Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Tempat Baru


__ADS_3

Daniela menghela napas dengan begitu berat, dia sudah bersiap untuk menimpali ucapan Dave. Akan tetapi, belum juga dia mengatakan apa pun sang manajer tempat dia bekerja sudah datang menghampiri Daniela dan berkata.


"Aku menunggumu sejak tadi, di Resto yang ada di pusat kota butuh tambahan orang. Besok kamu sudah mulai kerja di Resto pusat," ucap sang manajer tanpa basa-basi.


Untuk sesaat Daniela terdiam, otaknya seolah susah untuk bekerja karena dia terus saja menangisi kekecewaan. Tidak lama kemudian dia berkata.


"Maksudnya, aku harus pindah?" tanya Daniela.


Sang manajer mengangguk-anggukan kepalanya dengan antusias, karena memang Daniela harus dipindah tugaskan ke Resto pusat.


"Ya, gajinya kamu akan naik dua kali lipat."


Daniela terdiam, apakah mungkin Ini kesempatan bagi dirinya untuk menjauhi Dave. Karena dengan seperti itu kesempatan untuk bertemu dengan Dave lebih kecil lagi, sehingga dia bisa mulai menata hatinya yang terlanjur terluka.


Namun, dia merasa takut karena tidak mengenal siapa pun di sana. Itu artinya, dia harus memulai semuanya dari awal.


Terlebih lagi di sana dia juga harus mencari kostan baru, jika terlalu mendadak semuanya akan terasa begitu sulit bagi orang seperti Daniela.


"Tapi, Tuan. Bagaimana dengan tempat tinggal aku di sana? Kalau terlalu mendadak mencari kostan pun akan susah," keluh Daniela.


Atasan dari Daniela itu tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, dia mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Daniela dengan perlahan.


"Kalau kamu mau, kamu tidak perlu memikirkan kostan. Karena ada mes di sana, kamu tinggal membawa baju dan perlengkapan kamu seperlunya saja," jelas sang manager.


Pergi atau tidak? Itulah yang menjadi pertanyaan dalam hatinya, dia ingin sekali pergi untuk menghindari Dave, tetapi dia merasa tidak berani untuk pergi.


Selama bekerja dua tahun di sini saja, Daniela tidak memiliki banyak teman. Karena dia memang jarang bergaul, jarang bicara dan lebih suka menyendiri.


"Tapi, Apakah saya boleh memikirkannya terlebih dahulu?" tanya Daniela gamang.


Melihat kegamangan di wajah Daniela, atasan dari Daniela itu nampak tersenyum. Tidak lama kemudian, dia menganggukkan kepalanya.


"Keputusan ada di tangan kamu, boleh mikir dulu tapi hanya sampai malam."


Daniela ikut tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh atasannya itu, pria itu begitu berkuasa tetapi tidak memaksa. Sepertinya Daniela harus memikirkannya baik-baik, karena ini adalah kesempatan yang sangat baik.


"Terima kasih, kalau gitu saya kerja dulu." Daniela langsung mengambil baju dan segera berlalu ke kamar mandi.


Dia seolah tidak ingin berkata apa pun lagi, baik itu kepada atasannya ataupun kepada Dave. Bahkan, Daniela tidak menolehkan wajahnya sama sekali ke arah Dave.


Melihat kepergian kekasihnya, dengan cepat dia menyusul karena masih ingin ada yang dia bicarakan. Dia takut jika Daniela akan pergi, maka dia tidak bisa bicara lagi dengan kekasihnya.


Dave masih setia menunggu di depan kamar mandi, hal itu membuat pelayan lainnya merasa tidak nyaman. Melihat akan hal itu, sang manajer langsung menghampiri Dave.


"Sorry, Bro. Gue tau elu pacarnya Daniela, tapi gue harap elu bisa cepet keluar. Karena ini adalah tempat bekerja," tegur sang manajer yang lebih tepatnya terdengar sebagai nada pengusiran.


Dave menatap atasan dari Daniela itu dengan penuh permohonan, dia seakan meminta untuk diizinkan berdiam diri lebih lama lagi di sana.


"Sebentar saja, Tuan. Saya ingin berbicara sebentar dengan pacar saya," pinta Dave.


Pria itu menggelengkan kepalanya, menurutnya Dave itu sangatlah tidak perhatian. Karena bukannya membuat kekasihnya senang, tetapi malah akan mengganggu waktu kerja sang kekasih.

__ADS_1


"Maaf, jika mau berbicara dengan Daniela silakan setelah dia pulang bekerja saja," ucap sang manajer dengan tegas.


Dave tertunduk lesu, dia akhirnya mengalah karena tidak mau sang kekasih mendapatkan masalah nantinya. Bisa saja Daniela akan mendapatkan teguran karena ulahnya.


"Baiklah," ucap Dave dengan pasrah.


Setelah berbicara dengan sang manajer, Dave keluar dari Resto itu dengan langkah gontai. Dia masuk ke dalam mobilnya, tetapi masih terdiam seraya menatap Resto tempat di mana Daniela bekerja.


Untuk sesaat Dave terdiam, dia seolah sedang memikirkan apa yang seharusnya kini dia lakukan. Dia ingin segera pergi tapi takut kehilangan Daniela, karena baginya Daniela adalah wanita terpenting di dalam hidupnya.


Tidak lama kemudian, Dave mengambil ponsel miliknya. Lalu, dia segera mengetikkan pesan chat untuk sang kekasih hatinya.


"Sayang, apakah kamu akan menerima tawaran untuk bekerja di pusat kota?"


Satu pesan chat Dave kirimkan kepada Daniela, cukup lama dia terdiam hingga tidak lama kemudian dia mendapatkan balasan pesan dari Daniela.


"Sebenarnya aku tidak ingin pergi, tetapi gajinya sangat menggiurkan. Kalau aku pergi, aku bisa mendapatkan pengalaman baru dan uang tabunganku akan semakin banyak."


Dave tersenyum karena ternyata kekasihnya masih mau membalas pesan darinya, dia bahkan menceritakan keinginannya dan keraguannya kepada Daniela.


"Kalau kamu memang tertarik pergilah, aku akan menemuimu walaupun tidak setiap hari. Tapi aku mohon jangan pernah ada niatan untuk putus lagi, aku akan memutuskan Darra secepatnya."


Jarak dari kostan miliknya ke pusat kota membutuhkan waktu sekitar 2 jam, jika Dave harus setiap hari menemui Daniela rasanya waktunya tidak akan cukup.


"Ya, kamu benar. Aku harus pergi, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan gaji yang besar aku bisa mengumpulkan uang lebih banyak, biar nanti bisa beli rumah sendiri."


"Semangat, Sayang. Besok aku akan mengantarkanmu untuk pergi ke tempat kamu bekerja, aku janji akan memutuskan Darra. Hanya kamu wanita yang akan menjadi kekasih hatiku, calon ibu dari anak-anakku."


Berbeda dengan Daniela, setelah membaca pesan dari Dave dia langsung tersenyum getir, hubungan yang awalnya membuat dia bahagia kini malah seakan terasa begitu rumit.


Dia malah berpikir jika dirinya harus segera pergi, dia tidak perlu menunggu esok hari untuk pergi ke kota. Dengan cepat dia menemui manajernya, dia berkata jika dia ingin pergi ke pusat kota saat ini juga.


Daniela beralasan jika dia perlu menata barang-barangnya, sedangkan besok dia sudah harus bekerja. Alangkah baiknya jika hari ini dia sudah berangkat agar bisa beristirahat dengan tenang maoam ini, pagi harinya dia sudah bisa mulai bekerja.


"Baiklah Daniela, aku akan mengantarkanmu sekarang juga ke tempat kamu yang baru, persiapkanlah barang-barang kamu. Nanti aku akan menyusul ke kostanmu," ujar sang manajer.


"Siap, Tuan. Terima kasih, kalau begitu aku langsung pulang saja," ucap Daniela.


Setelah mengatakan hal itu Daniela langsung pergi menuju kostannya, karena dia ingin merapikan barang-barangnya. Sebenarnya setelah dia mengambil baju dan masuk ke dalam kamar mandi dia hanya menunggu kepergian Dave saja.


Wanita itu sama sekali tidak mengganti bajunya, dia hanya menghindari pertemuannya dengan Dave agar dia tidak berbicara apa pun lagi dengan pria itu.


Sesampainya di kostan, dia hanya merapikan barang-barang yang perlu dibawa saja. Setelahnya dia pun segera mengirimkan pesan chat kepada sang manager.


"Aku sudah siap!"


Setelah mengirimkan pesan chat, dia langsung duduk di atas bangku yang ada di pinggir jalan seraya membawa koper yang berisikan baju dan juga keperluan miliknya.


Tidak lama kemudian, sang manager datang membawa mobil miliknya dan langsung mengantarkan Daniela menuju pusat kota.


Selama perjalanan menuju tempat barunya Daniel hanya terdiam, dia begitu asik memikirkan banyak hal yang sudah terjadi di dalam hidupnya nantinya.

__ADS_1


2 jam kemudian, akhirnya Daniela pun sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah kecil dan sederhana, itulah tempat yang kini akan menjadi rumah sementara bagi Daniela.


"Loh, Tuan. Katanya aku tinggalnya di mes, kok ini lebih mirip kayak rumah kontrakan gitu sih?" tanya Daniela.


"Iya, soalnya mesnya sudah penuh. Jadi, kamu ditempatin di sini. Nggak papa ya, tinggal sendiri? Yang penting nyaman, oke?" ucap sang manajer.


"Oke, nggak papa," jawab Daniela.


"Bagus, kalau begitu kamu langsung rapi-rapi saja. Besok pagi-pagi jam 08.00 kamu sudah harus masuk di Resto pusat, alamat Restonya tidak jauh dari sini. Resto mewah yang tadi kita lewati, cukup dengan jalan kaki saja kamu sudah sampai."


"Iya, Tuan. Terima kasih," ucap Daniela.


Setelah mengantarkan Daniela, sang manager terlihat langsung pergi ke Resto tempat dulu di mana Daniel bekerja. Sedangkan Daniela langsung menata barang-barangnya, karena barang yang dibawa tidak banyak hanya cukup sebentar saja dia merapikan barang-barangnya.


"Sudah selesai, tinggal mandi, makan terus tidur." Daniela meregangkan otot-otot lelahnya, lalu dia pergi ke kamar mandi.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Daniela langsung memesan makanan lewat online. Karena dia merasa malas untuk pergi keluar rumah.


Lagi pula dia baru di sana, belum mengetahui di mana tempat jajanan yang murah dan juga enak. Setelah makanan yang dia pesan datang, dia langsung memakannya dengan lahap.


perutnya yang terasa kenyang akhirnya membuat dia begitu mengantuk dan dia tertidur dengan lelap. Bahkan, dia tidak terbangun saat Dave berkali-kali menelpon dirinya dan mengirimkan banyak besar untuknya.


Pagi telah menjelang, Daniela menggeliatkan tubuhnya. Dia segera mandi dan melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik, setelahnya barulah dia mencoba berkeliling untuk menghapal jalan dan membeli sarapan.


Setelah sarapan dia langsung bersiap dan pergi ke Resto untuk bekerja, dia tidak boleh telat di hari pertamanya dia bekerja.


"Ehm! Selamat pagi, Kak. Aku pelayan pindahan dari Resto A, untuk seragamnya saya harus meminta pada siapa?" tanya Daniela kepada salah satu pelayan di sana.


"Hai, Daniela! Aku Desi, kamu langsung ke ruangan pak bos aja. Dia mau langsung kasih baju buat kamu katanya," jawab Desi.


"Oh, begitu. Memangnya di mana ruangan pak bos?" tanya Daniela.


"Di lantai tiga pojok kanan, orangnya ganteng loh. Jangan ampe kesengsem," seloroh Desi.


"Hem," jawab Daniela seraya tersenyum canggung.


Setelah berbicara dengan Desi, Daniela langsung melangkahkan kakinya menuju lantai 3. Selama dia berjalan dia berpikir dengan sangat keras, kenapa untuk urusan baju pelayan saja harus bos yang menyerahkannya, pikirnya.


"Jangan berpikiran yang macam-macam, Daniela. Semangat untuk bekerja di tempat baru," ucap Daniela seraya melebarkan senyumnya.


Saat tiba di pojok kanan yang ada di lantai 3, Daniela langsung mengetuk pintu ruangan dari pak bos sesuai dengan intruksi dari Desi.


"Permisi, saya Daniela. Apakah saya boleh masuk?"


Ceklek!


Pintu nampak terbuka dengan lebar, wajah Daniela yang tadinya sumringah untuk bekerja kini langsung berubah. Bahkan tubuhnya terlihat bergetar.


"Selamat pagi Nona Daniela, saya Danish. Anda jangan bengong saja, silakan masuk. Saya mau berbicara dengan anda di dalam," ucap Danish tanpa basa-basi.


"A--aku--"

__ADS_1


__ADS_2