
Keesokan harinya, Jimmy benar-benar pergi ke basecamp untuk mengadakan rapat susulan karena semalam Farhan memutuskan membatalkan rapat karena ketidak hadiran Jimmy pasti akan membuat mereka kesulitan menentukan rencana ke depan nya harus seperti apa.
"Sayang, aku ke basecamp dulu ya?" Izin Jimmy pada sang istri yang sedang menyisir rambutnya.
"Aku ikut ya? Gak tau nih, pengen nya deket-deket sama kamu terus." Rengek Alisa dengan manja.
"Duh, gimana ya Bby. Soalnya disana tempatnya gak sesuai sama kamu, aku takut kamu shock lagi." Ucap Jimmy sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Please, aku ikut ya? Ya, ya, ya?" Bujuk Alisa lagi dengan kedua mata yang berbinar.
Jimmy menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu akhirnya dia mengalah karena tak tega melihat istrinya bersedih jika dia menolak permintaan istri cantiknya itu. Jimmy mengangguk perlahan, entah akan seperti apa dia di basecamp nanti. Apa akan bisa jadi Jimmy yang dingin dan menakutkan seperti biasa?
Seperti nya dia takkan sanggup menunjukan sisi kesadisan nya di depan istrinya sendiri.
Alisa bersorak kegirangan, dia bahkan mencium pipi Jimmy saking senang nya karena bisa ikut Jimmy ke basecamp nya.
"Ayo kita pergi, sayang."
"Mau pake baju gituan ke basecamp? Inget, anak geng aku tuh laki-laki semua, baby." Ucap Jimmy, dia meneliti penampilan istrinya dari atas sampai ke bawah. Yang benar saja, masa pakai dress sih?
"Terus, aku pakai baju kayak apa?"
"Ganti pake celana, kaos sama jaket. Rambutnya di iket." Pinta Jimmy, Alisa mengangguk lalu masuk ke ruang ganti. Tapi saat akan membuka pintu ruang ganti, Jimmy kembali memanggil sang istri hingga membuat gadis itu berbalik.
"Jangan kaos ketat apalagi crop top, kaos oversize. Kalo gak punya, pakai punya aku." Tegas Jimmy membuat Alisa mendengus, tapi diam-diam dia menyunggingkan senyum nya saat menyadari betapa posesif nya Jimmy padanya.
"Iya pak suami."
Jimmy menyisir rambutnya ke belakang, lalu memakai jaket dan menyemprotkan parfum untuk menyegarkan tubuhnya. Padahal tanpa parfum saja, dia sudah memiliki aroma tubuh yang memabukan.
Tak lama kemudian, Alisa keluar dengan celana kulot jeans berwarna hitam, kaos oversize yang dia masukan ke dalam sela-sela celana nya, lalu di baluti dengan jaket denim berwarna biru navy. Tak lupa, rambut nya dia kuncir kuda.
"Perfect." Puji Jimmy sambil mengacungkan jempol nya, Alisa hanya tersenyum malu-malu, lalu menggandeng tangan Jimmy dan mereka pun berangkat ke basecamp. Alisa penasaran dengan tempat bernama basecamp itu, seperti apa penampakan nya, apakah menyeramkan atau sebaliknya? Mengingat waketu nya orang senyeleneh Farhan. Bisa saja dia menghias basecamp dengan hiasan bunga atau semacamnya.
Alisa memeluk pinggang suaminya dengan erat, menumpukan dagu nya di pundak sang suami, sesekali mereka bercanda ria di atas motor yang mengundang gelak tawa.
__ADS_1
Singkatnya, Jimmy memarkir motornya di dekat motor lain yang sudah lebih dulu ada disana, Alisa turun dari motor dan Jimmy dengan sigap membukakan helm sang istri, lalu merapikan poni nya.
"Tuh kan, kata aku juga gak usah ikut. Jadi nya poni badai kamu berantakan."
"Gapapa kok." Jawab Alisa sambil tersenyum manis, hingga mata nya menyipit.
Jimmy menggenggam tangan sang istri, lalu membawa nya ke arah sebuah bangunan yang cukup besar bernuansa serba hitam dengan pagar berkawat runcing yang mengalirkan listrik.
"Bos Jimmy datang sama ibu bos." Ucap Aldi membuat anggota yang memang sudah berkumpul langsung berbaris menyambut kedatangan Jimmy dan istrinya.
Alisa tersenyum kaku, kenapa harus di sambut seperti ini? Dia bukan presiden yang harus mendapat hormat, tapi ya mungkin itu sudah biasa, jadi dia tak bisa apa-apa selain diam dan terus mengikuti langkah Jimmy ke dalam basecamp.
Farhan menyambut Jimmy, wajahnya kecut saat melihat Alisa yang mengekor di belakang Jimmy. Dia tak menyangka kalau Jimmy akan membawa istrinya ke basecamp, pastinya rapat ini akan sedikit berbeda dari biasanya.
"Pagi, Jim.."
"Pagi, suruh semua nya kumpul sekarang." Jawab Jimmy, suara nya pelan namun terdengar sangat tegas. Membuat Alisa langsung menoleh menatap suaminya, benar-benar berbeda. Bahkan dari ekspresi wajahnya saja Alisa bisa menyimpulkan bahwa Jimmy sedang marah.
"Duduk, Bby." Pinta Jimmy, Alisa pun memilih kursi yang sedikit berjauhan dari meja panjang yang biasa di duduki oleh para anggota.
"Singkat saja, laporan apa yang ingin kalian bicarakan?" Tanya Jimmy langsung pada poin permasalahan nya.
"Geng serigala mulai bergerak, bos. Beberapa kali, ketua mereka terlihat keluar masuk ke markas. Hanya saja, kami tak bisa melihat langsung wajahnya karena dia selalu memakai topeng." Jelas Dian. Dialah yang bertugas memantau pergerakan lawan.
"Pergerakan seperti apa? Selain membegal orang dan mengatas namakan geng kita?"
"Mereka merencanakan sesuatu, karena kemarin setelah ketua nya masuk, anak-anak buah geng serigala langsung berpencar. Namun apa rencana nya kami kehilangan jejak, karena mata-mata yang aku kirim seperti nya ketahuan dan di eksekusi." Jelas Dian lagi.
Alisa menyimak pembicaraan yang terlihat serius itu, aura orang-orang yang biasanya dia lihat di sekolah jauh berbeda, tak terkecuali Dian dan Dery. Mereka lugu di sekolah, tapi lihatlah saat di sini. Sangat jauh berbeda, bahkan pikiran-pikiran Alisa yang pendek mengira bahwa ini adalah perkumpulan mafia.
Namun sejauh dia masuk ke tempat ini, dia belum melihat senjata api apapun seperti pistol atau semacam nya, hanya ada beberapa pisau-pisau kecil, tipis, tapi dapat dia tebak kalau pisau itu sangat tajam. Jadi, kalau terjadi pertarungan sudah pasti mengandalkan kemampuan bela diri.
"Saya yakin, mereka bukan hanya mengincar bos sebagai tokoh utama. Tapi juga.."
"Hmmm?"
__ADS_1
"Ibu bos sebagai kelemahan bos saat ini." Ucap Dian lirih, menyadari perubahan ekspresi yang di tunjukan Jimmy saat dia mengatakan hal itu. Jimmy mengepalkan tangan nya, dia sudah menduga hal ini.
"Siaga satu!" Teriak seseorang dari luar, membuat fokus dari rapat itu buyar seketika. Alisa terlihat panik, dia berdiri dengan jantung berdetak tak karuan.
"Berlindung disini, sayang!" Pekik Jimmy, sedangkan Farhan dan yang lain nya sudah keluar dari ruangan rapat untuk melawan musuh agar tak bisa masuk lebih dalam.
Tapi sial, seperti nya mereka kalah cepat. Terlihat orang-orang sudah masuk dengan topeng yang menutupi wajah mereka, Jimmy menyiapkan kuda-kuda nya. Apapun caranya, dia takkan membiarkan sang istri tergores sedikit pun.
Perkelahian tak dapat di hindarkan, suara pukulan mulai terdengar menggema di ruangan, bahkan sekarang Jimmy sudah terjun langsung menghajar musuh dengan tangan kosong.
Brughh.. brughh..
Suara-suara semacam itu memenuhi indra pendengaran Alisa, membuat nya ketakutan. Ohhh andai saja dia tak memaksa ikut, mungkin dia takkan melihat semua ini.
Satu jam sudah berlalu, Jimmy masih sibuk menghajar musuh-musuh nya, hingga fokus nya pada Alisa sedikit terbagi. Dia terus menghajar musuh dengan seluruh kekuatan nya, hingga banyak sudah musuh yang tumbang akibat serangan nya.
Jimmy berhasil menumbangkan seorang musuh, dia mencengkeram kerah pakaian musuh nya yang sudah tak berdaya, lalu menginjak dada nya dengan kuat. Amarah terlihat jelas dari wajahnya.
Pria itu tak sadarkan diri karena pukulan-pukulan yang di layangkan Jimmy pada tubuh dan wajahnya. Setelah di rasa cukup, Jimmy melirik ke belakang. Tempat sang istri berada, tapi sekarang Alisa tak ada disana.
'Sial, jangan-jangan aku kecolongan? Aargghh!'
"Cari istriku!" Teriak Jimmy lalu berlari menerobos lautan tubuh manusia yang sudah tak berdaya, mungkin sebagian sudah tak bernyawa.
"Sial-sial, kenapa aku bisa seceroboh ini?"
.......
🌻🌻🌻🌻
jangan lupa mampir ke karya temen author juga yaaw😚 khususnya yang suka sama novel-novel berbau mantan😁
Back To Mantan karya kak Bhebz😚
__ADS_1