Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Jepit Rambut Untuk Alisa


__ADS_3

Jimmy masih betah dengan kegiatan, menyusu seperti bayi kecil pada istrinya. Sedangkan Alisa pun memilih membiarkan, toh pria bernama Jimmy itu paling tak suka jika keinginan di cegah. 


Hingga setengah jam kemudian, barulah pria itu mendongak menatap Alisa yang ternyata sudah tertidur pulas. Sudut bibir Jimmy terangkat saat melihat wajah cantik sang istri. 


"Lagi nyusu, malah di tinggal tidur. Istriku ini memang menggemaskan." Gumam Jimmy, dia bangkit dan membenarkan posisi tidur istrinya lalu menyelimutinya hingga ke dada. 


Jimmy mengecup singkat kening lalu bibir Alisa, bahkan bibir itu kini nampak bertambah volume nya karena ulahnya. 


"Selamat tidur, istriku." Gumam Jimmy, mengusap lembut kepala Alisa, lalu pergi keluar dari kamar dengan membawa jaket nya. 


Jimmy menuruni anak tangga, di ruang tamu sudah ada Farhan yang sedari tadi menunggu nya. Namun dia tak berani naik ke atas, tepatnya ke kamar Jimmy. Takut mata nya lebih ternoda karena melihat adegan-adegan yang tak patut di lihat oleh dirinya yang jomblo akut.


"Udah selesai ngebucin nya, Jim?"


"Berangkat sekarang atau Lo gue tabok dulu?"


"Eehh, berangkat sekarang aja bos." Jawab Farhan sambil cengengesan, itu adalah pilihan terbaik dari pada harus di tabok oleh tangan Jimmy yang besar itu.


Kedua pria berstatus sepupuan itu berjalan beriringan dengan Jimmy yang berada di depan Farhan, beda lagi status mereka kalau di basecamp, mereka jadi bos dan bawahan.


Mereka pun pergi dengan motor masing-masing, Jimmy memakai jaket lalu helm full face nya dan menyalakan motor nya, lalu menekan gas dengan tangan nya. Motor itu pun melaju dengan kecepatan tinggi, menjauhi rumah mewah keluarga Leonard. 


Tujuan Jimmy dan Farhan saat ini adalah basecamp, untuk mendiskusikan tentang pergerakan musuh geng kelelawar. 


Singkatnya, motor kedua pria itu berhenti di depan basecamp yang sudah di perbaiki. Bahkan kali ini, Jimmy melengkapi nya dengan pagar besi dengan kabel listrik di sekelilingnya, bisa di pastikan jika bukan anggota geng kelelawar yang masuk ke dalam bangunan bernuansa serba hitam itu, mereka pasti akan mati tersengat listrik.


Jimmy memarkir kendaraan beroda dua miliknya di samping milik Dery, di ikuti Farhan. Kedua nya berjalan dengan langkah tegap mereka, membuat para anggota geng yang sudah berkumpul langsung berdiri dan memberi hormat pada Jimmy dan Farhan. Selaku ketua dan wakil ketua geng kelelawar.


"Selamat malam, bos Jimmy." 


"Hmmm.." jawab Jimmy, hanya dengan deheman saja. Dia terus melangkah dengan wajah super duper datar nya, dia sedang dalam mode serius saat ini.


Jimmy duduk di posisi ketua, meja panjang dengan kursi yang di isi oleh para anggota yang siap melakukan rapat penting malam ini. 


"Bagaimana pergerakan musuh, Dian?" Tanya Jimmy sambil bersedekap dada, kedua mata nya mengintai ke arah anggota geng nya.


"Ada sesuatu yang janggal bos, karena ketua mereka mati tertusuk, tapi geng itu masih beroperasi dan membuat resah warga karena sering membegal." Jelas Dian, dia mendapatkan informasi yang jelas dari salah satu anggota geng lawan yang berhasil dia tangkap saat itu.


"Lalu?"


"Seperti nya, mereka sudah memiliki ketua baru. Tapi sayang, sebelum orang itu menyebutkan ketua baru mereka, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara menusuk perutnya, bos." Jelas Dian lagi, Jimmy manggut-manggut mendengar penjelasan anggota kepercayaan nya setelah Farhan.


"Kirim orang-orang kepercayaan mu untuk menyelidiki tentang musuh, ingat jangan sampai lengah." 


"Baik bos."


"Dery, apa kau bisa di andalkan?" Tanya Jimmy menatap ke arah Dery yang sedang dalam mode serius nya. 


"Tentu saja bos, apa tugas saya?" Tanya Dery. Sifat konyol nya hilang untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Buatkan kopi dan bawakan rokok." Jawab Jimmy membuat Dery mendengus, tadinya dia sudah berharap akan di berikan tugas seperti Dian, tapi apalah daya. Dia hanya di suruh membuatkan kopi dan membeli rokok. 


"Baik bos." Jawab nya lesu, lalu pergi dari meja panjang itu. 


Jimmy menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam, dalam hatinya dia mengkhawatirkan Alisa yang tadi dia tinggalkan saat gadis itu sedang terlelap. 


"Kenapa bos? Ada masalah?" Tanya Farhan, Jimmy menggelengkan kepala nya. Lalu menyesap kopi nya yang sudah tersaji di depan mata, juga menyalakan rokok yang di apit di antara kedua jarinya.


Rapat itu terus berlanjut di basecamp geng kelelawar. Sedangkan di rumah, tepatnya di kamar Jimmy, Alisa membuka kedua mata nya. Dia bangkit dari tidurnya lalu mengucek mata nya perlahan, lalu mengedarkan mata nya ke seluruh penjuru ruangan.


"Uumm, Jimmy kemana ya? Perasaan tadi dia lagi nyusu deh, tapi sekarang gak ada." Gumam Alisa sambil merapikan pakaian nya, mengaitkan kembali braa nya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, tiba-tiba saja perutnya terasa lapar. 


Alisa mencuci muka nya di wastafel, dia menatap wajahnya di pantulan cermin, dia meraba lehernya yang sedikit terasa sakit juga perih. Dia melihat ada satu tanda kemerahan yang dibuat Jimmy, lalu menyibak pakaian nya. Saat itu juga dia dibuat melotot saat melihat penampakan dada nya di cermin. 


"Ya ampun, kelakuan si Jimmy bikin jantungan aja!" Ketus Alisa. Bagaimana tidak, dia membuat banyak sekali tanda kemerahan yang menyebar di kedua bukitan kenyal miliknya, bahkan putting nya saja terasa kebas karena terlalu lama di hisap oleh bayi besar yang berstatus suaminya.


Alisa menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu kembali menutupi buah kenyal nya dengan kaos yang dia pakai, rasanya cukup sakit dan perih, sama seperti satu tanda kemerahan yang ada di lehernya, masih menyisakan rasa sakit juga perih.


Gadis itu memutuskan keluar dari kamar menuju dapur untuk makan malam yang di rasa sudah cukup terlambat. 


"Baru turun sayang?" Sapa Larissa saat melihat menantu nya turun dari kamar, sebagai basa-basi saja. 


"Iya, Ma. Lihat Jimmy gak?"


"Lho, bukan nya tadi sama kamu di kamar?" 


"Tadi sih iya, Ma. Tapi Alisa ketiduran, jadi gak tau Jimmy kemana, pas Alisa bangun dia udah gak ada di kamar." Jelas Alisa.


"Iya Ma, Alisa laper." Ucap Alisa sambil tersenyum kecil.


"Ayo makan, tapi mama sama papa udah makan duluan tadi."


"Gapapa kok Ma, Alisa makan sendiri aja." Jawab Alisa, lalu dia pergi ke dapur dan memulai makan malam terlambatnya dengan lahap. Meski pikiran nya tetap tertuju pada suaminya, yang entah dimana dan sedang melakukan apa.


'Dimana pun Lo sekarang, semoga Lo baik-baik aja, Jim.' Batin Alisa di sela makan nya. 


Di basecamp, Jimmy baru saja selesai dengan rapatnya, dia pun memutuskan untuk pulang. 


"Rapat selesai, bubar." Ucap Jimmy, dia berbalik lalu menaiki motor besarnya dan melajukan nya menjauhi basecamp, tentunya dengan di ikuti Farhan di belakang Jimmy.


Di perjalanan, Jimmy menghentikan laju motor besar nya di sebuah minimarket di pinggir jalan. Dia ingin membeli suatu barang, tentunya Farhan juga ikut menghentikan motornya dan mengikuti kemana saja Jimmy melangkah tanpa diminta. 


Jimmy menemukan barang yang dia butuhkan, tapi saat dia melirik ke arah etalase yang menjual aneka accesoris untuk wanita. Jimmy malah salfok dengan jepitan yang menurutnya sangat bagus, dia mengambilnya dan menunjukan nya pada Farhan.


"Bagus gak?"


"Bagus, tapi Lo beli buat apaan? Gak mungkin Lo pake sendiri kan?" Tanya Farhan dengan wajah bodoh nya, membuat Jimmy gemas, ingin sekali dia mencubit ginjal sepupu nya itu.


"Lo pura-pura bodooh atau beneran bodooh? Buat Alisa lah, masa gue pake ginian." 

__ADS_1


"Ohh iya, sorry gue lupa kalo Lo dah punya bini." Jawab Farhan sambil cengengesan, dia menggaruk kepala nya yang terasa gatal karena mendapat tatapan tajam dari mata elang Jimmy.


Jimmy pun membeli jepit rambut itu dan akan memberikan nya pada Alisa nanti.


'Gak sabar liat Alisa pake ini jepitan, pasti cantik banget deh.' Batin Jimmy, lalu tersenyum kecil saat membayangkan Alisa memakai jepitan yang dia beli. 


"Jepitan doang harga nya tiga ratus rebu, gilee. Di buat nya dari apa ya?" Celetuk Farhan saat melihat bandrol jepit rambut yang di beli Jimmy.


"Air mata buaya." Jawab Jimmy datar, lalu pergi meninggalkan Farhan yang masih menunjukan wajah cengo nya saat mendengar jawaban Jimmy. Sejak kapan air mata buaya bisa di buat jepitan rambut? Aihh, memikirkan nya saja membuat Farhan pusing sendiri.


Farhan pun kembali menaiki motornya dan mengikuti Jimmy, tentunya dengan kecepatan tinggi karena kalau tidak begitu, Jimmy pasti takkan bisa di kejar.


Singkatnya, Jimmy pun sampai di rumahnya. Dia membuka helm full face nya dan masuk ke rumah setelah mencabut kunci motornya.


"Dari mana Jim?" Tanya Raksa, dia sedang menonton siaran sepak bola luar negeri di televisi.


"Basecamp." Jawab Jimmy singkat lalu tanpa kata, dia pergi ke kamarnya dengan meniti satu persatu anak tangga.


Jimmy membuka pintu kamar nya, dia melihat lampu nya masih menyala, berarti Alisa belum tertidur.


"Dari mana Lo?" Tanya Alisa dari ambang pintu kamar mandi, seperti nya dia baru saja dari kamar mandi, entah untuk apa.


"Basecamp."


"Harusnya Lo kalo pergi bilang dulu, Jimmy." 


"Lo kan molor tadi." Jawab Jimmy tak mau kalah. 


"Punya hape buat apa sih? Harga nya aja yang mahal, tapi gak mampu ngirim pesan." Sindir Alisa, membuat Jimmy terkekeh. Dia tau Alisa nya sedang khawatir. 


"Khawatir?"


"Jelas iya, gue khawatir anjir pake nanya lagi." Ketus nya sambil memalingkan wajahnya.


"Yaudah, sekarang gue dah balik. Lo mau ngapain hmm?"


"Perut gue sakit, jadi pengen tidur aja tapi sambil di peluk." Jawab Alisa, kedua mata nya mengerjap lucu, membuat Jimmy gemas.


"Gak usah gemesin bisa? Gue makan Lo."


"Dih, perasaan gue gak bertingkah." Ucap Alisa sambil memikirkan, kiranya dimana tingkahnya yang menggemaskan di mata Jimmy?


"Udah, gak usah mikir. Ayo tidur, udah malem. Besok sekolah, ada tugas gak sih?"


"Udah gue kerjain sekalian tadi." Jawab Alisa, membuat Jimmy tersenyum senang. Dia memeluk Alisa dan keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan seperti setiap malam nya. 


Alisa menduselkan wajahnya di dada bidang Jimmy, menghirup aroma yang membuatnya kecanduan dengan wangi tubuh suaminya, membuatnya nyaman dan tidurnya selalu lebih nyenyak karena pelukan hangat Jimmy.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2