Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Permintaan Dilla


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 18;52. Danish, Daniela dan juga Dave sudah tiba di rumah Dea. Mereka juga datang dengan ditemani beberapa pelayan, tentu saja mereka diajak karena harus membawakan hantaran yang sudah disiapkan ke dalam rumah Dea.


"Wah! Hantarannya banyak sekali? Padahal aku cuma minta cincin," ucap Dea dengan wajah yang berbinar.


Dilla langsung menyenggol lengan putrinya, karena putrinya itu berbicara dengan sangat polos. Padahal, pihak wanita sebaiknya hanya diam dan menerima apa pun yang diberikan oleh pihak pria.


"Kenapa, Mom?" tanya Dea yang tidak paham dengan kode yang diberikan oleh ibunya tersebut.


"Tidak apa-apa, kamu belum menyapa Danish." Debora tersenyum kecut seraya memberikan alasan, karena ternyata putrinya itu tidaklah peka.


"Ah iya! Aku sampai lupa, terima kasih sudah mau datang dengan Kak Daniela. Aku terharu," ucap Dea.


"Sama-sama, hantarannya sudah kamu terima. Apakah kami tidak dipersilakan untuk masuk?" tanya Danish.


"Eh? Iya, ayo kita masuk. Kita makan malam dulu atau acara lamaran dulu?" tanya Dea yang kebingungan sendiri.


Dave yang sejak tadi diam di samping Danish langsung mengeluarkan suaranya, karena dia tidak mungkin menunggu keputusan Danish jika untuk urusan yang satu itu.


"Acara lamaran saja dulu, nanti baru makan malam. Takutnya aku tidak bisa makan karena terlalu gugup dan belum bisa bernapas lega, karena Dea belum resmi menjadi calon istriku," jawab Dave.


"Ya ampun! Aku setuju," jawab Dilla dengan cepat.


Pada akhirnya Dea, Danish, Dilla, Daniela dan juga Dave langsung masuk ke dalam ruang keluarga. Mereka berkumpul di sana untuk melakukan acara lamaran, Dave nampak tegang.


Acara malam ini tentunya dibuka dengan ucapan dari Danish sebagai perwakilan dari pihak pria, setelah itu dilanjutkan oleh ucapan Dilla sebagai ibu dari Dea.


Setelah terjadi perbincangan antara Danish dan juga Dilla, akhirnya Dave memberanikan diri untuk melamar wanita yang pernah menghabiskan malam bersama dengannya di atas ranjang yang sama.


"Ehm! Dea, aku datang ke sini untuk melamar kamu. Maukah kamu menikah dengan aku yang hanya pria biasa ini?" tanya Dave.


Dea tersenyum malu-malu mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, dia tidak menyangka jika hari ini akan tiba juga. Ada seorang pria yang datang menemuinya dan melamar dirinya, meminta dirinya untuk menjadi istri dari pria tersebut.


"Tentu saja aku mau," jawab Dea.


"Alhamdulillah!" seru semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Danish ikut merasa senang karena akhirnya Dea akan menikah dengan Dave, walau bagaimanapun juga perempuan itu sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


Setidaknya setelah Dea mendapatkan penolakan dari dirinya, ada Dave yang akan membahagiakan wanita itu. Wanita yang selalu saja bertindak ceroboh dan gampang panik ketika dia dihadapkan dalam situasi genting.


Danish yang berada tepat di samping Dave langsung menepuk pundak pria itu, lalu dia tersenyum dan berkata.


"Dave! Aku harap kamu tidak bermain-main dengan adikku, karena Dea sudah seperti adik bagiku. Jika suatu saat nanti kamu menyakitinya, maka kamu akan berhadapan denganku."


Danish sengaja memberikan ancaman kepada pria itu, agar pria itu tidak menjalankan pernikahannya secara main-main.


"Eh? Mana berani aku," jawab Dave.


Setelah mengatakan hal itu, Dave langsung mengambil cincin dari saku kemeja yang dia pakai. Lalu, dia berlutut dan menggenggam tangan calon istrinya.


"Maaf karena aku hanya bisa memberikan cincin ini untuk kamu, nanti kalau aku sudah punya uang, aku akan membelikan kamu cincin yang bagus." Dave langsung memakaikan cincin di jari manis Dea.


"Tidak apa-apa, Dave. Cincin itu hanya sebuah simbol saja, yang terpenting kamu memperlakukan aku dengan baik setelah kita menikah nanti." Dea tersenyum hangat seraya menatap netra Dave dengan lekat.


"Terima kasih," ucap Dave dengan tulus.


Walaupun terkadang sifat Dea mengingatkan dirinya akan Daniela, wanita yang membuat dirinya jatuh hati dengan sifatnya yang baik dan juga perhatian terhadap siapa pun.


Setelah acara tukar cincin selesai, Dilla mengajak semuanya untuk makan malam bersama. Makan malam kali ini terasa begitu ramai, karena Dea terus saja berceloteh seperti layaknya anak kecil.


Namun, herannya Dave merasa suka dengan kelakuan dari calon istrinya tersebut. Dia berjanji di dalam hatinya akan memulai berumah tangga dengan baik bersama dengan Dea, dia akan berusaha untuk tidak tergoda dengan rayuan wanita mana pun.


Tidak akan ada lagi wanita yang akan merusak hubungannya bersama dengan Dea, seperti wanita yang pernah hadir di masa lalunya seperti Darra.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, acara makan malam pun sudah selesai. Danish dan juga Daniela memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, karena mereka sudah tidak ada keperluan lagi di sana.


Berbeda dengan Dave, pria itu belum juga pergi dari sana. Karena Dilla meminta pria itu untuk tetap tinggal, karena dia berkata ada hal yang penting yang akan dia sampaikan.


"Kamu masuk ke dalam kamar ya, Sayang. Mom mau bicara dengan Dave sebentar," ucap Dilla.


"Yes, Mom," jawab Dea menurut.

__ADS_1


Sebelum Dea masuk ke dalam kamarnya, dia sempat menolehkan wajahnya ke arah Dave. Dea tersenyum manis lalu melambaikan tangannya ke arah pria itu, Dave tersenyum lalu membalas lambaian tangan dari calon istrinya tersebut.


"Kita bicara di dalam ruang kerja, Mom," ajak Dilla.


Tentu saja hal itu dia lakukan agar Dea tidak mendengar percakapan antara dirinya dengan Dave, karena memang ruangan kerja miliknya itu kedap suara.


"Duduklah, Dave. Mom ingin bicara," ujar Dilla cara yang menunjuk sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Yes, Mom. Sebenarnya ada apa?" tanya Dave.


"Dave, Mom mohon jangan pernah kamu menyakiti Dea. Mom menitipkan putri Mom kepada kamu, umur Mom sudah tidak lama lagi. Mom percaya kamu pasti bisa menjadi suami yang baik untuk Dea, Mom percaya kamu bisa membimbing Dea menjadi wanita karir yang sukses."


"Maksud, Mom?" tanya Dave.


"Mom sakit, kanker otak stadium akhir. Umur Mom tidak lama lagi, tolong jaga Dea. Semua aset yang Mom punya sudah dialih namakan menjadi nama Dea, tolong berjanjilah untuk selalu berumah tangga dengan baik dengan putri Mom," pinta Dilla.


"Mom!"


Dave langsung menghampiri Dilla, lalu dia memeluk wanita paruh baya itu dengan penuh kasih. Dave sama halnya seperti Daniela, dia adalah anak yatim piatu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Dilla, dia menjadi kasihan terhadap Dea. Wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu akan kehilangan ibunya, Dave langsung berjanji di dalam hatinya untuk menjaga istrinya dan memperlakukan Dea dengan penuh cinta.


Dia yakin jika terus tinggal di dalam satu atap yang sama bersama dengan Dea, maka cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya.


"Berjanjilah, Dave. Berjanjilah untuk selalu menyayangi dan mencintai putriku, jadikan dia wanita satu-satunya di dalam hidup kamu." Dilla berucap seraya terisak.


Dia benar-benar berharap jika Dave bisa menjadi pelindung bagi putrinya, karena sebentar lagi dia tidak akan ada lagi di dunia ini. Dia tidak bisa lagi menjaga putrinya, dia tidak bisa lagi melindungi putrinya itu.


"Aku janji akan menjaga dan mencintai Dea, tapi Mom. Apa Mom tida berobat?" tanya Dave seraya melerai pelukannya.


Bukankah Tuhan menciptakan penyakit dengan obatnya, lalu kenapa dengan mudahnya Dilla berkata jika dirinya tidak akan memiliki umur yang panjang lagi, pikirnya.


"Sudah, Dave. Dokter berkata jika umur Mom tidak akan lama lagi, Mom benar-benar berharap banyak dari kamu. Dea adalah wanita yang baik, tetapi dia selalu saja bertindak gegabah dan juga panik berlebihan ketika menghadapi situasi genting. Tolong jaga dia," pinta Dilla lagi.


Selama ini Dilla selalu saja memakai topeng di wajahnya, dia selalu berpura-pura jahat dan terkadang ceria, walaupun pada kenyataannya dia memiliki ketakutan yang berlebih.

__ADS_1


"Yes, Mom. Aku akan menjaganya," jawab Dave dengan janji yang sungguh-sungguh di dalam hatinya.


__ADS_2