
Denis kembali datang ke apartemen dengan wajah yang lebih tenang dari pada tadi, dia membawa banyak paperbag di tangan nya.
"Wihh, bawa apa tuh?" Tanya Ayuna yang terlihat antusias, tapi sayang hanya mendapatkan delikan sebal dari Denis.
"Makanan kesukaan Alisa." Jawab Denis membuat senyum di bibir Ayuna redup seketika.
"Buat aku, ada?"
"Gak, beli aja sendiri." Ketus nya dan pergi berlalu ke kamar nya. Kamar yang biasanya Denis bagi bersama Ayuna, tapi kini ada Alisa di dalam nya, terpaksa lah Ayuna harus pindah ke kamar tamu.
"Ckkk, sialan. Makanan kesukaan Alisa katanya, apa dia gak memikirkan orang lain? Disini bukan hanya ada dirinya sendiri dan Alisa." Gerutu Ayuna, dia memilih bangkit dari kursi dan memanggil Jian. Sejak hari itu, Ayuna dan Jian sering bertemu secara diam-diam di belakang Denis.
Di kamar, Alisa meringkuk sambil menyembunyikan wajah nya di antara kedua lutut nya, dia menangisi nasib nya yang harus di bawa oleh Denis. Bagaimana Jimmy? Apakah suaminya itu baik-baik saja? Membayangkan seperti apa keadaan suaminya saja membuat hati Alisa terasa sangat sakit.
Dia sudah berjanji pada Jimmy takkan pernah meninggalkan nya, tapi sekarang? Dia malah berada disini, sedangkan suaminya pasti sedang mencari nya kemana-mana.
"Jim, cepat jemput aku dari sini. Disini aku sendirian dalam ketakutan, aku merindukan pelukan mu yang selalu menenangkan aku, jemput aku segera, sayang." Gumam Alisa.
Ceklek..
Pintu terbuka, Denis masuk dengan senyum secerah matahari pagi. Dia mendekat, namun Alisa langsung menjauh dengan raut wajah takut.
"Jangan takut, aku masih Denis yang dulu. Aku hanya menunjukkan sedikit sisi buruk ku padamu, cantik."
Alisa bergidik ngeri mendengar ucapan Denis yang terdengar seperti ancaman. Alisa diam membisu, dia tak mengeluarkan suara nya sedikit pun.
"Aku membawa makanan favorit mu, makanlah. Kau pasti lapar kan?"
"Tidak." Jawab Alisa singkat tanpa menatap Denis.
"Cepatlah makan, nanti kau sakit. Bukankah dulu kau sangat suka makan? Apalagi mie ayam bakso?" Tanya Denis, dia berusaha meraih wajah Alisa. Namun dengan cepat, gadis itu menjauhkan wajahnya dari Denis.
Dia tak mengenal Denis yang saat ini berada di depan nya, Denis yang dulu tak seperti ini. Dia pria yang lembut dan penuh perhatian, tapi kenapa dia berubah? Itu karena obsesi nya untuk memiliki Alisa.
"Ayo makan, jangan memancing amarah ku, Alisa."
"Tidak, aku tak sudi makan apapun dari tangan mu." Jawab Alisa tanpa menatap Denis.
__ADS_1
"Jadi, kau mau apa?" Tanya Denis, dia masih berusaha bersabar menghadapi gadis cantik di depan nya.
"Aku mau Jimmy."
Singkat, padat dan jelas. Air muka Denis berubah, dia membanting makanan yang dia beli untuk Alisa, hingga membuat makanan itu berhamburan dari wadah nya. Alisa tak terkejut sama sekali, dia sudah menduga makanan itu akan jadi sasaran kemarahan nya.
Setelah puas membuat kamar berantakan, Jimmy pun pergi dari kamar itu. Dia berniat akan melampiaskan amarah nya pada Ayuna, tapi pintu kamar tamu di kunci. Artinya Ayuna sedang sibuk dengan aktivitas nya.
"Ayuna, buka!" Teriak Denis di depan pintu, membuat pasangan yang sedang bergumuul dalam pertarungan hebat mereka panik seketika, terutama Jian yang belum ingin kehilangan pekerjaan nya.
"Jangan panik sayang, ayolah lanjutkan saja." Bujuk Ayuna.
"Tapi, tuan ada di luar."
"Sudahlah, sebentar lagi aku keluar." Ucapnya lagi, dia mengalungkan kedua tangan nya di leher Jian, dengan senyum menggoda, membuat Jian melupakan rasa takutnya dan kembali mencumbu Ayuna, kembali menggerakan tubuh nya dengan kecepatan sedang.
"Ayuna, kau sedang apa di dalam hah?" Teriak Denis lagi, tapi Ayuna dan Jian sama-sama tak peduli, mereka tenggelam dalam kenikmatan yang di hasilkan dari dua anggota tubuh berbeda jenis yang menyatu. Bunyi ciplaakan pertemuan kulit pun mewarnai ruangan itu, Ayuna mendesaah nikmat di bawah kungkungan Jian. Dia benar-benar melupakan Denis dan siapa pria itu.
"Aahhh sial.." Denis merutuk, akhirnya tempat yang dia tuju adalah bar kecil yang berada dekat dengan dapur, Denis mengambil satu botol minuman dengan kadar alkohol paling tinggi lalu meminum nya dengan rakus.
Satu botol itu habis, tandas hingga ke tetes terakhir. Denis mabuk berat, dia berjalan sempoyongan dan merebahkan tubuhnya di sofa. Samar-samar, dia melihat Jian keluar dari kamar Ayuna dengan mengendap-endap, sebelum kesadaran nya hilang.
"Lho, Jim kok sendiri? Alisa mana, tadi kalian pergi bareng kan?" Tanya Larissa sambil celingukan mencari keberadaan menantu nya, tapi hingga beberapa menit kemudian, dia tak muncul juga membuat Larissa menatap sang putra dengan sorot mata yang sulit di artikan.
"Mana Alisa?" Tanya Larissa mengguncang tubuh Jimmy karena pria itu tak kunjung menjawab.
"A-alisa di culik musuh, Ma." Jawab Jimmy akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian nya.
"Apa!" Teriak Larissa dan Raksa bersamaan.
Jimmy menunduk, sedetik kemudian kedua nya bisa melihat bahu Jimmy bergetar, putra mereka menangis?
"Sayang, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Larissa lembut.
Jimmy mendongak dengan kedua mata yang memerah dan sembab, sedari tadi dia terus menangisi sang istri yang entah dimana keberadaan nya, belum ada informasi apapun dari Dian dan Dery juga Aldi mengenai misi yang dia berikan.
Pria itu menjelaskan semua nya tanpa terlewat sedikitpun. Larissa dan Raksa mendengarkan dengan seksama cerita Jimmy, lalu mereka bisa memetik kesimpulan.
__ADS_1
"T-api Jimmy mencurigai seseorang, Ma, Pa. Jadi, bantu Jimmy buat nemuin Alisa." Lirih Jimmy, membuat Raksa menepuk pelan punggung sang putra.
"Pasti papa akan membantu mu, kuatlah. Anak jantan tak menangis, kalau Alisa melihat mu seperti ini pasti dia akan menertawakan kamu."
"Apa Jimmy harus tertawa sekarang, Pa? Jimmy gak tau Alisa lagi apa sekarang, dimana dia, Jimmy takut dia akan melukai istri Jimmy." Keluh Jimmy, air mata nya kembali menangis membasahi wajah nya.
Tak berbeda jauh dengan Alisa, saat ini dia tengah menangis sesenggukan di kamar, dia begitu merindukan Jimmy, sosok suami yang begitu hangat. Apalagi dekapan hangat sang suami, ini membuat air mata Alisa berebut keluar dari pelupuk mata nya.
Denis masuk dengan wajah kusut nya, dia melihat Alisa menangis, jelas saja dia panik.
"Kenapa menangis? Masih pagi untuk merenungi nasib mu, cantik." Tanya Denis sambil duduk di sisi ranjang, semalaman Alisa tak bisa tidur. Dia benar-benar tak memejamkan mata sedetik pun kecuali saat berkedip, dia terus memikirkan Jimmy.
"Kamu ingin makan? Dari kemarin kamu belum makan sama sekali, apa tidak lapar?" Tanya Denis, Alisa mendongak menatap wajah tampan di depan nya. Aroma alkohol masih tercium, membuat Alisa mual.
"Jangan dekat-dekat, bau!"
"Aku sudah mandi, kalau ada yang bau, itu pasti kau." Tuduh Denis sambil menciumi tubuhnya.
"Huaaa, aku mau Jimmy!" Alisa menangis kejer, membuat Denis menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Serumit inikah menghadapi gadis bucin pada suaminya? Astaga, dia tak memperhitungkan kerumitan ini.
"Haisshh, diamlah. Jimmy mu mungkin saja sudah mendapatkan pengganti mu sekarang!" Pancing Denis.
"Tidak, Jimmy ku takkan pernah melakukan hal itu, dia mencintaiku!"
"Buktinya, dia tak datang untuk menjemputmu. Ohh, apa dia mencarimu? Seperti nya tidak, haha."
"Belum, dia belum datang!" Ucap Alisa membantah ucapan Denis, dia takkan mudah terpancing hasutan Denis, karena dia percaya pada suaminya.
"Kau terlalu percaya diri, ingat Jimmy seperti apa dulu!"
"Tidak, aku percaya suamiku takkan melakukan hal semenjijikan itu. Dia pria yang sangat baik, tidak seperti kau, brengseek!" Ucap Alisa, membuat Denis bungkam lalu pergi dari ruangan itu dengan perasaan gondok, karena usaha nya untuk membuat Alisa melupakan suaminya gagal total.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
jangan lupa mampir di karya temen author😚😚
__ADS_1
Pemandu Hati karya kak Chika ssi😚😚