Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Secret Wedding - Ending


__ADS_3

"Bangun, Nak.." ucap Larissa lirih, semalaman penuh dia menunggui Jimmy yang belum kunjung sadarkan diri juga. 


Sedangkan Rafi dan Alina menunggui putri mereka yang sudah di pindahkan ke ruang perawatan, setelah mendapat transfusi darah, saat ini kondisi nya sudah lebih membaik dan berhasil melewati masa kritis nya. Namun demikian, dia belum juga sadarkan diri, sama seperti Jimmy. 


"Pa, bagaimana Jimmy? Apa dia baik-baik saja, kenapa belum bangun juga?" Tanya Larissa pada Raksa.


"Kata dokter dia baik-baik saja, tenang lah. Mungkin sebentar lagi dia akan bangun, mama istirahat dulu aja ya? Semalaman mama gak tidur." 


"Tapi Jimmy pah.." 


"Papa yang tungguin, mama tidur dulu ya." Akhirnya, Larissa pun menurut pada perintah suaminya. Wanita paruh baya itu tidur di sofa, tubuhnya memang cukup lelah dari kemarin. 


Sedangkan di ruangan sana, Alina menatap sang putri yang masih terbaring lemah di atas ranjang dengan beberapa alat kesehatan yang menempel di tubuhnya. 


Eva dan Farhan masuk bersamaan, mereka menatap nanar pada brankar di depan mereka, dimana ada Alisa yang terbaring lemah tak berdaya.


"Tante, bagaimana keadaan Alisa? Sudah ada perkembangan?" Tanya nya sambil berjalan mendekat. 


"Kata dokter, masa kritis nya sudah lewat. Tapi, entah kenapa sampai sekarang dia belum bangun juga." 


"Tante yang sabar ya? Alisa pasti bangun kok." 


"Tante takut, Va. Alisa putri Tante satu-satunya, Tante takut sesuatu terjadi padanya." Akhirnya tangis wanita itu pecah juga, Eva yang melihatnya langsung memeluk dan mengusapi punggung ibu sahabatnya dengan lembut untuk menenangkan nya.


"Alisa pasti baik-baik saja, Tan. Dia gadis yang kuat dan baik kan? Jangan berpikiran macam-macam ya, Alisa akan segera bangun."


Alina menatap putrinya, rasanya sangat sakit melihat putri kesayangan nya seperti ini. 


"Bangun sayang, putra kalian sudah menunggu. Dia menangis terus dari tadi, karena belum kamu susui." Ucap Alina pelan sambil mengusap rambut sang putri. 


Dan keajaiban pun terjadi, Alisa membuka kedua mata nya. 


"Ma-ma.." panggil nya lirih, membuat Alina langsung menekan tombol di atas brankar sang putri untuk memanggil dokter. 


"Iya sayang, kamu sudah bangun nak? Apa ada yang sakit hmm?" Dia menggeleng lalu tersenyum manis.


"Gak ada kok Ma, Alisa minta maaf ya Ma. Kalau Alisa sering bandel sama mama, ternyata melahirkan itu rasanya sangat sakit. Sekali lagi, maafin Alisa ya Ma." 


"Jangan terlalu banyak bicara ya, mama sangat menyayangi kamu, sayang." Alina mengecupi wajah sang putri saking bahagia nya.


"Aaahh akhirnya Lo bangun juga, gue khawatir banget sama Lo, Lis." Ucap Eva yang ikut mendekat.


"Beneran? Makasih ya udah khawatir sama gue, tapi gue baik-baik aja kok." 


"Jimmy mana?" Tanya Alisa lirih.


"Dia di ruangan sebelah, belum bangun juga."


"Emang nya Jimmy kenapa Ma? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Alisa lagi.


"Iya, dia cuma shock aja lihat kamu kesakitan, sayang. Jadinya dia lemes, terus pingsan." 


"Belum bangun sampai sekarang? Ma, Alisa pengen lihat suami Alisa, Ma." 


"Nanti ya, kamu kan baru saja bangun sayang. Keadaan kamu lebih parah dari Jimmy, sayang." 

__ADS_1


"Iya, yang di katain nyokap Lo tuh bener Lis. Jimmy cuma shock aja, laki gue udah kesana buat jagain suami Lo. Sekarang Lo istirahat aja dulu, keadaan Lo masih lemah gini." Ucap Eva, dia tau benar bagaimana keras kepala nya seorang Alisa.


Tapi tak lama kemudian, pintu ruangan Alisa terbuka, menampilkan sosok yang Alisa khawatirkan. Jimmy berjalan dengan langkah cepat lalu menghambur memeluk istri nya.


"Sayang.." 


"Biarkan aku memeluk mu, sayang." Bisik Jimmy, membuat Alisa membiarkan pria itu memeluk nya, dia juga membalas pelukan suaminya tak kalah eratnya.


"Terimakasih sudah melahirkan anak kita, kamu wanita yang hebat, sayang. Aku bahagia dan beruntung bisa memiliki mu, Alisa ku." 


"Sama-sama, papa."


"Aku mencintaimu." 


"Aku lebih mencintaimu, Jim." 


"Udah bagus manggil nya papa." 


"Yaudah, iya papa. Mana adek bayi?" Tanya Alisa, Jimmy melepaskan pelukan nya dan melihat Raksa mendorong troli bayi. 


Larissa mengambil bayi itu dan memberikan nya pada Alisa, agar wanita yang baru saja menjadi ibu itu terbiasa untuk menggendong putra nya. 


"Lihatlah sayang, bayi kita sangat tampan." 


"Ya, tampan seperti dirimu." 


"Tentu saja, dia berasal dari bibit unggulan milikku." Jawab Jimmy bangga, sambil mentoel-toel pipi gembul kemerahan putranya. 


"Ihh kok gemesin banget sih, mau gendong boleh?" Tanya Eva. 


"Gak boleh, nanti anak gue alergi." Jawab Jimmy dengan wajah datar nya.


"Yee makasih." Jawab Eva, dia menggendong bayi laki-laki itu dengan lembut lalu menimang nya. 


"Nama nya siapa, Jim?" Tanya Farhan.


"Jeffran Abian Leonard." 


"Nama nya spektakuler." Celetuk Farhan sambil menepuk pelan bahu sepupu nya. 


"Eemmmm… huek…" 


"Lho, kamu kenapa sayang?" Tanya Farhan pada Eva. 


"Gendong baby Jeff nya, aku udah gak kuat lagi." Eva memberikan Baby Jeff pada Farhan, sedangkan dia berlari ke kamar mandi. 


Farhan kembali mengoper bayi mungil itu pada Jimmy, sedangkan dia menyusul sang istri ke kamar mandi. 


"Eva kenapa ya?" 


"Bunting kali." Jawab Jimmy acuh, sambil menimang putra nya. 


"Dihh, kamu tuh ya kalo ngomong suka asal jeplak gitu aja." 


"Ya kan kemungkinan akan selalu ada, sayang. Lagian Eva kan udah nikah cukup lama sama Farhan, wajar-wajar aja kalo dia hamil." Jelas Jimmy. 

__ADS_1


"Ya iya juga sih, lagian mereka suami istri ya." 


"Itu tau, nih susuin dulu baby Jeff nya. Keliatan nya dia laper deh, mulut nya mangap-mangap." Jimmy memberikan putra nya pada Alisa, dengan cepat Alisa menyusui putra nya, dia menghisap putting nya dengan kuat hingga membuat Alisa meringis ngilu.


"Aahhss…" 


"Jeff, pelan-pelan minum susu nya sayang. Papa gak bakalan minta kok, nanti aja." 


"Idih, udah gede gak usah rebutan sama bayi." Cetus Alisa membuat Larissa dan Raksa terkekeh pelan, begitu juga dengan Rafi dan Alina. 


Tak lama kemudian, Eva keluar dengan wajah pucatnya. Sambil memegangi perutnya, dia tersenyum manis.


"Kenapa Lo, masuk angin?" Tanya Jimmy.


"Kemasukan kecebong dia tuh, Jim."


"Hah, maksudnya?" Tanya Alisa. 


"A-aku lagi hamil, hehe." Jawab Eva sambil cengengesan.


"What?" Alisa terlihat shock dengan ucapan Eva.


"Tuhkan, apa yang aku bilang tadi bener. Si Eva bunting." 


"Ya ampun, cepet banget nyetak nya. Udah berapa bulan?" Tanya Alisa. 


"18 minggu, berarti 4 bulanan lah ya."


"Jadi…"


"Iya, langsung ngisi." 


"Wahh selamat ya, aku ikut bahagia dengernya." 


"Makasih Alisa." 


"Semoga sehat selalu ya, sampai hari H nanti." 


"Hari H, emang nya mau kawinan." Celetuk Farhan membuat seisi ruangan itu tertawa. Tapi, tawa itu tak berlangsung lama karena baby Jeff merengek, mungkin berisik. 


"Ssshhhttt.." 


Mereka pun kompak diam, namun tak lama kemudian, semuanya saling melempar senyuman tanpa suara. 


Akhir yang membahagiakan, namun tidak bagi ketiga jomblo yang berada di luar ruangan. Siapa lagi kalau bukan Dian, Dery dan Aldi. Trio macan itu masih meratapi nasib mereka yang belum punya pasangan hingga saat ini. 


"Tega bener author nya, bikin kita jomblo sampe tamat ya." Ucap Aldi.


"Dahlah, author nya emang pilih kasih." Celetuk Dery.


"Diem kalian berdua, kita disini cuma figuran, inget itu. Mungkin aja, nanti kita bakal di buatin novel baru, udah gak usah khawatir. Biarin author nya namatin ini cerita, biar dia bisa halu yang lain." Ucap Dian bijak. 


  Dan ya, cerita ini berakhir sampai disini. Terimakasih. 


     _TAMAT_

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2