Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )

Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Demam Rindu


__ADS_3

"Nona.." panggil Jian lirih, Ayuna menoleh lalu menatap wajah tampan Jian.


"Kenapa hmm?"


"Apa yang tadi itu Nona Alisa?" Tanya Jian. Ayuna terkekeh, padahal Jian lah yang bertugas menjaga wanita itu agar tak kabur, tapi bagaimana bisa dia tak tau wajah Alisa? Menurut Ayuna, itu pertanyaan yang cukup konyol. 


"Iya, dia Alisa." 


"Pantas saja tuan besar menginginkan nya, dia sangat cantik hanya saja terlalu kurus." Ucap Jian lirih.


"Heh, berani sekali kau memuji kecantikan wanita lain di depan kekasihmu, kau tak memikirkan perasaan ku?" Sewot Ayuna membuat Jian terhenyak, sejak kapan dia dan Ayuna pacaran?


"Maaf Nona, tapi saya dan anda tak ada hubungan apa-apa kan?"


"Ohh, begitu ya. Kau juga hanya memanfaatkan tubuh ku untuk memuaskan hasraat mu, begitu?" Tanya Ayuna kesal.


"Eehh, bukan begitu Nona."


"Lalu?" Entahlah, Jian kebingungan harus menjawab apa. 


"Issh, menyebalkan. Kamu sama saja dengan pria itu, hanya butuh tubuhku saja." 


"Apa saya berhak mencintai anda, Nona?" Tanya Jian lirih, membuat Ayuna yang sedang di landa kekesalan setengah mati itu menoleh.


"Memang nya kenapa tidak berhak? Aku juga takkan selamanya menjadi budak sexss pria bernama Denis itu." 


"Berarti saya punya kesempatan, untuk bisa memiliki Nona." 


"Tentu saja, kau punya." Jawab Ayuna, dia tersenyum penuh arti pada Jian. Tangan pria itu merayap ke belakang telinga Ayuna, lalu menekan tengkuk nya hingga bibir kedua nya bersentuhan. 


Jian mencium Ayuna dengan lembut, sangat terlihat dia sangat memuja perempuan itu. Dia tak pernah kasar saat memperlakukan Ayuna, meskipun dia ingin. Apalagi jika sedang berhubungan, ingin sekali dia menggerakkan tubuhnya dengan kencang, tapi dia khawatir akan menyakiti Ayuna.


Nafas mereka memburu setelah ciuman itu terputus, Ayuna mengalungkan kedua tangan nya di leher Jian, mereka berebut mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Jian menyatukan kening mereka, hingga dapat Ayuna rasakan terpaan hangat nafas Jian yang beraroma mint.


"Kita bermain?"


"Tentu, tapi tidak disini." Jawab Ayuna, dia menekan remot untuk mematikan televisi dan membawa Jian ke kamar, tak lupa mengunci nya agar tak sembarang orang bisa masuk dan mengganggu kenikmatan akan dia capai bersama Jian.


Meski ada rasa takut saat benda itu masuk dengan leluasa ke dalam liangnya, karena ukuran nya terlalu besar, tapi hal itu tak membuat Ayuna kapok untuk mengangkaang di bawah tubuh atletis Jian.


Desaahan demi desaahan terus lolos keluar dari mulut Ayuna, dia begitu menikmati permainan Jian yang menyodok tubuh bagian bawahnya dengan kuat, mungkin hingga mentok menyentuh rahim nya.

__ADS_1


Jian bersemangat menggerakan tubuh nya maju mundur, apalagi saat mendengar Ayuna yang selalu melenguuhkan namanya.


"Aaahhh Jian, lebih cepat sayang.." 


"As wish you babe!" Jawab Jian, dia menurut dan mempercepat gerakan nya.


Sedangkan Alisa kembali merenung di kamar nya, rasa rindu nya pada Jimmy semakin besar. Dia ingin menghambur memeluk tubuh suaminya dengan erat, dia takkan melepaskan pria itu sedetik pun. 


'Sampai kapan aku disini? Aku bosan, aku merindukan mu, sayang. Kapan kau akan menjemput aku pulang? Aku tak ingin terus disini. Atau yang Denis katakan itu benar? Kau tidak mencari ku sama sekali? Sulit di percaya.' 


Batin nya mulai berperang, antara percaya pada sang suami atau pada ucapan Denis yang terdengar meyakinkan.


"Tidak, Jimmy pasti akan menjemput aku pulang." Alisa kembali meyakinkan dirinya sendiri, menggelengkan kepala nya dengan cepat. Dia harus percaya pada suaminya. 


Sedangkan di mansion, Jimmy sedang sakit. Dia demam karena kurang beristirahat dan makan yang tidak teratur selama beberapa hari ini, tepatnya setelah Alisa menghilang. 


Larissa menatap cemas sang putra, keadaan nya sangat lemah, suhu tubuhnya sangat tinggi. Namun Jimmy sama sekali tak mau makan obat sama sekali, dalam setiap helaan nafas nya hanya ada nama Alisa.


"Sayang, ayo minum obat nya biar cepat sembuh." Ucap Larissa dengan lembut.


"Jimmy mau Alisa, Ma." 


"Anak buah papa sedang bekerja keras untuk mencari nya, sayang. Jadi, kamu harus sembuh." 


Tak lama kemudian, Farhan masuk dengan wajah kuyu nya, dia kelelahan beberapa hari ini karena sibuk mencari keberadaan istri dari sepupu nya. 


"Bagaimana keadaan nya, Mom?" Tanya Farhan, Larissa mendongak menatap wajah Farhan lalu menggeleng pelan, menandakan bahwa keadaan Jimmy tak baik-baik saja.


"Semalaman dia tak tidur sama sekali, suhu tubuhnya sangat panas. Dokter sudah memeriksa nya, tapi Jimmy tak mau meminum obatnya." Jawab Larissa. 


Farhan duduk di sisi ranjang, menatap wajah pucat Jimmy dengan sendu. Tak pernah dia melihat Jimmy selemah ini hanya karena wanita, bahkan dulu Jimmy seperti alergi terhadap makhluk bernama wanita, tapi semua nya pasti berubah jika waktu nya sudah tepat. 


"Jim, ayo sembuh. Dian bilang, dia sudah menemukan titik keberadaan Alisa. Apa kau tau, dugaan mu selama ini benar." 


"Jadi, ayo kita jemput Alisa bersama-sama besok." Ucap Farhan lirih, dia ikut sedih melihat keadaan Jimmy saat ini.


"Benarkah? Apa istriku baik-baik saja?"


"Kita akan memastikan nya besok, menurut seseorang yang setiap hari berjaga di unit itu, Alisa tak pernah keluar dari kamar sama sekali." Jelas Farhan membuat mata berat Jimmy berbinar seketika.


"Jadi, aku harus sembuh biar bisa ikut menjemput Alisa kan?"

__ADS_1


"Iya, tentu saja. Jadi, minum obat biar cepet sembuh." Jawab Farhan sambil tersenyum.


"Oke, ambilkan obat itu." 


Farhan menurut dan mengambilkan obat yang terletak di meja nakas, Jimmy langsung meminum nya, membuat Larissa mengacungkan jempol nya pada Farhan.


"Bagus, dah minum obat. Sekarang tidur dulu."


"Thanks infonya, Han. Gue gak sabar buat jemput Alisa pulang, gue kangen banget sama dia." 


"Cihh, ternyata di landa demam rindu." Cibir Farhan lalu terkekeh, dia keluar dari kamar Jimmy di ikuti Larissa. 


Farhan duduk di sofa ruang tamu, berhadapan dengan Raksa yang menatap keponakan nya dengan tatapan tajam.


"Bagaimana?"


"Berhasil om, tapi bagaimana kita.."


"Besok, kita bisa menjemput Alisa pulang. Om sudah menyiapkan semua nya, siapkan anggota geng mu itu untuk membantu."


"Pasti om, Farhan sebagai waketu pasti bantuin." Jawab Farhan antusias.


"Apa papa yakin, Alisa ada disana?"


"Yakin, karena Aldi berhasil menghasut salah satu anggota pria itu untuk berhianat. Tapi agar tak memancing kecurigaan, kita harus bergerak sembunyi-sembunyi. Tak menutup kemungkinan pria itu curiga dan membawa Alisa pergi dari tempat itu, sebelum kita sampai kesana." Jelas Raksa. 


"Lalu?"


"Kita buat pengalihan, serang markas mereka. Dengan begitu ketua mereka akan keluar dari tempatnya, dan saat itu adalah waktu yang tepat menjemput Alisa." 


"Ya, aku setuju dengan rencana Om. Jadi malam ini aku harus tidur lebih awal, aku juga akan memberikan kabar ini pada anak-anak yang lain."


"Pulanglah, istirahat dengan benar. Besok pasti akan terjadi pertarungan yang cukup sengit."


Farhan mengangguk lalu pergi dari rumah besar itu menuju rumah nya sendiri. Benar kata Raksa, dia harus beristirahat lebih awal malam ini. 


........


🌻🌻🌻🌻


jangan lupa, mampir ke karya temen author 😚😚

__ADS_1



Nikah Dadakan Dengan Musuh karya kak Ayi🌻😚


__ADS_2