
Danish tidak menggubris ucapan dan juga teriakan dari ibunya, dia tetap merangkul pundak Daniela dan membawa Daniela untuk segera pergi dari Villa keluarga Wijayana.
Danish benar-benar merasa kecewa terhadap ibunya, dia tidak menyangka jika ibunya tega berniat untuk menjebak dirinya agar bisa tidur dengan Dea.
Tidak tahukah Debora jika Daniela pasti akan merasakan sakit hati yang luar biasa kalau saja Danish benar-benar bisa dijebak?
Tidak tahukah Debora jika janin yang berada di dalam kandungan Daniela pasti akan terancam keselamatannya jika Daniela melihat dirinya berduaan dengan Dea?
Karena ingin menjaga kewarasannya, ingin menjaga kesehatan istrinya dan juga bayi yang ada di dalam kandungan istrinya, akhirnya Danish memutuskan untuk pergi saat itu juga.
Selama perjalanan menuju ibu kota, Danish terdiam. Dia hanya fokus dalam menyetir, tatapan matanya terus saja tertuju pada jalanan.
Daniela yang melihat akan hal itu merasa aneh, karena Danis tiba-tiba saja berubah menjadi dingin. Dia menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah dia melakukan kesalahan atau tidak.
Namun, dari tadi pagi Danish bersikap begitu manis terhadap dirinya. Hanya saat ini saja Danish bersikap begitu dingin, Daniela jadi berpikir jika Danish bersikap seperti ini karena ibunya.
Ya, Danish berlaku seperti itu karena kesal terhadap ibunya. Bukan kesal terhadap Daniela, karena dia tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Daniela seraya memeluk lengan suaminya, lalu dia menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
Danish langsung merangkul pundak istrinya dengan mesra, lalu dia menunduk dan mengecup kening istrinya. Rasa tenang seketika menyeruak ke dasar hatinya.
"Aku hanya sedang kecewa saja kepada mom," jawab Danish.
"Bukan sedang marah sama aku, kan?" tanya Daniela was-was.
"Ngga, Sayang. Mana ada kaya gitu," jawab Danish. " Sekarang tidurlah, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan."
Daniela tersenyum lalu mengeratkan pelukannya, hatinya merasa tenang karena ternyata Danish tidak marah kepada dirinya. Justru Danish sedang merasa kecewa terhadap ibunya.
Walaupun perempuan muda yang datang bersama ibunya Danish itu terlihat baik, tetapi tetap saja Daniela merasa panas. Karena dia berasal dari keluarga biasa, dia pasti dengan mudahnya akan disingkirkan.
Namun, jika melihat sikap dan sifat Danish terhadap dirinya, Daniela yakin jika dirinya akan aman selama berada di samping suaminya.
Setelah melakukan 3 jam perjalanan, akhirnya Danish memberhentikan mobilnya tepat di kediaman sederhana mereka. Danish mematikan mesin mobilnya, lalu dia membuka sabuk pengamannya.
Dia bersiap untuk turun, tapi sebelum itu dia menolehkan wajahnya ke arah istrinya. Dia tersenyum kala melihat istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
"Cantik, kamu terlihat begitu cantik dan juga manis. Kamu membuat aku semakin semangat dan membuat hari-hariku terasa lebih ceria," ucap Danish.
Danish turun terlebih dahulu dari mobil tersebut, kemudian dia membukakan pintu mobil dan membopong tubuh istrinya. Setelah itu, dia melangkahkan kakinya menuju kamar utama.
Dengan sangat perlahan dia rebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur, kemudian dia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya sampai sebatas dada.
Danish tersenyum kala melihat wajah polos istrinya, dia sangat bersyukur karena bisa menikah dengan Daniela. Terlepas dari cara apa pun Tuhan mempertemukan dia dengan Daniela, tetapi dia merasa bahagia bisa menikah dengan wanita itu.
Wanita yang kini telah mengandung calon buah hati mereka, wanita yang kini begitu dia cintai dengan segala kekurangan dan juga kelebihannya.
"Kamu pasti sangat lelah, terima kasih karena sudah mau menjadi istriku," ucap Danish.
Setelah mengatakan hal itu, Danish ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Dia peluk istrinya dengan penuh kasih, lalu dia pejamkan matanya.
Di Villa.
Debora yang sangat marah menghancurkan semua benda yang ada di dekatnya, bahkan ruang makan yang tadinya terlihat rapi kini begitu berantakan. Semua piring yang tertata rapi di atas meja sudah hancur berantakan.
Makanan yang sudah dia siapkan tidak ada yang bisa dipungut, semuanya berserakan di atas lantai. Ruang makan tersebut benar-benar seperti kapal pecah.
"Argh! Danish sialan! Semua ini karena wanita sialan itu, Danish sekarang menjadi sosok yang pembangkang," kesal Debora.
Sungguh dia takut dengan apa yang Debora lakukan saat ini, dia takut akan jadi sasaran amarah dari wanita itu.
Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya mengirimkan video saat Debora mengamuk, lalu dia mengetikkan pesan chat kepada ibunya, Dilla.
"Mom, Dea takut. Tante Debora sangat menyeramkan seperti monster, Dea mau pulang."
Itulah pesan chat yang Dea kirimkan sesaat setelah Danish dan juga Daniela pergi, kini sudah 3 jam lamanya dan Debora masih saja mengamuk seperti orang gila.
'Ya Tuhan, tolong kirimkan aku malaikat penolong. Aku takut, aku mau pulang.'
Dea hanya mampu berbicara di dalam hatinya, dia tidak berani berkata apa pun. Terlebih lagi saat melihat Debora dengan kelakuan maha dahsyatnya, Dea hanya bisa meringkuk di pojokan seperti orang pesakitan.
"Nyo--Nyonya, maaf saya mengganggu. Di depan ada tamu," kata Bibi tergagap.
Sebenarnya bibi merasa begitu takut untuk berucap, tubuhnya bahkan terlihat gemetaran. Namun, dia tetap memberanikan diri untuk berucap. Karena di depan ada wanita paruh baya yang sedang menunggu.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Debora seraya membanting garpu yang sejak tadi dia pegang.
"Ngga tau, Nyonya."
"Mengganggu saja! Kalau tidak tahu usir saja!" perintah Debora.
"Kau mau mengusirku, Debora?" tanya wanita paruh baya yang baru saja datang dan menghampiri Debora.
"Dilla! Untuk apa kamu kemari?" tanya Debora.
"Untuk menyusul putriku, dia memang suka bandel dan terkadang menyebalkan. Namun, aku tidak akan membiarkan dia dalam keadaan terpojok seperti ini." Dilla menghampiri Dea dan membantunya untuk bangun.
"Mom!" panggil Dea.
"Maafkan, Mom, Sayang. Kita akan cepat pulang," ucap Dilla menenangkan.
Lalu, Dilla menarik lembut Dea ke dalam pelukannya. Putri semata wayangnya yang dia akan jadikan tumbal, tetapi rasanya dia tidak tega setelah melihat video yang Dea kirimkan.
"Pulang? Kalian akan pulang?" tanya Debora dengan kesal.
"Ya, kami akan pulang." Dilla berbicara dengan tegas.
''Pulang sana! Tapi, jangan salahkan aku jika besok perusahaan kamu akan bangkrut." Debora masih saja bersikap arogan, dia sok berkuasa.
"Tidak apa, aku lebih baik bangkrut daripada melihat putriku menderita. Sudah cukup selama ini dia menderita," jawab Dilla.
"Kau!" teriak Debora. Wanita itu hendak melayangkan tamparan pada Dilla, tetapi dengan cepat Dilla menangkis tangan dari Debora.
"Kamu boleh membuat usahaku bangkrut, tetapi aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti aku dan juga putriku secara fisik. Satu hal yang harus kamu ingat, aku mempunyai bukti perselingkuhan dengan pria lain selain suami kamu. Berani menyakiti kami, itu artinya kamu ingin aib kamu dibongkar."
Dilla menatap Debora dengan begitu serius, hal itu membuat kemarahan di hati Debora semakin memuncak. Dia merasa jika saat ini tidak ada orang yang berpihak kepada dirinya.
"Pergilah kalian! Pergi sana yang jauh, aku akan menghancurkan kalian semua!" teriak Debora.
"Gila! Dasar wanita gila, ayo kita pulang, Sayang. Jangan ditanggapi orang seperti itu," ajak Dilla seraya menuntun putrinya untuk pulang.
Melihat kepergian Dilla dan juga Dea, Debora terlihat begitu kesal. Dia berniat untuk menyusul dan mencegah kepergian mereka, sayangnya dia malah tersandung dan kakinya terkena beling.
__ADS_1
"Sialan! Kenapa nasib aku sial sekali hari ini, argh!" teriak Debora.