Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Pusing


__ADS_3

Dilla menatap tidak percaya pada kedua insan yang sedang saling memeluk dengan posesif itu, Dea bahkan terlihat memeluk Dave dengan begitu posesif.


"Dea! Dave! Apa yang sudah terjadi di antara kalian berdua!" jerit Dilla.


Dilla menjerit dengan sekuat tenaga, karena dia merasa kecewa dengan apa yang dia lihat saat ini. Akan tetapi, baik Dave ataupun Dea, tidak ada yang bangun di antara keduanya.


Mereka masih asik dalam alam mimpinya, jeritan dari mulut Dilla yang begitu kencang seakan tidak berarti apa pun bagi keduanya.


Dilla yang merasa kesal langsung menghampiri anak dan juga calon menantunya tersebut, tanpa ragu dia mengambil bantal dan memukul Dea dan juga Dave secara bergantian dengan bantal tersebut.


Setelah melakukan hal tersebut Dea dan juga Dave hanya menggeliatkan tubuhnya, sepertinya mereka begitu kelelahan. Dilla yang merasa kesal langsung memencet hidung Dave dan juga Dea.


"Mom!" kaget Dea dengan wajah yang memerah. Napasnya seakan tercekat, dadanya terasa sangat sesak.


Begitupun dengan Dave, pria itu bangun karena merasa susah untuk bernapas. Dia bahkan memukul-mukul dadanya yang begitu sesak karena Dilla memukul wajah mereka.


"Apa yang kalian lakukan, hah? Kenapa kalian begitu tega melakukan ini kepada Mom?" tanya Dilla dengan begitu kesal, emosinya begitu memuncak. Dia bahkan bernapas dengan terengah-engah.


Dea yang belum paham terlihat mengernyitkan dahinya, dia benar-benar tidak mengerti dengan pertanyaan dari ibunya tersebut.


"Sebenarnya ada apa sih, Mom? Kenapa Mom marah-marah seperti itu kepadaku?" tanya Dea dengan raut bingung di wajahnya.


"Iya bener, Mom. Kamu tidak boleh marah-marah, Mom harus ingat akan kondisi kesehatan Mom saat ini. Kamu itu harus terlihat lebih santai, bukannya marah-marah seperti ini. Itu tidak akan baik untuk kesehatan Mom," timpal Dave.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, Dilla berusaha untuk menenangkan hati dan juga pikirannya. Wanita itu langsung mengambil napas sepenuh dada, kemudian mengeluarkannya secara perlahan.


Sebenarnya dia ingin sekali marah-marah, dia ingin sekali mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam otaknya. Sayangnya dia masih ingin menjaga kewarasannya, biarlah mereka melakukan apa pun yang menurut mereka baik. Karena dia masih ingin hidup lama, akhirnya Dilla berkata.


"Kalian mengecewakanku," ucap Dilla setelah dia merasa lebih tenang.


Setelah mengatakan hal itu, Dilla langsung keluar dari dalam kamar putrinya. Dia berjalan dengan langkah yang begitu gontai, tubuhnya begitu gemetaran. Kakinya bahkan terasa begitu lemas, karena dia melihat hal yang tidak terduga dan tidak pernah terlintas di dalam pikirannya.


Selepas kepergian Dilla, Dea dan juga Dave saling pandang. Mereka tidak mengerti kenapa Dilla seakan begitu marah terhadap mereka berdua.

__ADS_1


Namun, tidak lama kemudian mereka pun sadar dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Tentu saja Dea dan Dave menyadari kemarahan Dilla setelah mereka sama-sama melihat tubuh Dea dan Dave dalam keadaan polos.


Dave bahkan menatap dada Dea dengan tatapan penuh gairah, dada itu yang tadi malam dia nikmati. Dada itu yang tadi malam bergerak dengan indah ketika dia bergoyang di atas tubuh Dea dan menghujam inti tubuh calon istrinya tersebut.


"Astagfirullah!" pekik Dea seraya menarik selimut dan menutupi dadanya.


"Jangan ditutup, Yang. Dia sangat cantik, kaya buah paya." Dave mengulurkan tangannya untuk menarik selimut yang Dea pakai, tetapi dengan cepat Dea menepis tangan Dave.


"Ck! Jangan macam-macam, kamu tidak lihat tadi jika Mom begitu marah terhadap kita? Sekarang lebih baik kamu mandi di dalam kamar aku, aku mau mandi di dalam kamar tamu."


Dea langsung turun dari tempat tidur, lalu dia mengambil handuk dan memakainya di depan Dave. Pria itu hanya terdiam seraya memperhatikan tubuh polos Dea yang kini sudah terbalut handuk.


"Seksi! Tubuh kamu sangat seksi, bokong kamu sangat bulat dan juga--"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, Dea benar-benar merasa kesal. Dia menatap pria itu dengan begitu tajam lalu berkata.


"Berisik!" kesal Dea seraya melemparkan handuk ke arah pria itu.


Dave begitu kaget ketika mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dea, karena ternyata di saat marah wanita itu lumayan menyeramkan, pikirnya.


Dea merasa lebih tenang saat melihat Dave memakai handuknya. Karena saat melihat tubuh polos Dave, Dea malah teringat akan kejadian tadi malam.


Otak minimalisnya langsung bertraveling ke mana-mana, dia malah membayangkan kembali percintaan panas mereka tadi malam.


Dea kini sudah percaya jika bercinta itu rasanya memang sangat enak, bahkan dia merasa ketagihan dan menginginkannya lagi.


"Jangan lama-lama mandinya, kita harus segera meminta maaf kepada Mom."


Setelah mengatakan hal itu, Dea langsung melangkahkan kakinya dengan tertatih untuk keluar dari dalam kamar tersebut. Dave sempat memperhatikan cara berjalan dari calon istrinya tersebut.


Dia sangat yakin jika area inti wanita itu sangatlah sakit, karena mereka melakukannya dalam waktu yang cukup lama.


"Sepertinya aku harus lebih bisa menahan diri, kasian jika melihat dia berjalan seperti itu." Dave langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, karena dia harus secepatnya bersiap untuk menemui calon mertuanya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Dave dengan cepat keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


"Wow!" seru Dea seraya menghampiri Dave dan mengusap perut pria itu.


Dia benar-benar mengagumi tubuh pria itu, sangat seksi dan begitu menggoda di matanya. Dave benar-benar terlihat sangat gagah dan membuat dia ingin kembali diajak bercinta oleh pria itu.


"Ck! Jangan macam-macam, nanti aku makan tau rasa kamu!" kesal Dave.


"Oh! Mau!" ucap Dea seraya memeluk Dave.


"Dea! Hentikan, jangan memancing lagi." Dave berusaha menjauhkan diri dari calon istrinya tersebut, dia takut khilaf.


"Maaf," ucap Dea seraya memukul milik Dave dengan gemas. Karena benda berurat itu sudah kembali bangun.


"Argh!" teriak Dave yang merasa ngilu pada inti tubuhnya akibat perbuatan dari Dea.


Tidak tahukah Dea jika itu adalah aset berharga baginya? tidak tahukah Dea jika itu adalah alat generasi penerus bagi keturunannya?


Kalau kenapa-kenapa bisa-bisa dia tidak akan mendapatkan keturunan, walaupun memukul dengan pelan, tetapi rasanya benar-benar tidak enak. Bahkan, rasa ngilu itu sampai pada perutnya.


"Oops! Maaf, aku udah siapin baju gantinya. Di atas sofa, aku keluar duluan. Nanti kamu nyusul, oke?" ucap Dea.


"Terima kasih, tapi itu baju siapa?" tanya Dave agak kesal saat Dea menyiapkan baju pria untuknya, karena Dave mengira jika itu adalah baju mantan Dea.


Pria yang pernah menjadi pria spesial di masa lalu Dea, atau mungkin itu adalah baju milik Dirgantara, pikirnya.


"Baju almarhum daddy," jawab Dea seraya tersenyum getir.


Setelah mengatakan hal itu Dea langsung keluar dari dalam kamarnya, Dave sempat terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Dea. Wanita itu sudah ditinggalkan oleh ayahnya sejak lama, kini ibunya pun tengah sakit parah.


Dave sangat paham jika kematian memang adalah rahasia Tuhan, tetapi sudah dapat dipastikan jika Ibu dari Dea tersebut tidak akan lama lagi tinggal di dunia ini.


Dave berpikir jika dia harus menjadi manusia yang lebih baik lagi, dia harus menjadi suami yang baik dan bisa menjaga Dea ketika mereka menikah nanti.

__ADS_1


"Kamu harus berubah, Dave. Jangan terus jadi manusia yang brengsek dan mudah terhasut,'' ucap Dave lirih.


__ADS_2