
Danish baru saja turun dari mobilnya, dia sengaja datang menemui Daniela untuk mengantarkan makanan yang sudah bibi masak.
Daniela sedang hamil, dia butuh asupan gizi yang baik dan tidak boleh memakan makanan yang salah. Maka dari itu, pagi-pagi sekali dia meminta bibi untuk memasak makanan sehat untuk Daniela.
Dahi Danish nampak mengernyit dalam kala dia melihat Daniela yang duduk di lantai dengan tatapan kosong, dia menjadi khawatir.
Dengan cepat Danish menghampiri Daniela, dengan sigap dia membantu Daniela untuk bangun dan menuntunnya untuk duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu.
"Jangan melamun, kasihan bayi yang berada di dalam kandungan kamu. Sekarang kita sarapan ya," ajak Danish.
Daniela menolehkan wajahnya ke arah Danish, dia tersenyum karena rasa mual dan juga pusing yang sejak pagi dia rasakan kini langsung pulih setelah mencium bau tubuh pria itu.
Di dalam hati Daniela tertawa, ini pasti karena ulah dari bayi mereka. Bayi itu ingin selalu dekat dengan ayahnya, karena Daniela selalu berusaha untuk menolak kehadiran Danish di dekatnya.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?" tanya Danish.
"Bau parfum kamu enak, mualku langsung hilang," jawab Daniela.
Danish terkekeh, pasti itu karena pengaruh kehamilan, pikirnya. Dia sudah banyak bertanya kapada dokter kandungan, nyatanya ada ibu hamil yang selalu merasa tenang jika berdekatan dengan ayah dari sang jabang bayi.
"Benarkah seperti itu?" tanya Danish saraya mengelus lembut punggung tangan Daniela.
"Hem, dari pagi aku muntah terus. Perut aku rasanya sakit banget, makanya tadi aku keluar sekalian pengen nyari makan. Laper banget, kayaknya dia pengen sarapan." Daniela nyengir kuda.
Danish merasa sangat senang, karena Ini pertama kalinya Daniela bersikap begitu manis kepada dirinya. Padahal, biasanya dia akan menolak kehadiran Danish di sisinya.
"Ya, sudah. Kalau kamu merasa nyaman berada di dekat aku, hari ini aku tidak akan bekerja. Aku akan menemani kamu, aku akan menjaga kalian." Danish tersenyum seraya mengelus lembut perut Daniela.
Daniela tersenyum kecut, dia selalu menolak ketika Danish ingin bertanggung jawab. Namun, janin yang dia kandung saat ini malah seakan tidak ingin berjauhan dari ayah kandungnya.
Ya, Daniela sangat yakin jika jadi yang berada di dalam kandungannya adalah milik Danish. Karena seperti yang pria itu katakan, Danish adalah pria pertama yang menyentuhnya.
"Hem, kamu tuh kaya yang yakin banget kalau anak yang aku kandung adalah milik kamu. Kamu nggak mau melakukan tes DNA gitu?" tanya Daniela.
Sengaja Daniela mengatakan hal itu, dia ingin tahu seberapa yakin Danish terhadap dirinya dan bayi yang sedang dia kandung.
"Untuk apa? Aku adalah pria yang satu-satunya tidur dengan kamu, aku adalah pria yang sudah mengambil keperawanan kamu. Sudah dapat dipastikan jika janin yang ada di dalam kandungan kamu adalah milikku," ucap Danish dengan pasti.
"Pak Bos, aku sudah pernah bilang kalau aku pernah tidur bareng sama--"
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Nanti akan aku jelaskan, sekarang kamu makan dulu. Kasihan anakku sudah sangat kelaparan," ucap Danish yang tidak ingin mendengar Daniela mengatakan hal apa pun lagi.
"Baiklah, karena bayiku selalu ingin aku berada di samping kamu. Aku akan mencoba untuk berdamai dengan hatiku," ucap Daniela yang merasa jika hubungannya bersama dengan Dave tidak bisa diteruskan lagi.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Daniela, Danish meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Lalu, dia mengelus lembut perut Daniela.
"Karena anak Ayah sangat manja banget, jadi kita akan makan bersama. Setelah makan tolong bujuk Mama kamu, Ayah mau segera nikah sama Mama."
Daniela langsung tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Danish, tetapi di satu sisi dia juga merasa bahagia karena Danish begitu yakin untuk bertanggung jawab.
Di lain tempat.
Dave melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rencana hari ini untuk menghabiskan waktu dengan Daniela dia urungkan. Terlebih lagi saat dia mendengar Daniela yang sedang kesakitan memuntahkan isi perutnya, dia takut jika Daniela akan langsung meminta pertanggungjawaban darinya.
Lebih baik dia melanjutkan hubungannya dengan Darra, karena dia merasa jika Darra adalah wanita yang lebih baik daripada Daniela. Darra selalu bisa memuaskan dirinya di atas ranjang, bahkan keadaan Darra pun lebih baik daripada Daniela.
Darra mempunyai mobil mewah, apartemen yang cukup mewah. Bahkan, setahunya Darra juga mempunyai koleksi berlian dan emas yang banyak di dalam lemarinya.
"Sepertinya aku memang lebih baik putus saja dengan Daniela, lagi pula aku tidak ingat saat menidurinya. Siapa tahu anak itu bukan anakku," ucap Dave dengan teganya.
Setelah melakukan perjalanan selama 2 jam, akhirnya Dave sampai di apartemen milik Darra. Dia berusaha untuk mengatur raut wajahnya agar tidak tegang, dia akan beralasan jika dirinya batal melakukan perjalanan ke luar kota.
Dengan perlahan dia menekan kode password pintu apartemen milik selingkuhannya itu, setelah dia bisa membuka pintu apartemen tersebut dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, biasanya jam segini Darra baru terbangun dari tidurnya lalu dia akan melaksanakan sarapan paginya.
Namun, saat dia tiba di dalam ruang makan, ternyata di sana tidak ada Darra. Bahkan, di dalam apartemen tersebut terasa begitu sepi. Dave jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, mungkinkah selingkuhannya itu masih tertidur pulas.
Di dalam apartemen tersebut ada dua kamar besar, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur dan satu ruangan yang khusus Darra gunakan untuk berolahraga.
Ceklek!
Pintu kamar utama nampak terbuka, Dave tersenyum ketika melihat kamar Darra yang masih dalam keadaan gelap. Padahal tadi pagi Dave sudah menyibak tirai yang ada di ruangan tersebut, tapi sepertinya wanita itu sengaja menutup tirainya agar bisa tertidur dengan nyaman.
Namun, tidak lama kemudian senyum di bibirnya nampak meredup. Dia bahkan langsung mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna ketika dia melihat Darra yang sedang menaik turunkan tubuhnya di atas pria paruh baya yang begitu asik bermain dengan dada Darra.
"Ouch!"
Erangan kenikmatan terdengar begitu kencang dari bibir Darra, wanita itu menengadahkan kepalanya seakan sedang mencari kenikmatan surgawi yang sudah sangat dia dambakan.
"Teriak yang kencang, Sayang. Aku membayar kamu untuk itu." Pria paruh baya itu berkata seraya menampar bokong Darra.
Darra menjerit keenakan dengan apa yang dilakukan oleh pria paruh baya itu, Dave yang melihat akan hal itu benar-benar begitu marah.
"Bayarannya ditambahin ya, Om. Ini sudah yang kedua kalinya loh, biasanya Darra tidak mau melakukan servis sebanyak dua kali," ucap Darra dengan napas terengah.
Dave benar-benar merasa hancur mendengar obrolan antara pria paruh baya itu dengan Darra, jika terjadi obrolan seperti itu di antara keduanya, itu artinya Darra memang berprofesi sebagai wanita malam.
__ADS_1
"Santai aja, Sayang. Om akan memberikan apa pun yang kamu mau, yang terpenting kamu melayani Om dengan baik. Berikan servis terbaik kamu," jawab pria paruh baya itu.
Kedua insan berbeda jenis kelamin itu begitu asik dengan pergumulan panas yang mereka lakukan, mereka bahkan tidak sadar jika di sana ada Dave yang sedang menonton live streaming kelakuan keduanya.
"Besok Darra kasih yang lama, tapi duitnya banyakin ya, Om. Ouch! Darra udah mau sampe," ucap Darra dengan erangan yang terdengar manja.
Pria paruh baya itu langsung menahan bokong Darra, lalu dia memompa tubuh Darra dari bawah. Pria itu memang terlihat tua, tetapi staminanya sangat luar biasa.
"Om!" jerit Darra dengan tubuh yang menggelinjang.
Pria paruh baya itu tertawa senang melihat reaksi dari tubuh Darra, dia sangat suka kala melihat wajah Darra yang sangat memesona di matanya.
''Dasar wanita nakal, sekarang rasakan hujaman kenikmatan dariku!" ucap pria paruh baya itu seraya mendorong tubuh Darra hingga wanita itu jatuh terjerembab ke atas tempat tidur.
Bukannya menangis, justru darah malah tertawa mendapatkan perlakuan seperti itu. Dia bahkan menggoyangkan pinggulnya seakan minta untuk segera dimasuki.
''Dasar wanita nakal!" ucap pria paruh baya itu seraya menghentak inti tubuh Darra dari belakang.
"Ouch! Sayang, ini sangat--"
Brugh!
Dave yang sudah tidak tahan langsung melemparkan bogem mentahnya tepat di rahang pria paruh baya itu, Darra langsung menjerit karena kaget.
"Dave!" teriak Darra seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku tidak pernah menyangka jika kamu adalah seorang wanita malam, aku kira selama ini kamu adalah wanita baik-baik." Dave mengeluarkan unek-uneknya kepada Darra.
Melihat kemarahan di mata Dave, Darra tidak terlihat sedih. Justru dia marah, wanita itu tanpa malu turun dari tempat tidur dengan tubuh polosnya dan memaki pria itu.
"Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya melakukan hal itu kepada Om Burhan? Kamu tuh cuma lelaki kere, seharusnya kamu bersyukur aku mau sama kamu. Bahkan kamu tidak pernah memberikan apa pun kepadaku!" sentak Darra.
"Maksud kamu apa?" tanya Dave dengan debaran jantungnya yang tidak karuan.
"Aku tuh mau sama kamu karena kamu masih muda dan gagah, walaupun kamu tidak pernah bisa memberikan aku kemewahan. Tapi, kamu bisa memberikan aku kenikmatan dengan batang kamu ini," ucap Darra seraya memukul gemas milik Dave.
Dave sempat memundurkan langkahnya mendengar apa yang dikatakan oleh Darra, dia benar-benar merasa terpukul dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang selalu dia bela selama ini.
Bahkan, dia rela meninggalkan Daniela demi memilih wanita yang dia anggap lebih baik dari kekasihnya. Dave merasa hatinya hancur lebur, tubuhnya seakan terbakar hangus dan kini dia hanya menjadi serpihan abu.
"Jadi, selama ini kamu tidak mencintai aku?" tanya Dave.
"Cinta?" tanya Darra dengan raut wajah sengit.
__ADS_1