
Jimmy dan Alisa berjalan beriringan, beda nya adalah karena Jimmy yang terlihat menggandeng tangan Alisa, seolah menegaskan bahwa gadis yang saat ini dia genggam adalah miliknya.
Sepanjang lorong menuju ke kelas, keduanya sukses mendapatkan tatapan iri, karena wajah Jimmy nampak lebih bersahabat pagi ini.
Di belakang pasangan itu, ada Eva, Harry dan juga geng Jimmy, siapa lagi kalau bukan trio macan. Farhan, Dery dan Dian. Sedangkan Aldi masih belum datang, entah kemana.
Semua murid berkasak kusuk, karena ini adalah pertama kalinya melihat Jimmy datang dengan bergandengan tangan mesra.
"Eemm, aku duduknya sama Eva ya.." pinta Jimmy.
"Kenapa?"
"Ya, kalo aku di sini terus gak keliatan papan tulis nya." Jelas Alisa, cukup masuk akal juga.
"Yaudah, jangan nakal." Tegas Jimmy, membuat Eva melongo tak percaya, apalagi saat mendengar cara mereka bicara satu sama lain. Biasa nya Lo gue, kok sekarang aku kamu, aneh ya.
"Iya."
"Yaudah, aku ke belakang dulu." Alisa mengangguk, dia duduk di samping Eva sedangkan Harry mundur lagi ke belakang.
"Napa kemaren gak sekolah, bep?" Tanya Eva pelan.
"Sakit." Jawab Alisa singkat tanpa menoleh ke arah sahabatnya.
"Sakit apaan? Kok bisa barengan sama Jimmy gak masuk nya?" Tanya nya lagi, membuat Alisa akhirnya menoleh ke arah Eva yang terlihat sangat penasaran. Eva adalah tipe gadis penasaran, kalau belum mendapatkan jawaban yang dia inginkan, bisa di pastikan dia akan terus bertanya hingga ke akarnya kalau perlu.
"Kaki gue sakit, jadi gak bisa jalan." Jawab nya asal, dia memang tak bisa berjalan kemarin. Tapi bukan karena kaki nya yang sakit, tapi selangkaangan nya yang membengkak karena ulah Jimmy.
"What, kenapa bestie?"
"Biasalah, perang bantal sama Jimmy." Jawab Alisa.
"Tapi, di liat-liat itu Lo keliatan makin gede aja. Udah di grepee-grepee sama si Jimmy ya?" Pertanyaan Eva membuat Alisa melotot lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, khawatir kalau ada yang mendengar ucapan frontal yang keluar dari mulut sahabatnya.
"Hussstt, kalo ngomong jangan keras-keras ege! Itu mulut kebiasaan gak ada rem nya." Kesal Alisa. Tapi Eva hanya nyengir saja.
"Ya maaf, Lo kan tau mulut gue kayak kaleng rombeng."
"Syukur ngaku sendiri, bukan gue yang ngatain yaa, Lo ngaku sendiri." Jawab Alisa sambil terkekeh.
"Iya iya, jadi udah ya?"
__ADS_1
"Cuma di raba doang." Jawab Alisa singkat, lalu tersenyum.
"Wahh, seriusan? Rasanya gimana, enak gak?"
"Enak kok, geli-geli gimana gitu.." jawab Alisa tersenyum jahil.
"Seketika jiwa jomblo gue meronta bestie.."
"Minta sama bokap Lo buat jodohin Lo sama Farhan."
"Idih, gak sama Farhan juga kali." Cetus Eva, sedangkan Alisa sudah tergelak. Dia selalu senang saat menggoda sahabatnya.
"Yaudah, mau nya sama siapa? Harry? Dian atau Dery? Atau Aldi?"
"Sama Jimmy boleh?" Goda Eva sambil menarik turunkan alisnya.
"Ada dua pilihan, mau gue lempar dari sini ke lapangan atau gue pukul pake kursi? Pilih aja."
"Hahaha, gue bercanda kali beb."
"Gak lucu ya, jangan main-main sama laki gue!"
"Lagian Jimmy nya juga belum tentu mau sama Lo, Va."
"Nah bener juga, gue kan kaum kentang." Jawab Eva.
"Hubungan nya apa, sampe bawa kaum umbi-umbian?"
"Enggak deh, btw hari ini apa ada tugas ya? Gue lupa."
"Gak ada, kalo ada gue dah ngingetin Lo dari tadi kali." Ucap Alisa. Eva hanya mengangguk lalu keduanya pun melanjutkan obrolan mereka hingg guru pelajaran pertama masuk dengan menenteng buku di tangan nya.
Jimmy senyam senyum sendiri, wajah nya seketika memerah entah apa yang ada di pikiran nya saat ini. Tapi yang jelas, hal itu membuat Farhan keheranan.
"Bos, Lo gila ya? Gak nyangka, saking pusing nya ngurusin geng serigala, Lo jadi gila gini." Celoteh nya membuat Jimmy menoleh dengan tatapan tajam menghunus nya, membuat nyali Farhan menciut seketika.
"Apa Lo bilang? Gue gila? Lo mau gue buat gegar otak apa gimana?"
Pukk..
Jimmy memukul kepala belakang Farhan dengan buku yang sedang dia pegang, membuat pria itu meringis kesakitan karena pukulan nya cukup keras juga.
__ADS_1
"Sakit elaahh.."
"Harusnya Lo bersyukur, pukulan gitu gak bakalan bikin Lo gegar otak beneran!" Ketusnya.
"Tapi seriusan deh, Lo kenapa? Dari tadi senyam-senyum mulu."
"Kepo, rahasia!" Jawab Jimmy membuat Farhan mendengus. Kalau jawaban nya seperti ini, ya berarti ada hubungan nya dengan Alisa. Karena, jika bukan tentang Alisa, pasti Jimmy sudah menceritakan semua nya.
"Cihh, main rahasia-rahasiaan sekarang mah."
"Emang nya Lo pikir apa yang bisa gue ceritain ke Lo? Lo mana paham, secara kan jomblo abadi." Ledek Jimmy, membuat Farhan mendengus sebal. Bicara dengan Jimmy itu tak bisa santai, pasti saja bisa membuatnya darah tinggi. Kena sindir lah, kena ledek lah, jomblo kan bukan keinginan nya. Dia hanya menunggu orang yang tepat, itu saja.
"Gak usah mikir-mikir terlalu lama, Farhan. Nanti keburu gak ada cewek yang mau sama Lo, nanti jadi bujang lapuk karena gak laku."
"Masa gak laku, gue ganteng gini kok. Gak kalah sama Lo, cuma beda nya Lo tinggi aja kayak tiang listrik." Jawab Farhan dan sukses membuat Jimmy tertawa.
"Si Eva jomblo tuh, gak ada niat pacarin? Cakep juga sih, tapi tetep aja cakepan bini gue kemana-mana." Ucap Jimmy, dengan membanggakan kecantikan istri nya.
"Iya, ibu bos emang cakep sih. Sayang aja gue keduluan."
"Hah, apa Lo bilang? Gue tabok ya!"
"Becanda bos, ampun.."
Alisa menoleh ke belakang karena mendengar keributan dari arah belakang, begitu melihat Alisa berbalik, Jimmy langsung merapikan seragam nya lalu berdehem seolah tak terjadi apa-apa, padahal wajah Farhan sudah cukup mewakili apa yang sudah pria itu lakukan pada teman sebangkunya itu.
Tringg..
Jimmy membuka ponsel nya, dia tersenyum saat melihat pesan yang di kirimkan Alisa padanya. Sungguh, pesan seperti ini saja sekarang bisa membuat hatinya berbunga.
'Jangan berantem terus sama Farhan, kasian dia jadi bahan kegabutan kamu terus. Diem ya, jangan nakal.'
Isi pesan dari Alisa, seperti menasehati anak kecil saja. Tapi cara itu terbukti ampuh, karena Jimmy berubah jadi kalem dan tak berisik lagi. Hingga guru pun tenang menjelaskan materi pembelajaran.
Alisa fokus ke depan, dia harus fokus belajar karena ujian akhir sudah di depan mata. Dia harus lulus dengan nilai terbaik agar kedua orang tua nya bangga.
Alisa bisa fokus belajar jika duduk bersama Eva, berbeda jika dia duduk bersama Jimmy, yang ada di dibuat salting dengan tingkah Jimmy yang menurut nya absurd.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1