
Singkatnya, besok hari nya Alisa sudah di perbolehkan pulang. Jimmy terus saja memeluk sang istri saat mereka berada dalam mobil, kedua orang tua Alisa juga ikut mengantar putri mereka pulang ke rumah mertua nya.
Alisa sedikit merasa risih karena pelukan Jimmy yang erat membuatnya tak leluasa bergerak. Dia ingin menolak, tapi tak memungkinkan karena Jimmy pasti akan tetap memeluknya meskipun dia menolak.
"Bisa di longgarin dikit gak, Yang?" Tanya Alisa sambil mendongakkan kepala nya, menatap wajah tampan suaminya.
"Apanya? Celana nya? Bisa dong." Jawab Jimmy yang berhasil membuat Larissa dan Raksa melirik ke arah mereka. Alisa tau lewat kaca spion, perempuan itu menepuk pelan dada suaminya karena gemas. Bisa-bisa nya mengatakan hal semacam itu disaat seperti ini.
"Pelukan nya, sesak tau."
"Ohh iya, maaf sayang." Ucap Jimmy, lalu melonggarkan sedikit pelukan nya.
Alisa menyandarkan kepala nya di dada bidang Jimmy, menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya. Bahkan aroma keringat nya saja, Alisa menyukai nya. Ckkk, kalau kata Farhan mah bucin nya sudah mendarah daging.
Dan drama kebucinan Jimmy masih berlanjut saat mobil yang membawa pasangan itu sampai di rumah, Jimmy langsung menggendong sang istri ala bridal style tanpa menghiraukan penolakan juga ekspresi dan reaksi ke empat orang yang juga ada disana, belum lagi ada satpam dan tukang kebun yang melihat betapa bucin nya seorang Jimmy pada istrinya.
"Astaga, anak itu.." Raksa hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat tingkah sang putra, dia sama seperti dirinya kalau sudah mencintai.
"Seperti nya putra mu yang dingin dan kaku itu berhasil di cairkan oleh putri ku." Celetuk Rafi yang membuat Raksa terkekeh.
"Iya, gak tau sejak kapan dia jadi bucin gitu sama Alisa. Tapi kayaknya, setelah waktu itu kita tinggal ke luar kota deh."
"Syukur banget kalau Jimmy bisa nerima Alisa dengan baik, kalau aja sampai sekarang dia belum luluh juga, aku pastikan Alisa aku bawa pulang sekarang juga." Ucap Rafi.
"Haha, tapi kamu liat sendiri bagaimana bucin nya Jimmy pada Alisa saat ini. Jadi, jangan mimpi untuk memisahkan mereka." Tegas Raksa.
"Tentu saja aku tak berniat melakukan hal itu, untuk apa menyakiti putri ku sendiri? Susah payah aku membujuk nya agar mau menerima perjodohan itu, masa sekarang aku memisahkan mereka? Jangan konyol."
"Ya kali aja, mengingat sikap mu yang ketus pada Jimmy." Ucap Raksa, kedua pria paruh baya itu memilih duduk bersantai di temani secangkir kopi hitam di teras mansion miliknya.
"Haha, maafkan aku. Ini akibat dari jatah ku yang berkurang." Jawab Rafi sambil tertawa.
"Aku juga kalau puasa bawaan nya suka uring-uringan terus, pusing kepala atas bawah ya gak?"
"Bener, Sa. Mana lama bener lagi, Alina tuh kalo dateng bulan suka lama, semingguan kadang lebih." Keluh Rafi.
__ADS_1
"Ya sama, Larissa juga semingguan kalo datang bulan tuh. Kayaknya rata-rata wanita kalo dateng bulan pasti semingguan."
"Ada yang cuma tiga hari sih, tergantung cewek nya." Sahut Rafi.
"Eehh, by the way apa mereka sudah unboxing?" Tanya Rafi penasaran.
"Ya mana aku tahu," Raksa menanggapi pertanyaan sahabatnya dengan santai.
"Yeehh, kalian kan tinggal serumah. Ya masa gak keliatan gitu."
"Aku tidak kepo pada urusan anak-anak, tidak seperti dirimu, Fi." Sindir Raksa membuat Rafi mencebik.
"Gak penasaran gitu? Kalo kita tau mereka udah anu apa belum, kita kan bisa berharap buat segera menimang cucu. Jimmy putra tunggal, Alisa juga. Jadi hanya mereka harapan kita."
"Iya juga sih, tapi gak tau lah. Soalnya Alisa sama Jimmy gak keliatan berubah, tapi gak tau kalo unboxing nya pas aku sama Larissa ke London waktu itu." Ucap Raksa sambil terlihat mengingat-ingat.
Kalau di pikir-pikir, benar juga sih. Perubahan sikap Jimmy pada Alisa itu terjadi sejak dia dan Larissa meninggalkan sejoli itu berdua di mansion, sedangkan dirinya dan Larissa ke luar negeri untuk urusan bisnis.
Hanya satu minggu saja, tapi saat mereka pulang keadaan sangat berubah 180 derajat, apalagi pada Jimmy. Kalau Alisa tak terlihat perbedaan yang terlalu kentara, tapi Jimmy? Yaaahh seperti yang bisa dia lihat saat ini, Jimmy terkena virus bucin akut.
"Untuk pastinya, kenapa gak di tanyain aja?" Usul Raksa membuat Rafi menatap horor teman nya.
"Udah tuir juga, masa kagak ngerti sih. Kalo di tanyain langsung, yang ada mereka malu nanti. Belum lagi istri-istri kita yang pasti akan ikut menyerang kita."
"Bener juga sih, terus gimana dong?" Tanya Raksa lagi.
"Ohh, jadi berduaan di luar tuh berghibah ya? Mana yang di ghibahin itu menantu sama anak sendiri, astaga sadar diri udah tua." Ucap Larissa sambil berkacak pinggang, Raksa menoleh lalu tersenyum ke arah sang istri yang terlihat geram atas ulahnya.
"Aaahhh Mama, sakitt…" Raksa memekik saat Larissa menarik telinga nya.
"Rasain, ghibah mulu."
Rafi tergelak melihat sahabatnya kalah di depan istrinya, tapi sedetik kemudian dia bungkam seribu bahasa saat melihat Elina juga keluar dengan wajah geram nya, lalu melakukan hal yang sama seperti Larissa.
"Loh loh, ini kenapa pada di jewer gini? Mereka nakal ya, Ma?" Tanya Alisa sambil terkekeh melihat ekspresi kedua pria paruh baya itu. Jimmy juga menyusul karena dia tak bisa berjauhan dari Alisa, maunya ngintil terus.
__ADS_1
Dia nampak menguluum senyum saat melihat papa dan papa mertua nya kesakitan, ingin nya sih dia tertawa terbahak-bahak, tapi dia tak mau kualat nantinya karena sudah tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Nakal banget ini tuh, gini nih kalo udah kumpul pasti ghibah."
"Emang ghibahin apa sih, Ma?" Tanya Alisa yang membuat Larissa menoleh.
"Memang nya topik apa yang begitu menarik perhatian mereka? Tentu saja kamu dan Jimmy, sayang."
"Lho kok Jimmy, kenapa?" Kali ini Jimmy yang mengeluarkan suara nya.
"Tanyain aja sama mereka." Larissa dan Alina pun membawa Alisa masuk. Jimmy juga malah ikut masuk, seperti nya dia memihak pada wanita karena ada Alisa.
Kedua pria itu kompak mencebikkan bibir mereka, telinga memerah saksi dari peringatan istri-istri galak mereka. Raksa mengusap telinga nya yang terasa panas, begitu juga Rafi.
"Jimmy bukan nya ada di pihak kita karena dia berbatang, eehh malah ngikutin kaum berlubang." Celetuk Rafi masih meringis kesakitan karena ulah istrinya.
"Ya berabe nanti, kalo gak di kasih masuk lubang kan bahaya. Bisa-bisa dia uring-uringan nya ke balapan liar lagi."
"Emang Jimmy udah tau rasanya masuk lubang?"
"Dah lah, gak usah mancing-mancing perghibahan dah. Gak mau kalau harus di jewer lagi, ini juga masih sakit." Celoteh Raksa, membuat Rafi menutup mulutnya. Dia juga tak mau kembali di jewer istrinya karena ketahuan berghibah.
......
🌻🌻🌻🌻
inget ya bestie, ghibah itu tak mengenal usia🤣
.......
hari ini author bawa rekomendasi karya temen author lagi lho, ayoo pada mampir😚
Pernikahan Salsa karya kak Zaenab Usman😚🌻
__ADS_1