
Satu Minggu kemudian..
Hari ini adalah hari dimana semua siswa merayakan hari kelulusan mereka. Alisa lulus dengan nilai terbaik, dia mendapatkan predikat juara umum. Beberapa kali dia naik podium dan menerima beberapa hadiah, berupa uang dan beberapa keperluan lain nya.
Jimmy tersenyum penuh kebanggaan saat melihat istrinya memberikan kata-kata sambutan dengan suara lembutnya. Beberapa kali, dia mengusap ujung mata nya yang tiba-tiba saja berair. Betapa bangga nya Jimmy punya istri secantik dan sepintar Alisa.
Alisa turun dari podium, dia langsung menghambur memeluk suaminya yang sudah berdiri menyambutnya.
"Aku bangga padamu sayang, sangat bangga." Bisik Jimmy di telinga Alisa.
"Terimakasih."
Jimmy melerai pelukan nya lalu mencium singkat kening istrinya, tak lama kemudian datang seseorang yang membuat Jimmy langsung menyembunyikan Alisa di belakang tubuhnya.
"Mau apa kau kesini hah?" Sewot Jimmy membuat pria itu terkekeh.
"Santai saja, aku hanya ingin menyampaikan ucapan selamat ku pada Alisa." Denis mengulurkan satu buket bunga mawar ke arah Alisa, tapi sepertinya gadis itu tak mau menerima nya, terlihat dari ekspresi nya yang ketakutan, bahkan meremaas jas milik suaminya.
"Jangan dekat-dekat dengan Alisa atau kau akan berurusan dengan ku." Farhan maju, dia berdiri gagah di depan Jimmy. Seolah melindungi pemimpin nya, lalu di ikuti Dian dan Dery juga Aldi.
"Haha, kalian terlihat sangat waspada padahal niatku datang kemari dengan tujuan baik."
"Ckk, pria selicik kau apa bisa berbuat baik? Sulit di percaya." Ucap Dian, dia menyedekapkan tangan nya di dada, melirik sinis ke arah Denis yang masih berdiri di depan mereka.
"Terserah kalau kalian tidak percaya, aku hanya ingin memberikan bunga ini sebagai hadiah kelulusan."
"Alisa tak memerlukan bunga dari mu, aku mampu membelikan Alisa bunga yang jauh lebih besar dari pada yang kau berikan!" Ucap Jimmy geram, sedangkan Alisa sudah menggenggam erat tangan Jimmy. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan saat dia di culik, lalu beberapa kali pria itu menyakiti fisik nya, menunjukkan sifat aslinya muncul saat ini, itu membuat dia ketakutan.
__ADS_1
"S-ayang.."
"Jangan takut, kami akan melindungi mu sayang." Lirih Jimmy, karena tak ada orang selain mereka di tempat ini. Meski masih di aula sekolah tepatnya di lapangan basket, tapi tempatnya di pojokan jarang ada orang yang datang kesana. Hanya ada Jimmy, Alisa, Farhan, Dian, Dery, Aldi dan juga tamu tak di undang yakni Denis yang datang sendirian.
"Bisakah akhiri semua ini, dada ku terasa sakit sekali."
"Sayang, kamu akan baik-baik saja." Ucap Jimmy khawatir, dia berbalik dan memeluk tubuh istrinya yang bergetar hebat karena menahan takut.
"Mana Eva, Han?"
"Lagi sambutan di depan, Alisa kenapa?"
"Gue takut penyakit Alisa kambuh lagi, Han. Gue duluan ya, khawatir banget." Ucap Jimmy lalu menggendong Alisa ala bridal style. Wajah gadis itu sudah pucat karena menahan sakit di dada nya.
"Alisa, tunggu sebentar.."
"Penyakit apa?"
"Alisa kalo ketakutan suka mimisan, pingsan. Dia punya trauma, apa Lo tau penyerangan di jalan waktu itu membuat Alisa shock? Nyawa nya hampir aja dalam bahaya seandainya Jimmy terlambat 5 menit saja." Jelas Farhan. Membuat Denis terlihat sangat terkejut.
"Dan Lo tau apa? Sumber trauma yang di alami Alisa adalah Lo, Denis. Maka dari itu, gue minta stop ngejar Alisa. Biarin dia bahagia sama Jimmy, laki-laki pilihan dia. Lo gak berhak misahin mereka, meskipun Lo cinta sama Alisa!"
"Gue cuma berjuang dapetin apa yang seharusnya gue dapetin!" Ucap Denis masih terbesit dalam pikiran nya untuk kembali menculik Alisa dan membawa nya ke luar negeri bersama nya.
"Jangan pernah berpikir buat bawa Alisa kami dari Jimmy, Lo terobsesi sama Alisa. Itu bukan cinta,"
"Ckk, gue bakal usaha lebih keras lagi." Denis berdecak lalu tersenyum sinis.
__ADS_1
"Gak bisa di bilangin nih anak, gue rasa Alisa gak bakal liat perjuangan Lo itu, Den. Lo liat barusan? Bahkan Alisa takut liat wajah Lo, soalnya wajah Lo kayak setan." Kali ini Dian yang angkat bicara, dia kalau ngomong kebanyakan bener nya.
Denis hanya menatap punggung Jimmy yang membawa Alisa berjalan cepat ke arah keramaian dengan sendu. Haruskah dia mengakhiri perjuangan nya? Perjuangan yang sedari awal pun sudah sia-sia.
"Gue cabut duluan."
"Pergi aja, dari tadi gak ada yang nunggu Lo dateng kok. Lo tuh kayak musibah, yang bikin hati orang seneng jadi sedih." Celetuk Dian lagi, semakin membuat Denis merasa kecil.
Ya, dia bertekad menyudahi obsesi nya untuk memiliki Alisa. Seperti nya yang di katakan Farhan juga Harry ada benarnya, dia harus mengakhiri semua nya dan mengikhlaskan Alisa bahagia dengan Jimmy, pria yang menjadi pilihan nya. Mereka terlihat saling mencintai sekarang, jadi tak ada alasan apapun untuknya terus memperjuangkan Alisa.
Jimmy berlari membawa istrinya ke UKS, dia membaringkan Alisa di ranjang kecil itu dengan perlahan.
"Istirahat aja ya?"
"Tapi, acaranya masih lama kan?" Tanya Alisa.
"Gapapa, kamu disini aja ya. Aku temenin kamu, kalau enggak aku panggil Eva."
"Gak usah, aku mau sama kamu aja." Jawab Alisa dengan cepat.
"Tidur aja ya, aku janji gak bakal ngapa-ngapain kamu kok."
"Dihh, otak nya mesuum mulu kamu mah." Alisa mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan suaminya. Ada-ada saja Jimmy ini, apapun kondisi nya messum adalah nomor 1. Alisa tak menyangka kalau Jimmy bisa semesuum ini setelah menikah, padahal dulu dia tak terlihat menyukai wanita.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1