
Jimmy menyesap rokoknya, tatapan mata nya lurus ke depan dengan tajam, seolah di depan ada musuh yang tengah berdiri sambil menertawakan dirinya. Lagi-lagi, Jimmy meninju meja yang tak bersalah hingga membuat kopi milik Farhan tumpah.
Ingin sekali dia memaki Jimmy sekarang, tapi rasanya tak mungkin marah-marah pada ketua di saat seperti ini kan?
"Sial.." Rutuk Jimmy, tangan nya mengepal kuat, meremaas rokok yang menyala dengan tangan nya. Anehnya, dia tak merasakan kepanasan, bahkan Farhan dan Aldi yang juga ada disana meringis membayangkan sepanas apa rokok itu, tapi di lihat dari ekspresi Jimmy yang tak menunjukan reaksi apapun, mereka yakin bahwa saat ini suasana hati bos mereka sedang tak baik.
Bagaimana bisa baik? Disaat anggota nya banyak yang terluka, tapi dia masih menunggu laporan dari Dian. Ingin nya, Jimmy langsung pergi dan mematahkan leher-leher musuh seperti biasa, atau memisahkan lengan mereka dari tempatnya.
"Lo disini, gue cabut duluan. Bini gue di rumah sendirian!" Tegas Jimmy lalu pergi berlalu meninggalkan Farhan dan Aldi yang melongo melihat Jimmy. Seperti nya amarah pria itu hanya akan padam saat melihat istrinya.
"Bos Jimmy bucin sama bini nya."
"Udah pasti lah, apalagi udah di unboxing. Ya makin bucin lah." Jawab Farhan sambil memakan kacang.
"Wahh, bos Jimmy udah merasakan surga dunia. Lo kapan bro?" Tanya Aldi sambil cengengesan.
"Bentar lagi, gue juga bakal unboxing."
"Wihh unboxing apa bro?"
"Kepo, Lo gue unboxing mau?" Tanya Farhan dengan seringai nakal yang tersungging di wajahnya, membuat Aldi bergidik ngeri.
"Ogah, gue masih normal gak menyimpang. Gue mau lobang depan, gak mau yang belakang!" Cerocos Aldi sambil manyun, membuat Farhan tergelak.
"Gimana anak-anak, aman?"
"Aman? Mereka istirahat di bawah." Jawab Aldi, dia juga ikut menyesap rokoknya.
"Mau minum?"
"Kagak, besok sekolah." Jawab Aldi, padahal situasi saat ini sangat mendukung untuk minum-minum. Tapi mengingat besok harus sekolah, jadi Aldi memilih tak minum dulu.
"Yaudah, gue keluar dulu mau lihat Dery."
"Ngikut." Jawab Aldi, dia pun mengintil di belakang Farhan. Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang tersenyum menyeringai saat melihat kedua pria itu pergi dari ruangan tempat berkumpul nya anggota penting.
Di rumah, Alisa terbangun karena merasa tubuh nya menggigil kedinginan. Padahal tadi dia tidur berbantalkan dada bidang Jimmy dan berselimutkan dekapan hangat suaminya, tapi dimana pria itu sekarang?
Alisa mengucek mata nya, lalu melirik ke arah nakas, disana ada jam weker yang menunjukkan pukul 11 malam.
"Eehhmmm, Jimmy kemana ya? Kumat dah, suka ngilang tengah malem." Gumam Alisa dengan suara serak khas bangun tidur nya. Dia merapatkan selimut karena rasa dingin, meski dia sudah mengenakan piyama sekalipun.
"Jim.." panggil Alisa sedikit keras, dia mengira Jimmy ada di kamar mandi. Dia bangkit dan membuka pintu kamar mandi, kosong.
"Isshh kemana sih itu anak? Kebiasaan deh." Gerutu Alisa, dia keluar kamar dan menuruni tangga. Dengan berani dia keluar dan melihat garasi, ternyata motor suaminya tak ada disana, berarti Jimmy pergi dengan motornya, tapi kemana?
__ADS_1
"Eehh, Neng? Ngapain disini?" Tanya satpam penjaga rumah yang membuat Alisa terkejut setengah mati.
"Aahh bapak ngagetin aja, ini saya lagi liat motor Jimmy. Tapi gak ada," jawab Alisa seadanya. Memang faktanya dia kesini untuk melihat motor milik suaminya.
"Oh, Den Jimmy tadi pergi sama Den Farhan. Pake helm, jaket sama sepatu kayak biasanya." Jelas mang Ujang, security yang bertugas menjaga rumah besar keluarga Leonard.
"Mang Ujang gak tau suami saya kemana?"
"Enggak Neng, soalnya gak nanya." Jawab mang Ujang, Alisa mendengus sebal lalu kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah yang di hentak-hentakan karena kesal. Ini bukan pertama kalinya Jimmy meninggalkan nya saat sedang tidur, tanpa berpamitan lebih dulu. Jelas saja pas bangun dia akan kelimpungan mencari suaminya.
"Nyebelin!" Gerutu Alisa lagi, lalu memutuskan ke dapur. Kalau terbangun malam, Alisa selalu merasa lapar dan di dapur semua nya ada.
Alisa membuka kulkas dan mengambil beberapa buah sosis juga telur, dia akan memakan sosis juga telur goreng sebagai pengganjal perut nya yang keroncongan.
"Nona muda, mau makan non?" Sapa Bi Ijah. Dia terusik dari tidurnya saat mendengar ada seseorang di dapur, sebagai kepala pelayan, tentunya dia harus selalu siap siaga kapanpun.
"Eehh bibi, Alisa ganggu ya?"
"Enggak kok Non, mau makan? Biar Bibi masakin."
"Gak usah Bi, Alisa masak sendiri aja. Tidur lagi ya Bi, maaf kalau Alisa ganggu tidur bibi."
"Gapapa kok Non, yaudah bibi ke kamar lagi ya. Kalau ada yang di butuhin panggil aja,"
Alisa mulai memotong sosis kecil-kecil dan mengocok nya dengan telur, menambahkan irisan daun bawang dan bumbu penyedap agar rasanya semakin enak. Lalu menggorengnya dengan api sedang, perempuan cantik itu nampak lihai membulak-balikan omelet telur di teflon.
Aroma omelet telur itu sangat harum, hingga membuat perut Alisa semakin keroncongan. Dia memindahkan telur ke piring, menambahkan saus dan mulai memakan nya, tak lupa di samping piring berisi omelet itu ada segelas susu stroberi kesukaan nya.
"Gak baik lho makan malem-malem gini, apalagi sendirian. Kenapa gak ngajakin?" Suara yang terdengar sangat familiar, Alisa memutar matanya jengah saat melihat Jimmy mendekat ke arahnya.
"Hey, kok diem aja. Kenapa?"
"Dari mana?" Tanya Alisa tanpa menoleh sedikitpun ke arah suaminya.
"Basecamp, Baby."
"Sama Farhan?" Tanya nya lagi, Jimmy duduk di depan Alisa, dia juga menuang air putih ke dalam gelas lalu menenggak nya.
"Huum, kenapa sayang?"
"Tumben balik."
"Khawatir sama kamu sendirian di rumah, aku pikir kamu gak bakal bangun sebelum aku balik."
"Emang di basecamp ada apa sih? Perasaan Farhan sering banget ngajak kesana, apa ada cewek cantik?" Tanya Alisa dengan sorot mata memicing menatap wajah Jimmy.
__ADS_1
"Hah? Haha, enggaklah sayang. Lagian aku gak bakal tergoda sama cewek lain, kan aku udah punya istri, mana istrinya cantik banget lagi." Jawab Jimmy dengan kekehan nya.
"Gembel."
"Idih gembel, gombal kali Yang."
"Serah, jadi ngapain ke basecamp? Pertanyaan itu belum kamu jawab lho." Ucap Alisa menuntut jawaban Jimmy.
"Basecamp di serang Bby, 15 anggota terluka." Jawab Jimmy membuat Alisa menghentikan suapan nya.
"Di serang? Terluka gimana, parah gak?"
"Parah sih enggak, bagi mereka ini sudah biasa. Tapi tetap perlu waktu untuk pulih."
"Terus?"
"Dian lagi nyelidikin siapa dalang penyerangan ini, Bby. Aku nungguin laporan dia dulu, baru bergerak."
"Bergerak? Maksud kamu?" Tanya Alisa.
"Yeah bergerak maju mundur, seperti yang tadi kita lakukan." Goda Jimmy sambil menarik turunkan alisnya.
"Dihh, mesuum!" Cibir Alisa, namun wajah nya memerah.
"Tapi kamu suka kan? Buktinya kamu tuh suka teriak-teriak keenakan gitu."
"Jimmy, isshhh omongan nya!" Kesal Alisa sambil mengarahkan garpu nya ke arah Jimmy.
"Hahah, biasa aja kali sayang. Btw itu omelet yang kayak waktu itu?" Tanya Jimmy, beberapa kali Alisa membuatkan omelet telur untuk bekal, rasanya sangat enak dan membuat ketagihan.
"Heem, mau?"
"Mau dong, sekalian suapin ya."
"Dihh manja." Ejek Alisa, tapi tetap menyuapi suaminya yang sedang dalam mode manja itu.
Setelah menghabiskan sepiring omelet telur berdua, Jimmy dan Alisa pun pergi ke kamar dan melanjutkan tidur mereka. Alisa kembali mendusel ke dada bidang suaminya, Jimmy pun tak keberatan. Malah dia tersenyum senang saat melihat Alisa begitu nyaman dalam dekapan nya.
Tapi, dia belum bisa memejamkan mata nya sama sekali. Dia terpikirkan kondisi anak-anak di basecamp, meski ada Farhan, Aldi dan Dery, tetap saja dia khawatir akan ada penyerangan susulan.
'Apa ada penghianat di dalam anggota? Kalau saja dugaan ku benar, aku tak akan ragu untuk menebas kepala nya.' Batin Jimmy.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1