
Jimmy duduk di kursi dekat brankar dimana sang istri tengah berbaring, kedua mata nya tertutup rapat. Jimmy menggenggam tangan Alisa yang tak di infus, lalu mengecup punggung tangan nya dengan lembut.
"Maaf, aku gak tau kamu bakal se shock ini dengan kejadian itu, Bby." Ucap Jimmy penuh penyesalan, meskipun itu bukanlah sepenuhnya kesalahan, tapi tetap saja di mata orang tua Alisa, dialah yang gagal menjaga putri mereka.
"Cepat sembuh Bby, aku merindukan mu." Ucap Jimmy, lalu mengusap pelan rambut Alisa dan mengecup kening nya. Sebelum akhirnya dia tertidur sambil terus memegangi tangan Alisa.
Sedangkan di luar ruangan, Rafi dan Alina baru saja sampai di rumah sakit. Mereka langsung meluncur setelah mendapat telepon dari Raksa bahwa Alisa sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Alisa?" Tanya Rafi pada Raksa yang sedang duduk di kursi.
"Kata suster dia sudah membaik, demam nya sudah mulai turun. Besok pagi bisa di pindah ke ruang perawatan." Jelas Raksa.
"Sebenarnya Alisa kenapa?" Kali ini Alina yang bertanya wajah nya sangat khawatir. Tentu saja, orang tua mana yang tak khawatir saat tiba-tiba di hubungi dengan kabar yang cukup buruk? Apalagi Alisa adalah putri satu-satunya.
"Tadi, pas mereka pulang sekolah, Alisa memang terlihat lemah. Jimmy gendong dia, karena pingsan di atas motor." Jelas Larissa, dia yang tau kronologi nya. Hanya saja karena hal apa, dia juga belum mendapat jawaban dari Jimmy. Kuncinya ada pada putranya, karena seharian ini mereka bersama.
"Astaga, terus?"
"Jimmy udah nyaranin buat periksa ke dokter, tapi Alisa nya gak mau. Jadi aku cuma kasih dia paracetamol biar demam nya turun, tapi pas tengah malam Jimmy turun dari kamar sambil menggendong Alisa. Tubuhnya panas sekali, bahkan bibir nya membiru." Jelas Larissa lagi, membuat Alina shock dan langsung di peluk oleh Rafi.
"Maaf tak memberitahu kalian sebelumnya, Alisa memang lemah. Sedari kecil dia sering sakit-sakitan, kecapean sedikit saja bisa pingsan, atau mimisan. Kalau shock sedikit saja, imun tubuhnya akan berkurang banyak. Kami sudah mencoba berbagai macam pengobatan, tapi hasilnya nihil." Ucap Rafi sambil menunduk, mengusap rambut sang istri yang menangis terisak di pelukan nya.
"Tapi, kami pikir penyakit ini takkan kambuh kalau saja Alisa tidak shock, apa ada hal yang terjadi?" Tanya Rafi akhirnya.
"Gak tau, kita harus tanya Jimmy. Seharian ini Alisa sama Jimmy terus, dari pagi sampai sore."
"Ohh iya, kemana menantu ku itu? Kenapa tidak terlihat?" Tanya Rafi celingukan, sejak dia datang kemari, dia tak melihat batang hidung pemuda yang memperistri putri nya.
"Di dalam, dia menemani Alisa." Jawab Raksa.
"Syukurlah, seperti nya hubungan mereka membaik."
"Bukan membaik lagi, tapi sudah di tahap bucin." Celetuk Raksa sambil terkekeh.
"Serius?"
"Yeah, Jimmy terlihat posesif sama Alisa. Bahkan sering kali menunjukan kemesraan di depan kami tanpa malu, ya lebih tepatnya Jimmy yang gak tau malu sih, soalnya kalo Alisa wajah nya sering memerah kalo Jimmy nya nyosor." Jelas Raksa sambil tertawa.
__ADS_1
Kelakuan putra nya memang cukup menggemaskan, tapi ya kadang mereka juga di buat kesal oleh tingkah Jimmy yang manja pada Alisa. Minta di suapi lah, di pijit lah, belum lagi kalau Alisa sedang memasak pasti Jimmy selalu merecoki dengan menaburkan bumbu-bumbu kemesraan.
"Syukurlah kalo hubungan mereka membaik, aku jadi lega."
"Tak usah khawatir, aku bilang juga apa. Cinta bisa tumbuh seiring berjalan nya waktu, karena kebersamaan juga bisa menumbuhkan benih-benih cinta. Aku sendiri mengalami nya." Jawab Raksa sambil melirik Larissa yang hanya tersenyum kecil.
"Duduklah, seperti nya malam ini kita tidur disini. Karena yang boleh masuk ke ruangan cuma satu orang, besok pagi baru kita bisa liat Alisa."
"Nyesel gak bawa selimut." Ucap Rafi sambil membopong Alina ke kursi.
"Dalam situasi sepanik itu, apa masih ingat buat bawa selimut, Pa?" Tanya Alina, membuat Rafi terkekeh. Benar juga yang di katakan istrinya, setelah mendapat telepon dari Raksa mereka langsung pergi ke rumah sakit tanpa memikirkan apapun lagi. Yang mereka ingat, hanyalah harus sampai ke rumah sakit dengan cepat dan melihat keadaan putri mereka.
Pagi harinya, Jimmy terlihat keluar dari ruangan dengan wajah kuyu nya. Dia membuka pintu dan melihat kedua orang tua nya sedang duduk, juga ada tambahan yakni kedua orang tua Alisa.
"Selamat pagi, Ma, Pa." Ucap Jimmy sopan, lalu menyalim tangan mertua nya dengan takzim.
"Pagi menantu. Bagaimana keadaan Alisa?"
"Masih belum bangun juga, Ma. Kenapa ya?" Jimmy malah balik bertanya.
"Kata dokter bagaimana?"
Selama mengenal Jimmy saat dia berkunjung ke rumah Raksa, inilah kali pertama dia mendengar Jimmy bicara panjang lebar dengan nada penuh ke khawatiran.
"Gak usah khawatir, Alisa pasti baik-baik saja Nak." Kini Alina yang angkat bicara, berusaha menenangkan pemuda berstatus menantu nya.
Tak lama kemudian, brankar Alisa di dorong keluar dan di pindahkan ke ruangan perawatan. Jimmy dengan setia mengikuti istrinya, yang masih belum sadarkan diri juga. Di ikuti ke empat orang tua di belakang nya.
Sampai di ruangan, Jimmy langsung duduk di dekat ranjang pasien, dia mengusap punggung tangan Alisa lalu mengecup nya beberapa kali.
"Bangun dong, Bby." Gumam Jimmy, dia terus menatap wajah sang istri. Meski demam nya sudah turun, tapi wajahnya masih terlihat pucat.
"Jim, sarapan dulu." Ucap Raksa.
"Kalian makan duluan aja, Jimmy nanti bareng sama Alisa kalo udah siuman." Jawab Jimmy tanpa menoleh.
"Sayang, ayo makan dulu. Kalau kamu sakit juga gimana? Siapa yang mau jagain Alisa kalo kamu nya ikutan sakit, makan dulu ya." Dengan lembut Larissa membujuk putranya, agar mau makan.
__ADS_1
"Hufftt baiklah, Ma." Jawab nya dengan lesu. Jimmy membuka cup berisi bubur ayam dan memakan nya, tanpa berpindah posisi, masih di dekat ranjang Alisa.
Jimmy menghabiskan bubur miliknya dengan cepat, entah kelaparan atau apa, tapi makanan kali ini terasa sangat nikmat.
Dreett..
Ponsel Jimmy berdering, dia pun berpamitan sebentar untuk mengangkat panggilan dari Farhan.
"Hallo, kenapa?" Tanya Jimmy datar.
'Lo dimana Jim? Gua di rumah Lo, tapi gak ada orang, sepi bener. Pindah Lo?' Tanya Farhan terdengar sangat menyebalkan di telinga Jimmy. Atau bahkan di telinga siapapun yang mendengar suara Farhan.
"Gua di rumah sakit, jagain bini gua. Kenapa ke rumah?"
'Ibu bos sakit apa? Kemaren baik-baik aja kan?'
"Jawab dulu kampreeet!" Gemas Jimmy, bicara dengan Farhan selalu saja membuat kesabaran nya yang hanya setebal triplek itu semakin menipis.
'Gue punya informasi penting tentang dalang penyerangan basecamp, plus yang kemaren. Pelaku nya masih sama!'
"Jemput gua ke RS, kita ke basecamp buat rapat dadakan!" Tegas Jimmy.
'Sharelock alamat rumah sakit nya, gua otw sekarang.'
Jimmy pun mematikan sambungan telepon nya secara sepihak, lalu mengirimkan pesan berupa alamat rumah sakit tempat dirinya berada.
"Ma, Pa. Bisa jagain Alisa dulu? Jimmy ada urusan yang cukup penting, gak lama kok."
"Iya boleh, hati-hati ya. Setelah urusan nya selesai langsung kesini lagi." Ucap Larissa.
Jimmy mengangguk lalu mendekat ke arah ranjang Alisa, mengusap kepala nya, lalu mengecup kening dan kedua pipi nya.
"Baby, aku pergi dulu sebentar ya. Gak lama kok, setelah selesai aku langsung kesini lagi. Aku mencintaimu." Bisik Jimmy, lalu mengecup punggung tangan istrinya.
Jimmy menutup pintu ruang rawat istrinya, setelah kepergian nya kedua wanita berstatus ibu dan ibu mertua nya sibuk berghibah, membahas hal-hal random termasuk mulai membahas masalah cucu. Huhh, ada-ada saja.
....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻