Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Melihatnya


__ADS_3

Debora baru saja selesai shalat ashar, tetapi dia terlihat tidak sabar ingin segera pergi untuk bertemu dengan pengusaha kaya yang akan membeli rumahnya. Sayangnya orang itu bisa bertemu dengan dirinya di saat makan malam saja, karena pria itu berkata sedang sangat sibuk.


"Apa aku ke tempat Darius saja, ya? Aku datang secara baik-baik dan mengucapkan salam perpisahan secara baik," ucap Debora lirih.


Debora tersenyum karena dia merasa jika idenya itu adalah hal yang baik, dulu dia bertemu dengan Darius diawali dengan hal yang salah. Kini, dia merasa harus mengakhiri hubungan mereka dengan baik-baik.


Mungkin jika dia bertemu secara baik-baik dengan Darius, perasaan yang akan lebih lega. Tidak akan ada dendam yang tersemat di dalam hatinya, karena walau bagaimanapun juga tetap saja dia merasa kesal terhadap pria itu.


Pria itu memang selalu bersikap manis kepada Debora, bahkan setiap Debora meminta apa pun Darius akan memberikannya. Namun, pria itu selalu saja berselingkuh di belakangnya.


Setelah cukup lama berpikir akhirnya Debora pergi ke perusahaan milik suaminya, dia bahkan membelikan makanan kesukaan suaminya tersebut.


Saat tiba di kantor, banyak karyawan yang langsung membungkuk hormat ketika melihat kedatangan Debora. Karena biasanya Debora memang akan datang sesekali ke kantor suaminya itu.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga saja Darius bisa diajak bicara baik-baik," ucap Debora ketika dia berada di depan pintu ruangan suaminya.


Dengan begitu perlahan Debora membuka pintu ruangan tersebut, dia sengaja tidak mengetuk pintu terlebih dahulu karena ingin tahu sedang apa suaminya tersebut di dalam sana.


Debora langsung membulatkan matanya dengan sempurna ketika dia melihat suaminya dan juga Dailily sedang asik berpeluh, Dailily terlihat sedang mengerang keenakan kala Darius menghentaknya dari belakang.


"Ouch!" jerit penuh nikmat terdengar dari bibir Dailily.


Wanita itu menjerit keenakan karena Darius menghentak inti tubuh wanita itu seraya menampar bamper bulat wanita muda itu.


"Menjeritlah, Sayang. Puaskan aku," ucap Darius seraya menarik rambut wanita itu dengan cukup kencang.


"Tentu saja, Sayang. Aku akan memuaskan kamu, karena kamu adalah cintaku." Dailily kembali menjerit karena Darius meremat dadanya dengan sangat kencang.


Dailily begitu bersemangat untuk memuaskan Darius, karena mobil yang dia inginkan baru saja dibelikan oleh pria itu. Dia bahkan rela kesakitan karena Darius memperlakukan dirinya dengan begitu kasar, karena yang terpenting baginya adalah uang dan limpahan kekayaan yang diberikan oleh pria itu.


Debora yang melihat akan hal itu merasa begitu syok, keduanya nampak seperti binatang yang tidak tahu malu. Mereka bercinta dalam keadaan polos di dekat jendela yang terbuka, bagaimana jika nanti ada yang melihat kelakuan mereka, pikirnya.

__ADS_1


Dulu Debora memang berselingkuh dengan pria itu, tetapi mereka selalu janji temu di sebuah hotel. Tidak pernah sekalipun Debora bercinta dengan sembarangan, selalu hotel tempat mereka memadu kasih dan saling memuaskan hasrat.


Debora memundurkan langkahnya dengan begitu perlahan, tentunya hal itu dilakukan agar Darius tidak menyadari kehadirannya.


"Ya Tuhan! Mungkin ini adalah balasan untukku, ternyata diselingkuhi seperti ini sangatlah sakit." Debora menangis dalam diam, lalu dia pergi ke ruangan asisten pribadi Darius.


"Nyonya! Kapan anda datang?" tanya Devan.


"Kemarin, Dev. Boleh saya minta tolong?" ucap Debora.


"Boleh," jawab Devan dengan tidak enak hati.


Terlebih lagi ketika Devan melihat air mata yang masih mengalir di pipi Debora, dia bisa menebak jika istri dari atasannya itu sudah tahu perselingkuhan yang dilakukan oleh Darius.


"Aku ingin bercerai dengan suamiku, tolong sampaikan kepada suamiku jika gugatan cerai sudah aku layangkan. Sebentar lagi hubungan aku dan Darius akan berakhir, tolong sampaikan juga rasa terima kasihku kepadanya. Tolong berikan juga makanan kesukaannya," ucap Debora seraya menyerahkan makanan kesukaan Darius kepada Devan.


"Iya, Nyonya," jawab Devan.


"Besok saya akan pulang ke tanah air, untuk urusan perceraian saya sudah melimpahkannya kepada pengacara saya." Debora tersenyum getir setelah mengatakan hal itu.


Debora menghela napas sepenuh dada, lalu dia mengusap air matanya. Dia berusaha untuk tersenyum, lalu keluar dari dalam ruangan Devan. Pria muda itu hanya bisa tersenyum kecut melihat kepergian Debora.


"Semoga ada kebahagiaan untuk aku yang penuh dosa ini," ujar Debora seraya memesan taksi dan pergi ke taman.


Dia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu, dia bahkan langsung memesan tiket online agar bisa langsung pulang ke tanah air malam ini juga.


Debora sudah memutuskan tidak akan bertemu dengan Darius terlebih dahulu, setelah menjual rumahnya, dia akan langsung pulang ke tanah air. Dia ingin melupakan semua masa lalunya, dia ingin memulai kehidupan barunya.


"Semoga ini adalah keputusan yang terbaik, Tuhan." Debora terdiam di bangku taman seraya memikirkan apa yang akan dia lakukan ke depannya.


Jika sedang asyik dalam lamunannya, dengan Darius yang baru saja selesai menembakkan cairan cintanya ke dalam inti tubuh Dailily.

__ADS_1


Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya, Dailily yang melihat akan hal itu langsung memunguti baju yang berserakan di atas lantai. Lalu, dia memakai baju tersebut dan segera pergi dari ruangan Darius.


Tentu saja dia kembali ke dalam ruangannya, dia ingin mandi dan segera mengganti bajunya. Karena baju yang tadi dia pakai sudah kusut akibat ulah dari Darius.


Setelah melihat kepergian dari Dailily, Devan langsung masuk ke dalam ruang atasannya tersebut. Dia duduk di atas sofa seraya menyimpan makanan yang sudah dibawakan oleh Debora.


"Wow! Sangat berantakan," ucap Devan yang pastinya tidak ingin membersihkan ruangan tersebut.


Cukup OB saja yang nanti akan membersihkan ruangan tersebut, karena dia merasa jika dirinya adalah seorang asisten pribadi. Jadi, tidak perlu yang namanya merapikan ruangan.


"Dev, ada apa kamu kemari?" tanya Darius ketika dia keluar dari dalam kamar mandi.


Pria itu sudah terlihat berganti pakaian setelah mandi, dia sudah terlihat rapi dan juga segar dengan rambutnya yang masih terlihat sedikit basah.


"Maaf kalau saya lancang masuk ke dalam ruangan anda, saya hanya ingin menyampaikan pesan dari nyonya Debora."


Darius terlihat begitu kaget mendengar nama istrinya, dia bahkan langsung duduk tidak jauh dari asisten pribadinya tersebut.


"Ada apa dengan Debora? Apakah dia sudah pulang?" tanya Darius.


"Sudah, Tuan. Sudah dari kemarin, oiya, Tuan. Tadi nyonya Debora datang, dia membawakan makanan kesukaan anda. Dia juga menitipkan pesan kepada anda," ucap Darius.


"Debora ke sini?" tanya Darius dengan air muka yang berubah pucat.


"Hem! Nyonya berkata jika dia sudah melayangkan gugatan cerai, proses perceraian sedang berlangsung. Nyonya minta maaf jika selama ini ada kesalahan, nyonya juga bilang terima kasih atas semuanya," jelas Devan.


Darius langsung mengusap wajahnya dengan kasar, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh asisten pribadinya tersebut. Dengan cepat dia mengambil ponsel miliknya dan berusaha untuk menghubungi Debora.


Sayangnya, berkali-kali dia berusaha untuk menelpon istrinya tersebut, Debora tidak pernah mengangkat panggilan darinya.


"Sial!" umpat Darius dengan kesal.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Darius mengambil kunci mobilnya dan segera pergi dari sana, Devan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari atasannya tersebut.


"Dasar tukang selingkuh! Maunya punya lobang banyak, huh!" ujar Devan seraya mencebikkan bibirnya.


__ADS_2