Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Nafkah Batin?


__ADS_3

Pulang sekolah, Jimmy benar-benar menepati janjinya, dia mengajak gadis itu untuk makan es krim di pinggir jalan seperti waktu itu.


"Lo mau es krim apa?"


"Stroberi." Jawab nya singkat, sambil memainkan ponsel nya.


"Ada tambahan?"


"Gak ada, itu aja." Jawab Jimmy tanpa menoleh, membuat Alisa mendelik. Dia pun pergi ke stand dan memesan dua cup es krim.


Alisa mulai menikmati es krim nya, kali ini dia memesan es krim vanilla yang di mix dengan rasa green tea. 


"Aaahh enak banget, kayaknya ini bakal jadi es krim favorit ku sekarang." Gumam Alisa sambil mengerjakan kedua mata nya saat satu suapan mendarat di mulutnya. 


Jimmy menoleh sekilas lalu tersenyum miring melihat ekspresi Alisa, baginya gadis itu sangat menggemaskan. Dia meletakan ponsel nya dan mulai memakan es krim milik nya.


"Kulkas makan es krim, jarang terjadi." Celetuk Alisa membuat Jimmy mendelik. Gadis itu tertawa, membuat Jimmy ikut menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibir nya.


"Belepotan tuh." 


"Udah biasa kali." Jawab Alisa, Jimmy mengambil tissu dan mengusap es krim di sudut bibir gadis itu.


"Bocil."


"Heh, gue dah gede ya. Enak aja ngatain gue bocil." Ketus Alisa sambil mengerucutkan bibirnya. 


"Bocil yang bisa bikin bocil gak sih?" 


"Diem deh, Lo nyebelin tau gak?"


"Kata-kata gue yang mana yang nyebelin?" Tanya Jimmy datar. 


"Semuanya, bahkan Lo nafas aja nyebelin buat gue." Jawab Alisa.


"Oke, jadi ini es krim bayar masing-masing." 


"Eehh kok gitu sih, Jim." 


"Serah gue lah." Jawab Jimmy tanpa menoleh dan sibuk menyendok es krim dalam cup miliknya.


"Duit gue gak cukup buat bayar, nih liat." Alisa merogoh uang di dalam saku nya, hanya ada satu lembar uang berwarna ungu. 


"Gak peduli sih gue."


"Jim, Lo sadar gak sih kalo Lo tuh laki gue? Mana ada laki tapi gak pernah ngasih istrinya nafkah." Cetus Alisa membuat Jimmy menoleh seketika.

__ADS_1


Iya, selama menikah dengan Alisa, Jimmy belum pernah memberikan apapun, nafkah batin atau nafkah lahir, tidak keduanya. 


"Isshh yaudah iya."


"Nah gitu dong, kan ganteng kalo gini." Jimmy hanya menatap sekilas pada istrinya itu, lalu kembali fokus dengan es krim miliknya.


Tanpa sepengetahuan pasangan itu, ada sepasang mata menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada tatapan cinta, kecewa, marah dan cemburu, bersatu menjadi satu. 


Apalagi saat melihat Alisa tertawa setelah berhasil menggoda Jimmy, gadis itu nampak sangat bahagia bersama Jimmy. Membuatnya semakin curiga, sebenarnya ada apa antara Jimmy dan Alisa. 


Denis mengepalkan kedua tangan nya, niat nya untuk mengetahui kenapa Alisa selalu pulang bersama Jimmy hampir terjawab sudah. Kebersamaan gadis yang dia cintai dalam diam dengan Jimmy benar-benar tak bisa di anggap kedekatan biasa. 


Ya, Denis curiga dan memilih mengikuti kemana Jimmy membawa Alisa. Dia keheranan saat motor milik Jimmy berhenti di salah satu stand es krim dimana dia dan Alisa sering mampir disana untuk sekedar beristirahat. Tapi kini gadis itu bersama pria lain.


Keduanya menghabiskan es krim mereka masing-masing, lalu Jimmy yang membayar, kemudian mereka pergi. 


Denis pun ikut melajukan motornya membuntuti kemana Jimmy membawa Alisa, dan betapa terkejut nya dia saat melihat motor itu masuk ke salah satu rumah mewah. Saat motor itu mendekat ke arah gerbang, penjaga rumah itu langsung membuka lebar-lebar gerbang, mempersilahkan motor itu untuk masuk.


Pemuda berseragam SMA itu turun dari motornya, lalu berjalan cepat ke arah gerbang itu. 


Penjaga rumah itu mendekat dan bertanya apa maksud kedatangan nya ke rumah ini.


"Ada perlu apa ya?" Tanya nya, membuat Denis sedikit gugup.


"Maaf pak, ini rumah siapa ya?" 


"Tadi ada motor yang masuk kesini, dia siapa ya?"


"Itu tuan muda rumah ini, dan gadis yang bersamanya adalah kekasihnya." Jawab penjaga rumah itu, jelas membuat kedua mata Denis membulat seketika. Kekasih? Satu kata yang mampu mengguncang hatinya.


"Baiklah, terimakasih kalau begitu." 


"Ya, sama-sama." Jawabnya, Denis berbalik dan berjalan dengan gontai. Perasaan nya campur aduk saat ini, pantas saja Alisa terlihat seperti menghindari nya sekarang, ternyata dia sudah jadian dengan Jimmy, musuhnya sendiri.


Kecurigaan nya selama ini terjawab sudah, rasanya sangat sakit saat mengetahui fakta bahwa Alisa sudah punya kekasih yang tak lain adalah musuhnya sendiri. 


"Kenapa rasanya sakit sekali, Alisa?" Gumam Denis sambil meremaas dada nya, terasa sakit dan sesak hingga membuat nafas nya tersengal. Dia duduk di dekat motornya, tepatnya dekat taman bunga tak jauh dari rumah Jimmy.


"Harusnya gua tau saat ini akan datang, ini terlalu menyakitkan. Gue belom siap kehilangan Lo secepat ini, Alisa." Gumam Denis lagi.


Dia mengingat kebersamaan nya dengan Alisa, dulu sebelum gadis itu berubah dan menjauhi nya. Mereka selalu bersama kemana pun, bahkan dulu mereka di juluki sebagai couple goals karena mereka saling melengkapi. Tapi sayang nya, kenyataan tak seindah itu. Dia dan Alisa hanya berteman, tak lebih. Itulah yang membuat rasa sakit ini semakin terasa. 


Sedangkan di rumah, Alisa merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia berguling ke kanan dan ke kiri, membuat Jimmy keheranan.


"Ngapain Lo? Kayak cacing kepanasan gitu." 

__ADS_1


"Nyaman anjir, punggung gue sakit banget." Jawab Alisa.


"Gue pijet mau?" 


"Idih, ogah.." ketus Alisa lalu bangkit dari rebahan nya dan mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang.


"Liss.." 


 


"Hmm, apa?" Jawab Alisa tanpa menoleh ke arah Jimmy.


"Omong-omong soal nafkah, itu gue bisa ngasih tapi duit nya dari papa, soalnya gue belom kerja." 


"Serah Lo aja sih, lagian gue gapapa kok yang penting masih makan, jajan juga." Jawab Alisa membuat Jimmy terheran.


"Lo pasti kayak cewek kebanyakan, pengen belanja gitu."


"Engggak sih, gue gak terlalu suka belanja. Gue lebih suka jajan makanan." Jawabnya, membuat pria itu manggut-manggut. Dia kira Alisa itu seperti wanita pada umumnya, suka belanja barang-barang tak penting, tapi nyatanya gadis itu malah suka jajan.


"Menurut Lo tentang nafkah batin gimana?" Tanya Jimmy, dia duduk di sofa. Hingga mereka duduk berseberangan namun berhadapan.


"Selama gak bikin hamil, menurut gue gak masalah." Jawab Alisa sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Jadi, apa Lo mau nafkah batin?" 


"H-ahh?" 


"Gak usah pura-pura begoo Lo, gue tau Lo pasti paham maksud gue." Jawab Jimmy, dia membuka jaket nya lalu melemparnya ke sembarang arah.


Pria itu mulai berjalan mendekat, sedangkan Alisa sudah mulai ketakutan. Dia beringsut mundur ke belakang, saat pria itu semakin mendekat.


Jimmy menarik kaki Alisa dan berhasil mengungkung gadis itu di bawah tubuhnya.


"J-jim, Lo nakutin gue."'


"Takut? Kenapa takut?" Tanya Jimmy dengan seringai nakal nya, baginya wajah ketakutan Alisa sangat menggemaskan.


"Jim, kita harus ke basecamp seka…" Farhan menganga melihat adegan di depan nya, lagi-lagi dia datang di waktu yang kurang tepat. 


Jimmy langsung menegakan tubuhnya, sedangkan Alisa sudah lari ke kamar mandi karena malu di lihat orang lain saat posisi nya bisa di bilang cukup intiim.


"Lo lagi, Lo lagi, seperti Lo harus gue kutuk jadi batu." Ucap Jimmy sambil menoyor kepala Farhan, membuat pria itu meringis kesakitan.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2