
Setelah beberapa menit, akhirnya bel berbunyi pertanda akan di adakan upacara bendera, sudah biasa setiap hari Senin memang selalu di adakan upacara bendera.
Alisa dengan lesu melangkah gontai ke arah lapangan basket, tentunya bersama Eva. Di ikuti Denis dan Harry di belakang nya.
"Sabar ya, ayoo semangat."
"Gak semangat gue lah, lemes gue liat kenyataan." Jawab Alisa lesu.
"Mana pucet lagi, dah sarapan belum?" Tanya Eva. Alisa hanya melirik sekilas ke arah sahabat nya, lalu menggeleng pelan. Meskipun dia membawa bekal dari rumah, tapi mood nya hancur saat melihat suaminya sendiri menerima bekal dari perempuan lain. Apalagi itu perempuan genit yang suka dengan suaminya, dia cemburu? Ya, dia cemburu.
Wanita mana sih yang tidak cemburu saat melihat suaminya menerima bekal dari perempuan lain? Sedangkan dia sudah susah payah membuatkan suaminya bekal.
'Lemes anjir, keknya mau datang bulan lagi nih.' Batin Alisa, sudah biasa jika akan mendekati waktu menstruasi, pasti dia lemas dan esok hari nya pasti bulan itu akan datang.
Singkatnya, upacara bendera pun selesai. Alisa yang lemas berkeringat, membuat Eva khawatir dengan keadaan sahabatnya. Perkara bekal saja bisa membuat sahabatnya seperti ini, bagaimana kalau Jimmy selingkuh? Bisa-bisa Alisa galau tujuh hari tujuh malam.
Tapi, Jimmy yang tak peka malah asik bermain basket, karena setelah upacara biasanya ada jeda 2 jam untuk beristirahat, tapi seperti biasa Jimmy akan berolahraga.
"Cowok Lo tuh, main basket." Tunjuk Eva ke arah Jimmy dengan dagu nya.
"Bisa-bisa nya dia seperti gak punya salah setelah bikin gue cemburu." Jawab Alisa ketus, lengkap dengan bibir yang mengerucut.
Tapi, tiba-tiba saja bola itu melayang ke arah nya dan..
Duakk..
Bola itu mengenai Alisa, tepatnya di hidung nya. Alisa meringis kesakitan dan sedetik kemudian, darah segar mengalir dari hidung nya.
"Alisa, hidung Lo berdarah!" Eva memekik, dia yang notabene nya phobia akan darah langsung histeris.
"H-ah, berdarah ya?" Alisa mengusap pelan ujung hidung nya, benar saja darah menetes langsung dari hidungnya.
Sedangkan laki-laki yang tak sengaja melempar bola ke arah Alisa langsung cengo begitu melihat darah mengucur. Jimmy berlari ke arah istrinya dan membuka jaket nya dan menutup hidung Alisa dengan hoodie nya.
__ADS_1
Gadis itu mendongak dengan wajah pucat dan tatapan heran nya, tapi sedetik kemudian pandangan Alisa mengabur, dia jatuh tak sadarkan diri.
Jimmy langsung menahan tubuh Alisa agar tak jatuh, dia langsung menggendong nya ala bridal style dan berlari membawa nya ke UKS.
"Ikut gua, urusan Lo sama bos Jimmy." Farhan menarik tangan pria yang tadi melempar bola pada Alisa dan membuatnya mimisan.
"Ampun, Han. Gue kagak sengaja."
"Di sengaja atau enggak, Alisa dah mimisan tuh." Jawab Farhan, dia tetap menarik laki-laki itu ke gudang belakang sekolah.
"Emang kenapa sih kalo Alisa mimisan, biasanya juga kalian tuh gak peduli sama dia."
"Asal Lo tau, Alisa itu pacar nya Jimmy." Jawab Farhan membuat laki-laki itu terkejut setengah mati dengan kedua mata yang melotot hampir keluar dari tempatnya.
"Ampun, Han. Sorry, gue gak sengaja demi apapun."
"Ikut gue, gak ada alesan!" Tegas Farhan, lalu kembali menarik tangan nya.
Farhan mengikat kedua tangan dan kaki nya agar tak bisa melarikan diri, gudang itu memang jadi basecamp geng Jimmy, saat ini dia di jaga oleh Dian dan Dery yang kompak menatap nya dengan tajam, membuat nyali nya ciut.
"Doni." Jawabnya pelan.
"Oke, Lo tunggu aja disini. Siap-siap buat di tabok bos Jimmy yaa."
Farhan merogoh saku nya dan mengetikan pesan pada Jimmy.
'Doni di basecamp, siap di eksekusi.' Isi pesan yang di kirim oleh Farhan pada Jimmy. Eksekusi? Kayak mau di bunuh aja dah.
Sedangkan di UKS, Jimmy menatap penuh ke khawatiran pada Alisa yang masih belum bangun juga.
"Bby, bangun dong." Jimmy menggenggam tangan Alisa yang lemah.
Tak lama kemudian, pintu ruangan UKS terbuka. Eva masuk dengan wajah kusut nya, dia mendekat dan mengatakan kalau Denis memaksa kesini.
__ADS_1
"Jim, sebaiknya Lo buru-buru keluar dah. Si Denis mau kesini."
"Terus? Hak Lo nyuruh-nyuruh gua apa?" Tanya Jimmy santai.
"Ya biar dia gak curiga sama hubungan kalian, itu doang."
"Gak usah ikut repot, Alisa cewek gue. Biarin aja kalo sampai dia tau pun gue gak masalah, biar dia tau kalo Alisa milik gue!" Jawab Jimmy tegas.
"Ohh yaudah, kalo gitu cepet publish aja biar gak ada yang berani macem-macem sama cewek Lo, termasuk si ulet bulu."
"Ulet bulu, sape?" Tanya Jimmy membuat Eva memutar mata nya jengah. Ini kali pertama nya dia bicara banyak dengan Jimmy, biasanya dia tak berani bicara lama-lama dengan pria itu karena terlalu takut.
"Ayuna lah, siapa lagi." Jawab Eva.
"Oohh, yaudah gue keluar dulu ada urusan. Jagain bini gue, kalo sampe tuh laki deketin Alisa, habis Lo."
"Anjir main ancam gitu aja. Sini keluar, biar gue yang jagain Alisa." Jawab Eva sedikit mengusir Jimmy.
Jimmy keluar dengan langkah tegap dan wajah datar nya. Kedua tangan nya dia selipkan di saku celana nya. Tatapan nya lurus ke depan, aura kemarahan sangat terasa jika berdekatan dengan Jimmy.
"Hai Jim."
"Minggir.." Jimmy mendorong Ayuna hingga gadis itu terjerembab ke lantai, tapi pria itu sama sekali tak peduli pada Ayuna yang saat ini meringis kesakitan sambil memegangi lutut nya.
Jimmy meneruskan langkah nya, tak peduli dengan Ayuna yang terus saja memanggil nya. Jimmy membuka pintu gudang belakang, seketika suasana terasa sangat mencekam. Apalagi bagi Doni, tersangka dari kasus hari ini.
"Mana dia, Farhan?"
"Ini, bos." Jawab Farhan, dengan sigap dia mendekat ke arah Jimmy dan menunjuk Doni yang terduduk di kursi dengan kaki dan tangan di ikat.
"Kerja bagus."
Jimmy menyeringai, dia akan memberikan pelajaran yang tak terlupakan untuk siapa saja yang sudah membuat Alisa nya terluka.
__ADS_1
…..
🌻🌻🌻🌻🌻