
Daniela merasakan jika kepalanya begitu berat dan juga sakit, tetapi karena dinginnya udara yang menerpa kulit membuat dia berusaha untuk segera bangun.
Sudah beberapa kali ia mencoba untuk menarik selimut, tetapi dia tidak menemukan benda itu. Akhirnya dia membuka matanya walaupun terasa begitu sepat dan berat.
"Argh!" teriak Daniela ketika dia melihat tubuhnya dalam keadaan polos.
Dia sangat kaget melihat tubuh polosnya, terlebih lagi saat dia melihat Dave di sampingnya. Pria itu tertidur dengan lelapnya sambil memunggungi dirinya, dia tidur dengan nyaman dengan tubuhnya yang terbalut selimut.
Daniela benar-benar merasa syok, dia tidak menyangka jika malam ini dia akan tidur dengan Dave. Dia benar-benar merasa menjadi seorang wanita murahan, karena kini dia tidur untuk kedua kalinya bersama dengan seorang pria.
Apalagi saat dia melihat tanda merah yang begitu banyak di dadanya, dia merasa jijik pada tubuhnya sendiri. Dia merasa tidak ada bedanya dengan seorang wanita malam.
"Ya Tuhan, wanita macam apa aku ini? Kenapa kejadian ini terulang kembali? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Daniela dengan bingung.
Berulang kali dia berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi tadi malam, tetapi tetap saja dia tidak mengingat apa pun. Dia benar-benar benci terhadap dirinya sendiri.
Dulu ketika dia tidur dengan Danish, dia tidak mengingat apa pun. Hanya area intinya saja yang terasa begitu sakit, sekarang pun dia mengalami hal yang sama.
Dia sama sekali tidak mengingat bagaimana kejadiannya, kenapa bisa berakhir di atas ranjang yang sama dengan Dave, kini dia hanya merasakan area intinya yang sangat sakit dan kedua kakinya terasa begitu pegal.
"Oh Tuhan! Kenapa semua ini bisa terjadi kepadaku?" tanya Daniela dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
Daniela benar-benar merasa jika dirinya kini adalah wanita yang kotor, dia merasa jika dirinya sudah tidak pantas hidup lagi. Daniel merasa putus asa.
"Lebih baik aku mati saja," ucap Daniela.
Wanita itu mengedarkan pandangannya, dia melihat ada gelas di atas nakas. Dia benturkan gelas itu pada dinding, lalu dia mengambil pecahan gelas tersebut dan mulai menekannya pada urat nadinya.
"Argh! Sakit, aku belum siap mati!" ucapnya seraya terisak.
Padahal darah yang mengalir dari tangannya baru tiga tetes saja, tetapi dia sudah menangis kesakitan. Dengan wajah yang ditekuk, Daniela memutuskan untuk segera pergi ke kamar mandi.
Lebih baik dia segera mandi dan bersiap untuk pergi ke Resto, dia tidak ingin memikirkan hal apa pun lagi. Untuk urusan Dave, biar nanti saja dia pikirkan.
Setelah selesai mandi, Daniela dengan cepat memakai setelan kerjanya. Dia juga membalut lukanya dengan plester. Sebelum dia pergi, dia sempat menolehkan wajahnya ke arah Dave yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Dia tidur jam berapa? Kenapa belum bangun juga? Ah! Ngapain juga aku mikirin dia, dasar pria brengsek! Bilangnya hanya makan malam bersama, dia pasti melakukan ini dengan sengaja kepadaku."
Setelah mengatakan hal itu, Daniela sempat membersihkan bekas pecahan gelas untuk percobaan dia bunuh diri. Setelah itu, tanpa membangunkan Dave terlebih dahulu dia langsung pergi ke Resto.
"Pagi sahabatku, Daniela. Muka elu napa pucet amat ya?" tanya Desi.
"Eh? Iyakah?" tanya Daniela seraya mengusap wajahnya.
"He'em, elu kaya orang ngga tidur semalaman." Desi mencoba menebak-nebak.
"Ck! Tidur gue kurang lelap, udah ah jangan ngomong mulu. Gue mau ke dapur dulu, ngopi enak kayaknya." Daniela bersiap untuk pergi ke dapur, tetapi langkahnya terhenti ketika Desi menghalangi langkah dari Daniela.
"Pak bos minta dibikinin kopi, tadi malam katanya dia kurang tidur. Kopi item, gulanya dikit aja."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Desi memindai penampilan Daniela. Dia sempat memperhatikan cara jalan Daniela yang berbeda saat dia masuk ke dalam Resto, wajahnya juga terlihat pucat seperti tidak tidur semalaman.
Saat Danish datang, pria itu juga nampak kelelahan. Desi menjadi curiga jika mereka berdua tadi malam sudah menghabiskan waktu bersama.
"Elu napa liatin gue kaya gitu?" tanya Daniela.
"Semalam, elu habis anu-anu ya, sama pak bos?" tanya Desi yang menjawab pertanyaan Daniela dengan pertanyaan.
Daniela langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Desi, tadi malam dia memang sepertinya kurang tidur. Namun, bukan menghabiskan malam dengan Danish.
''Sembarangan aja kalau ngomong, mana mungkin gue anu-anu sama pak bos. Elu ngaco," jawab Daniela seraya melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Gue bukan tanpa alasan ngomong kayak gitu, cara jalan elu hari ini lain. Kaya orang habis diperawanin," celetuk Desi.
Daniela kebingungan menjawab ucapan dari Desi, jantungnya bahkan berdetak tidak karuan. Namun, dia berusaha untuk bersikap dengan sangat tenang.
"Jangan ngaco, oke? Mana mungkin pak bos tertarik sama pelayan kayak gue, elu aneh." Daniela langsung masuk ke dapur tanpa menolehkan lagi wajahnya ke arah Desi.
Daniela segera membuatkan kopi untuk Danish, rencananya sendiri untuk membuat kopi malah dia batalkan. Karena dia tidak ingin jika Danis menunggu dirinya terlalu lama.
"Selamat pagi, Pak Bos." Daniela menyapa Danish seraya mendorong pintu ruangan pria itu.
"Pagi, Daniela. Duduklah, temani aku sarapan." Danish bangun dari kursi kebesarannya, kemudian dia duduk di atas sofa dan meminta Daniela untuk duduk tepat di sampingnya.
Daniela sempat memperhatikan wajah Danish, pria itu memang terlihat seperti sangat lelah. Namun, Daniela tidak berani bertanya.
"Terima kasih untuk kopinya," ucap Danish seraya menyesap kopi yang sudah dibuatkan oleh Daniela.
"Makanlah sarapan yang sudah aku siapkan, aku tahu kamu pasti sangat lelah," ucap Danish.
"Hah?" tanya Daniela kebingungan karena Danish berkata seperti itu.
"Jangan dipikirkan, makanlah!" ucap Danish lagi.
Daniela tidak berani mengatakan apa pun, dia langsung memakan makanan yang sudah disiapkan oleh Danish untuk dirinya.
Jika Daniela sedang menikmati sarapannya bersama dengan Danish, berbeda dengan Dave. Pria itu baru saja terbangun dari tidurnya, Dia benar-benar merasakan kepalanya yang begitu sakit. Bahkan, dia merasakan tengkuk lehernya berat dan juga perih.
"Ya ampun, ini sangat sakit!"
Dave memijat pundaknya yang benar-benar terasa sakit, sesekali dia juga memijat kepalanya yang begitu berat. Tidak lama kemudian, dia bangun untuk segera mandi.
Hari ini dia harus segera kembali, karena siang ini Dave harus masuk bekerja. Seharusnya Dave masuk pagi hari, tetapi dia beralasan masih ada urusan kepada atasannya. Beruntung atasannya mengizinkan Dave untuk datang siang hari.
"Ya ampun, ternyata Daniela masih perawan!" pekik Dave kala dia melihat bercak darah di atas sprei. "Tapi, kenapa aku tidak ingat saat melakukannya? Apa aku terlalu mabuk?" tanya Dave.
Dave yang merasa kepalanya masih pusing, tidak mau memikirkan banyak hal. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, lalu membilas tubuhnya.
Selesai mandi, dia sempat mencari Daniela. Sayangnya, wanita itu tidak ada di dalam rumahnya. Dave sempat berpikir jika Daniela pasti marah terhadap dirinya, makanya Daniela meninggalkan dirinya begitu saja.
__ADS_1
Karena merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan tadi malam, Dave memutuskan untuk menelpon Daniela. Sayangnya berkali-kali dia menelpon wanita yang masih dianggap sebagai kekasihnya itu, Daniela tidak juga mengangkatnya.
"Ck! Past dia marah, kalau begitu aku mengirimkan pesan chat saja." Dave langsung mengetikkan pesan chat kepada Daniela.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau tadi malam kita akan berakhir di atas tempat tidur, aku sungguh minta maaf. Sekarang aku akan pulang, nanti aku akan datang kalau tidak sibuk."
Walaupun tidak mendapatkan balasan pesan dari Daniela, tetapi pria itu sudah merasa senang. Dengan cepat dia pun segera pergi menuju apartemen Darra tentunya, karena ada yang ingin dia bicarakan sebelum pergi ke kantor bersama dengan wanita itu.
**
Setelah kejadian malam itu, Dave tidak pernah mengunjungi Daniela sama sekali. Namun, pria itu setiap harinya selalu mengirimkan pesan chat penuh cinta kepada Daniela.
Walaupun Daniela tidak pernah membalas pesan chat tersebut, pria itu seakan tidak pernah lelah untuk mengungkapkan kata cintanya.
Daniela seolah tidak peduli lagi dengan Dave, justru dia malah sudah terbiasa dan sudah merasa nyaman dengan adanya Danish di sampingnya.
Bahkan, Danish selalu saja berusaha untuk memberikan perhatiannya kepada Daniela di belakang para karyawan lainnya. Begitulah Danish, selalu terlihat manis saat mereka berduaan.
Namun, jika di hadapan karyawan lainnya dia akan bersikap biasa saja. Dia seolah begitu menghargai Daniela, takut-takut Daniela akan merasa tidak nyaman dengan apa yang dia lakukan.
Dua bulan kemudian.
"Daniela, muka elu napa pucet bener?" tanya Desi.
"Eh? Iyakah?" tanya Daniela seraya mengusap keningnya yang terus saja berkeringat.
Sudah 2 bulan ini Daniela merasakan badannya tidak enak, tetapi biasanya dengan diistirahatkan sebentar saja keadaannya akan lebih baik.
Namun, sudah satu minggu ini kepalanya terus saja terasa sakit. Bahkan, dia sering merasakan mual dan sampai muntah-muntah saat pagi hari tiba.
Akan tetapi, ketika dia bertemu dengan Danish, bahkan melakukan sarapan bersama. Dia akan merasa lebih baik, apalagi ketika dia menghirup aroma tubuh Danish, dia merasa nyaman dan ingin terus saja bersama dengan pria itu.
''Hooh, muka elu pucet banget. Badan elu dingin banget, apa elu masuk angin?" tanya Desi seraya mengusap lengan Daniela yang terasa sangat dingin.
"Kayaknya gue memang masuk ang--"
Belum juga Daniela menyelesaikan ucapannya, tetapi tubuhnya sudah jatuh terlebih dahulu ke atas lantai. Hal itu membuat Desi panik dan berteriak-teriak.
"Tolong! Tolongin Daniela dong!" pinta Desi dengan suaranya yang lantang.
"Ada apa?" tanya Danish dengan panik ketika nama Daniela diteriakkan.
Melihat Danish datang, beberapa karyawan yang ingin mencoba menolong Daniela mengurungkan niatnya. Mereka malah terdiam seraya memperhatikan wajah Danish yang begitu menghawatirkan Daniela.
"Itu Pak Bos!" tunjuk Desi pada tubuh Daniela yang tergeletak di atas lantai.
Daniela tidak sadarkan diri, wajahnya begitu pucat. Hal itu membuat Danish begitu mengkhawatirkan keadaan wanita itu.
"Hastaga!" pekik Danish panik seraya mengangkat tubuh Daniela dengan cepat.
__ADS_1
"Eh? Kenapa pak bos membawa Daniela ke dalam ruangannya? Seharusnya di bawa ke klinik, di depan ada klinik padahal." Desi menggerutu dengan wajahnya yang terlihat bingung.