depan rumah lama nya. Tapi, kemudian Harry datang dan menawari nya tumpangan.
Karena tak punya pilihan lain, akhirnya Eva memilih menerima tawaran Harry, dia duduk di boncengan belakang motor pemuda itu. Awalnya, perasaan nya hanya sebatas kagum pada Harry, tapi semakin kesini rasanya malah berubah jadi suka, dan suka itu berubah jadi cinta.
Meskipun Harry tak pernah peka akan perasaan yang di miliki Eva, tapi sebisa mungkin Eva terus saja memperjuangkan pria itu dalam diam.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1