Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Keinginan Yang Terpendam


__ADS_3

Danish merasa tidak mengenal mobil yang kini terparkir di depan Villa milik keluarganya itu, tetapi satu hal yang pasti. Kalau bukan ibunya, pasti orang suruhan dari Ibunya, itulah pikirnya.


Dia merasa jika kini dia harus menyiapkan mentalnya, karena kini ada wanita yang harus dia lindungi, Daniela. Wanita yang sudah dia jadikan istri


"Jangan melamun, aku juga tidak tahu itu mobil siapa. Lebih baik kita masuk dan memakan asinan sayurnya," ajak Danish.


Daniela hanya bisa mengangguk patuh mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, karena memang dia hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh suami tersebut.


"Iya, Mas," jawab Danish.


Danish langsung merangkul pundak istrinya dengan begitu mesra, lalu dia masuk ke dalam Villa tersebut dengan perasaan berdebar.


Walaupun dia merasa tidak peduli dengan ibunya jika memang dia ada di sana, tetapi tetap saja dia harus menyiapkan diri untuk melindungi Daniela. Takut-takut ibunya itu akan menyakiti Daniela kembali.


Karena pastinya hanya ibunya, atau orang kepercayaan dari ibunya yang datang. Keluarga lain tentunya tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam Villa pribadi tersebut, Villa itu bahkan memiliki penjagaan yang sangat ketat.


'Mungkinkah mom yang datang? Atau orang kepercayaannya? Tapi buat apa?' tanya Danish dalam hati.


Mungkin saja ibunya itu datang dengan mobil lain, pikirnya. Mobil yang dibelikan oleh suami barunya, atau mungkin mobil itu milik adik tirinya. Atau milik orang lain.


Ah?


Danish merasa cape dalam menebak-nebak, dia memutuskan untuk mempercepat langkahnya. Agar dia segera tahu siapa yang datang, tidak ada lagi kata penasaran di dalam dirinya.


Saat dia masuk kedalam Villa, dia langsung disambut oleh Debora dan juga wanita muda yang sedang berdiri tepat di sampingnya. Debora tersenyum dengan sangat manis, berbeda dengan wanita yang ada di samping Debora. Dia nampak tersenyum canggung.


Danish langsung menghela napas berat setelah melihat kedatangan ibunya dan juga wanita yang sempat dijodohkan kepada dirinya, ternyata ibunya itu belum menyerah untuk menyatukan dirinya bersama dengan wanita itu.


Padahal, kini dia sudah menjadi seorang suami bagi Daniela. Seharusnya ibunya paham akan hal itu, bukan malah memaksakan kehendaknya.


"Mom, Dea. Sedang apa kalian di sini?" tanya Danish dengan was-was.


Pertemuan pertama Daniela dengan Debora sangatlah tidak mengenakan hatinya, dia sangat takut jika kini ibunya akan datang untuk mengganggu ketenangan bulan madu mereka.


Lebih tepatnya Danish takut jika Debora akan berusaha untuk menyakiti istrinya, dia takut jika Debora akan berusaha untuk menyakiti calon buah hati mereka.


Terlebih lagi Debora datang dengan Dea, wanita yang dijodohkan oleh ibunya dengan Danish. Sayangnya Danish sama sekali tidak melirik wanita itu.


Di saat pertama kali mereka bertemu, Danish merasa tidak suka dengan Dea. Karena Danish merasa jika wanita itu terlihat bar-bar di dalam diamnya.

__ADS_1


Ya! Dea memang terkesan pendiam, dia jarang sekali berbicara. Akan tetapi, Danish merasa jika di balik diamnya Dea, ada sesuatu hal yang tidak baik yang berusaha untuk dia sembunyikan. Entah apa, tapi Danish tidak tahu.


Danish bahkan sempat menolehkan wajahnya ke arah istrinya, raut ketegangan terlihat begitu jelas di wajah istrinya itu. Bahkan, Daniela langsung memeluk lengannya dengan erat. Wanita itu seakan berkata jika Daniela tidak nyaman dengan kedatangan dua orang tersebut.


Danish hanya bisa menghela napas berat, karena rasanya kini ketenangannya kini akan terganggu setelah kedatangan kedua orang yang sangat tidak dia suka itu.


Padahal, Danish sudah mengalah untuk pergi ke Villa. Akan tetapi, ibunya malah tetap saja seolah ingin mencari keributan dengan dirinya.


"Oh ya ampun Danish, Mom datang untuk berlibur. Apakah tidak boleh jika Mom berlibur? Mom merasa sangat penat setelah pulang dari negara A," jawab Debora.


Debora berpura-pura memasang wajah sedih ketika Danish seolah menolak kedatangannya, karena dia ingin mencari simpati putranya.


Sayangnya, Danish bukanlah anak kecil yang gampang dibohongi. Danish sudah sangat paham bagaimana sifat dari ibunya tersebut.


"Kalau Mom ingin berlibur, silakan saja. Tapi, kenapa Mom membawa Dea? Mom pasti tahu jika aku sudah mempunyai istri bukan?" tanya Danish.


Kembali Debora memasang wajah sedih, dia seolah tidak terima dengan ucapan yang dilontarkan oleh putranya.


"Tentu saja Mom datang karena ingin berlibur, tapi Mom tidak mempunyai teman. Makanya Mom mengajak Dea untuk berlibur di sini, rasanya itu tidak buruk Danish. Lagi pula dia sudah bekerja begitu keras, tidak salah rasanya jika Mom mengajak dia untuk berlibur," jelas Debora.


Setelah mengatakan hal itu, Debora nampak menolehkan wajahnya ke arah Dea. Dia tersenyum dengan begitu hangat, lalu dia berkata.


Dea tersenyum canggung ke arah Danish dan juga Daniela, lalu wanita itu berucap dengan tidak enak hati.


"Maafkan aku, Kak Danish. Sebenarnya aku tidak ingin berlibur, karena pekerjaanku sedang begitu banyak. Tetapi, karena Tante tidak ada temennya jadi aku menemani Tante untuk berlibur, aku janji tidak akan mengganggu kalian."


Sebenarnya Dea sangat ingin sekali menghindari pria yang bernama Danish itu, karena pria itu sudah berani menolak dirinya. Bahkan di saat mereka dijodohkan pun Danish malah melarikan diri.


Dia memang menyukai Danish, tetapi jika pria itu tidak menyukai dirinya, rasanya dia tidak bisa memaksakan diri. Memaksakan cinta itu adalah hal yang bisa saja terjadi, tetapi akan menyakitkan jika di jalani.


Dea tidak mau itu terjadi, dia hanya ingin hidup tenang. Namun, ancaman Debora tidak bisa dia abaikan. Karena itu bisa membuat usaha dari ibunya bangkrut.


Debora mengancam jika dirinya tidak mau mendekati Danish, maka usaha milik ibunya akan segera gulung tikar. Tanpa Dea tahu, Debora tidak memiliki kekuasaan apa pun.


Perusahaan milik Danish dan juga ibunya Dea bisa bekerja sama karena ayah dari Danish dan ayah dari Dea memanglah sahabat karib semasa mereka hidup, bukan karena pengaruh dari Debora.


"Benarkah kamu tidak akan menggangguku dengan Istriku?" tanya Danish dengan tatapan tidak percaya.


Dea menganggukkan kepalanya dengan cepat, karena dia memang tidak pernah berniat untuk mengganggu rumah tangga Danish.

__ADS_1


"He'em," jawab Dea.


Debora merasa kesal dengan apa yang ditanyakan oleh putranya tersebut, Danish terkesan lebih berhati-hati saat melihat kedatangannya dan juga Dea.


"Kamu tuh ngga usah banyak omong, Danish. Kita urus diri kita masing-masing aja, kamu dengan istri kamu silakan menikmati hari-hari kamu. Mom dan Dea juga akan menikmati hari kami selama di sini," ucap Debora.


Walaupun ucapannya terdengar menyebalkan, tetapi Debora berusaha untuk menampilkan senyum manisnya di depan putranya tersebut.


Danish menghela napas berat, dia sudah merasa lelah untuk berdebat. Danish lalu menolehkan wajahnya ke arah Daniela, dia tersenyum hangat dan berkata.


"Oke! Ayo, Sayang. Kita ke dapur, pasti kamu sudah tidak sabar ingin memakan asinan sayurnya," ajak Danish.


Jika ibunya berkata seperti itu, maka Danish akan melakukannya. Dia hanya akan mengurusi hidupnya bersama dengan Daniela dan calon buah hatinya, dia tidak akan memedulikan keberadaan ibunya bersama dengan Dea.


Sebenarnya, di dalam hatinya yang terdalam. Danish ingin sekali ibunya itu mendekati dirinya, meminta maaf kepada dirinya dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada dirinya dan juga Daniela.


Karena pada dasarnya dia begitu menyayangi ibunya tersebut, hanya saja ada dinding tebal berupa rasa kecewa di dalam hatinya.


Dia benar-benar merindukan saat-saat kebersamaannya dengan ibunya tersebut, sayangnya ibunya tidak paham dengan keinginan dari Danish.


Ibunya malah terkesan memaksakan kehendaknya terhadap Danish, entah apa tujuannya dia tidak tahu.


Tanpa Danish tahu, Debora memang sengaja mendekatkan Danish dengan Dea. Karena suaminya diam-diam berselingkuh di belakangnya, pria itu sering bergonta-ganti pasangan di belakangnya.


Dia takut akan diceraikan oleh pria itu, maka dari itu Debora menjodohkan Danish dengan Dea. Hal itu dia lakukan agar dia bisa menikmati kekayaan yang dimiliki putranya.


Karena kekayaan suaminya yang sudah meninggal jatuh ke tangan Danish semua, Debora tidak mendapatkan harta sepeser pun. Karena menjelang kematian suaminya, pria paruh baya itu benar-benar sangat kecewa terhadap Debora.


"Makanlah asinannya, Sayang." Danish menyimpan asinan sayur yang sudah dia tuangkan ke dalam mangkok di hadapan Daniela.


Walaupun rasa cinta belum tumbuh dengan sempurna, tetapi Daniela merasa begitu beruntung bisa dinikahi oleh ayah dari bayi yang sedang dia kandung saat ini.


"Terima kasih, suamiku Sayang." Daniela tersenyum dengan begitu manis ke arah suaminya.


Danish merasa begitu gemas dengan sikap dari Daniela, lalu dia menunduk untuk mencium bibir istrinya dengan begitu mesra.


Ternyata Debora melihat akan hal itu, dia merasa begitu kesal melihat keromantisan di antara anak dan menantunya. Dia bahkan sampai mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna.


Dia menatap Daniela dengan penuh kebencian, terlebih lagi saat melihat perut Daniela yang mulai menonjol. Rasanya Debora ingin segera melenyapkan janin yang ada di dalam perut Daniela tersebut.

__ADS_1


'Aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bahagia, aku berjanji akan memisahkan kalian. Aku pastikan jika janin yang sedang ada di dalam perut wanita itu akan gugur, karena jika dia lahir ke dunia maka keberadaan aku akan terancam.'


__ADS_2