Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Denis dan Ayuna?


__ADS_3

Jimmy kembali duduk setelah merasa rambut nya cukup kering. Dia kembali menggenggam tangan Alisa dengan lembut, sejak kedatangan nya Jimmy tak pernah melepaskan genggaman tangan nya bahkan disaat dia menyuapi Alisa. 


Perempuan itu senang-senang saja di perlakukan demikian, perempuan yang mana sih yang gak suka di perlakukan penuh perhatian seperti Alisa? Author nya juga mau kali.


"Udah kali, pegangan tangan mulu. Kayak mau nyebrang aja." Cibir Rafi, entah kenapa dia gemas sendiri saat melihat menantu nya terus mepet pada putrinya. Padahal kan wajar, karena mereka suami istri. Kalau pun mereka belum menikah terus Jimmy mepet pada Alisa, dia juga yang marah. Huh, entah apa kemauan Rafi.


"Papa apaan deh? Bukan nya seneng anak nya di perlakukan lembut seperti itu." Alina mencebik ke arah suaminya. Berbeda dengan Rafi, Alina malah bahagia saat melihat Jimmy yang begitu perhatian pada putrinya.


"Ya nggak gini juga, dari tadi nempel aja bikin iri." 


Ohh, itu dia jawaban nya. Karena dia iri, lalu apa salahnya kalau dia juga berpegangan tangan dengan istrinya? Impas kan?


"Nih, pegang tangan Mama." 


"Hehe, gitu dong peka." Ucap Rafi sambil tersenyum, dia langsung meraih tangan Alina dan menggenggam nya erat.


"Astaga, kelakuan ayahmu sangat menggemaskan, Baby." Jimmy terkekeh melihat drama yang di buat oleh ayah mertua nya.


"Heh, begini-begini juga aku ini ayah mertua mu." 


"Iya iya, maaf papa mertua." Ucap Jimmy. 


"Yang, pengen martabak deh." Rengek Alisa tiba-tiba.


"Martabak apa cantik?" Tanya Jimmy sambil mengusap rambut sang istri.


"Martabak coklat keju, ihh enak deh kayaknya." 


"Aku beliin dulu kalo gitu, kamu tunggu ya?" 


"Emang gak bisa beli lewat online, yang?" Tanya Alisa dengan tatapan sendu.


"Hehe, habis kuota belum beli lagi. Ini sekalian beli ya, gak lama kok." 


"Huh, yaudah deh. Jangan lama plus jangan genit." Peringat Alisa, membuat Jimmy terkekeh lalu mengacak rambut istrinya dengan gemas.


"Aku pergi dulu ya, baby."


"Hati-hati di jalan nya." Ucap Alisa dengan nada manja, Jimmy mengangguk lalu mengecup sekilas bibir sang istri. Tak peduli pada empat pasang mata yang nampak terkejut dengan adegan yang terjadi di depan mata mereka secara live.


"Ma, aku keluar dulu mau beliin pesenam istri. Ada yang mau nitip sekalian?" Tawar Jimmy. 


"Bakso mercon." Ucap Rafi. 

__ADS_1


"Oke, berapa porsi?" 


"Pake nanya, disini orang nya ada berapa? Itung sesuai jumlah orang dong." Ketus Rafi membuat Alina tak enak hati, dia mencubit perut suaminya cukup keras.


"Maafin papa ya, Nak."


"Gapapa kok Ma, Jimmy pergi dulu sebentar. Nitip Alisa ya, kalau ada apa-apa langsung telpon Jimmy." 


Semua nya mengangguk, Jimmy pun pergi dari ruangan itu. 


"Bisa gak sih bilangin sama suami mu itu biar gak menunjukan kemesraan di depan kami? Bikin iri saja."


"Papa ini apa-apaan, harusnya bagus dong berarti Jimmy sayang sama Lisa. Kok malah ketus gitu sih, aneh." Jawab Alisa mencebik. 


"Iya nih, papa bawaan nya sensitif Mulu karena Mama datang bulan, jadinya gini." Ceplos Alina yang membuat Alisa mengerti kenapa papa nya seperti ini, ya jawaban nya karena jatah malam nya tertunda selama datang bulan.


"Haha, pantas aja wajah nya kusut bener kayak benang layangan." Cibir Raksa sambil tertawa.


"Papa juga sama aja, kalo lagi gak dapet jatah pasti murung." Celetuk Larissa yang membuat tawa Raksa surut seketika.


"Aaihhh Mama nyebelin banget, jangan nyebarin aib dong Ma." Rengek Raksa membuat gelak tawa mewarnai ruang perawatan Alisa, suasana pun menjadi lebih hangat karena kehadiran 4 orang berstatus orang tua dan mertua nya.


Alisa tersenyum menanggapi celotehan ke empat paruh baya itu, senang sekali saat melihat mereka tertawa bahagia tanpa beban. Keputusan nya dulu untuk menerima perjodohan ini, seperti nya memang sudah keputusan yang benar. Terbukti dari kebahagiaan mereka yang saat ini dia lihat sendiri.


'Sialan banget, kalo aja bukan Alisa yang minta, gue kagak sudi ngantri disini.' Batin Jimmy menggerutu, tapi demi Alisa dia tetap bertahan menunggu martabak manis yang terkenal karena rasanya yang enak.


Hingga sesaat kemudian, kedua mata Jimmy memicing saat melihat orang yang dia kenal melintas di depan nya. Kedua nya bergandengan tangan mesra, sang perempuan menggelayut manja di pundak pria yang dia kenali sebagai teman istrinya, Denis.


'Denis? Bukan nya Alisa bilang dia pindah ke luar kota ikut orang tua nya, tapi kok masih ada disini?' Batin Jimmy, dia menutupi wajahnya dengan masker agar tak dapat di kenali siapapun.


"Sayang, aku pengen martabak rasa red Velvet dong."


"Beli aja, duit nya masih ada?"


"Ada kok, tapi antrian nya panjang banget." Sang perempuan terdengar merengek manja. Sedangkan pria nya hanya menunjukkan wajah datar nya, sangat kentara kalau dia merasa tak nyaman dengan perempuan itu. 


"Tunggu aja kalo beneran pengen."


"Makasih ayang." Tanpa ragu, perempuan itu mengecup singkat pipi kanan Denis.


'Itu Denis sama Ayuna, gak salah liat kan? Tapi aku yakin, lalu kenapa mereka tak pernah keliatan di sekolah lagi? Sebenarnya alasan apa yang membuat mereka tak kembali ke sekolah?' Batin Jimmy berperang sendiri, dia menerka-nerka kira nya apa yang membuat Denis dan Ayuna tak sekolah selama tiga bulan ini.


Memang Jimmy merasa lebih tenang saat Ayuna tak ada, dengan begitu tak ada lagi yang mengganggu nya. Tapi, kenapa? Tolong beri dia alasan yang masuk akal selain pindah ke luar kota yang jelas-jelas tak masuk akal. Karena dia melihat mereka dengan mata kepala nya sendiri. 

__ADS_1


Tak lama kemudian, martabak pesanan Jimmy matang dan pria itu segera pergi dari sana. Tak lupa dia meminta Dian untuk memata-matai Denis dan Ayuna yang masih berada di tempat itu karena menunggu pesanan mereka jadi. 


Sepanjang perjalanan, Jimmy terus memikirkan berbagai macam kemungkinan yang bisa saja terjadi dari kebohongan yang di lakukan sahabat istrinya.


Hingga tak terasa dia sampai di rumah sakit, dengan langkah cepat dia masuk ke ruangan istrinya dengan raut wajah yang tak bisa di artikan. 


"Lho, kok cepet?" Tanya Alisa saat Jimmy meletakan satu box martabak yang masih hangat di dekat nya.


"Katanya tadi jangan lama, tapi cepet malah protes. Aneh kamu, Bby." 


"Hehe, iya juga sih."


"Yaudah, ini martabak nya di makan mumpung masih hangat." Ucap Jimmy sambil membuka box berisi martabak pesanan istrinya. Sedangkan ke empat orang yang ada disana juga, dia bungkam dengan satu porsi bakso mercon.


"Mau?" Tawar Alisa, tapi Jimmy hanya menggeleng. Dia asik melihat istrinya makan dengan lahap. 


"Enak?"


"Banget, martabak ini enak banget. Gak tau karena rasanya emang enak, atau karena yang beli nya kamu jadi enak." Jawab Alisa, membuat Jimmy tersenyum kecil. Ada-ada saja tingkah istrinya yang membuat nya tersenyum.


"Udah pinter gombal, di ajarin siapa? Jangan bilang Eva?"


"Hehe iya, dari Eva." Jawab Alisa sambil cengengesan.


"Aku dah bilang sama dia kalo kamu sakit dan di rawat di rumah sakit, tadinya mau kesini hari ini. Tapi gak jadi, besok aja pas kamu udah pulang ke rumah." 


"Baiklah, terserah kamu saja." Jawab Alisa. 


"Wajah kamu kenapa? Kok kaya nyimpen sesuatu gitu."


"Nyimpen apaan deh, gak ada kok." Elak Jimmy padahal dia masih memikirkan pertemuan nya dengan Denis dan Ayuna di tukang martabak tadi.


"Bener?"


"Iya sayang, bener. Gak usah curigaan gitu, kamu makan aja martabak nya sampai habis." Ucap Jimmy, Alisa mengangguk dan kembali memakan martabak yang di bawa Jimmy tanpa ragu.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


haii, author mau rekomendasi karya temen author, jangan lupa mampir gaess😚


__ADS_1


Pesona Sang Diva karya kak Nezha Ageha😚🌻


__ADS_2